Cerpen Mawan Belgia (Banjarmasin Post, 03 Juni 2018)

Di Boyang Mekkeqde Ada Maakkeq Boyang ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Di Boyang Mekkeqde Ada Maakkeq Boyang ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

ADA yang hilang dan kami pada Hari Jumat. Itulah yang kami rindukan, itulah yang dulu bikin kami senang. Itu yang akan kami wariskan pada anak cacu kami, karena zaman menampakkan segala kemewahannya. Mau tak mau semua itu ditinggalkan. Jadinya generasi setelah kami hanya akan menjadi pendengar, kami membatin melangkah menuju masjid.

Satu per satu apa yang bikin senang di kampung kami mulai hilang. Memang kini banyak berubahnya. Perubahan itulah yang membuat perseteruan. Tentang usulan pergantian nama kampung, itulah yang menjadi biang keroknya. Memang perdebatan itu sewaklu-waktu berjeda. Manakala ada berita dalam negeri yang berhasil mencuri perhatian kami. Misalnya tentang kasus Papa kemarin sore, yang selalu banyak akal saat dipanggil KPK. Juga tentang gubernur yang terkilir lidahnya saat membaca pancasila. Atau tentang hutang negara menumpuk segunung.

“Utang membengkak tak apa, asalkan pembangunan insfrastruktur berjalan. Pembangunan menyebar dan merata ke seantero negeri.”

“Merata dari Hongkong. Malahan Tanah Mandar hanya mendapat cipratannya. Tanah Jawa sudah sesak pembangunan, di Mandar masih banyak jalan yang buta,” obrolan kami pada suatu malam.

Jika tidak ada berita dalam negeri yang viral dan bisa mencuri perhatian kami. Maka tentang usulan pergantian nama kampung akan kembali diperbincangkan hingga diributkan.

William Shakespeare pernah bilang, apalah arti sebuah nama? Maka kami jawab nama adalah identitas. Seperti di kampung kami namanya Boyang Mekkeqde. Didasari karena dulu rumah di sini hanya ada satu model yaitu rumah panggung. Makin ke sini zaman, makin tinggi pula gengsi kami. Berlomba-lomba kami merobohkan rumah panggung. Bisa juga dijual jika masih layak. Kemudian dibangun rumah batu.

Dulunya sepanjang jalan ini, rumah panggung berjejer. Saat ini banyak perubahan. Jalannya jauh lebih mulus, pohon-pohon yang rindang di depan rumah diganti dengan tanaman bias, yang tidak bisa dijadikan tempat berteduh manakala matahari mengamuk atau hujan mengadang. Dulu sepanjang jalan ini hijau asri, sekarang hijaunya memudar. Menghirup napas tak sesegar dulu lagi, debu-debu memasuki hidung. Polusi bertebaran di mana-mana. Yang tak kalah mengerikan matahari kelewat ganas menyengat kulit. Baru beberapa langkah memasuki jalan ini, keringat telah bercucuran.

Kian hari rumah batu kian marak, rumah panggung tersisihkan. Untuk membedakan mana warga yang banyak uang dan mana warga yang sedikit uang bisa dilihat dari rumahnya. Rumah batu untuk mereka yang tergolong mapan sedangkan rumah panggung menandakan warga yang kurang mampu. Memiliki persediaan pas[pasan dari bulan ke bulan.

“Boyang Mengkeqde, nama pemberian leluhur. Kita baru lahir kemarin sore. Jangan seenaknya mengusulkan penggantian nama kampung.”

“Nama adalah identitas. Boyang Mengkeqde tidak menggambarkan lagi identitas kampung kita yang sekarang. Tidakkah kau lihat, rumah panggung yang tersisa berapa saja. Orang-orang ramai menggantinya dengan rumah batu. Kenyataan demikian, masih pantaskah kampung ini bernama Boyang Mekkeqde?”

Perbincangan tentang usulan pergantian nama kampung, hadir saat kami sedang asyik-asyiknya menonton pertandingan akbar sepak bola tim-tim Eropa. Saat dinginnya subuh bikin menggigil. Jika permainan kedua tim temponya lambat alias tak ada peluang berarti, kami sempatkan untuk melanjutkan perbincangan tentang usulan pergantian nama kampung.

