Cerpen Dewi Ria Utara (Kompas, 27 Mei 2018)

Melarung Bapak ilustrasi Beni Rismanto - Kompas.jpg
Melarung Bapak ilustrasi Beni Rismanto/Kompas

“Kamu harus mendukung pendapatku ketika nanti sampai di rumah. Jangan lupa itu.”

Suara kakak pertamaku mengisi kepalaku dan bermukim di sana, bahkan ketika aku terlelap di sela-sela penerbangan 16 jam 45 menit dari Praha ke Jakarta. Sia-sia aku menenggak anggur putih dan merah yang kerap kuminta kepada pramugari untuk membuatku terlelap. Karena setiap kali kantuk dan alkohol memberatkan mataku, sembari terpejam, suara kakakku itu terasa berdenging terus-terusan di kedua telingaku. Membuat kegelisahanku memuncak dan berhasil mengalihkan pikiranku dari kematian Bapak.

Bapak meninggal. Teks itu kuterima di jaringan Whatsapp di ponselku saat aku tengah minum Velkopopovický Kozel di sebuah bar kecil di daerah Kozy Street. Dengan bergegas, aku membayar tiga gelas besar Velkopopovický Kozel dan menelepon kakakku yang mengirim teks itu. Aku menyanggupi usulnya untuk segera memesan tiket pulang dan bertanya kapan Bapak akan dimakamkan. “Nunggu semuanya pulang dulu. Lagi pula cuma kamu yang paling jauh. Sembari nunggu kamu tiba, aku akan bicarakan pemakaman Bapak dengan kakak-kakakmu yang lain. Jika masih pada kenceng, ingat, ya, kamu harus mendukung pendapatku,” kata kakakku dengan nada penuh tekanan.

“Ya, ampun, apalagi sih yang kalian permasalahkan?” kataku dengan kesal. Sudah kutebak, masalah ini akan muncul.

“Buatmu mungkin tak masalah. Namun, tidak dengan kami. Karena kami memiliki agama. Beda dengan kamu.”

Jika dia sudah seperti itu, aku lebih memilih diam. Percuma sa ja berbantah dengannya. Lagi pula, buat apa juga berdebat di jaringan telepon ditambah kesedihan mendengar kematian Bapak dan pengaruh alkohol di kepalaku, membuatku ingin segera pulang dan berkemas. Aku pulang.

Bapak orang pertama yang kuberitahu tentang keputusanku meninggalkan Indonesia. “Aku ingin mengetahui kehidupan kakek di sana, Pak. Meski dia sudah meninggal, aku bisa cari tabu tentang dirinya dari teman-temannya yang masih hidup.”

“Aku enggak masalah dengar rencanamu ini. Namun, pasti kakak-kakakmu akan menentangmu.”

“Biarin saja. Yang penting aku sudah pamit ke Bapak.”

Prediksi Bapak benar. Tiga kakakku langsung mengomel panjang lebar.

“Orangtuamu sudah tua, Bram. Kamu jangan sok-sokan deh cari tahu soal kakek. Dia, kan, sudah lama meninggal? Buat apa lagi?” kata kakak nomor dua.

“Buat cari tahulah. Kamu yang aneh Mbak, kita ini cucu-cucunya. Masak enggak ingin tahu tentang sejarah keluarga sendiri?”

“Sejarah pahit aja, kok, dibela-belain. Emangnya kamu enggak ingat apa cerita susahnya Nenek saat ditinggal Kakek ke sana?”

“Aku enggak lupa itu, Mbak. Justru kamu yang lupa penyebab semua itu. Yang namanya eksil, ya, enggak bakal bisa pulang, Mbak! Aku yakin jika kakek bisa pulang, dia enggak akan biarkan Nenek kesusahan.”

Dan, perdebatan tak berujung itu semakin menguatkan keputusanku untuk pergi.

Aku tiba di rumah tepat menjelang makan malam. Sudah kuduga, semuanya tengah berkumpul atau setidaknya sengaja berkumpul karena aku yakin mereka mengetahui waktu kepulanganku. Ibu langsung menangis begitu melihatku. Ia memelukku erat. Putra bungsu dan lelaki satu-satunya yang tak pulang selama lima tahun. Ketiga kakakku terlihat tegang meski tetap tak bisa menyembunyikan sorot rindu di mata mereka. Aku pun merindukan mereka. Keponakan-keponakanku hampir semuanya tak mengenaliku. Sebagian lahir ketika aku masih di Praha. Sementara ketiga kakak iparku terlihat lebih antusias dan hangat. Kami semua makan sambil menanyakan kehidupanku. Aku mencoba menjawab seperlunya dan dengan sengaja aku balik menanyakan kabar mereka masing-masing. Ibu lebih banyak diam dan terlihat sedikit merenung. Aku yakin Ibu nelangsa membayangkan betapa Bapak pasti akan senang sekali melihat kedatanganku. Dalam hati, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memandang langsung ke mata Ibuku. Bagaimanapun, aku tengah mengutuk diri sendiri karena tidak sempat bertemu Bapak selama lima tahun.

