Cerpen Ana (Radar Surabaya, 27 Mei 2018)

Mantra Kakek ilustrasi Fajar - Radar Surabaya.jpg
Mantra Kakek ilustrasi Fajar/Radar Surabaya

Benda angkasa, yang orang bilang titik tata surya itu, mulai berayun dan beralih senja. Bola mata tak henti sembunyi menatap pijarnya. Berharap akan menemukan goresan indah di setiap gelombang sinarnya. Sama seperti saat aku memandang rembulan. Kulihat ada bidadari cantik di dalam lingkarnya. Sayang, hanya ketika gelap ia terlihat.

Kali ini raga jiwaku menunggu air turun dari langit. Ingin melihat detik-detik matahari bergurau membersihkan diri. Pancaindraku selalu dalam bayang-bayang. Matahari tidak pernah mandi, kakek saya mengatakan begitu. Saat itu usiaku masih 4 tahun. Aku sering sekali mengigau. Bagaimana jika berjumpa sang surya. Lalu, dipertemukan dengan rembulan. Semakin dalam berkhayal, jatuh ke alam tidak sadar. Jika rembulan punya banyak teman, kenapa tidak dengan sang surya. Terlihat jelas bintang selalu berada di sekitar rembulan. Mereka saling memantulkan cahaya saat langit benar-benar gelap.

Rumah kakek di pinggir kali mati. Halamannya luas. Di sana sering digunakan untuk membuat bata. Bata dicetak menggunakan pelepah pisang yang dibentuk persegi panjang. Kemudian dikeringkan. Bata yang sudah ditata rapi, dibakar dengan sedikit ritual. Kakek memberi bawang merah, cabai merah, dan kunyit. Kemudian ditusuk seperti sate. Dan diletakkan di takir yang terbuat dari daun pisang. Disemat dengan lidi di kedua ujungnya. Hingga bisa duduk sendiri.

Melihat kejadian itu, aku bertanya pada kakek. Kenapa harus melakukan ritual menggunakan bawang merah, cabai merah, dan kunyit untuk membakar bata. Kata kakek, itu sebagai pawang hujan. Kalau membakar bata terus hujan, nanti apinya mati. Kalau apinya mati, bata tidak jadi berwarna merah. Akhirnya, kandang kakek nanti tidak jadi berdiri.

Benda langit yang berpijar itu semakin berjalan ke arah barat, kakek memberi makan hewan ternaknya. Tidak ada petir, tidak ada suara jangkrik, tidak ada bau tanah basah, tiba-tiba angin datang menyerbu. Saat itu kakek hanya punya empat tetangga. Belakang rumah kakek ada rumah Pak Dul. Rumah Pak Dul menghadap ke selatan. Depan rumah kakek ada rumah Mbah Nem yang ditinggali bersama anaknya. Anak Mbah Nem gila. Kata kakek, anak Mbah Nem gila karena dihamili orang yang tinggalnya di kampung sebelah. Setelah hamil, ia ditinggalkan oleh laki-laki bejat itu. Ketika anaknya lahir, anaknya meninggal. Akhirnya, anak Mbah Nem tertekan jiwanya. Hingga orang-orang menganggapnya gila.

Anak Mbah Nem tubuhnya kurus, rambutnya seperti tiga tahun tidak keramas. Kulitnya hitam. Suaranya besar dan agak serak. Menyeramkan sekali. Tapi, anaknya Mbah Nem tidak setiap saat gila. Ia hanya sakit saja. Ketika teringat masa lalunya, ia beringas. Seakan ibunya mau diterkam. Mbah Nem dan anaknya tinggal di rumah bambu. Rumahnya menghadap ke sawah. Rumahnya tidak tinggi. Kakek selalu membungkuk ketika masuk. Di depan rumah Mbah Nem, ada kuali besar. Biasanya digunakan anaknya untuk mandi, meskipun tanpa ada papan yang menutupinya.

