Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 10 Juni 2018)

Doa Arwah ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Doa Arwah ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 

HALEK sedang membantu anaknya yang duduk di kelas 2 SD mengerjakan tugas rumah, ketika berita duka itu tersiar dari corong masjid.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Jumaria binti Cik Amat, pukul tiga sore ini dikarenakan sakit. Jenazah akan dikebumikan hari ini juga.”

Lutut Halek gemetar. Dia sangat kenal dengan nama yang disebutkan. Tidak saja karena antara dia dan Jumaria punya pertalian darah, tetapi karena peristiwa memalukan yang terjadi sepuluh tahun silam. Saat bapaknya meninggal dunia dan acara tahlilan yang digelar selama tujuh malam itu dicederai Jumaria pada malam pertamanya. Perkaranya sepele: doa arwah!

“Kau tak tahu, siapa almarhum Saiful bin Malik, hah?!”

Halek masih tak dapat melupakan teriakan Jumaria itu. Sepasang mata yang melotot dan telunjuk yang lurus ke arah batang hidungnya. Bibinya itu memaki-maki dirinya dengan berapi-api di depan semua orang yang datang malam itu. Dia kebingungan. Menoleh ke kiri dan ke kanan memandang para tamu dengan syok. Mulut tergagap menahan malu.

“Saiful itu adik kandung bapakmu. Dia memang sudah mati. Dan justru karena dia sudah mati, kau harus memasukkannya ke dalam doa arwah. Kau sengaja tak memasukkannya. Aku tahu itu! Kau dendam karena perkara warisan kebun karet. Itu memang hak pamanmu. Bapakmu yang serakah!”

Dada Halek terasa mendidih ketika mendengar almarhum bapaknya yang baru dikebumikan siang tadi dibawa-bawa dalam perkara ini. Wajahnya memerah. Giginya bergemerutup. Kakinya gemetar, menahan gigil.

“Bibi jangan asal ngomong,” dia menggeram, mengeram kemarahan yang seperti gelegak larva gunung berapi di dadanya. Jika tak memandang para tamu, dia sudah ikut mengamuk. Bahkan bisa jadi telapak tangannya akan melayang ke mulut lancang bibinya.

Advertisements