Cerpen Beni Setia (Pikiran Rakyat, 27 Mei 2018)

Pulang ilustrasi Magdalena - Pikiran Rakyat.jpg
Pulang ilustrasi Maghdalena/Pikiran Rakyat

BENAR, Aid yang selalu bilang, “Tempat terindah untuk mati adalah kota keiahiran….” Aku tersenyum. Aku mengerti, tahu sekali: Aid sangat ingin pulang, sekali bisa menjelajahi kota kelahiran—dan sekalian dikubur di tanah kelahiran. Sesuatu yang mustahil, karena sebagai orang yang tak dikehendaki dan dianggap berbahaya, secara politik, paspornya telah dicabut.

MUSTAHIL: pulang dan (sekadar) berkunjung ke kota kelahiran—meski sebagai Warga Negara Asing, dengan berendah hati, akan mengurus paspor baru, sebab kewarganegaraan dan paspor telah dibekukan—selama 40 tahun lalu. Tapi Aid tidak mau, tapi berkeyakinan paspor dan kewarganegaraannya itu satu dan tak mau berganti— seumur-umur dianggap sebagai pengungsi, tanpa kewarganegaraaan. Katanya, “Aku protes atas laku semena-mena mencabut kewarganegaraanku, aku terus protes kepada rezim bangsat itu…”

Dan di tengah kesendirian tidak tertahankan lagi, di tengah kerinduan yang memuncak; ia bunuh diri dari lantai 15 apartemen—yang selalu dirasa sebagai penjara, meski di sana ia mendapat kartu kerja migran sementara, sekaligus sekadar tunjangan hidup. Dan ketika penguburannya yang telat dan sunyi, yang hanya dihadiri aku, ceracau-ceracaunya tentang kota kelahiran sebagai tempat terindah buat mati dan dikubur kian terngiang. Karena itu aku memutuskan buat pulang—meski dengan sebagai turis asing dengan paspor negara asing.

***

AKU membeli tiket sekali jalan. Terbang langsung ke S. Lantas, dengan sepanjang malam tak tidur, aku mendudu dalam kereta yang ke timur. Ketika pagi tiba di stasiun tujuan, lantas aku berjalan ke Subteriminal di depan stasiun, di mana angkutan ke Terminal Induk tersedia, lantas (kemudian) akan naik bus ke tempat aku lahir, tersedia. Sekalian jalan-jalan, dengan tidak perlu naik taksi, setidaknya ketika orang di stasiun bilang, harus ke Terminal Induk dulu, tidak seperti 25 tahun yang lampau. Jadi— pikirku—, aku pernah pulang pada 25 tahun, meski telah meninggalkan negeri ini 40 tahun lalu. Lalu apa yang tetap tidak berubah di sana? Semua akan serba asing dan tak dikenali lagi—terlebih menganali aku.

Aku yakin akan hal itu. Aku jadi cemas, karena itu tidak hanya jalan semakin lebar, atau pasar jadi mal, setidaknya semua kenalan telah hilang, mati atau merantau, dan semua rumah di kampung itu telah dihuni pendatangan asing, atau generasi ketiga. Lalu siapa yang akan mengenali dan dikenali? Bukankah mati di sana, atau di tempat aku merantau itu—selama 40 tahun—akan sama sepert itu, karena semua orang akan tetap menganggap aku orang asing? Buat apa pulang? Tak mungkinkah merasa berbahagia meninggal di rantau, karena aku telah memulai hidup, dengan pelesiran dan melupakan kota keiahiran?

Aku ingat Aid, dan berpikir, Aid itu kangen pulang dan tak mungkin pulang, karena itu ia merindukan kota kelahirannya, masa kanaknya, orang tua dan saudaranya, kenalan dan tetangga. Ya! Sehingga ia tak mau mati sendiri, dan kemudian terbukti memilih sendirian serta mati secara sendirian—dengan gagah meloncat. Berlainan denganku, yang selalu bisa pulang, kapan saja, dan bahkan bisa menginap berapa hari saja—malah kuasa pindah dari suatu saudara ke kerabat lain—, dan kembali ke kota rantau, ke rumah dengan anak-anak, dan istri yang dikenali—meski ia Warga Negara Asing yang pribumi. Karena itu kini aku merasa dungu, ketika perlahan berjalan memotong Terminal mencari bus ke kotaku, melintasi keriuhan yang dipenuhi pelancong serta penjaja ketika hawa yang makin terasa panas. Karena itu bergegas mencari Bus ke kota kelahiran, ingin menemui saudara, meminjam uang untuk beli tiket; dan kembali—lalu menuggu kematian di kota pengembaraan. Suka atau tak suka, itu tepat terindah untuk menunggu kematian.

