Cerpen Irwan Syamsir (Fajar, 10 Juni 2018)

KARTU LEBARAN BUAT LAIKA ilustrasi Fajar.jpg
KARTU LEBARAN BUAT LAIKA ilustrasi Fajar

SAMPAI hari ini Laika masih menunggu. Belum ada kartu lebaran yang tiba di tangannya. Kartu berwarna menyala yang selalu dinantinya di pelabuhan. Tempat kapal-kapal datang dan bepergian. Di sanalah ia menggantungkan nasibnya. Semenjak kekasihnya merantau ke seberang, Laika hanya berpasrah untuk tidak bertemu, lantaran lelaki yang dicintainya itu toh sedang menabung untuk masa depan hubungan mereka.

Tak ayal, mujur selalu dekat, belum sampai setahun sejak kekasihnya itu bekerja, Laika selalu mendapatkan kiriman yang beragam. Meski demikian, itu takkan bisa membendung kerinduannya. Ia hanya berharap suatu hari Rannu pulang dan melamarnya. Paling tidak bisa datang di hari raya, itu sudah menjadi kebahagiaan yang dinantikan sebagaimana orang-orang pada umumnya. Tetapi ternyata takdir tidak selalu seperti yang diinginkan. Ini sudah jelang lebaran kelima, Rannu belum juga bisa pulang dan mewujudkan cita-cita mulianya.

Untung saja Laika seorang yang pengertian, meski setiap kali jelang lebaran tiba, hanya sebuah kartu yang datang. Kartu itu ukurannya hanya sejengkal tangan dan hanya ada sekian kata di dalamnya. Tetapi entah mengapa Laika amat senang menerimanya. Bukan karena Rannu menyertakannya dengan sebuah parsel untuk calon mertuanya, tetapi pada kartu itulah kenanganya tersimpan. Awal berkenalan dan saling jatuh cinta dimulai dari kartu lebaran yang diberikan langsung oleh Rannu di teras masjid, selepas tarawih ke dua puluh tujuh. Itulah yang kemudian menjadi kebiasaan dan mewarnai hubungan mereka setiap tahunnya.

Namun, rasa-rasanya tahun ini sangat berbeda. Lebaran tinggal tiga hari lagi dan belum ada kartu lebaran yang tiba. Perasaan-perasaan jadi bercampur aduk. Laika menyimpan kecemasan. Apakah yang telah terjadi? Apakah Rannu terlalu sibuk bekerja? Tidak. Tidak. Laika menegaskan. Tidak mungkin Rannu lupa. Barangkali belum sempat saja. Ia tetap menunggunya.

Di tengah hiruk-pikuk mudik yang semakin ramai, sudah dari kemarin Laika terus merapat ke pelabuhan menunggu kapal yang datang. Tetapi nihil, belum ada kiriman untuknya. Ia harus pulang dengan hampa tetapi tak sedikitpun menggugurkan rasa cintanya. Justru karena kecintaannya itulah, ia semakin khawatir. Apa mungkin Rannu sedang sakit karena kelelahan kerja? Laika tiba-tiba merasa bersalah karena dirinyalah lelaki yang dicintainya itu merantau, bekerja sekuat tenaga, demi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk berumah tangga.

“Sudahmi nak, tidak perlu terlalu khawatir. Esok masih ada kapal yang datang”

Jika bukan karena cinta, perempuan tidak akan memiliki ketabahan menunggu siapapun yang meski belum pasti baginya. Laika selalu berusaha sabar setiap diingatkan oleh ibunya. Di luar sana orang-orang sudah semakin sibuk mempersiapkan lebaran. Tidak sekali juga terdengar suara tetangga yang riuh menyambut keluarganya dari rantauan. Tiga hari lagi hari kemenangan akan dirayakan. Laika memendam cemburu namun berusaha tersenyum setelahnya. Ia yakin bahwa ini hanya masalah waktu.

“Ada mi kirimanku pak?”

