Cerpen Muhaimin Nurrizqy (Padang Ekspres, 03 Juni 2018)

Kehancuran Bumi ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Kehancuran Bumi ilustrasi Orta/Padang Ekspres

DARI sini, di taman ini, Bumi sungguh terlihat bulat sempurna. Campuran biru, putih, dan hijau kekuningan yang terlukis dalam kanvas bundar tiga dimensi itu tenang berputar dalam rotasi yang lamban. Di pantulan bayang bola mata Dewi Bulan, ada sebuah harapan yang jauh, menembus ke dalam perutnya yang membuncit. Menurut kalender lunar, sebentar lagi, ketika purnama telah sempurna, Dewa Bumi kecil akan lahir dari rahim agungnya itu. Menggantikan Dewa Bumi terdahulu yang telah melesap di alam semesta.

Dewi Bulan menerawang, nanti dewa kecil itu akan ia ajarkan bagaimana cara menjaga Bumi. Mengenali hukum-hukum pemilik sirip di laut, mamalia di darat, dan penelur yang terbang di langit. Bagaimana tumbuhtumbuhan mesti tumbuh menjulang ke angkasa dengan akar menancap ke tanah. Mengetahui kadar zat di udara. Mengingatkan bila gunung-gunung siap memuntahkan cairan dari dalam perut Bumi. Menghapal setiap lekuk danau dan sungai yang arusnya menyembur dari mata air paling murni. Menakar hujan, badai, panas, salju, dan kemarau. Setelah itu, ia akan diajarkan bagaimana alam dan manusia berada dalam kesatuan yang stabil. Bagaimana mengakali tingkah manusia terhadap tumbuhan. Bagaimana menstabilkan bukit dan gunung atas keinginan manusia untuk meratakannya. Bagaimana memprediksi binatang yang tiap sebentar dibunuh untuk kebutuhan manusia. Bagaimana menahan laju pertumbuhan manusia dengan mendatangkan bencana. Dan yang paling penting adalah menciptakan segala sesuatu di Bumi saling berkelindan dalam satu poros yang kokoh.

Dewi Bulan mengelus pusarnya. Ia merasa bisa menyentuh janin itu dengan jemarinya. Namun jantungnya tersentak teringat sesuatu. Ada rasa yang menjalar di tubuhnya, rasa senang bercampur pilu. Kegetiran yang membuat bulu kuduknya merinding. Ia merasa panas dan dingin meremas kulitnya yang pucat, serupa Bulan itu, secara bersamaan. Kepalanya nyeri.

***

Ketika itu Dewi Bulan sedang membersihkan Bulan dari puing-puing bintang Selatan. Dari arah Utara tampak sebentuk cahaya kekuningan mendekat. Dewi Bulan menyadari kehadian benda itu. Ia memperhatikan dengan seksama. Apakah itu komet? Namun tidak memiliki ekor. Dipatut-patutnya benda yang makin lama makin besar itu. Ia bersiap. Tangan kemudian ia rentangkan. Jika benar-benar komet, ia akan mengibaskan langsung tangannya. Secepat cahaya, udara dari kibasan akan menghancurkan benda itu tak bersisa.

Cahaya kuning itu melambat ketika berada sejuta kilometer dari Bulan. Mata Dewi Bulan membelalak. Ia tidak menyangka ada tamu yang datang dengan cara seperti itu. Tangan Dewi Bulan surut. Jemarinya saling mendekap. Itu tidaklah tamu biasa, setidaknya bukan dari Galaksi Bima Sakti ini.

Tamu itu mendarat dengan begitu lembut. Sentuhan kakinya begitu pelan. Sadar akan bahaya getaran Bulan yang mampu mengacaukan Bumi. Sayapnya menyusut perlahan. Tubuhnya kekar. Wajahnya bercahaya namun tidak menyilaukan, sehingga gerak mulutnya akan mudah terlihat.

“Ada apa gerangan wahai dewa yang tak kutahu siapa?” sambut Dewi Bulan menatap tamu itu penasaran.

“Wahai Dewi Bulan, maaf sebelumnya, barangkali kedatanganku mengejutkanmu. Aku memang bukanlah dewa. Aku adalah utusan Pemilik Alam Semesta,” jawab tamu itu dengan suara yang menggetarkan keheningan Bulan.

Dewi Bulan tersentak, ia merasa begitu kecil. Ia pun menundukkan kepala seraya berkata, “Maafkan kelancanganku, Tuan Tamu. Aku tidak pernah menyangka utusan Pemilik Alam Semesta akan bertamu ke istanaku. Sekali lagi maafkan ketidaktahuanku, Tuan Tamu.”

