Nama saya Hana, bukan nama yang sebenarnya. Saya menyukai nama ini bukan karena lebih bagus dari Suriani, nama pemberian Ibu. Bagi saya Suriani telah mati. Saya telah mengubur nama itu pada hari kedua saya menjadi jugun ianfu—ketika tentara itu memberi nama Jepang untuk memudahkan saya melupakan masa lalu dan kampung asal. Mereka tidak mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar mampu merebut ingatan dan masa lalu seseorang

Saya selalu menangis sambil mematut tubuh saya berjam-jam setiap menjelang tidur. Tubuh yang berbulan-bulan saya rawat; saya lumuri bubuk sangraian ketan hitam yang ditumbuk dan mandi dengan air rebusan beras—persiapan pernikahan dengan Hammud. Sekarang, saya seperti tak mengenali tubuh ini setelah beberapa tentara Jepang menjemput paksa di rumah. Saya dibawa dengan mobil dari Sengkang ke Makassar. Ke sebuah tempat yang penuh kamar kecil dengan banyak perempuan dan banyak tentara yang berjaga. Tidak ada yang saya akrabi di tempat ini selain Kama dan Kaumi. Nama yang terakhir, saya kenal belakangan, dia jarang di kamar nomor 8 miliknya. Dia lebih sering pulang ke rumah tentara Jepang yang menjadikannya istri simpanan. Sementara di kompleks pelacuran ini, setiap pagi kami dikumpulkan di lapangan untuk upacara; untuk mendengar lagu kebangsaan Jepang sebelum membungkuk beberapa saat ke arah negara mereka yang sialan itu.

Satu minggu berada di tempat ini, saya tidak bisa lagi mengetahui jumlah tubuh yang menindih saya setelah menyerahkan secarik karcis dan membayar tiga sampai lima yen kepada pengelola. Saya pernah mencoba membayangkan wajah Hammud ketika desah para lelaki brengsek itu terdengar dan embusan napasnya menyapu wajah saya, tetapi akhirnya saya justru merasa bersalah. Minggu pertama, saya mencoba mengakhiri semuanya dengan mengakhiri hidup saya—tetapi, Kama memergoki dan niat saya jadi urung karena merindukan Suda ketika melihat wajah Kama.

***

Seprei terlilit. Dia tinggal lompat dari kasur, lalu mati, tetapi dia menangis melihatku. Dia turun memelukku. Aku merasa aneh. Selangkanganku mengeras. Aku mengingat kejadian sehari sebelumnya. Sore itu, aku di depan ruangan Hana. Kudengar suara orang marah-marah dari dalam. Lewat celah pintu, aku mengintip. Hana menangis sambil ditindih seseorang. Dia sepertinya orang baru. Bukan orang Jepang. Mungkin orang Makassar. Suara Hana semakin keras. Sesuatu di selangkanganku tambah mengeras. Aneh sekali. Sama perempuan di ruangan lain, aku tidak begini. Aku jadi sedih tiba-tiba. Lelaki itu menampar Hana. Dia bilang, kenapa kau tidak mau berhenti menangis, Pelacur? Sudah lama saya tunggu saat ini. Menyesal kau pilih Hammud?

***

Sungguh saya tidak menyesal. Air mata saya jatuh dan tangisan saya tak bisa dicegah bukan karena menyesal, melainkan saya tidak pernah membayangkan dia melakukan ini. Saya cinta kau, Suriani. Menikahlah dengan saya, pilih saya. Rayuan itu berkali-kali diulangnya di telinga saya. Namun, saya tidak pernah mencintainya. Kini dia telah mendapatkan yang dia inginkan, hanya dengan lima yen.

Advertisements