Cerpen Remli Nelmian Simarmata (Analisa, 03 Juni 2018)

Dermaga Kecil di Sudut Desa ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Dermaga Kecil di Sudut Desa ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

DI sudut desa kecil, di tepian danau. Laki-laki itu masih juga duduk termangu, tak jauh dari dermaga kecil.

Dermaganya hanya menjorok dua atau tiga meter ke tengah danau. Dermaga hanya bebatuan yang disusun rapi. Di dermaga itulah kapal-kapal kecil terbuat dari kayu selalu bersandar sejenak. Menaikturunkan penumpang dan menurunkan barang yang dibawa penumpangnya.

Tak jauh dari dermaga kecil, ada gubuk kecil beratap ilalang yang dirajut. Sebuah meja dari kayu nan melapuk dan bangku-bangku dari empat batang bambu bulat di dalamnya.

Seruling bambu masih dalam genggamannya. Sejak seusai makan siang, laki-laki itu sudah berada di sana. Hampir setiap hari. Mulai dari hujan deras, kini berubah menjadi rintik lalu menjadi rinai. Lelaki itu memang suka pada rinai dan angin yang meniup daun-daun cemara.

Dia hanya tersenyum, bila dia mendengar bisik-bisik yang mengatakan dia sudah hampir gila. Meniup seruling kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas pada buku catatannya.

Bila ada kapal karu yang melintas, dia pasti tegak berdiri di dalam gubuk tua itu. Bila kapal merapat ke dermaga, dia pasti sudah berada di ujung dermaga. Bila kapal kembali berlayar ke tengah danau menuju tujuannya, dia kembali ke gubuk tua.

Dia meniup seruling dengan notasinotasi yang sulit ditangkap oleh peniup seruling tradisi. Laki-laki itu tak perduli, apakah orang lain mengerti atau tidak. Dia juga tak perduli apakah orang lain dapat menikmati tiupannya yang mendayu atau tidak.

Dia membuka tas ranselnya yang penuh dengan buku. Banyak literasi yang dia bawa. Kembali literasi tua itu dia baca perlahan dalam iringan rinai halus menusuk-nusuk pori-porinya.

Jika ucapan doa sudah susah diungkapkan dengan kata-kata, maka serunailah yang menggantikannya.

Serunai? Dia harus mempelajari serunai tradisi itu? Berapa lamakah? Tidak. Serunai akan dia gantikan dengan seruling bambu.

Dengan seruling, laki-laki itu menyampaikan isi hatinya. Isi hati yang dia sampaikan kepada Mulajadi na Bolon (Sang Khalik) penguasa alam semesta. Dengan tiupan seruling pula dia menyampaikan keluh kesahnya kepada alam semesta. Dengan tiupan seruling pula dia menyampaikan himpitan kehidupannya kepada ayah dan bundanya di alam lain. Dengan tiupan seruling pula dia menyampaikan penantiannya kepada sang kekasih nun entah di mana.

Laki-laki itu, sudah jarang menuliskan tiupannya menjadi sebuah notasi pada kertas putih buku catatannya. Dia lebih mengandalkan ingatannya saja.

Angin datang menerpa. Berdesau-desau di atas gubuk tua. Terpaan angin kencang pada rinai itu, membuat daun-daun cemara ikut bersiul-siul. Setiap angin kencang, daun cemara pasti bersiul, mendesing-desing dan berdesau.

Lelaki itu tak melepaskan momentum itu, setiap kali daun cemara bersiul. Dia timpali siulan itu dengan alunan tiupan serulingnya. Harmoni nada terpadu seketika. Sebuah komposisi chorus demikian indah. Bagai koor yang sedang disenandungkan dalam sebuah ibadah suci.

Inilah darahku darah keselamatan….”

Imam sedang menggumankan sebuah kata dalam gema dengung rumah ibadah. Orgel pun menggemakan kidung pujian.

Simponi alam benar-benar menakjubkan hati laki-laki itu. Ada siulan daun cemara ditimpali alun seruling dan hempasan riak-riak air danau menghempas-hempas pantai. Sesekali cicit anak burung dari ranting-ranting pohon mengumandang. Mungkin anak burung itu lapar atau sedang memanggil induknya. Mungkin juga ketakutan pada desau angin yang sesekali berputar-putar. Kue itak yang setiap hari diantar oleh seorang gadis pemilik rumah penginapan itu, tingal sebuah. Kopi panas sudah mendingin. Tuak tangkasan ukuran sebotol mineral 1,5 liter hampir habis. Gadis pemilik rumah penginapan itu rajin mengantar penganan yang dibutuhkannya. Diminta atau idak.

