Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 03 Juni 2018)

Kapotjes dan Batu yang Terapung ilustrasi AA Rama Dalem - Kompas.jpg
Kapotjes dan Batu yang Terapung ilustrasi AA Rama Dalem/Kompas

Pagi ini, saya tidak perlu menebak siapa lelaki sialan yang bakal membayar karcis untuk tubuh saya. Tidak ada lagi bayonet yang memaksa saya membungkuk ke arah Tokyo. Tangsi-tangsi militer telah kosong dan kami dicampakkan seperti sepah tebu. Kini, di gerbang kompleks pelacuran, langkah saya tidak memiliki tujuan—saya tidak punya apa-apa selain dada penuh luka.

Dua tahun lalu, saya diseret ke tempat ini lalu diempaskan ke sal ah satu kamar sempit berdinding papan. Hari pertama, selangkangan saya disodok besi cocor bebek—untuk memastikan kau tidak penyakitan—kata dokter yang memeriksa sebelum memerkosa saya. Beberapa saat setelah dia mengerang keras seperti suara sapi disembelih, teman-temannya—para tentara, datang menuntut giliran. Saya pingsan dengan selangkangan penuh darah hari itu. Ketika terjaga, saya menemukan tatapan terkejut seorang bocah lelaki yang sedang memperhatikan tubuh telanjang saya. Usianya tidak jauh beda dengan adik saya, Suda—sebelas atau dua belas tahun, barangkali.

***

Dia bangun. Telanjang. Aku kaget. Dia tahu aku melihatnya. Hari itu, hari pertamanya. Tem patnya, ruangan nomor 7. Ruangan dua kali tiga meter. Ada ranjang, meja, pencuci alat kelamin, kapotjes, sama cerek berisi air dan dua buah gelas. Aku kasihan padanya. Hari-hari berikutnya, tentara dan orang-orang yang punya uang akan menidurinya.

“Kau siapa?”

Tanyanya lemah. Aku masih kaget dan tidak menjawab. Aku menuang air di salah satu gelas. Ia meraih dengan tangan bergetar.

“Bisa bicara?”

Aku mengangguk.

“Kenapa di sini?”

“Aku Kama, setiap hari harus bersihkan kamar kalian.”

“Kalian?”

Dia tampak bingung, mungkin tidak tahu dia sedang di mana dan kenapa ada di tempat ini. Sejak kemaluannya ditusuk besi untuk diuji, lalu dikatakan sehat, dia sudah resmi jadi jugun ianfu. Jadi perempuan pemuas berahi. Dia diberi kamar untuk melayani banyak lelaki. Aku sedih. Dia pasti orang baik. Alisnya sungguh tebal. Masih muda. Mungkin umur dua puluh tahun. Tubuhnya yang putih, sekarang lukanya banyak. Terutama bagian dadanya. Aku juga sedih lihat pahanya yang penuh darah. Tadi, waktu dia masih tidur, aku ingin bersihkan darah itu pakai handuk basah. Tapi, aku takut. Tubuhku bergetar. Aku terbiasa melihat perempuan sepertinya di tempat ini. Misalnya Kazumi, tetangga kamarnya—dia juga cantik tapi beda.

***

Nama saya Hana, bukan nama yang sebenarnya. Saya menyukai nama ini bukan karena lebih bagus dari Suriani, nama pemberian Ibu. Bagi saya Suriani telah mati. Saya telah mengubur nama itu pada hari kedua saya menjadi jugun ianfu—ketika tentara itu memberi nama Jepang untuk memudahkan saya melupakan masa lalu dan kampung asal. Mereka tidak mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar mampu merebut ingatan dan masa lalu seseorang

Saya selalu menangis sambil mematut tubuh saya berjam-jam setiap menjelang tidur. Tubuh yang berbulan-bulan saya rawat; saya lumuri bubuk sangraian ketan hitam yang ditumbuk dan mandi dengan air rebusan beras—persiapan pernikahan dengan Hammud. Sekarang, saya seperti tak mengenali tubuh ini setelah beberapa tentara Jepang menjemput paksa di rumah. Saya dibawa dengan mobil dari Sengkang ke Makassar. Ke sebuah tempat yang penuh kamar kecil dengan banyak perempuan dan banyak tentara yang berjaga. Tidak ada yang saya akrabi di tempat ini selain Kama dan Kaumi. Nama yang terakhir, saya kenal belakangan, dia jarang di kamar nomor 8 miliknya. Dia lebih sering pulang ke rumah tentara Jepang yang menjadikannya istri simpanan. Sementara di kompleks pelacuran ini, setiap pagi kami dikumpulkan di lapangan untuk upacara; untuk mendengar lagu kebangsaan Jepang sebelum membungkuk beberapa saat ke arah negara mereka yang sialan itu.

