Cerpen Mashdar Zainal (Koran Tempo, 09-10 Juni 2018)

Gelak Tawa di Rumah Duka ilustrasi Koran Tempo.jpg
Gelak Tawa di Rumah Duka ilustrasi Koran Tempo

Rumah Duka dan Peti Mati yang Jenaka

Orang-orang berpakaian serbahitam. Berkerumun dan berbisik-bisik. Di antara mereka ada yang tersenyum. Ada pula yang menampilkan wajah sedih. Aku tahu, sebagian besar senyum dari wajah-wajah itu palsu. Orang-orang itu mengenakan topeng. Dan di balik topeng-topeng tebal itu, aku melihat tawa mereka, tawa yang terbahak-bahak. Mereka menertawakan kesedihanku dari balik topeng. Mereka menertawakan lelaki yang terbujur kaku di dalam peti mati itu. Mereka menertawakan segalanya.

Namun, sungguh, aku tak pernah menyalahkan mereka. Mungkin kami memang pasangan paling menyedihkan sehigga pantas ditertawakan siapapun. Bahkan aku sendiri pantas untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri. Hahaha…

Tapi tunggu, gelak tawa seperti apakah yang kiranya pantas untuk disuarakan di sebuah rumah duka? Apakah tangisan sungguhan dan tangisan pura-pura di balik topeng itu juga bentuk gelak tawa?

Orang-orang bergantian menyapaku, menyalamiku, dan mengutarakan bela sungkawa dengan raut paling muram. Tidakkah mereka tahu, ini adalah hari paling jenaka? Segalanya, yang ada di rumah duka ini terlalu jenaka. Termasuk peti matinya. Mungkin mereka melihatnya. Hanya saja, mereka pura-pura tak melihatnya.

Lihatlah! Peti mati tempat lelaki itu terbujur. Peti mati itu mendadak bangkit di tengah kerumuman. Seperti orang yang lelah berbaring, lalu mencoba berdiri. Lantas peti mati itu berjalan, mengeluarkan suara mirip sol sepatu karet yang keras. Pletak! Pletok! Pletak! Pletok!

Lantas, pintu peti mati berwarna cokelat tua mengkilap itu terbuka. Tertutup lagi. Terbuka lagi. Seperti lelaki tua yang mengajak cucunya bermain ci-luk-ba. Terakhir, peti mati itu terbuka lebar. Waaaa! Dan dari dalamnya, seorang lelaki berwajah gosong dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu, dengan sisiran (sisa-sisa rambut yang terbakar) kelimis ke belakang, dengan tiga buah batu akik kesayangan yang menempel di jari-jemari, serta pantofel mengkilap yang memantulkan bayangan orang-orang berbaju hitam samar-samar.

“Waktunya berdansa….!” Lelaki gosong dari dalam peti mati itu berseru, melambaikan tangan ke arahku, “Mau berdansa denganku, Nona?”

Advertisements