Cerpen Ade Ubaidil (Pikiran Rakyat, 03 Juni 2018)

Kencana ilustrasi Rifki Syarani Fachry - Pikiran Rakyat
Kencana ilustrasi Rifki Syarani Fachry/Pikiran Rakyat 

BADRUN melangkah keluar dari sebuah toko buku. Sekali lagi ia buka dompetnya. Satu lembar uang kertas dua ribuan ia ambil. Pikirannya sibuk bertanya, “Kepada siapa lagi buku-buku ini harus saya tawarkan?” belum ia mendapatkan jawaban, lekas ia menaiki sepeda motornya.

“YA, terus-terus…,” seru seorang juru parkir di belakangnya.

“Terima kasih, Pak.” Ia sodorkan lembaran uang tadi. Sekarang, ia menghitung, uangnya tinggal tiga ribu. Sebelumnya sepuluh ribu rupiah sudah ia pakai untuk membeli bensin. Bahan bakar naik, barang-barang lain ikut naik. Menjadi seorang guru yang merangkap penyair, pikirnya, bukanlah pilihan yang bijak.

Ia membawa motornya pada kecepatan sedang. Perkataan pemilik toko tadi, toko buku yang tidak besar-besar amat itu, masih ia ingat.

“Kami bukan menolak. Buku-buku dari penulis besar saja belum semua habis, kami hanya tak mau membuat Pak Badrun menunggu lama bila bukunya dititip-jual pada kami. Barangkali, kalau musim pembeli sedang ramai, kami akan hubungi Pak Badrun.”

Hal berikutnya yang terjadi, ia mengucapkan, “Tidak apa-apa, terima kasih.” Sembari memberikan satu buah buku puisi tunggalnya yang ia cetak sendiri sekitar seratus eksemplar, dengan uangnya sendiri, yang ia sisihkan dari gajinya tiga bulan terakhir.

Setelah itu, ia menutup pintu dari luar.

Bila ditelaah, ucap Badrun menahan senyum getirnya, lucu juga, ya. Untuk mendapati buku laku saja harus menunggu “musim-pembeli- ramai”(?). Apa separah itu minat baca warga negeri ini? Tapi, ah, saya tak begitu percaya, katanya menengok ke gedung-gedung pencakar langit, karya bagus, adalah karya bagus. Ia akan tetap mendapatkan pembacanya sendiri, baik saat musim maupun tidak. Apa pembaca buku seperti hujan, begitu? Ia tak selalu datang setiap hari. Sekalinya datang, ia keroyokan?

Advertisements