Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 27 Mei 2018)

Taburan Mawar Cinta ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Taburan Mawar Cinta ilustrasi Suara Merdeka

Gelap sudah hampir menyentuh malam. Sisa hujan sejak siang tadi menambah aroma malam yang menegas. Aku masih bersimpuh di pusara makam anak wedokku. Ya, anak wedokku baru saja diantar ke tempat baru, tempat keabadian yang sama sekali tidak aku bayangkan secepat ini menjemput.

Aku masih belum berniat meninggalkannya. Kasihan anakku sendirian dengan tumpukan tanah merah yang masih basah dan penuh taburan bunga mawar berwarna-warni. Orang-orang masih saja memandangiku, entah apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Sementara teman-teman anakku masih saja menundukkan kepala dengan air bening yang masih saja menetes dari kelopak mata mereka. Aku juga tidak bisa menduga apa yang tengah mereka pikirkan. Namun aku yakin mereka semua sangat kehilangan, kehilangan sesuatu yang teramat dekat.

Aku masih tergugu. Bukan menyesali apa yang baru saja terjadi, melainkan membayangkan berpisah dari anak wedokku selamanya adalah penderitaan yang tak akan berujung. Ya, anak satu-satunya yang kumiliki ternyata lebih dicintai oleh Tuhan daripada cintaku padanya atau apakah Tuhan meragukan cintaku pada anakku? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran mengimpitku. Kepalaku seakan diikat tali tambang dan kemudian ditarik ke sana kemari. Pusing.

***

Malam-malam dokter memanggilku. Ya, malam yang masih belum menuntaskan gerimis, aku berbegas dengan langkah kupercepat walaupun sebenarnya jaraknya juga hanya beberapa langkah dari kamar tempat anakku dirawat. Kusalami dokter dengan ragu. Dia mempersilakan aku duduk. Namun aku tidak segera duduk. Kupandangi dokter itu lekat-lekat karena kutahu akan ada informasi penting yang akan dia sampaikan.

“Dokter memanggil saya?” tanyaku memastikan.

Dokter itu belum menjawab. Justru helaan napas panjang yang keluar. Aku makin gemetar.

“Dok, saya ayah pasien bernama Tusning,” sengaja kukeraskan suaraku.

“Silakan duduk, Pak.”

Aku duduk dengan ragu-ragu. Belum duduk, tetapi pantatku rasanya panas. Sebenarnya aku tak ingin duduk, tapi karena dokter memintaku kembali untuk duduk, maka kuturuti.

“Betul Bapak keluarga pasien bernama Tusning?”

Aku merasa peranyaan itu tidak perlu kujawab. Toh dokter itu sudah tahu. Aku hanya menganggukkan kepala supaya dokter itu puas.

“Begini, Pak…,” dokter itu tidak melanjutkan. Pandangannya lurus menatapku.

“Ada sesuatu terjadi pada anak saya, Dok?”

“Begini, Pak,” ulangnya lagi. “Dari hasil laboratorium, anak Bapak terkena leukemia,” kata dokter itu meyakinkan.

Aku terenyak. Badanku tiba-tiba gemetar. Pandanganku lurus menatap dokter itu lekat-lekat. Barangkali dokter itu tahu. Ia pun berusaha membuang pandangan ke arah lain. Beberapa menit kami saling diam, memainkan angan kami masing-masing.

“Barangkali Dokter salah menganalisis,” sanggahku masih dengan badan gemetar.

“Ya semoga,” tukas dokter mengambang seakan tahu keresahanku. “Namun biasanya hasil laboratorium tidak pernah keliru,” ujar dokter setengah baya itu meyakinkan.

Aku terdiam dan tetap terdiam. Ya, Tuhan, cobaan apa yang tengah Kautimpakan kepadaku? Apakah selama ini aku kurang mengimani-Mu? Apakah aku punya dosa besar, sehingga hukuman itu tertuju padaku? Pikiran itu berkelebat dan berkecamuk dalam pikiranku. Ada air bening perlahanlahan mengalir pelan di pipiku. Makin lama kian menderas. Aku pun tak tahu bagaimana menyampaikan kabar ini kepada istri dan anakku. Aku membayangkan, mereka pasti akan syok.

