Cerpen Eko Setyawan (Solo Pos, 10 Juni 2018)

Bunga-bunga Marina ilustrasi Solo Pos.jpg
Bunga-bunga Marina ilustrasi Solo Pos 

Semua bermula ketika wanita itu menanam bunga-bunga di halaman rumahnya yang begitu kering. Ia merasa kekeringan bisa diatasi dengan menanami tumbuh-tumbuhan. Tanaman dipilih dan dipilah sesuai dengan ukuran pot yang dijajar dengan rapi. Ada pula yang ditanam langsung pada tanah tanpa perantara pot-pot.

Bunga-bunga dipilih sebagai tanaman yang dijejalkan di halaman depan rumah. Perempuan itu merasa bunga-bunga akan hidup dengan mudah daripada tumbuhan lainnya. Pertama ia memilih mawar. Tentu saja, karena mudah menanamnya. Tinggal memotong batang meminta pada tetangga dengan diiris sedikit miring lalu ditancapkan pada tanah. Hanya tinggal menunggu hari untuk akar-akar batang mawar itu menyebar dan kokoh.

Selanjutnya adalah melati, tinggal menali di pohon atau di pagar maka merambat. Dalam beberapa pekan sekali, ketika pagi hari, baunya akan merebak di penjuru rumah hingga ke dapur. Juga bunga matahari yang warnanya begitu menarik, bunganya sebesar telapak tangan orang dewasa, selain itu bijinya juga bisa disangrai dan dijadikan cemilan.

***

Di tikungan terakhir sebelum memasuki desa ini, kalian akan menemukan bercak darah di jalan aspal. Siang tadi ada kecelakaan yang merenggut korban jiwa. Badan wanita itu koyak dan badannya tak utuh seperti semula.

Orang-orang yang melihat kejadian nahas itu seketika mengerubungi, seketika itu pula menghamburkan diri karena ketakutan dengan mayat yang tergeletak. Sebagai manusia normal, rasa jijik menghinggapi orang-orang itu. Maklum saja, mereka juga manusia biasa yang juga jijik pada hal-hal yang dianggap tidak wajar. Atau karena yang dilihat memang sangatlah mengerikan. Marina, wanita yang mati di tikungan terakhir sebelum masuk desa ini, mati dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Selain itu, seperti ada firasat ketika ia akan mati, sebab ia membawa mawar dan bunga-bunga lainnya, serupa sedang menaburkan bunga pada mayatnya sendiri. Bunga-bunga yang ia bawa berhamburan menimpa dirinya juga darah di sekitar tempat ia tergeletak.

Bayangkan saja, ketika orang mati, ditaburi beraneka ragam bunga warna-warni. Entah apa maksudnya. Jika ditarik dari hal yang logis, maka ruap bunga dapat menyembunyikan bau anyir yang keluar dari tubuh orang yang mati. Mungkin saja memang begitu.

Sebelumnya, Marina tampak baik-baik saja. Pada pagi hari ia masih disibukkan dengan bunga-bunga yang ditanamnya. Memotong helai demi helai batang yang kering. Menghirup bau bunga-bunga yang mekar. Lalu berbelanja sayur untuk memenuhi tugasnya sebagai perempuan tapi tak pernah terlaksana dengan baik.

“Apa ada bunga kol, Pak?” tanya Marina kepada penjaja sayur keliling yang membawa dagangannya dengan sepeda motor—yang harganya tak murah.

Memang zaman sekarang sangat unik. Bayangkan saja, seorang penjaja sayur menggunakan sepeda motor sport yang harganya—tidak bisa dikatakan murah—dan tentu saja tidak lagi menggunakan gerobak dorong. Akan tertinggal jika masih menggunakan moda kuno itu. Sekarang persaingan sangat ketat. Bahkan, sejak subuh para penjaja sayur itu berlomba-lomba memacu motor untuk mencapai kota. Meskipun sebagian juga bersaing keluar masuk kampung demi tunainya tugas mereka yakni dagangan mereka habis.

“Ada, Bu. Mau ambil berapa?” tanya penjaja sayur itu dengan nada yang tenang. “Kalau ambil banyak nanti dapat bonus,” rayunya.

“Boleh juga, Mas,” timpal Marina yang tertarik dengan tawaran penjaja sayur itu.

“Mau berapa, Bu?”

“Semua sekalian saja,” kata Marina yakin.