“Sebelum mengusulkan nama kampung diganti. Terlebih dahulu kalian beritahu Kama’ Takwa untuk mengganti nama anaknya.” Kami sudah bisa menangkap maksud ucapan itu.

Kama’ Takwa memiliki seorang anak bernama Abdullah Takwa. Karena nama adalah identitas dan dijadikan alasan untuk mengganti nama Boyang Mekkeqde, karena tidak sesuai lagi dengan kenyataan sekarang. Maka memang perlu diusulkan untuk pergantian nama Abdullah Takwa. Nama yang mengandung makna baik itu dicederai dengan perangai Abdullah Takwa sendiri yang buruk.

Alasan Kama’ Takwa beserta Kindo Takwa memberi nama anaknya Abdullah Takwa. Mungkin saja kelak Abdullah Takwa bisa menjadi hamba Allah yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segalah larangan-Nya. Boro-boro Abdullah Takwa mau bertakwa, hobinya saja suka judi, mabuk hingga meniduri janda jablai. Jika kami tetap ngotot ingin mengusulkan pergantian nama kampung Boyang Mekkeqde, harusnya Kama’ Takwa tedebih dahulu diberi usul untuk mengganti nama anaknya. Nama adalah identitas. Tabiat Abdullah Takwa melenceng dan makna namanya.

“Leluhur kita bisa saja memberi nama kampung ini Boyang Mekkeqde. Dengan harapan kita tetap melestarikan Boyang Mekkeqde di kampung ini. Apalah kenyataannya sekarang. Demi gengsi, rumah panggung berniat dirobohkan, rumah batu dicita-citakan dibangun.”

“Itu bisa saja ya. Dan. bisa juga leluhur kita memberi nama kampung ini Boyang Mekkeqde karena kebetulan saat itu rumah yang ada semuanya rumah panggung. Jika pada masa itu yang marak adalah rumah batu, bisa saja leluhur lata membeh nama kampung ini Boyang Batu.”

Gara-gara perbincangan itu, tanpa kami sadari pertandingan sepak bola yang tayang di televisi skornya 2-0. Dua gol kami lewatkan saking asyiknya berbicara tentang usulan pergantian nama kampung.

***

Kemajuan zaman, menuntut warga untuk melebarkan gengsinya pada urusan rumah. Walau bagaimana pun juga rumah adalah istana. Kaya miskinnya seseorang dapat dilihat dari rumahnya. Dulunya sepanjang jalan ini hanya ada satu model rumah yaitu rumah panggung. Sekarang rumah panggung nasibnya terpinggirkan akibat melebarnya gengsi kami.

Rumah batu disanjung tinggi, dipermak indah, dibuat mengkilat sehingga bikin bangga. Kami tidak salah, zaman pun tidak salah. Hanya yang disayangkan dari maraknya penggunaan rumah batu, mau tidak mau akan tenggelamnya satu tradisi peninggalan leluhur kami. Tradisi itu tidak akan didapat lagi oleh generasi setelah kami yang akan datang.

Di kampung kami di Boyang Mekkeqde ada tradisi Maakkeq Boyang. Sekarang, tradisi memindahkan rumah sudah jarang terlihat. Dulu, ketika di kampung kami masih marak rumah panggung, dua atau tiga minggu sekali selalu berjumpa dengan tradisi ini. Jika kebetulan ada warga yang ingin memindahkan rumahnya, ditempatkan pada posisi baru. Maka akan diumumkan sebelum atau selesai salat Jumat.

Tradisi Maakkeq Boyang memberikan banyak pelajaran hidup. Di dalamnya kami banyak belajar semangat gotong royong. Rumah panggung yang beratnya sampai berton-ton tidak terasa apa-apa saat dipikul bersama-sama.

