Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)

Woman ilustrasi Nur Istiqomah - Pikiran Rakyat.jpg
Woman ilustrasi Nur Istiqomah/Pikiran Rakyat

IA terus menangis. Air matanya tiada henti menetes. Sampai-sampai aku tak bisa membedakan air mata dan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Kedua air berbeda sumber itu kini telah menyatu. Merembes. Menggenangi tanah. Mengalir deras dan berubah keruh akibat bercampur tanah. Hei, tunggu! Tak hanya keruh, tapi juga berwama merah. Semerah darah.

KETIKA tiba di sini, aku melihat orang-orang mulai ramai bergerombol. Wajah-wajah mereka terlihat iba sekaligus penuh selidik. Pandangan mereka tanpa dikomando tertuju pada sebuah rumah di ujung sana. Rumah besar berhalaman luas yang juga dipenuhi orang serta isak tangis. Sebuah mobil ambulans yang berada di halaman rumah bercat biru itu sepertinya telah bersiap meluncur.

Benar. Tak sampai dua menit, mobil bercat putih yang ternyata membawa sosok tak bernyawa itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Sirenenya meraung-raung. Pekak sekali suara itu. Ah, bukan. Bukan sirene itu yang membikin pekak. Melainkan jerit seseorang yang tiba-tiba mengudara memecah langit. Jerit yang terdengar begitu pilu. Menyayat hati. Kepalaku berputar, sibuk mencari sumber suara.

Dan…pandanganku menyorot tajam saat melihat bayangan seorang gadis yang terus menjerit sambil mengejar-ngejar ambulas itu. Luar biasa, gadis itu mampu berlari dengan kecepatan tingkat tinggi. Ia terus berlari. Mengejar, menjejeri ambulans putih itu. Anehnya, tak seorang pun yang memedulikan jeritannya. Bahkan, orang-orang memang tak mampu melihat sosok gadis berwajah cantik itu. Dari raut wajahnya yang kulihat sepintas, aku mampu membaca gurat penyesalanyang begitu dalam di sana.

Saat tengah memerhatikan bayangan gadis yang terus menjerit seraya berlari mengejar ambulans itu, tiba-tiba terdengar suara tak jauh dari sebelahku. Hei, bukankah itu suara tangisan? Tangisan yang tak begitu keras tetapi juga tak begitu pelan. Konsentrasiku pecah. Kepalaku berputar ke sana kemari. Tapi tak ada sesiapa. Kecuali seutas tali panjang yang terkulai lemas di sebelah pohon mangga, beberapa meter dari arah samping kiriku.

***

GADIS berwajah ayu, berkulit kuning langsat dan berambut hitam agak ikal sebahu itu tergesa membuka pintu kamar. Raut wajahnya sembap. Tampak sekali menyimpan kesal berbaur emosi. Ia melemparkan tas sekolahnya asal-asalan ke meja belajarnya hingga mengenai sebagian tubuhku. Aku menjerit kesakitan saat tas hitam itu membentur tubuhku hingga bergeser dan nyaris jatuh ke lantai.

“Lebih baik aku mati saja daripada menyaksikan kamu berselingkuh dengan gadis lain!”

Mawar, nama gadis itu, berbicara sendiri sambil terisak dan mengentak-entakkan kedua kakinya. Setelah itu ia mengempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dipeluknya dengan erat bantal guling di sebelahnya sambil menangis sesenggukan.

“Radit, kenapa sih, kamu tega berselingkuh dariku di saat aku telanjur sayang dan tak ingin berpisah darimu?”

Waktu itu aku hanya terdiam. Seraya berusaha mengingat nama lelaki yang barusan diucapkan gadis kelas dua SMA itu. Radit. Ah, ya! Aku ingat sekarang. Lelaki itu adalah pacarnya. Seminggu lalu, aku pernah melihat Mawar melompat-lompat kegirangan seperti orang sinting di depan cermin sambil berkata bahwa ia baru jadian sama Radit, lelaki yang sebelumnya hanya sebatas teman sekolah di SMA yang sama tapi berbeda kelas.

“Horee!! Akhirnya aku jadian sama Radit!” pekiknya waktu itu sambil mengecup-ngecup benda tipis warna silver di kedua tangannya. Benda yang kemudian kuketahui bernama telefon pintar yang menyimpan banyak sekali gambar Radit dengan berbagai pose ala selebritis.

“Lebih baik aku mati!”

Tiba-tiba Mawar bangkit. Dengan gusar dan wajah berurai air mata, pandangannya menyapu seisi kamar. Entah, aku tak menahu apa yang ada di pikirannya dan apa yang sedang dicarinya. Beberapa menit, setelah tak kunjung menemukan apa yang sebenarnya ia cari, tiba-tiba pandangan kami bertemu. Aku sampai bergidik ngeri saat bersitatap dengan wajahnya. Bola matanya terlihat menyaga, seperti bola mata api.

