Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 26-27 Mei 2018)

Seperti Kakesu Pulang ke Petang ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Seperti Kakesu Pulang ke Petang ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Meskipun dekat, kali kedua aku mengunjungi Kamakura sekitar empat tahun lalu. Waktu itu, usai menyaksikan sakura di taman Ueno dan untuk menghilangkan kesedihan, aku naik kereta menuju Kamakura dan mengunjungi kuil Buddha Agung lalu membeli pedang kabutowari yang dijual di sekitaran sana. Nyala langit Kamakura di sekitaran Fujisawa seperti bunga sakura, lembut dan cerah. Aku berjalan sendirian menyusuri Kamakura dan mengingat Nahoko.

Sekali waktu aku tersadar saat tak sengaja ketiduran di trem listrik dalam perjalanan pulang. Nahoko muncul di hadapanku dan tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba aku mendengar genta angin dan jangkrik lonceng dari dalam guci musim semi yang menderu dalam diriku.

***

Aku bertemu Nahoko saat festival budaya tahun seniorku di SMA. Dia datang bersama teman dekatku, Megumi. Kami berkenalan, mengajaknya makan mi udon di stan kelasku dan langsung bisa akrab.

Nahoko berasal dari Kochi, katanya sekolahnya sudah libur lebih dahulu dan dia berkunjung ke Tokyo untuk bertemu Megumi dan sepupu lainnya. Rambutnya yang legam dan matanya yang besar membuatku teperdaya. Nahoko cantik sekali. Dan aku merasa waktu itu adalah saat-saat terbaik dalam hidup.

Nahoko bilang kalau musim semi di Kochi rasanya menyenangkan bila malam hari melihat sakura di sekitar Kastil Kochi. Aku mulai membayangkan Kochi dipenuhi lentera dan sakura gugur begitu lembut. Meski aku sering menyaksikan sakura di Tokyo dan merasa bosan, tetapi saat Nahoko berkata tentang sakura, hatiku benar-benar terasa rindang. Seolah menyusuri gunung-gunung di Jepang.

Bila musim semi Kamakura dipenuhi momiji yang memerah, namun tetap saja sakura taman dan kuil-kuil Buddha dan Shinto adalah tempat menyenangkan menyaksikan bunga warna-warni. Setelah sekolah libur. Aku dan Megumi diajak Nahoko ke Kamakura, tepatnya ke pantai Yanagihama dan merasakan angin panas pantai itu. Aku belum pernah ke sini. Aku langsung jatuh cinta dengan Nahoko. Namun hari-hari di Kamakura merupakan hari terpedih, sebab Megumi mengatakan kecintaannya padaku. Namun aku mengatakan perasaanku yang sejujurnya.

“Apa yang kau lihat dari sepupuku? Aku mencintaimu, Taro.”

“Kita tak bisa menjadi sepasang kekasih, Megumi. Aku menyukaimu, tapi…”

“Tapi apa?”

“Ya, aku suka padamu. Tetapi kita sahabatan sejak masih SD.”

Megumi lenyap di antara pintu-pintu kertas penginapan itu. Dia memilih pulang ke Tokyo dan meninggalkan aku dan Nahoko tanpa alasan.

Nahoko pun kebingungan.

“Apa yang kamu katakan pada Megumi, Taro-kun?”

“Kubilang aku mencintaimu, Nahoko!”

Nahoko terkejut. Dia tak menduga ini, barangkali.

Kami terdiam cukup lama. Dan kemudian malam berlalu begitu cepat.

Liburan itu jadi sesuatu yang beda. Hubungan kami bertiga rusak. Bahkan sebelum benar-benar menjadi teman, aku dan Nahoko seperti dipisahkan dinding tebal. Dia kembali ke Kochi, dan aku pulang ke Tokyo.

Aku dan Megumi tidak bicara lagi setelah itu. Kami lulus dan kuliah. Aku di Kyoto dan dia tetap di Tokyo. Sedangkan aku tak mendengar lagi kabar dari Nahoko meski aku mengirim surat dan kadang telegram.