Maakeq Boyang memang identik dilaksanakan pada hari Jumat. Kemungkinan kecil sekali dijumpai pada hari lain. Di kampung Boyang Mekkeqde hanya ada satu hari, tempat berkumpulnya kaum lelaki yaitu pada hari Jumat saat melaksanakan salat Jumat. Hari Jumat memang hari istimewa bagi kami. Hari itu para nelayan libur melaut, sebagian pelani juga begitu. Walaupun ada yang ke sawah atau ke kebun maka harus pulang beberapa jam sebelum waktu salat Jumat.

“…. Mohon perhatiannya sebentar! Kebetulan hari ini saudara kita atas nama Puang Jamal ingin memindahkan rumahnya. Beliau mengharapkan sekali bantuan tenaga kita. Jadi sekiranya setelah keluar dari masjid. Kita bisa bersama-sama menuju lokasi rumah beliau….” ucap Kepala Dusun menggunakan pengeras suara di hadapan seluruh jemaah salat Jumat.

Setelah doa bersama, kami berhamburan keluar masjid. Berbondong-bondong menuju lokasi rumah yang akan dipindahkan. Puluhan hingga ratusan kaum laki-laki, baik itu anak-anak, para remaja, orang dewasa hingga orang tua. Semua terlibat dalam kegiatan Maakeq Boyang. Malu bagi kami jika mengabaikan seruan itu. Maakeq Boyang adalah tradisi leluhur kami, di dalamnya ada semangat gotong royong.

Rumah panggung yang ingin dipindahkan, sebelumnya sudah dikosongkan isinya. Tujuannya biar mengurangi bobot rumah. Balok penyangga dihubungkan dari tiang ke tiang. Menjadi stan bagi kami. Setelah menempati posisi masing-masing. Satu orang yang memiliki suara lantang akan menjadi komando Maakeq Boyang.

“Saaaatuuuu…Duuuuaaaa…Tiiiiigaaaaa…” ucapnya hingga nampak urat lehernya dan wajahnya memerah. Rumah pun terangkat dipindahkan ke posisi yang dikehendaki. Panas bukan menjadi penghalang. Semua semangat. Dan, senyum lepas akan kami tampakkan setelah Maakeq Boyang usai. Selalu ada suguhan menarik dari pemilik rumah kepada kami yang telah bahu membahu memindahkan rumahnya. Suguhan itu adalah uleq-uleq bue dan cendol, dua hidangan menarik yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dari tradisi Maakeq Boyang.

Sambil menikmati hidangan itu kami akan saling bercerita. Tentang keadaan tanaman padi kami sudah sampai di mana, tangkapan ikan kami seberapa banyak, bisnis kami apakah lancar atau tidak. Dan, juga tidak lupa menyelipkan pembahasan tentang pergantian nama kampung.

“Ironisnya, di Boyang Mekkeqde jarang lagi dijumpai rumah panggung. Yang kutakutkan tradisi seperti ini akan hilang. Anak cucu kita tidak akan tahu lagi, betapa pada tradisi Maakkeq Boyang di dalamnya ada semangat kebersamaan dan semangat gotong royong,” komentar salah satu di antara kami saat menikmati uleq-uleq bue.

“Mau bagaimana lagi. zaman menuntut kita untuk berubah. Tidak mungkin kita terus-terusan membangun rumah panggung. Sudah ada rumah batu yang permanen dan lebih tahan.”

Beberapa bulan setelah pemindahan rumah Puang Jamal, sampai sekarang tidak ada lagi seruan saat selesai menunalkan salat Jumat untuk saling bahu membahu Maakkeq Boyang. Kini di Boyang Mekkeqde, rumah panggung yang tersisa sedikit sekali. Tidak butuh waktu lama lagi tradisi Maakkeq Boyang di Boyang Mekkeqde akan punah.

Jika dulu, Hari Jumat seperti ini kaum lelaki di kampung Boyang Mekkeqde akan saling bersua di masjid. Sekarang tak semarak dulu lagi. Dulu masjid sesak, kini makin longgar. Rupanya bersamaan mengikisnya tradisi Maakeq Boyang, kami pun mengalami krisis kesadaran. Ahh. Maakkeq Boyang riwayalmu dulu. ***

 

Mawan Belgia, berasal dari Mamuju, Sulawesi Barat. Saat ini masih aktif menjadi mahasiswa jurusan matematika.

Advertisements