Selatan rumah Mbah Nem, rumah adik ipar kakek. Namanya Mbah Tun. Mbah Tun jarang di rumah. Mbah Tun lebih sering di perantauan. Katanya jualan daun pisang. Di sana hidup Mbah Tun sangat berkecukupan. Ia membuat rumah di sana dan rumahnya yang di sini untuk sementara diurus kakek. Kakek setiap pagi dan sore dipasrahi untuk membersihkannya.

Di depan rumah Mbah Tun ada rumah Lek Tun. Lek Tun berperawakan gemuk, kulitnya hitam legam. Rambutnya sering disanggul. Anak Lek Tun juga gila. Kata kakek karena suaminya pernah ikut aliran sesat. Dulu sering pergi ke dukun. Lalu, anaknya dijadikan tumbal. Kalau sudah marah, ayahnya dibanting. Ibunya pun bahkan pernah dicangkul kepalanya. Meski begitu, anak Lek Tun hanya mengamuk pada orang tuanya saja. Anak Lek Tun sangat baik dengan kakek. Aku heran, gilanya seperti tahu mana yang harus diamuk dan mana yang tidak.

Lama-lama angin berhembus kencang, mencobak-cabik lima rumah pinggir kali mati. Banyak bambu-bambu patah. Pohon klampis, batang pisang, semua hampir ludes dilahap angin. Aku yang berada di sawah dipanggil-panggil oleh kakek. Kakek lari menuju arahku. Ia mendekapku dan membawaku ke teras depan. Sebelum membawa ke teras depan, kakek mengambil besek tempat nasi.

“Mbah jangan ngamuk, slewat-slewat, slamet!”

“Mbah jangan ngamuk, slewat-slewat, slamet!”

“Mbah jangan ngamuk, slewat-slewat, slamet!” kakek berteriak-teriak sambil menyebar nasi di atas genting.

Lalu mengambil cangkul, sabit, caping, cikrak, dan sapu. Semua dilempar di halaman rumah yang luas itu. Aku ketakutan.

“Sarat taon, pedot dadunge, pedot dadunge,” kakek tetap berteriak-teriak sambil terus mendekapku.

Hujan langsung reda, angin langsung lari. Langit gelap langsung terang. Kata kakek yang dikatakan ketika hujan angin dan melempar barang-barang adalah cara yang nenek moyang pernah lakukan. Mbah jangan ngamuk, slewat-slewat, slamet itu adalah doa. Mbah yang dimaksud adalah Gusti Pangeran Kang Moho Agung. Kata pedot dadunge itu diibaratkan angin yang ruwet, tidak tahu arah pulang, jadi kakek mengatakan pedot dadunge. Pedot dadunge dalam bahasa Indonesia adalah putus talinya. Jadi, dengan mengucapkan pedot dadunge, angin akan tahu kalau dia salah alamat dan harus pulang ke tempat asalnya.

Semua reda. Burung milik kakek di sangkar kembali berkicau lagi. Kambing dan sapi di dekat sawah mulai mengunyah rumput dan kawul lagi. Kawul adalah batang padi yang sudah kering. Biasanya dibuat makan sapi. Aku disuruh duduk oleh kakek. Disuruh menunggu di dekat sumur. Sumur berada di luar rumah dekat pawon. Pawon adalah dapur yang terbuat dari papan bambu. Kakek memasukkan daun-daun kering, plastik, dan kayu dari pohon bambu yang sudah kering ke dalam tungku. Dengan satu goresan korek, api membesar. Diletakkan teko yang terbuat dari alumunium di atas tungku. Ia memasukkan air. Rupanya kakek sedang memanaskan air untuk membuat teh.