***

KEMATIAN itu kerinduan yang tak tertahankan. Itu yang dirasakan Aid, yang menggila saat ia tak mungkin untuk pulang kampung—status kewarganegaraannya dicabut, berposisi sebagai yang tanpa kewarganegaraan meski ditawari Negara yang menjaminnya, dan sunyi merasa ditinggalkan teman yang menyeberang dan jadi warga negera lain di negara lain, hingga mereka bisa leluasa pulang—, dan karenanya memilih bunuh diri, karena rindu pulang tapi merasa tidak mungkin pulang. Dan aku kini sedang pulang ke kota kelahiran—seperti 25 tahun lalu—, dan kini hanya tinggal menyeberangi dua provinsi lagi, masuk ke provinsi berikut, lantas naik bus ke kota kelahran—buat menghirup tanah kelahiran dan bertemu sisa kenalan dan kerabat Memang!

Itu yang mengilhamiku buat membeli tiket sekali jalan—dan amat berharap tak perlu kembali pulang—, dan setidaknya untuk mengenangkan perasaan sunyi Aid, yang berharap bisa meninggal dan dikuburkan di kota kelahiran—dikuburkan di Bukit Selatan, agar senantiasa menatap kota di lembah, di tengah pesawahan berbatas julur bukit barat, dan semacam garis besar terputus-putus dari palung sungai ke timur yang berhias gerumbul bambu. Areal tempat masa kanak lasak dituntaskan—meski, sekarang, pasti telah banyak berubah—, yang kini tak lagi bisa leluasa dijelajahi, dan sering kali muncul dalam ingatan. Menikam dan mengoyak. Karenanya aku ingin menjalani dengan berjalan kaki, dari tepi ke tepi, menelusuri masa kanak, dan meski kini mungkin tak sama lagi—sehingga laku penuh kerinduan itu malah akan membuat aku dicurigai banyak orang. Tapi berapa tahun dibutuhkan seseorang buat jadi terasing di tanah kelahiranya? Apa akan terus asing hingga perlu total mengembara dan melupakannya saat bertemu segala yang asing?

***

KETIKA itu hari benar-benar pagi—matahari telah putih dan berkilau di titik timur, teraling julangan gedung. Kemudian, kereta lokal dari timur juga berhenti, dan menghamburkan penumpang komuter ke sisi selatan, bergegas ke luar stasiun—berpuluh-puluh orang yang mengejar stasiun satelit di barat berdatangan dan gegas masuk gerbong.

Aku seharusnya keluar dari utara, tapi menyeberang ke selatan, menuju pintu keluar, menyeberangi halamannya ke Subterminal, di antara khaos orang dan kendaraan menyeberang jalan ke trotoar, yang memanjang barat-timur yang penuh kerumunan. Lantas berjalan perlahan ke timur dari Subterminal. Dan di perempatan pertama membelok ke selatan serta jalan lurus, terus melewati tiga atau empat perempatan lagi—seperti seharusnya—, tapi tak pernah tuntas sebab aku seperti diserap, dan kembali berada di kursi gerbong ketika loko langsam dan perlahan stop.

Pengeras stasiun melantangkan pengumuman kedatangan kereta, serta aku kembali turun gerbong, tergagu-tergagap-gagap. Pelan menyapa si berseragam, yang jaga di dekat gerbang ke luar, bertanya tentang arah ke Jalan Kepo. Orang itu senyum—dan menyebutkan arah dengan rinci—, bahkan harus menaiki kendaraan apa dan warna apa. Ketika ditelusuri, aku tersesat di perempat pertama, dekat pasar, dan kembali berada di kursi gerbong kereta. Aku mengangkat HP, dan mendadak baterenya habis—tak ada sinyal dan target kontak. Aku tak bisa minta dijemput—bahkan HP banyak orang, ketika dikontak cuma nada sibuk, hingga aku hanya untung-untungan kirim SMS, tanpa ada realisasi balasan. Kemudian berjalan lagi dan kembali lagi tererap terduduk di kursi kereta. Kenapa?

***

KEMATIAN adalah kerinduan yang memuncak, tak tertahankan lagi dan tak kuasa dituntaskan. Aku terjebak di stasiun. Ketika kereta eksekutif malam dari barat sampai—bersamaan dengan kereta lokal dari timur yang memuntahkan penumpang komuter dan yag bergegas naik ke gerbong dari yang mau ke stasiun satelit di barat. Ribut. Sibuk.

Seharusnya aku keluar dari utara tapi memilih keluar dari selatan—seperti bertahun lalu, seperti yang dilakukan pada 25 tahun lalu. Jalan keluar stasiun, serta kembali terserap abusuditas hingga aku ada di kursi gerbong saat kereta langsam. Kenapa? Apa kematian hanya siksaan merindu? Ataukah harus diterima sebagai bungkusan kenangan, yang harus selalu diapresiasi selama menungggu di stasiun, bersama segala yang asing dan terus terasa makin asing?

Terasing—dikutuk akan selalu terasing memang kodrat aku, kini. ***

Advertisements