Cerpen Pangerang P Muda (Lampung Post, 10 Juni 2018)

Perempuan yang Menemuinya di Dermaga ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Perempuan yang Menemuinya di Dermaga ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

Kala bilah-bilah kayu dermaga berdetak-detak di belakangnya, Siraju hanya bergeming, tetap duduk menjuntaikan kakinya di atas kilap air laut. Ia pikir yang sedang berjalan dari ujung jembatan menuju ke arahnya itu seorang pemancing. Namun ketika yang datang itu berseru, buru-buru ia memalingkan kepala.

“Hei, Pengarang Tua! Kamu sudah kehabisan ide cerita, sampai mulai sering melamun di tempat ini?”

Ia melihat seorang perempuan telah berdiri di belakang punggungnya. Bertopi merah cerah, hampir Siraju menyangka lelaki andai kaus yang dikenakannya tidak menonjolkan dadanya.

“Banyak pengarang yang lebih tua dari saya, tapi tetap berkarya,” Siraju mencoba berdalih, seraya terus mengais-ngais ingatan tentang perempuan itu. “Semakin tua seorang pengarang, ide ceritanya malah semakin banyak. Saya….”

Tangan perempuan itu terkibas, memenggal dalihnya. “Aku ke sini bukan untuk membicarakan usia tuamu. Aku ke sini untuk membicarakan nasibku.”

Sejak sebuah pelabuhan dibangun satu kilometer lebih ke arah selatan, dermaga kecil itu sudah tidak dilabuhi perahu. Tempat itu sekarang hanya didatangi pemancing. Bilah-bilah kayu jembatannya mulai pula ada yang terlepas, dan sebagian terlihat mengilap oleh sisa air hujan.

Belum ada pemancing yang datang. Sebelum perempuan itu datang, Siraju hanya sendirian duduk di tepi dermaga. Ia mendongak menatapnya. “Kau siapa?”

“Sudah lama kamu bersenang-senang dengan cerita-ceritamu, Pengarang Tua. Kamu mendapat bayaran, menjadi tenar dan namamu dikenal banyak orang, dengan memperalat nasib orang.”

Mata perempuan itu nyalang ke arahnya, mengeringkan kerongkongannya, dan menyepatkan lidahnya.

“Usia tua mulai menggerogoti daya ingatmu, sampai tidak mengenaliku lagi?” Bibir perempuan itu melekuk cibir. “Aku ke sini menemuimu, untuk mengingatkan bahwa tidak ada orang yang suka dengan nasib buruknya.”

Perempuan itu berbalik, berjalan kembali ke ujung jembatan dermaga yang ada di daratan.

***

Benak Siraju terus direcoki sosok dan kata-kata perempuan itu, menyisihkan ide-ide cerpen yang sedianya ingin ia tulis. Telah lewat dua pekan sejak persuaannya, dan satu pun cerpen belum juga ia bisa selesaikan. Idenya lesap.

Layar komputer di depannya terus menyala, tanpa satu kalimat pun berhasil ia ketik. Aroma kopi yang menguar dari cangkir yang dibawa istrinya, membuatnya sejenak melepas tatap dari layar.

“Baru saya sadari, sosok itu cukup tinggi. Sampai saya mendongak penuh saat menatapnya. Mestinya rambutnya panjang. Mungkin telah dipotong, atau bisa juga dia gelung di bawah topinya. Dan, ah, melihatnya dari dekat, dengan posisi mendongak, ternyata parasnya manis juga.”

Kening istrinya mengernyit. “Itu cerpen, ya?”

Siraju menyeringai. Ia merasa sesekali perlu juga berbagi resah dengan istrinya. Ia lalu menceritakan persuaannya dengan perempuan itu di dermaga.

“Untuk apa dia menemuimu?”

Sejenak Siraju berpikir, sebelum berujar ragu, “Sepertinya, untuk mengadukan … atau, eh, untuk membicarakan nasibnya, yang katanya selalu buruk.”

Istrinya langsung menatap tajam. “Kenapa mesti ke Bapak?”

“Mungkin karena kami pernah bertemu, atau berkenalan, tapi saya tidak ingat di mana.” Siraju memutar kursinya kembali menghadap ke layar komputernya. Seusai menyesap kopinya, mendadak ia berseru, “Oh, saya ingat! Perempuan itu, pernah tertangkap di pasar ketika sedang mencopet. Nyaris saja dia bonyok dihajar massa, andai orang-orang tidak kasihan padanya karena dia seorang perempuan.”

Tanpa peduli wajah bingung istrinya, Siraju mulai mencoba menyentuh papan ketik. Akhirnya istrinya melengos, “Kalau ke dermaga, mending bawa joran. Mungkin bisa dapat ikan, daripada cuma membawa cerita yang tidak jelas fiksi atau apa.”

Seraya menyeringai, Siraju mulai mengetik: Belum ada pemulung datang mengais dan menjolok-jolokkan galahnya. Pagi masih senyap. Orang-orang yang melintas juga tak ada yang sempat mengalihkan tatap. Permukaan kanal tertutup serak sampah, menyamarkan tubuh yang sudah membusuk, tubuh perempuan itu…. Mendadak ia mati ide. Cukup lama ia termangu, tanpa terbit ide kalimat lanjutan.