Aku menjalani hari-hari membosankan di asrama. Mendengar Moriyama-san berteriak-teriak setiap pagi sembari mengibarkan bendera. Atau mendengar gurauan cabul kawan-kawanku tanpa antusias masuk ke dalamnya. Aku tidak lenyap dalam pesta pora seksual dan minuman keras yang melanda anak-anak muda Jepang di tahun 80-an kala itu. Aku hanya membaca dan terus mengulangi hari yang sama sampai lulus dan kembali ke Tokyo. Tanpa pernah lagi mendengar kabar Megumi maupun Nahoko.

Di tahun-tahun kuliahku itu, pernah aku memutuskan ke Kochi sebab jarak dengan Kyoto tidak begitu jauh dan suasana kota itu serupa dengan Kyoto. Aku langsung betah di sana. Tapi aku tak bisa menemukan Nahoko. Yang kulakukan hanya memandang lampu Kastil Kochi tiap malam dan merenung dalam kemurungan. Aku benar-benar tak bisa melupakan Nahoko dalam hidupku.

Setelah pulang ke Tokyo, hidup yang kulalui hanya berulang dalam pekerjaan. Pagi keluar dari apartemen, malam pulang dan kadang mabuk-mabukan di kedai dekat kantor. Aku mulai merasa diri ini lamur. Seakan kotor dalam kesedihan karena perempuan yang kucintai tidak dapat kutemukan selama ini.

Di kedai itu aku berkenalan dengan Makoto-kun, seorang pengarang novel. Dia selalu mengenakan baju yang sama dari waktu ke waktu. Mengunjungi kedai dan Obasan akan meledeknya sebab hutangnya tak pernah beres tetapi akan selalu menerimanya. Makoto-kun orang yang sangat kuat kalau minum. Dia tidak pernah benar-benar mabuk. Tidak seperti diriku.

“Obasan, beri aku sebotol sake lagi!”

“Kau sudah banyak minum, Makoto. Sekarang bayar dulu.”

“Tentu akan kubayar, tetapi bulan depan!”

“Kau selalu omong begitu.”

“Haiyah… aku kurang minum banyak. Obasan jangan khawatir. Pasti akan kubayar.”

Makoto-kun selalu membanggakan diri sebagai pengarang. Dia sebenarnya dari keluarga klan terpandang tetapi memilih minggat dari rumahnya dan tinggal di Asakusa sini. Meski aku tak begitu memercayai ceritanya.

“Taro, kau harus tahu, pengarang macam diriku pasti di mata orang awam macam kalian seperti parasit. Tapi ketahuilah, aku bekerja dalam kemuliaan.”

Aku hanya mengangguk dan menawarinya semangkuk sake. Aku tak hendak menerima itu semua sebagai harga diri selaku sastrawan atau sesuatu yang kadarnya sekopong itu. Aku tahu bahwa dia pengarang gagal. Dilihat dari hidupnya yang kocar-kacir. Namun seusai pulang dari kedai, aku tercenung akan kenyataan yang terpikir olehku itu. Hidup kami nyaris serupa. Dikejar realitas tapi tak berdaya dan tak berguna.

***

Melihat kenanganku yang benar-benar sejengkal dari musim demi musim semi, aku tahu bahwa hatiku rapuh dan begitu sentimentil. Kadang aku membenci diriku yang tak hendak bergerak dari kotak ingatan yang itu-itu pula. Kadang aku memilih diam dan terjerumus untuk mengenang senyum, rambut, dan tatapan lembut Nahoko bak sakura musim semi. Kadang aku memikirkan Megumi sahabatku itu. Dan kadang kala aku merasakan mimpi akan pemakaman almarhum ayahku bertahun-tahun lalu ketika melewati gerbang rashomon di lereng gunung yang ingin kulupakan sebagai memoria belaka. Namun tetap saja kepedihan semua itu tak bisa kuempaskan.

Waktu itu kakek dan nenekku datang dari balik gunung dan merasakan dukaku. Kakek bilang, kalau aku butuh sesuatu, katakan saja. Aku waktu itu masih kecil dan tak merasa apa-apa. Dan sejak kematian ayahku, aku ikut bibi di Tokyo dan menjadi anak mereka. Kakek dan nenekku pun tak mencegahnya. Mungkin mereka tak begitu peduli padaku.

