Cerpen Kei Ra (Rakyat Sumbar, 09-10 Juni 2018)

Ketakutan Bersama Mereka ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Ketakutan Bersama Mereka ilustrasi Rakyat Sumbar

GADIS berkulit putih takut bertemu mereka. Bukan karena dia pernah melakukan kesalahan, tidak pula tersebab sikap mereka yang membuatnya merasa sendiri. Mereka justru selalu berusaha menjaga, melindungi agar gadis berkulit putih merasa nyaman. Tidak ada sesuatu yang seharusnya dirisaukan. Namun dengan bertambah banyaknya waktu yang dia habiskan bersama mereka, semakin terasa pula kalau sesuatu mengusiknya.

“Nanti siang Hani jemput ya, Za,” teman satu sekolah dulu memberitahu. Ada penolakan di dalam kepala. Namun tidak cukup besar untuk mengubah keputusan awal. Bersama gadis itu dia pergi, bertemu mereka.

“Zara apa kabar?” tanya wanita berkerudung ungu dari balik kemudi. Wajahnya bersinar, seperti memancar ketenangan yang membuat gadis berkulit putih merasa ringan bersuara.

“Baik,” ucapnya sambil mengulas senyum.

Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa hangat meski pendinginnya dinyalakan. Jari-jemari tidak kaku seperti yang sudah-sudah. Sesekali gadis berkulit putih menoleh ke luar kaca, memandang jalanan yang sedikit membuatnya senang karena jarang ditemui. Jalanan yang tidak terlalu padat menjadi satu hal positif lain yang dia dapati hari ini. Mobil berhenti di depan pintu masuk setelah wanita paling dewasa di dalam mobil mengambil selembar kertas putih.

Dengan kecepatan biasa gadis berkulit putih mengikuti gerak kaki di depannya. Cukup dua kali naik eskalator, meja beserta kursi telah tertata. Di sana juga telah berkumpul sejumlah orang, beberapa di antaranya masih jelas dalam memori di dalam kepala.

“Duduk di sini, Za!” Seru salah satu perempuan di antara mereka. Hari ini dia menggunakan celana panjang krem dengan balutan kemeja di bagian atas.

Gadis berkulit putih mengangguk, mengikuti keinginan lawan bicaranya.

“Hai, Za!” Seseorang menyapa. Dia bangkit sesudah gadis bercelana krem memintanya menggeser posisi duduk. Gadis berkulit putih hanya balas mengukir untaian simpul.

“Masih ingat aku kan, Za?” Kali ini bersumber dari laki-laki, orang yang lima bulan lalu menjadi perbincangan karena sikapnya yang sedikit menarik perhatian. Gadis berkulit putih tersenyum. Ada seorang perempuan yang duduk di antara mereka. Obrolan berkembang, bersama dengan kursi yang bertambah penuh.

Di saat yang lain tengah sibuk dengan barang titipan masing-masing, dia menghampirinya yang tidak memesan apa pun. Tanpa berucap jelas dan rinci, kelinci— berwarna putih dengan pita biru—mendarat di pangkuan. Gadis berkulit putih mengangkat kepala dan hampir menatap mata laki-laki itu, tetapi gerak lawannya jauh lebih cepat. Sampai di akhir pertemuan dia sibuk bergurau, tertawa tentang ini itu, bersama banyak orang, tapi tidak dengan gadis berkulit putih. Ingatan tentang tingkah laki-laki itu terasa kental.

Meja sengaja disusun memanjang, dengan tidak menghalangi atau merusak posisi meja-meja lain. Teman-teman yang hadir juga tidak banyak berbeda dari anak-anak yang menemuinya lima bulan lalu, tapi itu tidak terlalu penting. Fokusnya tertuju pada rasa nyaman. Mereka memberi itu.

“Hai, Mi!” Gadis berkulit putih balas menyapa. Seorang gadis bergaya kasual datang mendekat. Posisinya sekarang berada di paling pinggir sofa panjang, sambil memegang minuman dingin. Tadi dia sempat menyingkir, bersama Hani yang mengajaknya berburu makanan.

“Liburan di sini?”

Dia mengangguk. Gadis berkulit putih berbasa-basi, mengajaknya berbicara ke sana ke mari. Dia sedikit bercerita tentang sepupu yang ditemui. Sesama perempuan namun dengan usia lebih muda, sedang berusaha menaklukkan hambatan di pendidikannya.

Sejauh ini sakit yang dirinya pikir akan mengganggu ternyata tidak banyak mempengaruhi. Gadis berkulit putih tersenyum dalam hati, menghargai kebaikan di siang ini.

Rombongan berhenti di pusat permainan elektronik, setelah melewati eskalator dan beberapa belokan yang entah ke kanan atau ke kiri. Di sinilah gadis berkulit putih berada, berkumpul bersama orangorang yang ingin menghabiskan waktu dengan tujuan masingmasing.

“Ada yang bawa kartu nggak?” Laki-laki berbadan tambun bertanya.

Musik dari pengeras suara milik toko yang mendominasi.

“Aku!” Gadis bercelana jeans hitam berseru.

“Tapi kosong,” tambahnya sambil nyengir.

“Patungan aja. 15000×9 juga udah lumayan,” usul dari yang lain.

“Ada yang keberatan?”

Tidak seorang pun mengeluarkan suara.

“Langsung beli aja,” laki-laki berkulit gelap memutuskan.

Sasaran pertama jatuh pada permainan lempar bola basket. Satu kartu digesek, lima pasang tangan yang saling bahu-membahu menyerbu satu ring. Sementara pemilik tangan-tangan lain sudah bergerak ke pojok berbeda.

