Cerpen Amrullah Amir (Fajar, 20 Mei 2018)

TUBARANI ilustrasi Fajar.jpg
TUBARANI ilustrasi Fajar

Negeri Siam, September 1686.

Aku melihat bermacam rupa malaikat kematian di hadapanku. Ada berbentuk harimau bergerak gelisah dalam sebuah kerangkeng besi. Sesekali mengaum memperlihatkan rahangnya berisi taring yang siap mengoyak daging. Ada berbentuk perempuan bertubuh gemuk dengan bibir dan giginya terbalut merah sirih yang menjerit-jerit histeris dengan bahasa tak kupahami. Jemarinya menggengam parang kecil yang siap memotong buku-buku jari atau merobek kuping.

Ada yang berwujud lelaki dengan tubuh yang sempurna di usia remajanya. Matanya memendam api. Kedua tapak kakinya diam memancang ke bumi namun dadanya dan cuping hidupnya seakan sebuah nadi angin taufan bergerak gila. Jemarinya meremas batang tombak dan di antara kilatan mata baja tajam terselip karat. Masih ada seribu malaikat kematian di hadapanku dengan segala wujudnya bersama seribu macam senjata untuk mewujudkan sebuah maut paling mengerikan buat korbannya.

Aku menatap semua senjata kematian bersanding dengan malaikat-malaikat kematian tersebut. Sebagai prajurit muda walaupun dengan sedikit pengalaman dalam perkelahian dan pertempuran, aku seperti mampu menakar berapa lama kematian datang dengan mata tombak, parang, pedang, peluru, hujaman batu, atau cabikan harimau.

Aku kini merasakan derita tubuh sebelum jiwaku lepas karena sayatan, atau mati rasa di mulut ketika bibir pecah bersama gigi hancur akibat hujaman batu beriring hantaman balok kayu. Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku berakhir dengan semua derita kematian seperti itu dan jauh dari bori, negeri tempat aku dilahirkan. Aku mungkin tidak berkubur karena harimau akan mengunyah dagingku tanpa sisa. Sambil menahan rasa sakit yang kutanggung sekarang ini, aku mencoba tersenyum sambil menahan rasa perih di bibirku. Ajaib! Rasa sakit itu pelan-pelan menjadi tawar.

Aku menatap langit yang mendung dan ketika tatapanku terjatuh aku menatap malaikat-malaikat kematian di hadapanku tak serupa dalam kisah tuang guru Ance Jenalak orang Melayu yang memperkenalkanku tentang huruf-huruf Hijaiyah dan makna ayat-ayat suci Quran di mesjid tua Sanrobone. Katanya malaikat kematian berwajah rupawan bernama Izrail Malaq Al-Maut bertugas mencabut nyawa manusia seketika daun gugur dari ranting pohon Sidrat al-Muntaha, pohon bidara dengan dedaunannya bertuliskan nama dan nasib sebanyak makhluk hidup di bumi.

Seingatku Ance Jenalak mengisahkan kematian dengan indah di sela-sela waktu menunggu salat Isya di malam Jumat sekitar belasan tahun silam. Katanya para pahlawan dan orang-orang berani menyambut kematian dengan senyuman.

Sesekali wajahnya memandang makam pangeran-pangeran dan orang-orang terhormat di Kampung Sanrobone, sebuah negeri tua di pesisir selatan yang menjadi bagian dari kebesaran Gowa dan kecerdasan Tallo. Dua negeri yang menjadi tuan terhormat dari pendahulupendahuluku.  Dua negeri yang dibela oleh kakek dan ayahkudengannyawanya. Dua negeri dua tuan dan satu hamba sejak masa silam yang gemilang hingga diujung senjanya ketika Kompeni dan orang-orang Bugis meluluh lantakkannya.

Selepas runtuhnya kerajaan Gowa dan Tallo, malaikat kematian begitu akrab dengan para pangeran-pangeran pemberani Tana Makassar. Hampir setiap angin yang datang dari barat maupun dari selatan membawa kisah kematian tentang putra-putra terbaik Makassar. Kisah kematian yang gemilang sebagaimana dilagukan dalam syairsyair sinrilik di kampung-kampung tua tepi lembah Bawakaraeng hingga negeri-negeri muram di pesisir Celebes. Kematian para tubarania tersebut telah menghiasi sejarah membentang dari Manuju, Barombong, negeri Bima, Tanah Jawa, hingga Semenanjung Melayu.