Teh itu kami seduh pelan-pelan. Kami habiskan. Sisanya kami buang. Kakek melihat halaman seperti hutan. Banyak daun-daun, ranting-ranting jatuh akibat hujan disertai angin tadi. Kakek mengambil barang-barang yang tadinya dilempar di halaman. Ibu datang menjemputku dan mengajak pulang. Aku mengikuti saja. Terlihat kakek senyum melihat tatapanku. Meski hidup di rumah sendiri, tapi ia tidak mau diajak tinggal bersama kami. Ia ingin menua di rumah yang di setiap sudut penuh dengan kenangan.

Sesampai di rumah, aku dimandikan oleh ibu. Ibu persis dengan kakek. Sayangnya, ibu selalu marah kalau aku tidak mengikuti kata-katanya. Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Aku disuruh tidur. Kakiku kesakitan. Setelah ku lihat, rupanya terkena bonggol kedelai saat main di sawah kakek. Warnanya abu-abu. Getam di kaki kiriku. Karena takut, aku berdiam diri tanpa memberitahu ibu. Takut tidak dibolehkan lagi ke rumah kakek. Esoknya, ibu mengantarku sekolah menggunakan sepeda kayuh. Jalanku pincang, ketika ditanya ibu, aku hanya menangis. Ibuku bilang aku harus tetap sekolah, karena takut dimarahi ayah.

Seperti biasa, aku diantar lalu ditinggal. Aku dibiarkan bermain dengan teman-teman play group. Tak lama kemudian ibu datang ke sekolah lagi dan menghadap guruku. Aku diajak pulang. Ibu menangis tersedu-sedu. Aku dimandikan lagi dan dipakaikan baju tidur. Ibuku menggendongku sambil lari dan tetap tersedu-sedu. Di sana ku lihat kakek dan tetangga di kampung sebelah sedang bergerumul. Ibuku semakin cepat berlari. Lalu menurunkanku setelah sampai di rumah yang sangat jauh dari tetangga.

Wanita itu membujur kaku. Wajahnya cantik, bak pesona Cleopatra. Rambutnya putih. Tapi oleh kakek ditutup selimut. Kemudian wanita itu dibopong ke halaman depan. Banyak yang memandikannya. Seperti saat ibu memandikanku. Tapi kali ini mandinya beda. Wanita tua tadi dimasukkan ke dalam peti, orang bilang itu pandusa. Pandusa merupakan tempat orang-orang yang punya dosa, katanya begitu. Lalu pandusa itu ditutup kain. Pandusa diangkat oleh empat orang.

Di halaman rumah sudah ada kukusan, kasur bekas, dan barang-barang milik wanita tua tadi. Barang-barang itu dibakar. Api menyala. Semua orang berkumpul dan memutarinya sambil memangkul pandusa. Kira-kira tiga putaran, aku yang tadinya digendong kakek, lalu diturunkan. Melihat ibuku menangis tiada habisnya, aku ikut-ikutan. Kata ibu, wanita tua itu adalah ibunya nenek. Karena nenek dulu meninggalkan ibu dan kakek, akhirnya neneknya ibu yang menjadi ibu bagi ibuku.

Sayup lilin menembus dari bilik bambu. Di luar centongan sudah ada banyak tetangga yang akan kirim doa ke neneknya ibu. Kakek masuk ke sebuah centongan, ia meletakkan rokok Grendo, kopi tiga cangkir, apem, ayam panggang, nasi, dan ublik. Semua disusun rapi di atas meja tua. Aku masuk tanpa permisi. Kakek manatapku tajam. Tak biasa ia seperti itu. Kemudian aku lari kencang dalam gelap.

Aku juga belum sempat bertanya pada kakek, apa artinya mengangkat orang yang sudah meninggal dan sebelum dikubur diajak mengitari api. Aku juga penasaran dengan apa yang dilakukan kakek malam itu di centongan. Aku ingin bertanya perihal itu. Tapi kakek kini terlanjur menjauh dariku.

 

 *Penulis tinggal di Ngampel, Balong, Ponorogo

Advertisements