Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 03 Juni 2018)

Pembaca Neraka ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Pembaca Neraka ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

LAKI-LAKI itu berjalan terpiuh-piuh, gerak kakinya lambat bagai jantung yang melemah. Derai batuk mengguncang dada ringkihnya.Ia menyusuri jalanan desa Tang- Batang. Pakaiannya kusam dan hampir sobek seluruhnya lekat di tubuhnya yang serupa batang lidi. Keringat berjatuhan. Di warung kopi milik Masrakib di pinggir jalan itu, ia berhenti melepas lelah. Bagi pengunjung lain, kehadiran laki-laki itu selalu dianggap aneh dan merangsang untuk diperbincangkan.

“Orang mana dia, Masrakib?”

“Kau mau ngopi apa mau ngurus hidup orang. Suka sekali ngomongin orang.”

Jawaban itu yang selalu dilontarkan Masrakib, pemilik waning kopi di ujung jalan desa itu. Tak ada yang tahu dari mana laki-laki itu berasal. Keberadaan laki-laki itu diselimuti misteri. Masrakib pun tidak mau ambil pusing soal riwayat hidup satu pelanggannya itu. Tidak ada gunanva mengurus hidup orang.

Sayangnva, hari ini berubah ketika dua hari lalu laki-laki misterius itu mengatakan kepada Masrakib bahwa kelak Masrakib akan dilahap oleh api neraka. Tubuhnya akan diisap oleh telaga api. Lidahnya akan dipotong-potong. Mendadak wajah Masrakib seperti selembar kain kafan mendengar perkataan laki-laki misterius itu. Ia coba mengatur degup jantungnya.

Tak lama kemudian, laki-laki itu meninggalkan Masrakib seorang diri di warung kopinya. Tak ada siapa pun di warung itu, kecuali Masrakib dengan laki-laki misterius waktu itu. Masrakib pun menceritakan saja yang sebenarnya kepada semua pelanggan kopinya. Para lelaki yang suka nongkrong di warung kopi Masrakib pun melipat keningnva, tidak tahu harus berkata apa.

Ngeri merayapi tengkuk mereka. Berkali-kali mereka mengangkat kedua bahunya mendengar penuturan Masrakib perihal laki-laki misterius yang membaca tanda ahli neraka di kening Masrakib. Sambil lalu minum kopi mereka membayangkan laki-laki misterius itu juga membaca tanda di dahi mereka. Alangkah mengerikan jika itu terjadi. Mereka mengambil napas dalam-dalam, membuangnya pelan-pelan.

“Memang apa yang dikatakannya padamu, Masrakib?”

“Dia mengatakan bahwa ada tulisan ahlun nar di dahi saya. Kelak, kata laki-laki misterius itu, saya akan diceburkan ke jurang neraka.”

Masrakib menceritakannya itu dengan nada gemetar.

“Ah, pasti dia orang tak waras. Memangnya dia Tuhan?”

“Entahlah. Tapi dia mengatakannya sangat serius.”

“Tapi, bagaimana mungkin manusia seperti dia bisa memutuskan neraka orang lain?”

“Mungkin dia punya kelebihan.”

“Sehebat-hebatnya dia, sesakti-saktinva dia tak seorang pun di muka bumi ini yang berhak memutuskan neraka bagi orang lain. Tuhan yang memiliki keputusan.”

Sejak itu, pembicaraan di warung kopi Masrakib bermuara pada perkara keberanian laki-laki misterius itu yang memutuskan neraka seseorang. Sudah satu minggu ini laki-laki misterius itu belum kembali singgah di warung kopi Masrakib. Ditunggu-ditunggu kedatangannya belum juga muncul. Para pengunjung warung kopi Masrakib tergoda untuk menyaksikan sendiri bagaimana laki-laki misterius itu mengucap ahli neraka bagi orang lain.

Rupanya, keinginan mereka bertemu laki-laki misterius itu terjawab. Hujan deras turun sore itu. Kopi hangat buatan Masrakib memang terkenal lezat, apalagi diminum saat dingin menusuk tulang belulang seperti ini. Mereka membiarkan kopi itu di atas meja. Mereka memandang keluar, kepada laki-laki misterius yang berjalan di bawah hujan. Anehnya, mata mereka menangkap dengan jelas hujan yang turun sangat lebat itu sama sekali tak mau menyentuh tubuh laki-laki misterius itu. Benar-benar sakti, batin mereka.

“Maaf, sudah membuat kalian menunggu.” Lagi-lagi mereka dibuat takjub dengan kesaktian laki-laki misterius itu. Ia sanggup membaca sesuatu yang belum terjadi. Perasaan mereka teraduk oleh kehebatan laki-laki misterius itu.

“Apa kalian minta saya untuk membaca tanda di kening kalian?” Laki-laki misterius itu mengajukan pertanyaan seraya memandangi satu per satu para lelaki itu.

Tidak ada jawaban apa pun keluar dari mulut mereka. Hening. Hanya terdengar suara hujan berdesis-desis di luar dan suara naluri mereka masing-masing. Laki-laki misterius itu minta dibuatkan kopi pahit. Ia langsung meneguk kopi itu dengan cara paling aneh. Laki-laki misterius itu berdehem-dehem, melegakan tenggorokannya yang terasa tersumbat. Ia tersenyum mengejek. Tertawa terpingkal-pingkal melihat rupa para lelaki di dekatnva menelan ketakutan melihat dirinya.