“Jenazah Bapak ditempatkan di mana Mbak?” tanyaku memulai topik yang mungkin sudah mereka tunggu dari sejak aku selesai makan.

“Di rumah duka. Kita semua menunggu kamu datang untuk menentukan Bapak akan dimakamkan seperti apa,” kata kakakku yang nomor dua.

“Bukankah sebaiknya Ibu saja yang memutuskan,” sahutku sambil menatap Ibu. Ia terlihat tak siap dengan jawabanku.

“Aku rasa… biar kalian saja yang menentukan,” suara Ibu terdengar lirih. Kedua tangannya meremas-remas ujung bajunya. Aku tak tega untuk mendesaknya lebih jauh. Kuarahkan pandanganku ke ketiga kakakku. Kakak pertamaku terlihat memberi pandangan penuh arti, yang aku tahu ia tengah mengingatkanku akan ucapannya saat aku masih di Praha.

“Kenapa kita tidak memakamkan Bapak menurut keyakinannya?” kataku setelah menghimpun napas memberanikan diri untuk menyampaikan pendapatku yang sudah kusimpan sejak berangkat.

“Maksudmu secara Kejawen? Kamu gila, ya?!” kata kakak pertamaku langsung meledak. Aku tahu dia pasti kesal sekali karena ia yang pertama wanti-wanti kepadaku untuk mendukung pendapatnya. Namun, bagaimana mungkin aku berpihak pada salah satu dari mereka ketika masing-masing kakakku memiliki keyakinan yang berbeda satu sama lain. Suaraku sangat menentukan siapa yang menang di antara mereka.

“Apa salahnya? Itu yang diyakini Bapak selama hidupnya. Kenapa kita tidak menghormati apa yang sudah dijalaninya?”

“Kamu mau kita nanti digunjingkan tetangga? Kamu enggak kasihan dengan Ibu? Kamu sih gampang enggak akan menerima sanksi sosial karena kamu tidak tinggal di sini. Namun, Ibu dan kami yang tinggal di sini. Sedangkan kamu? Dari dulu selalu lari dari masalah, seperti kakek.” ujar kakak ketigaku dengan sengit.

Aku langsung naik pitam mendengarnya. “Sudah berapa kali kubilang bahwa kakek bukan melarikan diri! Dia itu eksil! Mau sampai kapan kalian hidup dengan tidak mengakui sejarah keluarga ini?”

“Sudah! Jangan bertengkar! Ibu yang akan memutuskan…” kata Ibu tiba-tiba dengan suara bergetar. Kami semua menoleh kepadanya dengan kaget. Ini di luar dugaan kami, karena selama ini Ibu selalu diam dan sepertinya akan terus seperti itu. “Ibu memilih mendukung Chitra.” Kakak pertamaku tampak terkejut mendengar namanya disebut. Ia sendiri tidak menyangka, Ibu akhirnya memilih mendukungnya. Aku langsung berdiri. “Baiklah. Tak ada gunanya, kan, pendapatku? Aku mau mandi dulu dan ke rumah duka. Aku ingin menemui Bapak.” Dengan sedih, Ibu menatap tubuhku yang berjalan keluar dari ruang makan.

Di rumah duka, aku memandangi tubuh Bapak yang ditempatkan di dalam peti. Kusentuh telapak tangannya yang dingin dan hatiku mencelos mendapati kenyataan bahwa Bapak betul-betul tak lagi bernyawa. Aku tersedu dan pandanganku mengabur oleh air mata. Betapa aku ternyata merindukan Bapak dan percakapan-percakapan kami.

