Cerpen Matdon (Tribun Jabar, 27 Mei 2018)

Prabowo dan Jokowi ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Prabowo dan Jokowi ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

KEMARIN, jam 8 pagi, saya masuk ke warung kopi di pinggir Jalan Pajajaran, Bandung. Di sana saya bertemu Jokowi dan Prabowo sedang ngobrol dan ngopi bersama. Mereka sedang membicarakan masa depan negeri ini.

Luar biasa, mereka begitu akrab. Sesekali mereka tertawa bersama. Saya benar-benar tertegun menyaksikan pemandangan ini. Sungguh saya terharu.

Lalu diam-diam saya keluar warung, naik angkot jurusan Ciroyom-Antapani dengan hati yang masih tak percaya bahwa yang saya pergoki tadi adalah Jokowi dan Prabowo. Di dalam angkot, pikiran saya masih di warung kopi.

Duduk di bangku paling ujung, saya membaca koran karena tidak ada penumpang lain. Belum lama angkot melaju sudah berhenti karena ada penumpang naik. Ya ampuuun, dua orang penumpang naik angkot Ciroyom-Antapani itu Jokowi dan Prabowo. Mereka duduk di sebelah saya setelah sebelumnya mereka menganggukkan kepala.

Saya tak percaya dengan kejadian ini, diam-diam saya amati kedua wajah mereka, takut hanya sekadar sama saja wajah mereka dengan Prabowo dan Jokowi. Bener, lho, mereka benar-benar asli, tapi panasaran saya nanya juga.

“Maaf, Pak, apakah Bapak ini Pak Jokowi dan Pak Prabowo?” tanya saya dengan nada gemetar. Mereka saling berpandangan sejenak, sejurus kemudian tertawa dan menepuk pundak saya. “Stoooop,” kata keduanya, angkot berhenti. Mereka turun menuju BEC, sebuah pusat penjualan HP. “Apa mereka mau beli HP atau laptop?” tanya saya dalam hati.

Angkot kembali melaju, saya masih bengong. Sampai di Masjid Al Ukhuwah Wastukancana saya turun dan jalan kaki melawan arus kendaraan menuju Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Waktu menunjukkan jam 11 siang.

Sesampai di GIM, saya melihat Agus Bebeng, Irfan Nasution, Edi Yusuf, dan sejumlah wartawan lainnya tengah asyik ngobrol. Sementara Ahmad, Hendi, Efron, dan Mang Empik sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Saya tak mau mengganggu aktivitas mereka, buru-buru ke ruang tengah GIM karena mendengar ada suara sedang orasi.

Gebeg, saya benar-benar ngagebeg reuwas karena di ruang tengah GIM yang biasa digunakan diskusi ternyata ada Prabowo berorasi selama 10 menit, lalu gantian Jokowi yang melakukan orasi dengan waktu yang sama.

Tak ada penonton. Saya tidak tahu apakah kehadiran Prabowo dan Jokowi ke GIM tidak ada yang tahu, aneh! Gilaaa, ini benar-benar gila, tadi jam 8 ketemu di warung kopi, lalu di dalam angkot, sekarang di ruang tengah GIM. Ini amazing pisan!

Selesai orasi mereka jalan bergandengan tangan keluar GIM. Saya masih bengong.

***

TIBA-tiba mereka masuk sebuah mobil Xenia dengan Nopol D 1565 NS. Saya tahu itu mobil Sapei Rusin kawan saya. Penasaran, saya pinjem motor Irfan Nasution untuk mengikuti mobil itu. Mobil melaju dan saya ikuti dari belakang. Masuk ke Jalan Aceh, lurus melewati Taman Lalu Lintas, Cibeunying, belok ke Brigjen Katamso, Cikutra, dan akhimya sampai di sebuah rumah di Bojongkacor.

“Hah! Ini kan rumah kawan-kawan pergerakan. Kok Prabowo dan Jokowi ke sini?” Gerutu saya dalam hati. Sementara Prabowo dan Jokowi masuk rumah, saya menunggu dulu di luar, sambil membeli rokok dan minuman. Ngobrol dengan pemilik warung, 15 menit lamanya.

Kemudian saya masuk ke rumah itu, lewat dapur. Yang membukaan pintu Dodo, salah seorang penghuni rumah.

Demi matahari yang bersinar terang, di ruang belakang saya lihat Prabowo, Jokowi, Mukti Mukti, dan Sapei Rusin sedang main kartu remi, disaksikan Trisno dan Dadang Sudardja. Ini temuan apa lagi, saya benar-benar tak mengerti, mereka tertawa terbahak-bahak, benar-benar larut dalam kegembiraan. Mungkin mereka sedang melupakan hiruk-pikuk kampanye pilpres?

