Cerpen Dwi Rezki Fauziah (Fajar, 27 Mei 2018)

Benarkah Kau Hamil, Arum ilustrasi Fajar.jpg
Benarkah Kau Hamil, Arum? ilustrasi Fajar

“Mengaku, Kau!”

Lagi dan lagi—entah keberapa kian kali, aku disuruh membuat pengakuan. Tentang aku yang dikira bunting, musabab perutku yang kian membuncit. Ini dimulai sejak September lalu, ketika ibu mendapatiku muntah di kakus. Perutku juga agak kembung. Pikirnya kala itu aku cuma masuk angin atau salah makan. Tetapi toh, sekarang sudah Januari di tahun yang baru, dan perutku sudah tidak terlihat seperti orang masuk angin.

“Aku tidak, Pak. Sumpah!”

Sudah berapa kali kukatakan, bahwa aku tidak melakukannya. Aku memang punya pacar dan sering keluar bersamanya. Tetapi pacarku itu saleh, mana mungkin mau melakukan hubungan ‘haram’ itu bersamaku. Dan aku yakin, mereka juga tahu hal itu. Ya, sebagai keturunan langsung dari para pemuka adat, keluargaku pasti mencari-cari kambing hitam untuk menyamarkan siri’-nya. Kendati, sekarang pun mereka sudah sangat malu karena aku dan perutku yang kian menyimpan misteri.

“Ayo bilang! Kalau tidak, silakan angkat kaki dari sini!” ayahku kembali membentak. “Sudahlah Rahmat, mungkin Arum sedang tertekan. Bisa saja orang yang menghamilinya mengancam agar tidak bilang apapun pada kita,” kata Om Rustam berusaha menenangkan.

Semakin lama, keluargaku semakin hangat diperbincangkan. Bahkan, tak jarang tetangga yang kepada orang tuaku, mereka bertanya dengan klisenya: Siapa yang menghamiliku, kapan dan di mana tepatnya. Ada juga mengira aku diperkosa orang tak dikenal yang lari dari tanggung jawab. Versi lain mengatakan aku sengaja hamil duluan untuk menentang perjodohan, atau supaya keluargaku bisa dapat uang dengan cara mengancam si pemerkosa. Mengetahui itu, bapak—sebagai kepala keluarga makin memaksaku untuk mengaku: dari mana kudapatkan perut buncit itu?

Akhirnya, tudang sipulung pun dianggap sebagai jalan keluar. Kurang lebih ada enam orang di sana. Aku, kakak laki-laki, bapak, ibu, nenek, tante dan omku—Om Rustam. Raut wajah mereka sangat tidak bersahabat.

Waktu itu, aku sebenarnya tidak enak badan. Selain karena beban pikiran, aku bahkan tidak bisa makan dengan enak, karena pembicaraan mengenai perutku masih dibawa-bawa sampai ruang makan. Yang kudengar hanya itu-itu saja. Hamil. Buncit. Hukum. Menikah. Tidak mungkin. Dan, bunuh. Tapi aku masih sadar, bahwa sebelum menutup tudang sipulung itu, bapak sempat menanyaiku: benarkah kau telah hamil, Arum?

Setelah mengatakan itu, hening melanda kami. Semua orang menunggu jawabanku. Tetapi aku terlalu lemah untuk kembali mengelak. Kemudian, ibu menarik tanganku dan membawaku ke kamar. Di situ ibu mengunci pintu, lalu menatapku lekat-lekat. Cengkraman tangannya erat seakan ikut menarik jiwaku keluar menemuinya, mengikuti apapun yang akan dikatakannya kemudian.

“Katakan yang sebenarnya, Nak. Sekarang Kau bisa jujur pada ibu. Tak ada yang mendengar. Sekalipun kau benar mengandung, tak apa. Kita bisa menjelaskannya baik-baik,” mata sayu ibu mulai berkaca-kaca, dan aku paling tidak suka ini. Ternyata ibu juga tidak memercayaiku. Aku menangis memeluknya. Kupeluk ia erat-erat sebab aku sendiri takut, kalau saja di rumah ini sudah tidak ada yang memihakku. Ibu yang sudah menagis membalas pelukku dan mengelus ubun-ubunku halus. Kami pun terlibat suasana haru biru hanya karena sebuah pertanyaan: benarkah aku hamil atau tidak?

Hari itu yang kulakukan hanya menangis dan meratapi nasib. Belakangan kutahu, bahwa pihak keluargaku telah menginterogasi Kamil—pacarku, dan mereka bahkan menuduhnya menghamiliku dan memaksaku untuk tutup mulut. Aku sudah sangat malu menampakkan batang hitung karenanya. Oleh karena itu, tatkala keluarga besar telah memutuskan— pada tudang sipulung kemarin, untuk membelah perutku, aku hanya mengiyakan. Tiada lagi sanggahan, karena sepertinya siri’ yang ditanggung keluarga adat ini lebih diinginkan pergi, ketimbang ketiadaanku di antara mereka.

Ibuku pun tak berdaya menolong. Bapak adalah pemilik segala keputusan di keluarga kami, yang mana ketika bapak telah memutuskan suatu perkara, sepakat tidak sepakat, kami harus ikut pada keputusannya. Terlebih bapak sangat mendengar ucapan kakaknya— Om Rustam.

“Kau sebentar lagi akan dilantik menjadi ketua adat di desa ini. Saatnya kau menunjukkan bahwa kau ini adil Mat, tidak pandang bulu.”

Om Rustam memang tidak menggebu-gebu supaya perutku dibelah, dan itu berarti aku akan berada di ambang kematian. Tetapi, dia menghasut bapak dengan kata-kata halus, lembut, dan filosofis sekali. Begitulah yang kupelajari darinya belakangan sebelum aku benar-benar dibunuh oleh keluargaku sendiri. Ya, aku menyebutnya ‘dibunuh’ sebab aku yakin, meskipun ragaku tidak mati, jiwaku pasti telah mati dan lari. Ke ujung dunia barangkali..

Ketika badik itu kurasakan menembus kulit—menusuk tepat di rahimku, aku sudah melihat malaikat maut di antara wajah-wajah orang yang kucinta. Bapak, ibu, Aco—kakak laki-lakiku, nenek, tante,kecuali dia: Om Rustam yang nampak tersenyum di balik air mata buayanya. Orang-orang memang tidak tahu. Tetapi, aku dan Tuhan tahu, ada maksud dari setiap hasutannya pada bapak untuk membuatku menjadi seperti ini.

Rumahku pun dipenuhi darah. Aku sudah tak sanggup membuka mata. Dan seperti diberi aba-aba, kupenjamkan mataku perlahan-lahan, tepat ketika orang-orang tampak menutup mulut—tersentak karena menemukan cabang bayi di sana, di antara aliran deras darahku. Orang-orang memang tidak tahu. Tetapi, aku dan Tuhan tahu, bahwa Om Rustam sama sekali tidak terkejut dengan cabang bayi itu.

Sesaat sebelum meninggalkan mereka untuk pergi bersama malaikat maut, aku bertanya-tanya: tidakkah Om Rustam merasa sedih sedikit saja, melihat calon anaknya—darah dagingnya, meninggal sebelum terlahir ke dunia?

 

Dwi Rezki Fauziah. Alumnus SMAN 11 Pinrang, dan sekarang sedang bersiap menghadapi perkuliahan. Bisa dikontak melalui e-mail: abdatullah99@gmail.com

Advertisements