Cerpen Hary B Kori’un (Padang Ekspres, 10 Juni 2018)

Aubade Perpisahan ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Aubade Perpisahan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

KEDUANYA akhirnya benar-benar bertemu di Koto Baru, tempat yang disepakati dalam pesan-pesan pendek yang sekian lama mereka lakukan. Pertemuan nostalgia setelah sekian lama mereka tak berjumpa lagi. Pertemuan yang barangkali juga akan menjadi cara berpisah permanen seperti yang mereka sepakati.

“Setelah pertemuan nanti, kita harus berjanji untuk tidak saling komunikasi lagi, atau bahkan berjumpa lagi,” ujar si perempuan dalam pesan pendeknya.

“Berpisah lagi setelah sekian lama kita tak saling berkomunikasi?”

“Iya. Berjanjilah. Ini demi kebaikan kita…”

“Kebaikan kita?” tanya si lelaki, “Apakah selama ini aku mengganggumu? Bukankah sekian tahun kita saling mencari? Dan setelah sekarang saling menemukan, kita harus berpisah untuk selamanya?”

“Berjanjilah. Aku tak akan mau datang kalau kamu tak mau berjanji…”

Si lelaki akhirnya menyerah. Meski dengan perasaan sedih, dia harus menerima. Meski dia merasa tak adil, tetapi dia harus memilih: bertemu lalu berpisah dan tak berhubungan apapun lagi, atau tak bertemu sama sekali.

Dia sangat merindukan wanita itu. Dan kini, pilihan sulit itu harus diterimanya.

“Baiklah… Kita bertemu di Koto Baru…”

“Dan berjanjilah, kita tak naik di gunung yang sama…”

“Ha?”

“Aku naik Merapi bersama rombonganku dari Muarabungo, dan kamu naik Singgalang bersama rombonganmu…”

“Aku tak bersama rombongan. Aku sendirian…”

“Nanti kamu pasti dapat rombongan…”

“Ohhh…” si lelaki mengeluh dalam pesannya yang ditulis untuk perempuan itu.

Koto Baru adalah nama sebuah pasar yang letaknya berada di jalan utama Padangpanjang-Bukittinggi. Lebih dekat ke Padangpanjang. Hanya sekitar 3 km setelah pendakian panjang dari pusat kota. Siapapun yang akan mendaki, baik Gunung Singgalang atau Merapi, akan singgah di kanagarian ini. Jika kamu ke sini, baik untuk tujuan mendaki atau tidak, bawalah jaket tebal. Kulitmu pasti tak akan tahan dengan hawa dingin yang diembuskan oleh kedua gunung itu. Lihatlah semua orang yang melakukan aktivitas di pasar ini. Yang lelaki selain memakai jaket tebal, biasanya juga membawa sarung yang dilingkarkan di leher atau bahu mereka. Mereka juga memakai penutup kepala yang langsung menutup kedua telinganya. Yang perempuan juga begitu. Memakai jaket dan kain panjang, dan juga penutup kepala. Hampir semua perempuan di tempat ini memakai jilbab, baik yang tua, muda, atau remaja.

Dari tempat ini, kamu akan bisa melihat dua gunung yang membiru di kanan dan kirimu. Jika kamu dari arah Padangpanjang, maka Singgalang berada di kirimu, dan Merapi ada di kanan. Jika cuaca sedang baik tanpa kabut, kamu akan melihat puncak Merapi yang menghitam karena bebatuan di puncaknya. Kadang-kadang kepulan asap dari kawahnya juga terlihat. Sedangkan di sebelah kirimu, kau hanya bisa melihat Singgalang yang membiru dari pinggang sampai puncaknya. Singgalang sudah lama menjadi gunung mati. Tak mengeluarkan lahar lagi. Tak aktif.