Akhirnya saya keluar dan langsung cabut dari rumah itu. Motor berlari kencang menyusuri Jalan Pahlawan, Suci, Pusdai, dan tiba di Gedung Sate. Saya melihat kerumunan di sana. Wah, pasti ada demo.

Sejumlah wartawan ada disana seperti Adi Marseila, Iman S Nurdin, Cep Ari, dll.

“Demo naon, Yan?” saya nanya kepada Yanuar wartawan RCTI.

“Jokowi jeung Prabowo keur demo,” jawab Yanuar. Dingin.

Reuwas oge. Benar saja, di depan Gedung Sate nampak Prabowo dan Jokowi sedang demo berdua, duet. Bahkan mereka melakukan performance art layaknya seniman. Jokowi membaca puisi, Prabowo naik kuda. Sungguh kolaborasi yang apik bagi sebuah pertunjukan. Kok aneh, ya, tadi mereka sedang main kartu remi sekarang sudah ada di sini. Pertanyaan itu saya saya simpan di hati.

“Tuntutannya apa ini teh?” tanya saya ke Zaki Yamani, wartawan senior Pikiran Rakyat. “Enggak tau, Mang, ah, antep weh ulah diliput,” jawab Zaki.

***

HARI hampir senja, saya meninggalkan Gedung Sate, meninggalkan Prabowo dan Jokowi serta kawan-kawan wartawan. Motor berjalan pelan, pikiran masih terus melayang.

Sehelai daun jatuh dari pohon di Jalan Trunojoyo, mungkin ditiup angin. Angin kadang mengembus terlalu kencang, kadang seperti irama yang mengendap-endap. Ah, atau angin itu telah membisikkan seuatu pada daun sehingga daun terkejut dan memisahkan diri dengan kawan-kawannya. Entahlah!

Motor terus melaju, belok ke Dago. Tiba-tiba orang-orang di pinggir jalan berkerumun, menyambut dan mengeluk-elukan saya.

Berteriak menyebut nama saya. “Matdon… Matdooon…!”

Saya melirik mereka. Gila, benar-benar gila, ternyata orang-orang itu semuanya berwajah sama, wajah Prabowo dan Jokowi. Motor melaju semakin pelan, saya mengamati wajah orang-orang yang berkerumun sepanjang Jalan Dago, benar-benar ajaib, semua wajah sama, wajah Prabowo dan Jokowi.

Ratusan mungkin ribuan wajah Prabowo dan Jokowi itu membawa bendera merah putih dan foto saya. Sepanjang jalan pula mereka berteriak, menyambut saya. Hingga sampai di depan pertokoan BIP Jalan Merdeka tak henti-hentinya ribuan Prabowo dan Jokowi itu menyambut saya.

Dari Jalan Dago melaju ke Jalan Merdeka angin menatapku curiga, menuju Jalan Tamblong pikiran mulai kelimpungan, dinding-dinding kota ini telah menjadi pendor impian dari politisi busuk hingga kaum miskin kota. Saya merasakan jeritan menyayat dari lukisan sunyi sepanjang jalan. Langit tertusuk dusta. Wajah-wajah Prabowo dan Jokowi terus mengikuti saya sampai ke Jalan Naripan.

Tetapi sepanjang jalan orang-orang saling menatap curiga, dari Naripan ke Alun-alun Bandung Jalan Asia Afrika orang-orang berwajah Prabowo dan Jokowi merapikan topeng. Dan saya menemukan luka di setiap keringat pengemis kecil.

Lewat Jalan Otista air mata berdesakan dengan harapan. Andir, Jamika, Pasirkoja, Astana Anyar, para sopir bus kota, taksi, dan angkot melipat senyuman. Saya seperti ditampar lamunan sendiri.

***

KINI wajah-wajah Prabowo dan Jokowi itu telah hilang. Sudah hampir sampai rumah. Saya berhenti di gang menuju rumah. Turun dan membeli martabak. Sebelum menyalakan motor, saya becermin di kaca spion motor.

Ya, Allah, wajah saya sebelah mirip Prabowo sebelah mirip Jokowi. Ini sangat aneh lagi.

Bergegas menuju rumah, motor saya tinggalkan. Setengah berlari. Sesampai rumah buru-buru saya wudlu. Becermin.

Alhamdulillah, wajah saya kembali normal, kembali menjadi wajah saya yang sebenarnya tepat ketika azan Magrib berkumandang. ***

 

Bandung, 23 Juni 2014

Matdon, Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.

Advertisements