Tamu itu menggerakkan dagunya ke atas. “Angkat kepalamu. Aku ke sini hanya untuk menyampaikan pesan dari Pemilik Alam Semesta.”

Begitu lambat dan penuh hormat, Dewi Bulan menegakkan kepalanya. Untuk lebih tidak lancang, ia pun mempersilahkan tamunya duduk terlebih dahulu. Namun tamu itu menolak.

“Tidak ada urusanku selain menyampaikan pesan ini kepadamu, wahai Dewi Bulan. Namun sebelum meyampaikannya, aku terlebih dahulu diperintah untuk bertanya kesiapanmu dalam mendengarkannya.”

Jantung Dewi Bulan bergetar. Napasnya gamang. Penasaran bercampur takut, terlintas sebuah pertanyaan di benaknya, apakah itu ajalnya?

“Jika itu perintah Pemilik Alam Semesta, maka aku menyatakan siap untuk mendengarkan. Silahkan Tuan Tamu menyampaikannya.”

Cahaya di wajah tamu itu meredup. Sehingga tampaklah olehnya wajah berbalut emas mengkilap. Kedua bola matanya berisi pusaran galaksi yang penuh ribuan cahaya warna-warni berkelipan. Dewi Bulan langsung menundukkan pandangannya, ia merasa tidak sopan menatap wajah utusan Pemilik Alam Semesta.

“Pemilik Alam Semesta berkata kepadaku: Katakanlah kepada Dewi Bulan, wahai utusanku, bahwa ketika purnama sempurna, Bumi akan kuhancurkan dengan hantaman meteor yang besar—lebih besar dari segala meteor di seluruh alam semesta ini. Dan jika Dewi Bulan bertanya kepadamu mengapa, maka katakanlah kepadanya bahwa tidak ada langkah yang lebih bijaksana melebihi keputusanku.” Suara tamu itu terdengar menggema di seluruh galaksi. Bintang-bintang bergetar, udara memadat.

Dewi Bulan diam saja sementara rohnya terasa ditarik keluar dari tubuhnya. Ia merasa gigil yang teramat. Matanya panas. Dadanya penuh, menekan jantungnya. Pandangannya berputar. Lemas. Hening.

“Kenapa…” ucap Dewi Bulan sayu. “Kenapa mesti menghancurkan Bumi? Kenapa pesan itu datang ketika aku sedang mengandung Dewa Bumi selanjutnya? Kenapa tidak dari dulu saja dikabarkan? Lalu bagaimana janin yang ada di kandunganku ini?” Napasnya memburu. Dewi Bulan melihat dalam ke mata tamu itu. Ia tahu tindakan itu sebenarnya tidaklah beradab. Tapi ia tidak peduli. Tubuhnya terlalu gamang menahan keterkejutan yang luar biasa itu.

Pusaran galaksi di mata tamu itu berputar semakin cepat ketika Dewi Bulan menatapnya. Ia kemudian berkata, “Wahai Dewi Bulan, aku tidak memiliki kuasa untuk menjawab pertanyaanmu. Dan jika kau tidak keberatan, jauhkan pandanganmu dari mataku. Sebab tidak ada ciptaan di alam semesta ini yang dipersiapkan untuk menatap langsung kedua mataku,” tegas tamu itu.

Tapi Dewi Bulan tetap pada kehendak hatinya. Ia tidak bisa menerima pesan yang baru saja didengarnya. Sebuah kabar yang terasa tidak memiliki keadilan, datang begitu saja tanpa mengabarkan dahulu. Dirinya menjadi begitu egois untuk mengetahui alasan penghancuran itu. Ia merasa tidak ada separtikel pun di alam semesta yang mengerti bagaimana perasaannya, termasuk Pemilik Alam Semesta.

Dan benar saja, ketika mulut Dewi Bulan telah menganga ingin melontarkan pertanyaan lain, pusaran galaksi di mata tamu itu semakin kencang, sehingga tampak seperti lingkaran cahaya. Dan lingkaran cahaya warna-warni itu membuat saraf di tubuh Dewi Bulan mati. Ototnya mengendur. Tulangnya melemas. Lunglailah tubuhnya dan lalu melayang di hadapan tamu itu.

