Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 10 Juni 2018)

Mengapa Kamu Takut ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Mengapa Kamu Takut? ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

Sebelum mendapat masalah dan saya membawa anak-anak ke kebun pagi itu, paman saya menelepon, mengatakan bahwa Gibran tidak mau berangkat sekolah. Gibran ketakutan. Ketika kurunut, apa yang membuat Gibran takut? Gibran mengambil alih telepon. Dia mulai menceritakan semuanya dengan rasa cemas tak tertahankan.

“Gibran takut mereka akan membuli. Akan memeriksa tas Gibran. Akan bilang bahwa Gibran teroris.”

Terus terang saya terkejut mendengarnya.

Yang melintas dalam pikiran saya adalah keadaan yang serupa dialami oleh anak-anak Katolik dan Tionghoa, ketika kasus penistaan agama muncul. Mereka mungkin juga mengalami rasa takut dibuli oleh temannya yang muslim.

Rasa takut diejek. Rasa takut dikafirkan. Rasa takut dibunuh pula. Dan sekarang, yang terjadi sebaliknya. Anak-anak muslim merasakan teror pikiran akibat teror bom di depan gereja.

“Gibran pindah sekolah saja, ya, Om?”

Saya belum berkomentar.

“Mengapa Gibran Islam dan teroris itu juga Islam, Om?”

Saya harus mencari cara untuk menjelaskannya. Pasti karena alasan saya, yang kebetulan seorang pendidik, maka paman menghubungi saya.

“Mm, Gibran,” ujar saya memulai, sepelan mungkin. “Gibran punya teman nakal di kelas?”

“Ada, Badu. Dia nakal banget, Om.”

“Sekarang, coba, kalau Badu nakal, lalu menakali teman di luar kelas kalian, misalnya kelas, Gibran kelas apa?”

“Kelas B.”

“Nah, sekarang misalnya Badu menakali anak kelas lain, kelas A misalnya, apa itu berarti semua kelasnya Badu, kelas B nakal? Termasuk juga Gibran?”

Advertisements