Cerpen Faris Al Faisal (Rakyat Sumbar, 26-27 Mei 2018)

Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi ilustrasi Rakyat Sumbar

/1//

ZAINI merunduk takjub di bawah selangkangannya. Sebuah pesona benar-benar melanda hatinya. Didekati dan disentuh kaki-kakinya dengan tangannya. Makhluk tinggi menjulang macam meyentuh awan itu mengerlingkan tatapannya ke bawah, Zaini mendongakkan kepala. “Oh, Eiffel! Aku datang!” pekiknya.

Paris dan seluruh Eropa sedang musim semi. Masih terlalu pagi pikir Zaini untuk menggelar lukisan-lukisan di tepian sungai Seine Paris. Akan tetapi beberapa peralatan lukisnya telah ia tempatkan sebagaimana biasa. Sekeluarga kuas, palet, cat lukis, pembersih kuas, pisau, dan easel telah terpampang siap. Beberapa pelukis lain melakukan hal yang sama dengan Zaini. Di tepian sungai Seine memang banyak seniman jalanan yang menjual coretan tangan untuk para turis ataupun wisatawan. Zaini salah satunya.

Melukis sendiri yang telah membawa Zaini, pemuda asal Indramayu menjejakkan kakinya di Paris, jantung Eropa Barat. Ketika mengikuti pameran lukisan di Jakarta, Zaini bertemu David pelukis asal Prancis. David mengajaknya berkelana ke Paris. Ah, sebuah tawaran yang kemudian tak disia-siakan Zaini.

/2//

SETELAH membereskan peralatan lukisnya Zaini bergegas ingin menikmati pagi di taman Champ de Mars dekat menara Eiffel. Baru beberapa tindakan terdengar seperti ada yang memanggilnya.

Salut, Zaini!” Seseorang menyerunya.

Zaini menoleh ke arah suara itu. Oh, kakek Marius. Begitu orang-orang memanggil namanya. Zaini memang mengenalnya sekalipun hampir tak pernah berbincang lama dengannya. Dia adalah juga pelukis di tepian sungai Seine ini. Paling tua, paling dihormati dan paling laris di antara pelukis lainnya. Lukisannya paling bayak diburu dan dibeli para kolektor lukisan manca negara.

Advertisements