“Dulu Bapak juga pernah marah mempertanyakan kenapa Kakekmu enggak mengajak Nenekmu ikut serta ke Praha. Namun, setelah kupikir-pikir, ada baiknya Nenek tetap berada di Indonesia. Bagaimana pun, akan lebih menyedihkan ketika kita tak akan pernah bisa pulang ke negeri sendiri,” kata Bapak saat kutanya apakah dia marah akan nasib yang dia dan Nenek alami. Apalagi mengingat ketika itu, keluarga dari mereka yang eksil banyak mengalami tekanan dari pemerintah dan lingkungan sekitarnya. Tetapi, sepanjang yang kuingat, Bapak tak pernah sekalipun mengeluarkan komentar yang membenci nasibnya. Bahkan kondisi yang dia alami, pun tak membuatnya memilih salah satu agama resmi yang diakui pemerintah, meski kami anak-anaknya mulai mengeluhkan sikapnya itu membuat kami kesulitan bergaul. “Omongan orang tak akan bisa melukai jika kita bisa mengabaikannya. Biasanya masalah muncul ketika kita tidak bisa melawan perkataan dengan perkataan. Ide dengan ide. Konsep dengan konsep. Jika kalian punya argumentasi yang kuat, harusnya kalian tak perlu gusar,” ujarnya dengan tenang.

Ketenangan dan kebijakan Bapak sayangnya tidak kumiliki. Betul kata kakakku, aku memilih menjadi pengecut. Aku lebih memilih pergi ketika dihadapkan pada masalah. Keputusanku untuk pergi pun tak sebenar-benarnya untuk mencari sejarah tentang Kakek. Aku pergi karena muak dengan keterasingan diriku. Entah di antara keluargaku sendiri mau pun di lingkup pergaulan yang lebih luas. Aku tak setangguh Bapak. Ia seolah berhasil menciptakan gelembung sendiri yang tak bisa ditembus siapa pun.

Di sisa air mataku yang mulai mengering, kubaca surat dari Bapak yang diberikan Ibuku sewaktu akan berangkat ke Rumah Duka. “Bapak memintaku menyimpan surat ini setahun lalu. Bapak pesan supaya diberikan kepadamu ketika ia meninggal,” bisik Ibu sambil memelukku. Surat itu hanya selembar. Aku membacanya dengan cepat. Kulipat kembali kertas itu dan kuselipkan ke dalam saku celanaku. “Iya, Pak. Aku akan melakukan permintaanmu,” bisikku pelan sambil mengelus telapak tangan Bapak.

Subuh baru muncul ketika aku tiba di pantai ini. Remang-remang cahaya jatuh di atas air yang masih berwarna kelabu bercampur buih-buih putih yang menampar-nampar pasir. Sembari melangkahkan kakiku menuju dermaga, aku membopong tubuh Bapak menuju sebuah perahu yang tertambat di sana. Kubaringkan Bapak di sana. Pantai ini masih sepi. Belum ada siapa pun yang datang. Mungkin para nelayan yang sedang melaut malam hari, masih akan kembali beberapa jam lagi. Atau bisa jadi sekarang bukan saatnya musim melaut. Aku tak paham benar. Lebih baik sepi seperti ini, jika tidak, aku bisa terkena masalah. Sudah cukup aku menahan debar jantung saat menyuap salah satu petugas Rumah Duka untuk membantuku membawa jenazah Bapak keluar dan tempat itu.

Sebelum terang sepenuhnya benderang, kuhela perahu menjauh dari pantai. Ombak menyambut perahu, menyeretnya menuju ke tengah laut. Sambil memandang perahu yang membawa jenazah Bapak, aku menggigil dalam isakan yang menekan dadaku. Kalimat Bapak dalam suratnya bergema di kepalaku. “Aku anak pantai, Bram. Larungkan aku ke laut. Jangan menangisi tubuh tua Bapakmu. Aku toh tak lagi ada di sana. Jika kakak-kakakmu marah, atau ibumu menangis, sampaikan saja pada mereka bahwa aku tak ingin merepotkan mereka dengan kematianku. Biarlah laut menjadi pemakamanku. Menjadi tempat di mana kalian akan selalu mengingatku.”

 

Untuk Setahun Meninggalnya Bapak.

 

Dewi Ria Utari, menerbitkan lima buku: Kekasih Marionette, The Swan, Rumah Hujan, Di dalam Hutan Entah di Mana, Dan Datanglah Malam. Cerpen-cerpennya kerap kali terpilih dalam Cerpen Pilihan Kompas. Saat ini bekerja sebagai Public Relation di Yayasan International Animal Rescue.

Beni Rismanto, perupa yang menetap di Yogyakarta. Pernah memperoleh penghargaan “The Best Funny Pic” 2009. Ia juga juara favorit The Balemangu Design Award 2010. Telah mengikuti berbagai pameran bersama sejak tahun 2005.

Advertisements