Paman dan bibiku baik, bahkan sepupuku tak pernah mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Hanya saja gerbang rashomon dan orang-orang berbaju hitam yang membawa tubuh mati ayahku terus menerus menekanku dan membuatku tak kerasan. Meski di masa kecilku itu aku memiliki teman baik seperti Megumi. Kemudian, ketika aku masuk SMA, aku bilang kepada paman dan bibi bahwa aku akan tinggal di dekat SMA, di rumah sewa bersama empat kawan. Mereka pun tak mempermasalahkannya. Aku begitu lega, tetapi mimpi akan ayahku tetap saja menggelantung hingga aku bertemu Nahoko dan merasakan cinta.

Megumi selalu menemaniku menghadapi hari-hari membosankan di masa aku kecil. Dia terus mengoceh. Seorang gadis manis yang menaburkan dunianya ke tengah-tengah pertemanan. Dia bercerita tentang apa saja, sementara aku tadah yang siap menampung itu semua dan membalasnya dengan senyuman. Di tahun ketigaku tinggal di Tokyo, aku mulai aktif berkat Megumi dan makin banyak teman kudapat. Lalu mimpi tentang ayahku mulai jarang hingga bertahun-tahun kini tatkala aku kembali mengenangnya.

Kemarin tak sengaja aku berpapasan dengan Nahoko di pertokoan ramai daerah Shibuya. Nyala keras matahari dan keramaian yang menderu seperti latar padat bagi pertemuan kami. Hanya saling sapa sebentar sebelum aku mengajaknya ke tempat minum kopi di sekitar. Kami bertukar kabar. Dia bilang Megumi sudah bertunangan. Kukatakan padanya bahwa aku tak bisa melupakannya. Dan mengapa kita tidak menikah saja, toh sudah tidak ada yang kesal. Dia hanya menjawab bahwa dirinya pun akan menikah. Duniaku seakan runtuh seketika.

Aku masih mengingat hari itu hingga sekarang aku menatap bayangannya di kaca trem. Langit malam musim semi tak menggembirakan, begitu pula sakura yang membuat hatiku kian hancur. Aku berjalan sendirian dan mengingat apa yang aku katakan kepada Nahoko setelah dia bilang akan menikah.

“Apa kau tak mencintaiku, Nahoko?”

“Waktu itu aku kebingungan, Taro-kun. Dan aku tak bisa menyakiti Megumi.”

“Lalu sekarang? Kita semua sudah bebas.”

“Kau mesti melupakanku, Taro-kun. Aku akan menikah!”

Waktu itu kakiku serasa goyah. Tanganku gemetar.

“Kita bisa mengganti waktu kita yang hilang. Aku sungguh mencintaimu.”

“Aku tahu. Tapi masa lalu tak bisa kita jenguk kembali. Hari ini sudah berbeda. Maafkan aku.”

Dan Nahoko mulai menitikkan airmata. Aku pun pasrah.

“Jangan menangis, Nahoko.” Kuseka airmatanya dengan saputangan.

“Maafkan aku, Taro-kun!”

“Baiklah. Semoga kau bahagia. Jangan menangis lagi.” Aku beranjak dari kursi, sebelum Nahoko sempat mengatakan sesuatu. Sejak itu, kami tak bertemu lagi.

Dan diri Nahoko yang kudamba timbul-tenggelam di kaca trem malam itu. Sekarang, setelah semua berantakan dan hanya aku yang tertinggal dengan lubang gelap di tengah dadaku, yang bisa kulakukan hanya menemani Makoto-kun minum sake sampai mabuk dan melupakan ini semua untuk mengulangi hal yang sama di hari berikutnya dan berikutnya sampai aku mampus.

Sore telah lenyap dan petang menjelang. Embusan angin melewati pohon-pohon sepanjang jalan aku pulang. Gaok burung-burung kakesu menyadarkanku. Aku kembali ke apartemenku di Asakusa. Sendirian tanpa bayang-bayang Nahoko.

 

Catatan:

Momiji: pohon mapel.

Obasan: bibi.

Kakesu: gagak biru.

 

Bagus Dwi Hananto lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2014. Menulis prosa dan puisi. Novelnya yang baru saja terbit berjudul Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok, 2018).

Advertisements