“Wah, matur nuwun, Bu.”

Penjual itu memasukkan semua bunga kol yang dibeli Marina. Marina menyerahkan uang dan bergegas kembali menuju rumahnya. Ia berjalan tergesa dan dalam pikiran Marina muncul bahwa ia akan memasak sebagian bunga kol lalu sisanya akan ia tanam bersama bunga-bunga yang sebelumnya telah ditanam.

Tapi ia tak memasak bunga kol itu, Marina malah langsung menuju taman di depan rumah. Ia mengambil pot dan memberinya tanah lalu meletakkan bunga kol di atas tanah. Dalam situasi ini, dalam pikirannya mencuat bahwa ia akan berkebun. Menanam banyak bunga kol dan akan memanennya setiap saat.

Tetapi tentu saja semua hal itu akan sia-sia belaka. Sebab bunga kol yang telah dipanen tak akan bisa ditanam lagi. Sama halnya telur yang telah digoreng tak akan bisa menjadi telur kembali. Segalanya telanjur terjadi dan tak akan kembali. Tetapi anehnya Marina memaksakan kehendaknya dengan harapan bahwa ia akan berhemat.

***

“Jangan pernah mengusikku. Biarkan aku memelihara bunga-bunga ini. Kalau kau tak suka, jangan melarangku untuk mencintainya,” kata Marina pada suaminya.

Semakin hari Marina semakin gila dengan bunga-bunga yang ditanamnya. Ia merasa bahwa apa yang telah ditanamnya akan bemianfaat pada dirinya. Ia begitu khawatir jika sewaktu-waktu tanamannya mati. Ia dibuat keranjingan oleh bunga-bunga. Bahkan ia meminta suaminya untuk memindahkan letak kamarnya dekat dengan kebun bunganya.

“Tetapi yang kau lakukan sudah di luar batas,” kata suami Marina dengan geram.

“Apakah kau tak suka melihatku berbahagia. Terlebih lagi, aku hanya menanam bunga-bunga yang dapat kau lihat sewaktu-waktu dan kau hirup baunya,” ucap Marina mengelak. Ia menunjukkan rasa tak suka pada suaminya.

“Tapi kau sudah lupa dengan tugasmu sebagai istriku. Kau tak lagi memasak, tak lagi mencuci, tak lagi membersihkan rumah, dan yang paling kubenci adalah kau tak bisa melahirkan anak. Itu semua karena kau sibuk mengurusi bunga-bunga,” lanjut suami Marina dengan nada berapi-api.

Seperti genderang perang yang sedang ditabuh, Marina ikut terbakar dalam peperangan yang diciptakan oleh suaminya. Darah Marina mendidik. Ia tak terima dengan ucapan suaminya.

“Jika kau tak suka dengan apa yang kulakukan, ceraikan aku sekarang,” seru Marina.

“Apa kau gila?”

“Menurutmu bagaimana? Sudah kubilang sebelumnya, jangan membatasiku untuk mengurusi bunga-bunga. Bunga-bunga adalah lambang kehidupan yang sesungguhnya. Jika manusia memahami keindahan, tentu saja mereka akan mencintai bunga-bunga. Mungkin saja kau tak pernah mencintaiku seperti halnya kau membenci bunga-bunga yang kutanam,” kata Marina dengan nada yang berkobar serupa tungku yang selama ini ia tinggalkan karena terlalu sibuk mengurusi bunga-bunga kesayangannya.

Marina sungguh keras kepala. Karena kemarahannya, ia bergegas pergi meninggalkan suaminya dan berusaha pergi menjauh. Ia pun berjalan menyusuri jalan. Tapi nahas, sampainya di tikungan desa, ia terserempet mobil yang membawa karangan bunga. Ia terseret beberapa meter. Wajah Marina terbentur aspal dan kulitnya mengelupas. Wajahnya memerah serupa bunga mawar yang ditanamnya. Wajah Marina menghilang serupa bunga yang mekar dengan sempurna.

Mayat Marina dikuburkan di kompleks pemakaman desa. Bunga-bunga yang disayanginya telah mengiringi kematiannya. Bunga-bunga yang ditanam Marina dipetik dan digunakan sebagai sawur (menaburkan bunga ke jalan ketika iring-iringan jenazah menuju makam). Bunga-bunga itu akan membuka jalan Marina menuju kehidupan selanjutnya. ***

Advertisements