“Lebih baik aku mati daripada melihat Radit bersama gadis lain,” gumamnya sambil meraih dan menimang-nimang tubuhku. Perlahan, aku mulai menyadari apa yang selanjutnya terjadi ketika ia memanjangkan tubuhku dan membuat simpul melingkar. Dalam sekian menit ia telah menaikkan kursi di atas meja kayu, lalu berdiri di sana untuk mengikatkan salah satu ujung tubuhku di salah satu kayu penyangga atap kamarnya yang tak terlalu tinggi dan tak berplafon.

Berkali kuteriakkan padanya bahwa bunuh diri adalah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Tak lupa kukatakan padanya bahwa putus asa, terlebih hanya gara-gara masalah cinta, adalah sebuah kekonyolan. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik yang akan datang melamar kelak jika usianya sudah matang untuk menjalani biduk rumah tangga. Namun, sekencang apa pun kupekikkan kata-kata larangan dan motivasi, nyatanya semua terasa percuma. Ah, aku baru sadar. Bagaimana mungkin ia mampu mendengar ucapan seutas tali?

***

“JADI, kamu saksi bisu kematian gadis itu?” tanyaku setelah ia selesai menceritakan kronologi kejadian yang barusan kulihat.

Tali itu mengangguk dengan raut pilu.

“Kasihan sekali gadis itu ya, usianya masih remaja, tapi nekat gantung diri.”

“Ya, begitulah, dan sampai detik ini entah kenapa aku masih merasa bersalah karena tak kuasa menggagalkan aksi nekatnya,” raut tali itu sangat sedih.

“Hei, kamu tak usah merasa bersalah begitu, karena kamu memang sama sekali tak bersalah. Duniamu berbeda dengan dunia gadis itu. Kamu memang bisa mendengarnya, tapi ia tak pernah bisa mendengar suaramu. Semoga saja kejadian ini dapat menjadi pelajaran penting bagi para orang-tua di dunia ini.”

Ia hanya diam mendengarkan kata-kataku. Tetapi tiba-tiba ia menatapku dengan dahi berkerut. Sepertinya ia baru teringat sesuatu.

“Kamu benar, semoga saja kejadian tragis ini dapat menjadi pelajaran berharga, khususnya bagi kedua orangtua Mawar!” ucapnya keras sekaligus gemas. Giliran aku mengemyit keheranan. Sepertinya ia sangat mengenal sekaligus membenci orangtua Mawar. Tetapi, kenapa?

“Gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaan, mereka mengabaikan anak gadisnya yang sangat butuh bimbingan dan arahan hidup. Harusnya mereka mengajarkan pendidikan agama pada Mawar, bukan malah memberi kebebasan di luar rumah tanpa kontrol. Dulu, ketika ibunya Mawar belum menjadi wanita karier, ia memiliki banyak waktu untuk Mawar di rumah. Tetapi sejak menjadi sekretaris di kantor pemerintahan, nyaris tak pernah lagi ada waktu untuk memperhatikan pergaulan anak gadisnya di luar sana.”

Aku menyimak serius cerita yang mengalir tanpa jeda dari bibirnya. Ketika kami berdua masih ingin mengobrol panjang lebar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh meruangi langit yang kini telah rata berkalang mendung.

“Sepertinya, tak lama lagi hujan turun, maaf aku pamit dulu, aku harus kembali ke sarang,” aku mohon pamit padanya.

“Terima kasih, Semut, kamu telah menjadi teman berbagi kesedihan,” ucapnya lirih sambil tersenyum tipis meski raut sedih dan duka masih melekati wajahnya.

***

DAN di sinilah aku sekarang. Di salah satu batang pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Aku berteduh di balik sebuah daun hijau yang cukup lebar dan mampu menahan tubuhku dari tempias air hujan. Sebelum tiba di liang batang pohon mangga yang selama ini menjadi sarangku, hujan deras keburu turun. Aku pun berhenti, lantas berteduh di sebalik daun mangga yang cukup nyaman dijadikan sebagai tempat berlindung.

Hujan masih menderas. Sementara di bawah sana, beberapa meter di sebelah pohon mangga ini, seutas tali yang beberapa jam lalu dibuang oleh salah seorang pernbantu rumah orangtuanya Mawar terlihat bergigil kedinginan. Dari ketinggian ini, aku dapat melihat tali itu kembali menangis hingga beberapa lama. Air matanya terus menetes. Mengalir. Sampai-sampai, aku sulit membedakan yang mana air mata dan yang mana air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Kedua air berbeda sumber itu pun menyatu. Menggenangi tanah. Mengalir deras dan berubah keruh akibat bercampur tanah. Hei, tunggu! Tak hanya keruh, tapi juga berwama merah. Warna merah yang berasal dari darah leher Mawar yang menodai simpul tali itu.***

Advertisements