Hampir semua pendaki akan istirahat sebentar di masjid menjelang naik ke masing-masing gunung. Masjid itu ada di sebelah kiri jalan raya dari Padangpanjang. Jika bus yang kamu tumpangi menurunkanmu di pasar, maka kamu akan berjalan ke arah balik sebelah kanan, dan harus menuruni jalan berjenjang menuju masjid itu. Para pendaki biasanya akan beribadah dulu, atau sekadar membersihkan diri dan meluruskan punggung sejenak. Biasanya, mereka akan mulai melakukan pendakian sekitar pukul 20.00 WIB. Meski datang sendirisendiri, mereka akan bersama-sama naik.

Si perempuan itu sudah lebih dulu tiba. Dia menunggu sekitar dua jam. Ketika seluruh rombongan yang bersamanya memilih menuju masjid lebih dulu, dia masih bertahan di sebuah warung pinggir jalan di pasar. Dia minum teh hangat yang tak berapa lama kemudian berubah dingin karena cuaca.

“Siapa yang lebih dulu sampai, harus menunggu di warung tempat kita pernah minum bersama dulu,” kata si lelaki dalam pesan sebelumnya.

Dan si perempuan itu menunggu di sana sebelum sebuah mobil van warna hitam berhenti dan memilih parkir di depan warung itu. Dia terlihat tergesa-gesa menutup mobilnya dan menemui perempuan itu.

“Kamu masih cantik seperti dulu…”

“Kamu sudah kelihatan menua. Ubanmu sudah banyak tumbuh,” kata si perempuan tertawa renyah.

Mereka kemudian berpelukan. Agak lama. Selayaknya drama-drama Korea. Pelukan dalam diam. Mereka menikmati ketenangan dalam pelukan masing-masing. Ketika mereka menguraikan pelukan, terlihat orang-orang di sana banyak yang menatap mereka. Sebenarnya bukan pandangan yang aneh ada orang berpelukan di sini. Banyak dan sering sekali. Orang-orang itu mungkin berpikir berbeda-beda. Mungkin ada yang menganggap itu sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Atau pasangan lama yang bertemu kembali dan meluahkan rasa kangennya. Atau dua teman biasa yang memang lama tak bertemu.

Tapi keduanya tak peduli.

“Aku mencarimu di semua media sosial dan bertanya ke teman-teman kita untuk bisa menghubungimu. Kamu seolah hilang ditelan tanah….” kata si lelaki antusias dan merasa ini pertemuan yang luar biasa baginya.

“Aku sudah menjelaskan padamu. Aku tak punya akun media sosial apapun.”

“Iya. Untung ada teman yang memberikan nomormu saat pertemuan alumni yang kamu pun tak mau datang itu…”

“Aku juga tak suka pertemuan-pertemuan nostalgia semacam itu…”

“Kamu benar-benar tak memberikan kabar apapun padaku selama lebih sepuluh tahun ini…”

“Aku memang sengaja. Kita harus saling melupakan karena kita memiliki kehidupan masing-masing…”

“Kita pernah saling mencintai begitu kuat…”

“Itu cinta masa muda. Tidak begitu kuat. Hanya kuat geloranya. Pondasi bangunannya tidak terlalu kuat…”

Mau dilanjutkan obrolan mereka yang sedang bernostalgia ini? Baiklah. Memang bagusnya dilanjutkan, karena keduanya sebentar lagi akan naik gunung yang berbeda dan mungkin mereka tak akan bertemu lagi seperti janji mereka sebelumnya di pesan-pesan pendek.

“Aku serius ketika itu. Setamat kuliah aku akan melamarmu…” kata si lelaki yang memang terlihat lebih agresif sedari tadi.

“Aku yang tidak mau. Aku berpikir akan lebih baik kalau kita tak saling bersama.”

“Apa alasan kita tak bisa bersama?”

“Kadang banyak hal saat kita mengambil keputusan tak perlu alasan…”

“Aku menyakitimu?” suara si lelaki terdengar masygul.

