Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 03 Juni 2018)

Yang Lain Diceritakan Kakekku tentang Tomanurung ilustrasi Fajar
Yang Lain Diceritakan Kakekku tentang Tomanurung ilustrasi Fajar

GURU sejarahku—Pak Lewa—pernah berkisah di depan kelas, tentang berdirinya Kerajaan Gowa. Katanya, Kerajaan Gowa berdiri sejak tahun 1320 atau hampir tujuh abad lalu. Lebih lanjut, Pak Lewa mengisahkan bahwa kala itu Kerajaan Gowa terbagi atas sembilan kasuwiang—semacam komunitas adat yang otonom, bisa pula diartikan sebagai kerajaan kecil—yang terdiri atas; Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data’, Agangje’ne, Bisei, Kalling, dan Sero’.

Sebagaimana yang dikisahkan Pak Lewa kepadaku tempo hari itu, kesembilan kasuwiyang itu selalu berperang satu sama lain, mencoba memperlihatkan keunggulan atas satu kasuwiyang dengan kasuwiyang yang lain. Dan sebagaimana hikayat dalam attoriolong—semacam catatan harian Kerajaan Gowa—kesembilan kasuwiyang tersebut akhirnya memutuskan untuk menghentikan perang dan menghimpun kekuatan. Maka ditunjuklah seorang bergelar Paccallayya untuk menjadi penengah di antara mereka.

“Apakah setelah peperangan itu, kedamaian menyelimuti kesembilan kasuwiyang itu?” Tanya Muhammad Aslam tempo itu, kawanku yang nyentrik.

“Kedamaian itu hanya sementara, setelah mereka bersepakat mengangkat Paccalayya sebagai penengah, mereka kembali berperang. Kenapa bisa berperang? Karena bagaimanapun kesembilan kasuwiyangitu masih memiliki otoritas kuat terhadap wilayahnya masing-masing, sedang sosok Paccallayya tak lebih dan tak kurang hanya simbol semata. Intinya sih Aslam, mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Mereka hanya bingung, siapakah yang pantas dikehendaki dipertuan di Tanah Gowa pada masa itu”. Begitulah Penuturan Pak Lewa di depan kelas. Jam pelajarannya diakhiri dengan hikayat, bahwa mereka—kesembilan kasuwiyang—itu kemudian bersatu, disatukan oleh Tomanurung yang turun dari langit.

Sebenarnya cerita itu tidak hanya kudapatkan dari Pak Lewa. Mitos tentang  Tomanurung sebagai pencipta Kerajaan Gowa dapat dikatakan sebagai satu ingatan kolektif yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan telah menjadi pengantar tidur buat anak-anak yang baru makan bangku taman kanak-kanak.

Temanku pernah bertutur, bahwa ketika masih kanak-kanak, ada satu ritual khusus yang harus ditunaikan sebelum “bercumbu” dengan kasur. Pasti kakeknya selalu mendongengkan hikayat Tomanurung. Sampai-sampai kawanku itu sudah hafal betul rentetan mitos itu. Saya masih mengingat, saat mengisi jam kosong di sekolah. Ia dengan percaya dirinya naik ke depan kelas kemudian bermonolog, mendongengkan kami tentang Toamnurung. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Anehnya, kami merasa tidak bosan, malah hanyut dalam alur cerita yang didongengkan kawanku itu.

Sewaktu kuliah pun juga demikian, saya yang eks mahasiswa sejarah juga mendapati kisah itu. Baik yang dijelaskan oleh dosen hingga penuturan kekasihku sendiri. Sungguh luar biasa bukan? Cerita yang sama dituturkan secara turun temurun, dari abad ke-14 hingga kiwari ini—di abad 21 yang milenial.