“Nih!” Ucapnya sambil menyodorkan beruang merah versi kecil dan tidak bernapas.

“Apa?” Tanya dia yang masih bingung.

“Buat kamu.”

Gadis berkulit putih menerima titahnya, meski tanda tanya dalam kepala belum tuntas dia utarakan.

“Hati-hati, Ra, jangan kepincut sama gombalannya!” Seru salah seorang teman laki-laki yang langsung berlalu.

Gadis berkulit putih tersenyum mendengar celotehan itu. Sementara si pemberi hadiah sudah beranjak dari tempat berdirinya. Hadiah kedua dengan gaya serupa.

“Mau main apa, Za?” Pertanyaan itu merayap ke dalam telinga sesudah beberapa permainan dia ikuti alurnya—meski hanya menjadi penonton.

“Nggak usah,” jawabnya sambil mengedarkan pandangan ke tempat lain, kemudian berhenti ketika menatap sepatu kets hitam. Gadis berkulit putih menyentuh dan memperbaiki tali yang telah terlepas ikatannya.

Jangan sampai jatuh gara-gara ini, ingatnya dalam hati. Seseorang berjalan mendekat saat gadis berkulit putih beranjak bangkit. Mata mereka bertemu. Tidak ada getaran di dada yang berlebihan. Hanya sebuah gumaman yang tercetus di dalam hati, Ternyata dia datang.

Gadis berkulit putih melangkah ke arah berlawanan dan menghampiri kawan lain. Mungkin karena jarang beraktivitas fisik dan beberapa faktor lain, dia mulai merasa ada sesuatu yang mengganggu badannya. Tanpa berpikir mencari tempat beristirahat yang lebih nyaman, dia langsung mengambil posisi jongkok. Belum lama berselang, laki-laki di sekitarnya berbicara, “Pindah sana, kasih tempat buat Zara.”

“Sana, pindah!” Timpal kawan lain yang juga tidak dia lihat siapa orangnya.

“Nggak usah,” tolaknya sambil menoleh sekilas. Tidak lupa berusaha tersenyum.

“Eh, main lagi, ayo!” Laki-laki berjaket hitam berjalan ke arah para cowok.

“Masih ada, nih!”

Ketika separuh rombongan sibuk menghabisi waktu dengan menggesek kartu, sebagian lainnya duduk berkumpul dan berbincang. Di tengah obrolan gadis berkulit putih memutar separuh badan, sedikit menghalangi beberapa pandangan milik teman.

Seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam perut, lalu menyerbu tenggorokan. Detik berputar lambat, sampai dia memuntahkan angin. Beberapa kali hingga dia meletakkan kepala di bahu Fia. Walau sesaat, energi tetap terasa lenyap.

Dia tidak memerhatikan pergerakan laki-laki berkulit gelap, yang dirinya sadari telah berada di sebelah kanan. Botol air mineral terulur, dengan tutup yang tidak tersegel. Gadis berkulit putih meraihnya dan membiarkan air mengalir di tenggorokan. Meneguk beberapa kali.

“Nggak apa-apa, Za?”

Dia menjawab pendek sambil memutar kembali penutup botol.

“Serius?”

“Iya.” Lalu bangkit.

“Balik, ayo!”

Seperti sebelumnya, gadis berkulit putih mengekor langkah orang di depannya, tanpa  mempedulikan jalan mana yang dirinya lalui. Namun di tengah perjalanan dia menarik lengan Fia. Berbelok ke tempat dinding keramik berada.

“Mamaku tanya, kita mau pulang jam berapa?” Hani menghampiri saat dia baru saja meletakkan botol minum di atas meja food court. Tempat berkumpul tadi.

“Sekarang jam berapa?”

“Lima lewat.”

“Ayo.” Gadis berkulit putih sempat berbasa-basi ke beberapa kawan perempuan. Tidak lupa mengucapkan salam perpisahan ke sisanya.

“Mama lagi ambil mobil. Kita disuruh tunggu di sini,” Hani menjelaskan tanpa dia meminta. Langit menggelap. Sejumlah orang tampak ke sana kemari di depan pintu keluar.

Besi berjalan berwarna merah berhenti di depan Hani, gadis berkulit putih yang berada di sampingnya turut mengekor saat dia hendak membuka pintu kedua. “Biar aku yang di belakang, Na. Gantian,” ucapnya sambil tersenyum. Menahan gerak tangan Hani.

Dia menolak, namun keputusannya berubah sesudah gadis berkulit putih berusaha meyakinkan. Mungkin dia tidak ingin gadis berkulit putih merasa kesepian saat duduk sendiri di kursi belakang, tapi justru itu yang gadis berkulit putih cari. Dia ingin fokus  terhadap kepalanya yang masih berdenyut cukup keras. Paling tidak dengan menyendiri dia tidak perlu menguras energi lebih banyak agar orang lain bisa berpikir kalau kondisinya baik.

“Za, kamu nggak apa, kan?”

Dia segera menyahut.

“Zara mau makan apa? Kita makan dulu, ya.” Kali ini wanita dibalik kemudi yang angkat bicara.

“Makasih, Tante. Aku makan di rumah aja.”

Dia selalu takut, merasa terlalu nyaman, kemudian bergantung dan akhirnya merepotkan. Menjadi beban, hingga orang-orang terdekat akan merasa terganggu dengan kehadirannya. Jika ada sesuatu hal yang terjadi di luar prediksi, sebisa mungkin dia tepis banyak kemungkinan yang akan merugikan mereka. Gadis berkulit putih tidak ingin mereka menjauh, karena menopang kekurangannya. (*)

Advertisements