Sore tiba.

Sebentar lagi akan berganti dengan senja lalu berganti malam. Lonceng gereja sudah berdentang dan berdenting dari puncak bukit. Memanggil umat-nya. Siapa saja yang mau menerima komuni dari imam.

Laki-laki itu cepat meninggalkan gubuk tua. Dia berlari ke puncak bukit, arah datangnya suara lonceng gereja.

Rinai belum juga berhenti. Dalam terpaan rinai dia sampai ke bukit. Pintu gereja masih terbuka. Dia cepat masuk dan berlutut. Dia katupkan kedua tangannya dan dia memanjatkan doa.

Terima kasih atas apa pun yang aku terima hari ini. Semua ini adalah berkatMu. Amin.

Dia bangkit dari berlutut dan mau ke depan altar. Kedua telapak tangannya menjulur ke hadapan imam.

Sepotong roti tak beragi dia terima, lalu dia masukkan ke dalam mulutnya dan menelannya. Dia kembali ke tempatnya semula dan berlutut, lalu menggumamkan doa singkat lalu bangkit. Dia tinggalkan tempat itu.

Dalam kegelapan, dia lalui jalan setapak menuruni bukit. Dia tuju tempat tinggalnya. Sebuah kamar kecil 2 x 3 meter, dengan sewa yang sangat murah.

Setelah membersihkan diri, dia menuju ruang makan. Sepiring nasi putih, rebusan daun bayam dan dua porong ikan asin serta kecap manis dicacah ke atas nasi. Tak lupa beberapa butir cabai rawit yang sudah merah untuk dia kunyah.

“Masih belum dapat?”

Gadis pemilik penginapan itu bertanya santun dan menatap lembut.

Laki-laki itu hanya menjawab dengan seringai.

“Tengah malam nanti, aku harus mengantarkan apa untukmu?”

“Aku hanya butuh sepiring nasi goreng, panas.”

“Pakai telur dadar lagi?

“Mata sapi.”

Ok.

Gadis itu berlalu. Laki-laki itu menikmati makanannya sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja. Nampaknya ketukan jemarinya itu, sebagai sebuah metronome, hitungan ketukan 3/4 pada sebuah nada. Sesekali dia tersenyum dalam mengucah nasinya.

“Adakah sesuatu yang dapat saya bantu?”

Gadis anak dari pemilik penginapan itu muncul lagi?

“Apakah yang bisa aku terima, jika kau mau membantuku?”

“Karena itu aku bertanya, mana tau kau membutuhkan bantuanku. Katakan saja, apa yang bisa kulakukan untukmu.”

“Terkadang aku hanya butuh ketukan 4/4. Terkadang 3/4. Hanya itu yang aku butuhkan, jika kau mau membantuku.”

“Apa itu ketukan 4/4 dan 3/4?”

Laki-laki itu tersenyum.

“Aku sangat mengagumimu,” kata laki-laki itu.

“Kagum?”

“Ya.”

“Kenapa”

Laki-laki itu diam. Matanya tajam menatap si gadis.

“Besok pagi kita mulai, jika kau punya waktu.”

“Ya… aku akan menolongmu.”

***

Pagi-pagi sekali, laki-laki itu dan sang gadis sudah berangkat ke tengah sawah. Sawah yang baru saja di bersihkan dan belum ditanami. Mereka membawa bambu yang sudah dipotong-potong masing-masing tiga ruas. Potongan itu dikerjakan sang lekaki sepanjang malam.

Pemilik penginapan memiliki setengah hektar sawah. Di sanalah mereka berdiri dan memacakkan tiang-tiang kecil penyanga bambu yang sudah dibentuk sesuai nada yang diinginkan. Sang gadis hanya mengikut saja. Tentu saja atas persetujuan ayah dan ibunya.