Ia lalu teringat file lain yang pernah diketiknya. Ia membukanya, dan menatap jejer kalimat yang telah terketik beberapa hari sebelumnya. Orang itu sudah terguguk seraya beriba-iba, tapi tidak juga membuatnya merasa kasihan. “Kalau kamu tidak mau menyerahkan kalung itu,” ancamnya, setelah mencabut pisau dari selipan pinggangnya, “akan kugorok lehermu.” Betapa bengis perempuan itu…. Kalimat yang sudah terketik terus saja seperti itu. Telah berkali-kali ia coba tambahkan, tapi selalu saja gagal. Tidak ada kalimat tambahan yang ia rasa cocok sebagai terusan cerita itu.

Merasa penasaran, ia membuka file baru, kemudian mengetik: Dentam musik yang ingar, membuat kepalanya mengentak-entak. Tangan lelaki yang memangkunya menyusup ke balik bajunya, membuat perempuan itu….

Siraju termangu bingung. Kata perempuan itu seakan mengunci papan ketik komputernya. Imajinasinya serasa ikut terkunci. Ia merutuk, mangkel. Waktu terus berdetak lewat sia-sia. Matanya mulai memerih memelototi layar monitor. Puluhan menit waktu lesap dan idenya tidak juga bisa terbit.

Menduga komputernya rusak, ia coba mengetuk huruf-huruf secara acak. Tampilan di layar monitor ternyata tidak berubah. Tidak satu huruf pun bertambah di belakang kata perempuan itu.

Merasa putus asa, Siraju berdiri. Mendadak ada ide lain muncul, memaksanya duduk kembali. Ia membuka file baru, lalu mengetik: Dingin lantai keramik terasa merambatkan sejuk sampai ke sel-sel otaknya, membuat sujud perempuan itu amat lama, merasa khusyuk….

Siraju tertawa. Ia mengetik acak, hampir semua huruf bergantian ia ketuk, semuanya muncul pula berjejer di layar monitor. Papan ketik dan komputernya ternyata tidak rusak.

Makin penasaran, Siraju membuka lagi file baru dan mengetik: Setiap suaminya berangkat kerja, perempuan itu mengantar sampai ke beranda, dan dengan penuh cinta suaminya mencium keningnya. Siraju melebarkan tawanya, menekan enter, lalu meneruskan ketikan: Bekerja di panti pijat, tidak membuatnya tergoda oleh beragam perangai lelaki yang menjadi kliennya. Perempuan itu tetap bekerja profesional. Di lingkungan kerjanya, perempuan itu memang dikenal baik, saleh pula.

“Ini tidak mungkin!” ia bersungut. Cangkir kopinya ia angkat, seruput ampas sisa isinya terasa sebarisan semut mengerubuti lidahnya.

Menuruti saran istrinya, Siraju kemudian membawa alat pancing ketika ke dermaga. Agaknya pemancing yang suka ke situ masih menunggu sengat matahari sore melemah, sehingga baru satu orang yang terlihat duduk di tepi dermaga. Namun di tangannya tidak ada joran dengan tali pancing terulur ke dalam kilap air laut.

“Sedari tadi aku menunggumu, Pengarang Tua,” tanpa menoleh, orang yang memunggunginya itu berujar. “Ini saat yang tepat, mumpung Cuma kita berdua di sini.”

Sesaat menatap, Siraju terkesiap. “Ah, ternyata kau,” ia melepas keluh. “Saya masih samar-samar, kau ini sebenarnya siapa?”

Perempuan itu berdiri, menghadapkan sosoknya ke Siraju. Sergahnya, “Tatap aku: akulah sosok perempuan busuk yang selalu bernasib sial yang selama ini bersemayam di dalam kepalamu! Percuma kamu gambarkan aku berparas cukup manis, kalau toh nasibku di otakmu selalu saja jelek. Dan mulai sekarang, aku menuntutmu untuk mengubah nasibku. Aku sudah jemu dan lelah dengan nasib sialku. Aku ingin kamu mengubahnya! Dalam cerita-ceritamu, aku ingin menjadi perempuan baik-baik.”

Siraju berpaling, merasa tidak kuat menatap sorot amarah di dalam mata perempuan itu.

“Perlu kamu tahu, pembaca tidak suka sosok perempuan yang selalu bernasib baik dan hidup bahagia,” gumam Siraju akhirnya, merasa mulai paham siapa yang sedang dihadapinya. “Tokoh cerita yang hidupnya lurus-lurus seperti itu, sangat membosankan dalam cerita.”

“Kamu memang keras kepala, Pengarang Tua!” sosok perempuan itu menghardiknya. “Kalau kamu tidak mau berkompromi, maka lebih baik aku memilih keluar dari kepalamu!”

“Tidak, tidak mungkin, ini belum saatnya,” tergagap-gagap Siraju. “Saya tidak memiliki tokoh lain yang laku dan disukai pembaca selain sosok sepertimu.”

“Oho, kalau begitu, aku akan keluar dari kepalamu dengan cara memaksamu!”

Siraju ternganga. Amarah sosok perempuan di depannya ternyata tak bisa lagi disabarkan.

“Atau kurendam saja kepalamu di air laut, agar sel-sel imajinasi di dalamnya beku? Agar sosok perempuan busuk yang selalu sial, yang ada di dalam kepalamu itu, ikut mati saja?”

Tanpa memberi kesempatan berpikir, sosok perempuan itu meraihnya, menelikungnya, lalu memilin tubuh Siraju hingga terseret ke tubir dermaga. Tangan Siraju menggapai, memeluk, sebelum keduanya tercebur ke dalam air laut.

Beberapa pemancing telah datang, dan langsung saja berlarian ke tepi dermaga.

“Aneh!” seru seorang pemancing. “Tiba-tiba saja orang tua itu menceburkan dirinya ke laut. Kita harus menolongnya.”

Advertisements