“Aku yang menyakitimu…”

“Aku tak merasa tersakiti. Kamu tak pernah menyakitiku…”

“Nanti kamu akan tahu sendiri…”

Embusan angin tiba-tiba lebih kencang dari sebelumnya dan masuk ke warung minum itu. Mungkin angin itu tahu gejolak apa yang dihadapi dua orang ini. Mungkin angin itu juga ingin membawa pergi seluruh kesedihan keduanya yang berjanji untuk bertemu setelah lebih sepuluh tahun dan juga berjanji untuk berpisah selamanya setelah ini.

Cinta kadang memang sulit dimengerti. Seperti keputusan si perempuan itu yang tak dipahami si lelaki. Tak ada alasan apapun. Tanpa kabar apapun. Tanpa ucapan apapun. Tiba-tiba dia menghilang dari jangkauan lelaki itu.

***

JARUM jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri lelaki itu hampir menunjukkan pukul 20.11 WIB. Rombongan si perempuan itu sudah berada dalam formasi lengkap ketika datang tadi. Mereka berjumlah 12 orang, termasuk perempuan itu. Di beberapa tempat, terlihat kelompok-kelompok pendaki yang hampir semua seragam memakai jaket tebal, celana gunung dengan banyak saku di kanan kiri, dan sebo penutup kepala yang sekaligus menutupi telinga masing-masing.

“Saatnya sudah tiba…” si perempuan seperti bergumam. Si lelaki yang berada di sebelahnya seolah terbangun dari mimpi indahnya.

“Kita baru saja bertemu…”

“Kita sudah sepakat…”

“Aku ikut kamu, mendaki Merapi…”

“Kita sudah sepakat. Kamu ke Singgalang. Itu, banyak pendaki yang akan ke sana…”

“Aku tak mengenal mereka satu pun…”

“Nanti kamu akan berkenalan dan menjadi satu rombongan…”

Si lelaki menjadi sentimentil. Ketika bertemu perempuan itu tadi, dia seperti seorang pencipta lagu dengan lirik-lirik cinta yang indah dan penuh gelora. Kini, dia harus membanting gitarnya karena yang keluar dari nada-nada itu adalah bunyi-bunyi fals dan lirik-lirik patah. Jika harus berpisah dengan cara seperti ini, mengapa mereka merencanakan pertemuan sebegitu lama? Ini tidak adil bagiku! Si lelaki memukulkan tinjunya pada tas ransel besar di dekatnya.

“Kita sudah bersepakat. Dan kamu sudah berjanji…” terdengar suara si perempuan, agak serak. Nampaknya dia juga tak merelakan perpisahan ini. Tetapi dia menguatkan hatinya. “Pergilah bersama mereka…” katanya lagi sambil memeluk si lelaki. Pelukan terakhir, mungkin. Mungkin juga mereka akan bertemu lagi di suatu saat nanti. Semuanya serba mungkin.

Setelah pelukan terurai, si perempuan mendorong si lelaki agar berjalan, tapi jemarinya masih memegang jemari si lelaki. Pegangannya justru semakin kuat ketika kehendaknya untuk menyuruh lelaki itu berjalan juga kuat.

“Ini tak adil bagi kita…” kata si lelaki. Dalam remang cahaya di pinggir jalan itu, terlihat ada butiran bening mengalir di pipinya.

“Pergilah… Ingatlah, kita berpisah di saat kita masih saling mencintai. Itu tidak buruk. Tapi kita harus segera saling melupakan. Ketika kita masing-masing sampai di puncak, pagi nanti, kita harus saling melupakan. Tak ada pertemuan lagi saat kita turun nanti…”

Kadang, cinta memang memberikan pilihan yang tidak adil. Dalam hati wanita itu, dia ingin membawa si lelaki bersamanya dalam pendakian ke Merapi. Tetapi pikirannya menolaknya. Harus diakhiri sekarang. Jika tidak, dalam pikirannya, semuanya akan buruk nantinya…

Pelan-pelan, dia pegangan mereka pada jari masing-masing terlepas. Dan, juga pelan-pelan, lelaki itu berjalan sambil terus menoleh para perempuan yang dicintainya itu. Si perempuan tak bergerak dan tatapannya terus tajam pada lelaki yang dicintainya itu yang kini pelanpelan juga sudah menjauh pada gelap dan masuk dalam kelompok besar pendaki yang akan ke Singgalang.