Dengan memandang wajah Sarkam, lelaki yang saban sore ngopi di warung Masrakib itu. Baru saja Sarkam meninggalkan anak dan istrinya. Perpisahan ditempuh Sarkam sebagai jalan terbaik menghindari pertengkaran demi pertengkaran selama tiga tahun terakhir. Laki-laki misterius itu menatap teliti setiap lekukan raut muka Sarkam. Laki-laki misterius itu menggelengkan kepalanya.

“Perempuan itu yang membawamu ke jurang neraka. Bersama selingkuhanmu itulah kau akan jadi kayu bakar api neraka.” Laki-laki misterius itu mengucapkannya tegas. Sarkam menelan ludah.

“Saya sudah menikahi perempuan itu. Dia bukan lagi selingkuhan saya.” Sarkam membela diri. Para lelaki yang lain cemas, khawatir seluruh rahasianya terbongkar seperti yang dialami Sarkam. Masrakib, pemilik warung kopi itu, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu warung. Ia diam menyaksikan laki-laki misterius itu sedang mempertontonkan kehebatannya.

Laki-laki misterius itu tidak menanggapi perkataan Sarkam. Ia hanya mengucap ahlun nar berulang-ulang kepada Sarkam. Ingin sekali menampar mulut laki-laki misterius itu. Sudah seenak jidatnya memutus dirinya sebagai ahli neraka. Tapi urung Sarkam melakukannya, sebab ia tahu laki-laki misterius itu bukan sembarang orang. Kesaktiannya baru saja Sarkam lihat sendiri. Bisa-bisa mati konyol, kata Sarkam dalam dadanya.

Satu per satu semua lelaki di warung kopi Masrakib dilirik wajahnya oleh laki-laki misterius itu. Laki-laki misterius itu memejamkan mata setelah memandang penuh selidik setiap muka para lelaki itu. Mereka pasrah. Tak berdaya melawan kekuatan si laki-laki misterius itu. Beberapa orang berharap agar laki-laki misterius itu tak berhasrat membaca pertanda akhirat di keningnya.

“Kamu akan dilempar ke jurang neraka sama seperti dia.” Laki- laki misterius itu menunjuk lelaki berewok dan bertubuh gendut itu lalu ia mengarahkan telunjuknya ke arah Sarkam.

“Kalian semua juga akan merasakan panasnya telaga api neraka.”Laki-laki itu menunjuk tiga orang berikutnya.

Langit memperlambat curah hujan yang turun. Seseorang tergesa keluar dari warung kopi itu. Laki- laki misterius itu belum sempat membaca pertanda di kening orang tersebut. Tetapi bukan laki-laki pembaca tanda akhirat jika tidak bisa melihat tanda orang tersebut. Laki-laki misterius itu sudah mengetahui apa yang dialami orang tersebut.

“Lelaki tadi yang paling lama akan tinggal di neraka. Bahkan orang itu tak akan pernah diangkat dari neraka. Kasihan.” Laki-laki misterius itu menunjuk pada orang yang keluar lebih dulu barusan. Cepat sekali orang itu melangkah, menembus gerimis yang tetap liris dari langit kelam yang menghampar warna abu-abu.

“Kamu ini siapa? Jelaskan identitasmu. Kok dengan mudahnya kamu memutuskan neraka bagi kami? Kenapa juga kamu hanya bisa membaca aib dan keburukan-keburukan orang lain? Tidakkah matamu bisa membaca sedikit kebaikan yang dilakukan orang?” Sarkam bertanya pada laki-laki misterius itu setelah dikumpulkannya cukup nyali. Sarkam sudah mempersiapkan segalanya jika laki-laki misterius itu mengeluarkan kesaktiannya. Sarkam pasrah bila ia harus mati di tangan laki-laki misterius itu.

Tiba-tiba laki-laki misterius itu menangis. Sesenggukan. Keterkejutan melingkar di wajah para lelaki di warung kopi itu. Tangis laki-laki misterius itu menyavat dan teriris-iris. Batuk berderai mengguncang belahan dada ringkihnya. Laki-laki misterius itu menunduk. Pelan-pelan ia membuka katup mulutnya dengan gemetar.

“Tuhanlah yang menggerakkan saya. Tuhan pula yang memberikan kemampuan saya hanya bisa melihat keburukan dan neraka orang lain. Saya memang hanya bisa melihat aib, keburukan, dan neraka orang lain.” Laki- laki misterius itu mengambil napas. Napasnva agak sedikit goyah.

Sesaat kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya banyak orang seperti saya yang kerjaannya hanya melihat aib dan keburukan orang lain. Dan sesungguhnya saya sendiri adalah ahlun nar. Beruntunglah kalian tidak dijadikan seperti saya.” Laki-laki misterius itu kembali menumpahkan air dari ceruk matanya yang cekung. Laki-laki itu melangkah keluar dari warung kopi itu. Tubuhnya menghilang sekejap ketika para lelaki di warung kopi itu hendak memandang ke mana arah laki-laki misterius itu berjalan.

 

Zainul Muttaqin lahir di Garincang, Batang-Batang Laok, Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Alumnus Ponpes Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen Dari Jendela yang Terbuka (Edukasi Press; IAIN Walisongo Semarang, 2013), Perempuan dan Bunga-bunga (Obsesi Press; STAIN Purwokerto, 2014), Sepotong Senja, Sepenggal Sangka (FAM Indonesia, 2016). Tinggal di Sumenep, Madura

Advertisements