Pertanyaan itulah yang selalu terucap setiap sampai ke pelabuhan. Tetapi sayang tidak ada jawaban yang menenangkan. Laika hanya berpasrah. Barangkali esok sudah datang. Meskipun hanya kartu, bagi Laika itu adalah sesuatu yang sangat besar. Sudah jadi hal yang amat langka seorang kekasih masih sempat mengirim kartu lebaran yang terbungkus dalam amplop dan ada seuntai kalimat manis yang ditulis tangan, tangan-tangan yang lelah bekerja tetapi masih bisa menyatakan cinta dan kerinduannya. Laika selalu berusaha tersenyum. Membayangkan semua itu. Siapa tahu tahun ini lebih istimewa, jadi wajar saja bila terlambat sekian hari karena tentu saja Rannu akan menyiapkan sedemikian rupa. Memikirkan kalimat apa yang paling tepat yang akan ditulis untuknya. Perempuan yang amat ditawan cinta itu, mencoba menenangkan dirinya.

Hingga di hari berikutnya, Laika masih tetap setia menunggu. Setiap mendengar bunyi kapal ia selalu sigap dan bersiap-siap untuk berangkat ke pelabuhan. Meski begitu banyak kapal yang lalu-lalang, tetapi hanya ada satu kapal pulang pergi ke arah pulau, tempat lelaki yang dicintainya itu bekerja keras untuknya. Namun sayang, keadaan masih tetap sama. Di pelabuhan yang cukup lengang itu, semakin heboh turunnya penumpang yang membawa bertumpuk-tumpuk barang di punggungnya. Laika memendam kesedihan dan mencoba menyapu air matanya. Tetapi perasaan-perasaan itu seketika berubah saat nahkoda kapal mencoba menyemangatinya.

“Sudahmi dek Laika, jangan terlalu bersedih. Siapa tahu pujaan hatimu akan pulang untuk lebaran jadi tidak mengirim apa-apa lagi.”

Mendengar itu, Laika tersenyum dengan semringah. Ia baru terpikir akan hal demikian. Perempuan itu berlari menemui orang tuanya. Ia akan menyambut kedatangan kekasihnya yang telah lama dinanti-nantikan. Lebaran tinggal sehari lagi dan esok masih ada satu kapal yang datang. Kapal terakhir yang akan mengantarkan jiwa dan raga Rannu ke hadapannya. Betapa besar keyakinannya bahwa itu memang benar. Laika akan bertemu dengan lelaki yang dicintainya membawa kepastian beserta kartu lebaran dengan untaian kalimat yang ditulisnya, lalu akan dibacakan langsung di hadapannya.

Kampung halaman semakin riuh. Ramadan akan berakhir dengan kemenangan yang akan disambut di hari esok. Orang-orang sibuk mempermak rumah dan lalu-lalang ke pasar. Tetapi tidak bagi Laika. Sudah tiga jam ia berada di tepi pelabuhan. Ia tidak ingin terlambat sedetikpun untuk menyambut kedatangan kekasihnya. Ia yakin sekali, kerinduan yang telah lama ditanggungnya, sebentar lagi akan terlekaskan. Hingga sekian menit kemudian, tak jauh dari pandangannya, sebuah kapal menepi pelan-pelan ke pelabuhan. Ketika para penumpang berbondong-bondong turun, wajah Laika semakin bahagia. Tetapi siapa yang menyangka, sampai kapal sepi, tidak juga muncul wajah Rannu. Laika naik ke atas kapal. Barangkali lelakinya kewalahan membawa barang. Namun nihil, Rannu tidak ada. Nahkoda kapal menghampirinya. Ia membawa sesuatu. Laika tersenyum berusaha menerima. Laika yang malang dan tabah, membukanya dengan rasa pengertian. Ternyata benar. Tahun ini benar-benar berbeda. Laika tak lagi menerima kartu lebaran melainkan undangan pernikahan Rannu dengan perempuan lain yang tidak pernah diduganya. Laika seketika diam dan sulit menahan air mata.

Esok semua orang akan merayakan lebaran dan maaf-maafan. Tetapi bagaimanakah cara memaafkan pengkhianatan?

 

Samarinda, 7 Juni 2018

Irwan Syamsir, lahir di Pambusuang, Polewali Mandar. 12 Agustus 1995. Mahasiswa Sastra Indonesia Unviersitas Mulawarman. Tergabung sebagai relawan Armada Pustaka, Aksi Kamisan Kaltim dan Sindikat Lebah Berpikir.

Advertisements