Setelah bayangan lelaki itu tak terlihat, dia membalikkan badan. Dia mengusap pipinya dengan syal yang dipakainya. Teman-teman serombongannya yang menunggu  sejak tadi dan menjadi saksi perpisahan mereka, memberinya semangat. Beberapa di antaranya memeluknya sambil berjalan.

Tangisnya pecah. Dia terisak. Tetapi perjalanan harus tetap dilanjutkan.

***

LELAKI itu sudah berhari-hari menunggu di Pesanggrahan, ceck point pertama di pinggang Merapi. Banyak pendaki yang tetap bertahan di sana, membantu sebisa mungkin para petugas SAR yang naik-turun ke puncak.

Enam hari lalu, dia seperti orang gila. Pagi hari, ketika sudah sampai ke Telaga Putri dan sedang membasuh mukanya dengan air yang dingin itu, dia dan semua yang ada di sana dikejutkan dengan suara letusan yang sangat keras, berasal dari Merapi. Pagi sangat cerah ketika itu sehingga kepulan asap yang secara cepat membumbung tinggi, terlihat jelas.

“Saraaahhhh…” Spontan dia berteriak memanggil nama perempuan yang sore kemarin ditemuinya.

Dia langsung berlari menuruni Singgalang. Dia seperti orang gila. Beberapa teman yang dikenalnya di pendakian berusaha menahannya, tapi tak ada yang bisa mencegahnya. Dia terus berlari ke bawah dengan pikiran dan perasaan kacau. Yang ada dalam ingatannya hanya perempuan itu. Sebisa mungkin dia berdoa agar Tuhan menyelamatkan perempuan yang baru ditemukannya lagi setelah sepuluh tahun tersebut.

Namun, hingga hari ini, perempuan itu, Sarah, belum ditemukan. Dua pendaki meninggal dan puluhan lainnya luka-luka ketika Merapi “batuk” dan mengeluarkan material, meski dalam skala kecil. Ketika letusan kecil itu beakhir, tim SAR dibantu pendaki yang selamat dan beberapa kelompok pecinta alam, bergerak melakukan evakuasi. Semuanya bisa dievakuasi. Kecuali perempuan itu.

Hingga akhirnya tim penyelamat menghentikan pencarian, Sarah tak pernah ditemukan.

Lelaki itu seperti tak percaya. Mengapa harus kehilangan dengan cara seperti ini?

Hingga bertahun-tahun kemudian, dia masih seperti orang linglung. Dia selalu mendaki Merapi di setiap tanggal pertemuan terakhir mereka. Dia berharap ada keajaiban.

“Pergilah… Ingatlah, kita berpisah di saat kita masih saling mencintai. Itu tidak buruk. Tapi kita harus segera saling melupakan. Ketika kita masing-masing sampai di puncak, pagi nanti, kita harus saling melupakan. Tak ada pertemuan lagi saat kita turun nanti…”

Dia ingat persis apa yang dikatakan Sarah ketika itu saat dia duduk di Puncak Merpati, puncak tertinggi Merapi, pagi ini. Pandangannya menyapu penjuru mata angin. Pada langit yang membiru. Awan-awan putih yang berarak. Cakrawala yang mahaluas. Barangkali, Sarah ada di sana…***

 

Pekanbaru, 15 Mei 2018

Hary B Kori’un adalah wartawan di sebuah media di Pekanbaru, Riau. Selain menulis cerpen, juga menulis novel. Novel terbarunya adalah Luka Tanah (2014). Novel lainnya yang sudah terbit adalah Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), Nyanyian Kemarau (2010). Pernah memenangkan beberapa lomba menulis cerpen, novel, maupun karya jurnalistik, tingkat daerah maupun nasional.

Advertisements