Kumasuki kamar tempat anakku dirawat pelan-pelan. Sengaja aku berjalan berjingkat supaya tidak menimbulkan suara berlebihan. Kulihat dia sudah tidur. Tidur dalam sakit. Napasnya teratur. Badannya memang agak kurus dibandingkan dengan sebelum sakit. Kasihan anakku. Jujur, aku pun sebenarnya siap menggantikan sakit anakku. Biarlah aku saja yang berbaring sambil menghitung detak jam di ruang perawatan rumah sakit. Biarlah anakku menikmati masa remaja yang tentu indah.

Istriku juga sudah tidur di sofa yang membujur di sebelah tempat tidur anakku. Barangkali dia kelelahan dan aku tahu pasti juga kurang tidur. Kudekati anakku perlahan. Kutempelkan tanganku di keningnya. Panas. Aku cium keningnya sambil kubisikkan, “Bapak sangat mencintaimu.”

Kupandangi anakku lekat-lekat. Tiba-tiba ada rasa sakit menusuk-nusuk hatiku. Perih, perih sekali. Apa yang harus kukatakan pada anakku tentang penyakitnya? Dia hanya tahu masuk rumah sakit karena penyakit tifus. Itu hasil laboratorium sebelum aku bawa dia ke rumah sakit ini. Aku merasa tak kuat memandang anakku lama-lama. Wajahnya yang ayu selalu tersenyum, meski dalam tidur dan sakit. “Kamu tidak layak menderita seperti ini,” batinku memberontak. Namun aku bisa apa?

Dalam hitungan detik, aku sudah duduk termangu di tikar di bawah tempat tidur anakku. Tiba-tiba air mataku sudah tak bisa kubendung lagi. Mengalir deras. Aku tergugu. Aku lantas membayangkan betapa menderita anakku dalam proses pengobatan nanti. Keluar-masuk rumah sakit itu pasti, padahal seminggu lagi ada USBN dan berikutnya UNBK yang sudah menunggu. Dan, anakku selalu bersemangat ketika membicarakan kedua ujian itu sebagai pintu mengapai cita-cita sebagai dokter gigi.

Semalaman aku nyaris tidak bisa tidur. Mulut dan hatiku selalu merapalkan doa-doa untuk kesembuhan anak wedokku. Sampai pagi.

Karena penyakitnya itu, anakku lantas dirujuk ke rumah sakit lebih besar, rumah sakit pusat yang katanya berperalatan lebih lengkap dan lebih modern. Juga dokternya lebih ahli. Aku manut saja. Semua pasti demi kesembuhan anakku. Apa pun akan aku lakukan demi anak semata wayang yang sangat aku cintai. Kalau perlu ditukar sekalian aku pun siap. Biarlah aku yang menderita, tapi anakku jangan.

***

Pagi yang mendung. Sisa dingin semalam masih terasa mengikis kulit. Gumpalan-gumpalan awan perlahan berpindah dari satu titik ke titik lain, berarak teratur mengikuti arah angin. Muram. Semuram hatiku. Mataku masih pedih karena kurang tidur dalam beberapa hari. Badanku juga lemas karena mungkin kurang asupan makanan yang harus masuk ke perutku.

Dalam beberapa hari ini aku tak pernah merasa lapar. Kupaksakan mempersiapkan segala perlengkapan untuk mondok ke rumah sakit pusat itu. Istriku ternyata sudah terlebih dahulu berkemas-kemas. Kami saling diam. Diam dalam kesedihan. Aku sudah memperkirakan anakku akan mondok lagi. Hal yang sebenarnya sangat tidak aku harapkan. Dalam angan-anganku pulang dari rumah sakit berarti sembuh. Penyakit itu sudah hilang tuntas. Namun anakku pulang untuk kembali ke rumah sakit dengan penyakit berbeda. Duuhhh…

“Kita mau ke mana, Pak?” tanya anakku ketika aku minta dia berkemas-kemas. Aku tidak berani menatap matanya yang bening.

“Ke rumah sakit. Kontrol.”

Anakku diam. Ia menuruti ajakanku untuk berkemas-kemas. Aku sengaja tampak senang di hadapan anakku supaya ia juga bersemangat. Pergi ke rumah sakit bukanlah bepergian yang menyenangkan. Aku yakin itu. Beda tentunya pergi ke mal atau tempat wisata. Untuk kali kesekian aku berusaha tersenyum pada anakku, meskipun dalam hatiku menangis. Hatiku terasa perih sekali. Sungguh!