Satu minggu berada di tempat ini, saya tidak bisa lagi mengetahui jumlah tubuh yang menindih saya setelah menyerahkan secarik karcis dan membayar tiga sampai lima yen kepada pengelola. Saya pernah mencoba membayangkan wajah Hammud ketika desah para lelaki brengsek itu terdengar dan embusan napasnya menyapu wajah saya, tetapi akhirnya saya justru merasa bersalah. Minggu pertama, saya mencoba mengakhiri semuanya dengan mengakhiri hidup saya—tetapi, Kama memergoki dan niat saya jadi urung karena merindukan Suda ketika melihat wajah Kama.

***

Seprei terlilit. Dia tinggal lompat dari kasur, lalu mati, tetapi dia menangis melihatku. Dia turun memelukku. Aku merasa aneh. Selangkanganku mengeras. Aku mengingat kejadian sehari sebelumnya. Sore itu, aku di depan ruangan Hana. Kudengar suara orang marah-marah dari dalam. Lewat celah pintu, aku mengintip. Hana menangis sambil ditindih seseorang. Dia sepertinya orang baru. Bukan orang Jepang. Mungkin orang Makassar. Suara Hana semakin keras. Sesuatu di selangkanganku tambah mengeras. Aneh sekali. Sama perempuan di ruangan lain, aku tidak begini. Aku jadi sedih tiba-tiba. Lelaki itu menampar Hana. Dia bilang, kenapa kau tidak mau berhenti menangis, Pelacur? Sudah lama saya tunggu saat ini. Menyesal kau pilih Hammud?

***

Sungguh saya tidak menyesal. Air mata saya jatuh dan tangisan saya tak bisa dicegah bukan karena menyesal, melainkan saya tidak pernah membayangkan dia melakukan ini. Saya cinta kau, Suriani. Menikahlah dengan saya, pilih saya. Rayuan itu berkali-kali diulangnya di telinga saya. Namun, saya tidak pernah mencintainya. Kini dia telah mendapatkan yang dia inginkan, hanya dengan lima yen.

“Kau menyesal?”

Dia sudah duduk di tubir ranjang—sementara saya masih berbaring menatap lurus menembus dinding papan.

“Saya akan datang lagi, dan kau akan saya beli lagi.”

Dia tertawa dan berjalan keluar sambil melemparkan kapotjes bekasnya ke wajah saya setelah mengakui bahwa dialah yang meminta tentara menyeret saya ke sini. Pintu belum tertutup dan punggung lelaki sialan itu masih kelihatan ketika Kama masuk untuk merapikan ruangan. Dia menunduk selama melakukan tugasnya. Kami saling mendiamkan. Seperti biasa, dia menuangkan air untuk saya dan dia gegas lari keluar ruangan ketika tiba-tiba saya tanyakan; Kama, kenapa celanamu basah?

***

Aku mengintip lagi. Sebenarnya, aku malu sama dia. Aku tidak tahu kalau selangkanganku basah. Sungguh malu sekali. Tapi, semoga dia pikir hanya air yang tumpah. Kali ini, tentara Jepang yang membayarnya. Tentara itu tidak buka baju seragam. Hanya buka celana. Seperti biasa, celanaku rasanya sempit. Aku masukkan tangan. Mungkin celanaku akan basah lagi. Tapi, baru sebentar kulakukan itu, tentara lainnya memergoki, dia menamparku. Tentara yang bayar Hana pasti dengar. Buktinya, pintu tiba-tiba terbuka. Dia berdiri di depanku, dan aku tidak bisa menahan kencing. Dia bentak aku. Leher bajuku dicengkeramnya. Aku diseret masuk kamar. Dia tendang aku dari belakang. Dia paksa aku telanjang.

“Sekarang naik!”

Suaranya semakin keras. Aku gemetar. Aku menangis. Dia tampar aku juga.

“Tunggu apalagi? Naik! Ini yang kamu mau, kan?”

Hana kini ada di bawahku. Aku masih menangis. Hana juga menangis. Aku sungguh takut. Bisa saja aku dibunuh. Aku sudah sering lihat orang dipenggal dan digantung di tempat ini. Kebanyakan jugun ianfu yang melawan. Ada yang mau kabur. Ada yang lukai tamu. Ada yang penyakitan juga. Tentara itu tidak akan pikir panjang sebelum bunuh aku. Bagi mereka, aku tidak hasilkan uang. Tidak berguna seain untuk bersih-bersih.

“Lakukan sekarang! Atau kutusuk kau,” dia mengancamku dengan bayonet.

Aku tidak bisa. Aku merasa tulangku seperti remuk. Baru saja tentara itu menendang lalu membuatku jatuh ke lantai.

“Sekarang kau lihat, kuajari kau. Awas kau tutup mata!”