Kini giliran aku bersama sisa-sisa tubarani, para pemberani yang setengah hidup menyambut malaikat maut di antara rintik tanah becek berbalut darah, serpihan daging lepas dari tubuh dan rintik hujan bulan September di negeri Siam yang mendung.

Kami siap menuntaskan siri’ menegakkan harga diri karena menolak tuduhan persekongkolan makar terhadap raja Siam dan penghasut Perancis yang berada di samping raja. Sedangkan para pengecut Melayu dan Campa dalang dari kekacauan ini telah menjura dan membenamkan sembah sambil menangis laksana anak kecil memohon beribu ampun kepada raja.

Kami orang-orang Makassar menolak meminta ampun karena tak terlibat bersengkokolan menjatuhkan raja Siam. Orang-orang Makassar sangat menghormati sang raja yang telah memberikan mereka tanah untuk bermukim selepas meninggalkan Makassar.

Dimakan oleh hasutan, raja Siam tetap meminta semua orang asing untuk menghadap ke istananya dan memohon ampunan. Raja Phra Narai masih mempercayai bahwa orang-orang Makassar merupakan bagian dari kelompok makar tersebut. Tuduhan tersebut sangat menyakiti hati karaeng-ku sebagai seorang pangeran mulia Tana Mangkasarak. Tubuhnya mewarisi darah para pemberani di nadinya menolak memohon ampun karena tak sudi menghina diri. Ia bersumpah tak melakukan tuduhan hina tersebut dan itu artinya dirinya tak akan memohon ampun atas tuduhan tersebut.

Ketika senjata pusaka hendak dipisahkan dari raga orang-orang Makassar karena menolak ampun, Karaeng-ku dan para tubarani mengamuk menghujamkan kelewang dan poke atau tombak, serta menghantam palu-palu ke bagian tubuh orang-orang yang menghalang langkah mereka. Mereka telah menjadi malaikat maut sebelum malaikat maut menjemput mereka kemudian. Mereka tak peduli dan tak menghitung berapa nyawa prajurit, lelaki, wanita, dan orang-orang asing yang telah mereka cabut nyawanya. Mereka juga tidak melihat lagi berapa kawan dan saudara yang ikut tumbang. Mereka berubah jadi malaikat kematian yang hanya menatap ke depan dengan urat mata merah saga dan teriakan serak laksana taufan.

Beberapa tubarani gugur, sejumlah lainnya tumbang dan tertangkap kehabisan tenaga karena telah lelah mengamuk dan juga kehabisan darah akibat luka di tubuh. Termasuk diriku yang akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri dan setelah terbangun kudapati tubuhku telah terpancang di tengah tanah lapang dengan keadaan remuk dan koyak.

Aku tak melihat lagi kulau bassi jimat kebal yang tersimpan dalam sabukku. Barang pemberian pamanku sebelum aku berangkat berlayar ke negeri Siam. Pamanku adalah kepala bori menggantikan ayahku yang gugur dalam perang. Dia berpesan untuk menjaga dan meyakini benda pemberiannya tersebut. Entah jatuh di mana benda tersebut mungkin terlepas ketika aku ikut melakukan jallo atau amuk. Kini aku dan beberapa anak Makassar lainnya yang tertangkap menunggu seribu malaikat maut mencabut nyawa kami.

Sedangkan karaeng-ku yang gagah berani telah membayar siri’-nya selepas tengah hari tadi sambil mengoyak lawan-lawannya dengan kelewang pusakanya sebelum tombak-tombak maut pasukan kerajaan Siam yang mengepungnya dari segala penjuru menghujam tubuhnya.

Sebelum nyawa lepas dari tubuhnya, pangeran perkasa itu berteriak dalam serak yang pilu: “Saya Andulu Daeng Mangalle!!!… putra Tunisombayya Mallombasi Sultan Hasanuddin!!!”

 

Makassar, 17.05.18

Amrullah Amir. Kelahiran Ujung Pandang, 16 Oktober 1974. Staf pengajar Departemen Ilmu Sejarah FIB Unhas.

Advertisements