Saya masih mengingat, kala itu saya dan kekasihku lagi asyik-masyuk duduk di pendopo kompleks pemakaman raja-raja Gowa. Sembari merasakan semilir angin dan menatap makam para pembesar kerajaan Gowa-Tallo. Kekasihku pun kemudian berkisah

“Sayang, tahu tidak? Dulu waktu kecil, sewaktu almarhuma nenek saya masih hidup. Beliau selalu mendongengkan kisah Tomanurng, apatah lagi kalau malam menjelang tidur. Nenek akan berkisah tentang seorang perempuan cantik yang diutus oleh Dewata SewwaE, Dewata Yang Tunggal. Khusus untuk mendamaikan Butta Gowa yang dilanda bencana berupa perang saudara yang tak berkesudahan dan keadaan yang chaos. Keadaan yang selalu diistilahkan Sikanre Juku Tauwwa atau dalam Bahasa Bugisnya Sianre Bale TauwwE. Di mana yang besar melahap yang kecil dan yang kecil berkerumun sama banyak lalu memakan yang besar itu….”

Ketika pacarku berkisah tentang hikayat Tomanurung, saya hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, menjelmakan diri menjadi seorang anak kecil yang didongengkan oleh ibunya, senantiasa mendengarkan dengan penuh semangat. Walaupun sesunggunya, ketika ia bercerita, saya lebih banyak memfokuskan menatap wajahnya yang teduh—menenangakan hati dan menggemaskan jiwa—demikian juga suaranya yang renyah, saya sangat suka mendengarkan suaranya yang membuat sukma ini tentram. Toh bagaimanapun akhir dari hikayat itu selalu sama.

Bahkan seantero kabupaten dan lintas daerah pun tahu akan kisah itu. Di kampung pamanku, Bone, kisah demikian juga ada. Di sana terkenal sebuah cerita tentang kedatangan Tomanurung yang digelari Mata SilompoE MannurungngE ri Matajang. Bedanya, di Bone Tomanurngnya laki-laki dan mempersatukan tujuh kerajaan kecil, sedangkan di Gowa Tomanurungnya perempuan dan mempersatukan sembilan kerajaan kecil. Hanya itu, yang lain pada umumnya kisahnya hampir mirip.

Tapi, Kakekku yang hobi baca buku itu memiliki versi lain dari kisah Tomanurung—yang selama ini dipercayai oleh banyak orang. Saya masih mengingat, kala itu bulan Ramadan, di lego-lego—beranda rumah—selepas salat Ashar, kakek bercerita tentang Tomanurung.

Kisah itu dari awal hingga menuju akhir rupanya sama dengan cerita-cerita yang biasa kudengar. Kerajaan Gowa pada mulanya terbagi atas sembilan kasuwiyang. Kesembilan kasuwiyang itu berperang satu sama lain, lalu ada masa perdamaian di mana seorang Paccallayya diangkat menjadi penengah di antara mereka, lalu pecah perang lagi. Dan akhirnya turunlah Tomanurung di Takkabassia’, lalu menjadi raja perempuan memerintah kesembilan kasuwiyang itu—dan menghimpun diri dalam satu kerajaan bernama Kerajaan Gowa. Lalu rakyat kemudian membangunkan kediaman sang raja yang dinamakan Istana Tamalate. Dinamakan Istana Tamalate, karena daun yang melekat di batang kayu yang menjadi tiang istana belum layu, sedang Tamalate sendiri artinya daun yang belum layu.

Tapi, ending dari kisah itu berbeda, Kakekku mengatakan bahwa Tomanurung itu bukanlah perempuan yang turun dari kahyangan. Melainkan anak dari salah satu pemimpin Kasuwiyang itu.

“Cucuku, ketahuilah! Dahulu anak gadis itu dilarang keluar rumah, dipingit oleh orang tuanya. Dan saya yakin cucuku, bahwa Tomanurung itu tak lain dan tak bukan adalah anak dari salah satu pemimpin Kasuwiyang itu. Si anak gadis tersebut didandani sedemikian rupa, kemudian dibuatlah sebuah skenario seolah-olah seorang Tomanrung berparas cantik jelita turun dari langit dan menjelma menjadi seorang ‘juru selamat’!!!

“Jadi Kakek, itu hanyalah akal-akalan saja?!”

“Hahaha, apa yang kukisahkan ini cucuku hanyalah versi lain saja, kamu mau anggap benar atau salah, itu terserah kepadamu….”

“Ih, Kakek….”

 

20 Mei – 29 Mei 2018

Sungguminasa

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Aktif di beberapa komunitas literasi di Makassar dan nyambi sebagai Guru Tidak Tetap di SMAN 1 GOWA.

Advertisements