Aku masih menangis. Aku terpaksa melihatnya. Tidak lama kemudian, dia teriak lalu baring di samping Hana. Mungkin dia tidur, mungkin dia capek. Aku tidak tahu apa yang membuatku tiba-tiba mengambil bayonetnya. Pertama, kutusuk pinggangnya. Lalu lehernya. Lalu pantatnya. Wajah Hana pucat, aku takut karena seprei penuh darah.

“Lari cepat!” Hana memaksaku.

“Aku tidak tahu mau ke mana?”

“Kau dari mana?”

Aku sebut nama kampungku. Ternyata Hana tahu. Kami tetangga kampung.

“Ayah dan Ibumu?”

“Bapakku mati, tidak sanggup lagi disiksa dan tidak sanggup lagi bekerja paksa. Ibuku sepertimu, tapi mati karena sakit. Karena tidak punya siapa-siapa, aku disuruh kerja dan dijanji setiap hari diberi makan.”

“Pokoknya lari,” suara Hana meninggi. “Ini uang buatmu. Dan juga jimat keselamatan, simpanlah. Pergi dan temui adik saya di kampung, uang itu untuk kalian berdua. Jadikan dia saudara. Bilang bahwa saya baik-baik saja dan segera pulang. Yang di sini, biar saya yang urus.”

Aku meraih pemberiannya. Aku sebenarnya tidak mau pergi, tapi Hana terus memaksa. Akhirnya aku lari meninggalkan mereka berdua.

***

Saya sudah dua bulan tidak melihat Kama. Dia membunuh tentara. Setelah menerima beberapa yen, dia pergi. Pokoknya lari, begitu kata saya. Dia benar-benar lari—mungkin dia tidak tahu bahwa saya merindukannya. Teman saya di sini, hanya dia dan Kazumi—tetapi Kazumi jarang muncul. Hari itu, ketika tentara yang lain menemukan tubuh temannya tak bernyawa—mereka menyeret saya ke lapangan, saya disiksa dan hampir saja digantung. Saya masih muda, masih baru, dan rugi membunuh seseorang yang bisa menghasilkan uang banyak bagi mereka, itu yang buat saya masih hidup. Sebagai hukuman, saya dipaksa harus melayani lebih banyak dari biasanya. Saya merasa ingin mati, tetapi saya mengingat Suda. Dia sudah tidak punya apa-apa. Ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya setelah Ayah menikah lagi dan berencana merantau bersama istri mudanya.

***

Aku menyukai Hana. Tapi, agar tidak mati, aku harus lari. Jadi. terpaksa aku meninggalkannya. Sebenarnya, bukan karena Hana saja kubunuh tentara itu. Sebenarnya, aku sedang balas dendam. Untuk Bapak dan Ibu. Aku senang dan puas. Aku lari sangat cepat menuju kampung. Lalu, akan kutemui adik Hana dan jadikan saudara. Begitu kata Hana. Selain uang, Hana juga beri aku jimat berupa batu warna hitam. Kata Hana, batu itu untuk jimat keselamatan dan bisa terapung di air. Jadi, karena itu, orang yang membawanya pasti selamat.

***

Kini, di gerbang kompleks pelacuran, saya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Pipi saya hangat mengenang kabar Suda yang berangkat merantau bersama Ayah. Dan Hammud? Dia pasti telah menikah. Saya akhirnya menuju pulang, gontai sambil menangis tanpa suara, saya tahu, besar kemungkinan ditolak kampung sendiri.

Saya pulang dengan tangan kanan menjinjing tas kulit berwarna coklat yang mulai terkelupas. Tas yang berisi beberapa potong pakaian dan hasil galian saya satu hari yang lalu. Kemarin, ketika desas-desus bahwa besoknya kami akan bebas—berkat informasi dari Kazumi—saya menggali sebuah gundukan tanah di tempat pembuangan sampah kompleks. Di sana, aku disuruh menguburnya, aku terpaksa rahasiakan darimu, kata Kazumi meyakinkan saya. Dan benar, saya menemukan tulang berserakan serta batu hitam di sana—tulang dan batu yang kini berada di tas jinjing saya. Tulang dan batu yang akan saya kubur di sebelah kampung saya.

 

Makassar, 2017-2018

 

Catatan:

Kapotjes merupakan istilah untuk kondom pada masa pendudukan Belanda dan Jepang.

 

Faisal Oddang lahir di Wajo, 18 September 1994. Bukunya yang baru terbit: Perkabungan untuk Cinta (Basabasi) dan Manurung (GPU). Mendapat pengliargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari Pemerintah Thailand, Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2015, dan Tokoh Seni Tempo 2015.

AA Rama Dalem, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar. Telah menyelenggarakan sejumlah pameran di Bali, salah satunya di Taman Budaya Bali (Art Centre). Membuat berbagai ilustrasi dongeng-dongeng dan cerita tradisi Bali. Kerap mengajar workshop seni multimedia di Bali.

Advertisements