“Lo, Pak, kok ke rumah sakit ini?” tanya anakku ketika mobil masuk ke pekarangan rumah sakit yang kutuju.

“Bapak bohong. Katanya mau kontrol, kok tidak ke rumah sakit yang kemarin?” protes anakku. Tampaknya ia curiga. Secara nalar kalau kontrol semestinya ke rumah sakit yang sama memang.

“Kebetulan dokternya juga praktik di rumah sakit ini,” aku beralasan sekenanya.

Anakku diam saja. Ia mulai murung.

“Aku kan sudah sembuh, aku nggak sakit lagi. Kenapa dibawa ke rumah sakit ini?” tanya anakku lagi sambil mengepalkan tangan berkali-kali untuk menunjukkan bahwa sebenarnya ia sudah sembuh.

Tiba-tiba ada setetes air bening mengalir dari mataku, diikuti tetes-tetes yang lain. Aku berusaha memalingkan muka supaya anak dan istriku tidak tahu.

“Oaalah, Ndhuk, kamu itu sakit, sakit yang lebih sakit,” kataku dalam hati, tetapi mulutku terkunci.

Kami saling diam dalam duduk menunggu giliran dipanggil. Kulirik, anakku asyik dengan gawai. Tampaknya ia tengah berbincang dengan temannya. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan.

Tak berapa lama, anakku dipanggil. Kami memang dapat nomor antrean awal. Istriku berusaha menuntun anakku, tapi ia menolak. Ia merasa sehat, tak perlu dituntun, apalagi dipapah. Aku memaklumi.

Dengan tangan gemetar, kusodorkan sehelai amplop yang kuyakini berisi rujukan dari dokter sebelumnya. Dokter yang masih muda itu membuka perlahan. Dahinya mengernyit. Tiba-tiba pandangannya mengarah ke anakku, aku, dan istriku secara bergantian. Kuberanikan memandang dokter itu. Lantas pandangan kami pun bersirobok.

“Ayo periksa!” ujar dokter sambil mempersilakan anakku berbaring di tempat tidur periksa. “Langsung mondok saja ya?” perintahnya dengan halus.

Aku hanya mengangguk, tapi anakku menggeleng.

“Aduh, Ndhuk, manut dokter ya supaya sembuh,” aku bergumam dalam hati.

Dokter lantas menjelaskan prosedur penanganan pasien yang tidak sepenuhnya kupahami. Aku memang tidak sepenuhnya mendengarkan penjelasan dokter karena pikiranku mengembara entah ke mana.

Kami pun akhirnya mondok di rumah sakit pusat itu. Tahap-tahap pemeriksaan dilakukan. Anakku belum tahu dan memang aku masih berusaha menyembunyikan. Aku masih bingung bagaimana cara menyampaikan. Aku khawatir anakku syok. Namun aku yakin lama-lama anakku juga akan tahu. Biarlah proses yang membisikkan ke telinga dan hati anakku.

Hari kedua di rumah sakit, ada kabar gembira dari dokter. Sebuah mukjizat dibawa oleh bidadari dari langit. Hasil laboratorium menyebutkan penyakit leukemia anakku ternyata negatif. Aku seakan tak percaya, tapi dokter itu meyakinkan anakku tidak pernah terkena leukemia seperti analisis dokter pertama. Kusalami dokter erat-erat. Tampaknya dokter muda itu tahu kegembiraanku. Kupeluk anak dan istriku secara bergantian. Aku tak lagi mempermasalahkan dokter mana yang pintar dan dokter mana yang bodoh. Aku juga tak mempermasalahkan hasil laboratorium mana yang betul dan mana yang abal-abal. Yang kutahu, Tuhan telah ikut campur tangan menunjukkan mukjizat kepada hamba-Nya. Kupandangi lekat-lekat anakku. Gadis 17 tahun itu tersenyum. Kupegang keningnya. Masih panas. Harapan baru muncul. Mungkin tak lama lagi anakku boleh pulang. Dokter masih ada di kamar perawatan anakku. Dalam sekejap, ia mengatakan sesuatu kepadaku.

“Pak, menurut hasil laboratorium, leukosit anak Bapak memang normal, tapi…”

“Ada apa, Dokter?”

“Justru ada radang di liver anak Bapak,” kata dokter menjelaskan.

Deg! Aku terkesiap. Pandangaku lurus terarah ke dokter itu. Aku tak berani menoleh ke arah anakku. Aku takut ia akan sedih lagi.