Air dari pembuangan satu petak sawah ke petak di bawahnya mengalir dengan tenang. Air itu memasuki ruas bambu dan bambunya terangkat. Setelah penuh air itu terbuang. Bambu yang sudah dipenuhi oleh air, pun jatuh ke bawah. Bambu ditampung oleh sebuah batu yang disediakan dan mengeluarkan bunyi.

Ada 30 buah potongan bambu yang sudah terpancang dan terpasang. Masing-masing ruas bambu mengeluarkan bunyi. Tang… ting…tung… teng… dan seterusnya. Nadanya sudah diatur dengan baik. Sang gadis bertugas memukul botol kosong dengan sebuah sendok dengan ketukan 4/4.

Laki-laki itu naik di ketinggian meniup serulingnya mengikuti alun suara dari suara bambu. Cicit burung bersiulan di ranting dan dahan pohon. Di kejauhan yang tinggi burung ampok mengeluarkan bunyi, bantuan metronome lain. Masih suara yang sama, nada berganti pada ketukan ¾ dan mengeluarkan harmoni suara yang indah pula.

Sang gadis dan kedua orangtuanya yang sudah hadir di tengah sawah dan mulai menanami padi, ikut merasakan keindahan suara itu. Demikian juga petani lain yang juga sedang menanam pagi di sawah mereka masin-masing.

“Gondang saba?” seorang tua berusia berkisar 80 tahun berteriak dengan riang. Dia menari di atas pematang sawahnya. Alun nada suara dari bambu itu mirip suara gondang, dia tarikan. Sudah 60 tahun lelaki tua itu tak pernah lagi menikmati gondang saba di kampungnya.

Suara gondang itu terbawa angin jauh ke tengah kampung. Perlahan-lahan orang beradatangan ke pematang sawahnya masing-masing. Pada sebuah gubuk, pemilik penginapan menyaksikan laki-laki dan anak gadis mereka demikian akrabnya.

“Sudah selesai?”

“Sudah. Aku sudah menemukannya. Dalam dua minggu thesisku pasti selesai. Penelitian ini ternyata tak serumit perkiraanku.”

“Apa yang kau temukan?”

“Dua hal sekaligus.”

“Apa itu?”

“Dirimu.”

“Ha….”

“Ya. Mau kau menjadi isteriku?”

“Kau sudah gila?”

“Mungkin, ya. Kau jawablah. Maukah kau menjadi isteriku?”

“Aku lebih tua tiga tahun dari usiamu.”

“Gak masalah.”

Gadis itu diam.

“Aku hanya D3. Kau sedang menyusun thesismu untuk S2.”

“Gak apa-apa.”

“Aku jurusan akuntansi. Kau musik. Apa bisa?”

“Bisa!”

Laki-laki itu menarik tangan di gadis ke gubuk yang merangkap dangau.

Amang… inang… boleh aku melamar adik ini menjadi isteriku?” laki-laki itu berkata tegas dan tulus.

Kedua orangtua itu diam tak menjawab. Suami-isteri itu saling tatap. Sang gadis tertunduk menatap ujung kakinya.

Dengan suara gemetar sang ayah bersuara. Bawa orangtuamu dan kerabatmu melamarnya pada kami. Sore itu, berempat mereka meningalkan sawah menuju penginapan sederhana yang dia tempati.

Lelaki itu langsung menelepon ayah ibunya di kota. Menyampaikan apa yang dia temukan di tepi danau di ujung sebuah dermaga kecil itu.

“Syukurlah, kau telah menemukan orang yang tepat untukmu. Segeralah pulang, kita akan melamarnya,” ayah lelaki itu menjawab dari telepon genggam.

“Kau sudah benar. Tak ada gunannya menungu perempuan yang belum pasti kapan dia kembali.” Ibu laki-laki itu ikut berkata.

Saat dia menyusun pakaiannya ke dalam ransel dan semua berkas literasinya, telepon genggamnya berbunyi, pertanda ada SMS.

Cepat dia raih telepon genggamnya dan melihat yang tertulis di sana. Dari seseorang bernama, Mariah.

Maafkan aku. Ayah dan ibuku telah menerima lamaran seorang laki-laki dan aku tak mampu membantah. Ayah ibuku tak menyetujui aku menikah dengan seorang pemusik tradisi yang tak punya masa depan.”

Laki-laki itu tersenyum dan memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celananyanya.

 

Medan, 2018

Advertisements