Cahaya dari wajah tamu itu kembali terang. Menerangi mata Dewi Bulan yang terpejam. Tamu itu memohon pamit dengan menundukkan kepalanya. Ia kemudian balik kanan, melebarkan sayapnya yang putih bersih itu, lekas terbang tanpa suara. Seperti awal ia mendarat, seperti itu pula jemari kakinya meninggalkan Bulan dengan lembut.

***

Entah berapa hari semenjak Dewi Bulan pingsan. Ia terbangun ketika Bulan mengeluarkan suara mirip nyanyian, sebuah kebiasaan yang menandakan esok purnama akan sempurna. Tubuhnya terasa letih ketika diberdirikan. Dadanya pengap, sesak. Benaknya belum begitu aktif untuk menghidupkan semua saraf di otak. Ia duduk saja, melayang di awang-awang.

Ia pandang langit hitam itu. Ribuan materi dan partikel melayang-layang di udara. Jauh di sana, bintang-bintang bersinar, mengepung galaksi dalam warna-warna yang megah. Kepalanya langsung diserang ngilu teramat ngilu. Ada ingatan timbul tenggelam di sana. Sebuah gambar yang seolah-olah pernah dilihatnya. Oh, iya, Dewi Bulan ingat. Pusaran galaksi yang berputar cepat. Lalu mata seseorang. Ya, tamu itu, pikirnya. Karena begitu ngilu ia urungkan untuk memperdalam pencarian terhadap ingatannya.

Lalu ia sadar, Bulan sedang bernyanyi, berarti esok purnama akan sempurna. Ia pandangi perut buncitnya. Esok ia akan melahirkan Dewa Bumi baru. Ia harus mempersiapkan kelahiran. Segera, Dewi Bulan membuat taman tempat ia akan melahirkan nanti.

Sebenarnya ia bisa membuat taman itu dengan kekuatannya, namun badannya begitu letih, terpaksa membuatnya secara manual. Maka ia kumpulkan segala macam bebatuan dari seluruh permukaan Bulan dan lalu menjadikannya sebuah taman.

Taman yang akan dibuatnya harus menyerupai rekayasa dari Bumi, namun tidak bundar. Bumi yang dibuat menjadi datar. Sebab Dewa Bumi harus membiasakan diri dengan bentuk Bumi ketika ia lahir nanti. Agar ia terbiasa dengan struktur Bumi nantinya ketika ia dipindahkan ke sana. Dan juga, letak taman harus sejajar dengan garis inti Bumi. Agar Bumi bisa terlihat benar-benar simetris dari sana.

Pembuatan taman itu memang banyak menghabiskan tenaga Dewi Bulan. Taman itu sudah selesai, dan persyaratannya pun sudah dijalankan. Sebentar lagi purnama akan sempurna. Dewi Bulan duduk di taman, memandang jauh ke Bumi sambil mengelus-ngelus perutnya. Pikirannya menerawang jauh.

Namun kepalanya diserang lagi oleh ingatan yang membikin nyeri teramat nyeri. Ada ingatan yang timbul di sana. Seperti sebuah potongan adegan di film, yang memperlihatkan seseorang sedang berbicara mengenai sesuatu hal. Ya, benar, itu adalah utusan Pemilik Alam Semesta. Dewi Bulan menggigil. Ia mengingat jelas pesan yang disampaikan utusan itu.

Tubuhnya mendingin, karena letih, takut, dan sedih. Ia elus-elus terus perutnya. Ingin rasanya ia hancurkan meteor yang akan menghantam Bumi itu. Tapi di luar kekuatannya sudah melemah, toh siapa pula yang sanggup menahan tindakan Pemilik Alam Semesta?

“Apakah tidak ada keadilan di alam semesta ini?” batinnya.

Purnama telah sempurna ketika jemari Dewi Bulan lunas menembus perutnya yang buncit itu. Darah biru menyembur dari koyak tusukan. Ia masih memiliki sedikit kesadaran untuk segera mencekik leher janin di dalam perutnya. Bayangan Bumi lamat-lamat memudar dari pandangannya. Kemudian gelap, ia tak tahu lagi apa yang terjadi. Bibirnya yang meregang seperti sedang tersenyum itu memuntahkan kental darah yang biru.

Kematian Dewi Bulan dan janinnya itu membuat Bulan berguncang hebat. Suara derak terdengar di mana-mana. Permukaan Bulan terbelah. Bulan ambruk seketika. Dan Bumi…

 

Padang, 2018

Muhaimin Nurrizqy lahir dan besar di Padang. Sedang menyeselaikan studi di jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas.

Advertisements