“Kira-kira penyebabnya apa ya, Dok?” aku penasaran.

Dokter belum juga menjawab.

“Nanti bisa diketahui setelah pemeriksaan di laboratorium.”

Aku tak ingin bertanya lagi. Kekhawatiran kembali menyergap kesadaranku, meskipun tidak sebesar kekhawatiran akan penyakit yang pertama.

Seminggu sudah anakku mondok di rumah sakit. Otomatis aku dan istriku juga. Sesekali aku pulang ke rumah untuk mengambil pakaian bersih dan mengantar pakaian kotor. Meskipun di rumah sakit, anakku tak pernah mengeluh apa-apa. Yang ia rasakan hanya batuk dan panas. Mungkin demam. Berkali-kali juga darahnya diambil untuk diperiksa di laboratorium. Dari hasil laboratorium, dokter pernah mengatakan virus A dan B negative, sehingga kemungkinan besar radang di liver anakku bukan karena virus.

Pagi itu, pagi ketujuh anakku dirawat di rumah sakit terbesar di kotaku. Aku berniat pulang ke rumah untuk ambil baju kantor. Aku memang berniat masuk kantor karena tidak ada sesuatu yang perlu kukhawatirkan. Pukul 04.00 kupacu mobilku membelah dingin kota yang semalam diguyur hujan deras. Niatku hanya mandi dan ganti baju untuk kemudian ke rumah sakit lagi.

Pukul 06.00 aku sudah sampai ke rumah sakit lagi. Ada keinginan kuat agar aku mampir ke rumah sakit dulu sebelum ke kantor. Aku kaget. Anakku sudah diberi oksigen oleh perawat. Kata istriku, anakku sesak napas. Aku tercekat, tetapi tidak berpikir apa-apa. Anakku pasti sembuh dan kembali normal seperti ketika kutinggal pulang tadi, doaku dalam hati.

Kudekati anakku. Kuelus rambutnya dan kuberi semangat untuk sembuh. Kutatap matanya. Ada air mata bening yang meleleh perlahan, lalu jatuh ke bantal. Sungguh, aku tak tega. Kupalingkan pandanganku ke arah lain, ke arah istriku. Ia tampak panik, tetapi mulutnya tetap komat-kamit berdoa. Aku pun berdoa memohon kesembuhan bagi anakku.

Kembali kuelus rambutnya. Ia lantas menatapku kembali. Lama. Tatapan itu yang kemudian membuatku menangis. Bagiku tatapan itu mampu merobek-robek hatiku. Dalam tatapannya, anakku seakan minta tolong, minta dilindungi. Ya Tuhan…, aku bisa apa? Anakku sudah dikelilingi dokter dan para perawat. Aku hanya bisa berdoa dengan air mata yang menderas. Terus menderas. Kalau aku mampu akan kubawa terbang anakku dan kusembuhkan. Namun aku ini siapa?

Waktu terus memburu, berpacu dengan detak jantung dan helaan napas anakku yang melemah. Melemah dan akhirnya berhenti sama sekali. Anakku telah diminta Sang Pemilik Sejati demikian cepat tanpa aku tahu penyebab penyakitnya yang pasti. Bahkan tadi malam pun anakku masih mampu berjalan ke toilet. Anakku juga masih minta dikeloni istriku. Pagi itu menjadi demikian kelam. Mentari yang menerobos lewat kaca ruangan tak mampu lagi memberi kehangatan pada penghuninya. Badanku tetap menggigil. Menggigil dalam kedukaan mendalam.

***

Aku masih bersimpuh di gundukan tanah merah tempat anakku disemayamkan ketika ada tangan halus menyentuhku dengan lembuat. Istriku mengajakku pulang karena gelap sudah menorehkan kuasa atas siang dan sore yang telah dilalui. Kutengok kanan-kiri. Sepi. Hanya ada beberapa kerabat yang masih menemani di makam.

Kuhela napas panjang, ada yang sesak di dada ini. Aku membayangkan kesepian panjang akan menemani hidupku sehari-hari. Tanpa anakku. Ya, anakku sekarang bukan milikku lagi. Kesadaran itu harus kubiasakan. (44)

 

* Kado kecil untuk Tusning Harya Prameswari yang telah dipanggil Sang Pemilik Sejati.

 

Hari B Mardikantoro, staf pengajar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Advertisements