Cerpen Pangerang P Muda (Banjarmasin Post, 20 Mei 2018)

Telinga ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group
Telinga ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

DI alas tikar plastik, telinga-telinga itu berjejer berpasangan kiri dan kanan. Penjualnya seorang lelaki yang rajin tersenyum lebar, mengintipkan rompal dua gigi depannya sehingga serupa gerbang menuju ke dalam rongga mulutnya. Tangannya tak henti mengibaskan kayu yang di ujungnya diikatkan sobekan-sobekan kain, menghalau lalat yang mencoba mendekat.

Tidak banyak peminat yang berkerumun, sehingga Lamandu bisa menyempilkan badannya mendekat. Sesaat ia mengernyit. Ia mencoba menatap lebih jelas. Merasa kurang yakin, ia menyergah, “Ini telinga betulan?”

Mulut penjual di belakang jejeran telinga itu ternganga dalam tawa. Gerbang di dalam mulutnya terpampang nyata.

“Betulan dong, Pak. Masak ada telinga palsu?” kilahnya.

Lamandu mencoba berpikir. Dari mana asal telinga-telinga ini? Mungkinkah di suatu tempat ada operasi pemenggalan telinga, lalu dikirim ke sini? Atau sekarang ada trend baru: orang-orang bukan cuma sadar untuk mendonorkan darahnya, atau ginjal nya, atau organ tubuh lainnya, tapi juga telinganya? Mungkin gagal terpasang sehingga dijejer di emperan pasar ini?

Lamandu mendesakkan rasa ingin tahunya.

“Memang ada yang beli?”

Tawa si Gigi Rompal sember. “Ada sih, Pak, tapi tidak banyak. Banyakan cuma ikut melihat-lihat saja. Mungkin belum terbiasa membeli telinga.”

Lamandu ikut tertawa. Tidak puas hanya melihat-lihat, ia lalu mengulurkan tangan, menyentuh telinga-telinga itu. Ia menjawilnya, bahkan kemudian menyentil-nyentilnya. Benar-benar telinga asli.

“Hari ini masih jual per biji, lho, Pak,” promo si Gigi Rompal, “Kalau yang bawa ke sini makin banyak, rencananya akan saya jual kiloan.”

Mengenyahkan kecamuk pikirannya, Lamandu menyergah lagi.

“Telinga-telinga ini diambil di mana?”

“Itu sih rahasia, Pak,” elak si Gigi Rompal.

Wajah jenakanya langsung berubah serius.

“Saya tidak boleh mengatakannya terang-terangan. Penyalurnya bisa dapat masalah nanti.”

Lamandu memilih menunggu sampai pengunjung sepi. Kala ia tinggal berdua saja dengan penjual telinga itu, ia berbisik.

“Ayolah, diberitahu dari mana asal telinga-telinga ini. Saya mau beli, lho, tapi tidak mau beli sebelum tahu dari mana sumbernya.”

Si Gigi Rompal tetap menggeleng.

***

Jejeran telinga-telinga itu meninggalkan teror di pikiran Lamandu. Ia terus memikirkannya. Sepanjang gang menuju rumahnya ketika ia pulang, tidak henti-henti matanya memelototi sisi kiri maupun sisi kanan kepala orang-orang yang dljumpainya. Kadang ia malah menghentikan langkah seseorang, lalu mencoba memeriksa apakah di sisi kepala orang itu masih ada telinga yang menempel atau tidak.

“Apa yang kamu lihat?” akhirnya ada juga orang yang bertanya jengkel.

Lamandu menelengkan kepala. Elaknya.

“Hanya ingin memastikan, apakah kamu masih punya telinga.”

Orang-orang yang berpapasan kemudian melengos menghindar.

Sampai di rumahnya. Lamandu malah memindahkan teror di kepalanya kepada istrinya. Tanpa bertanya, ia langsung meraih kepala istrinya lalu menggerayangi sisi-sisi kepalanya.

“Apaan, sih!” Serupa gerak pesilat, istrinya menepis tangan Lamandu.

“Telinga,” sahut Lamandu. Ia menarik napas panjang-panjang, “Saya melihat telinga, dijejer di atas tikar plastik….”

“Di mana?”

“Di emperan pasar.”

“Ah, kamu!” hentak istrinya. “Di pasar, apa saja tentu ada dijual.”

Kedua tangan Lamandu terangkat, menarik-narik telinganya sendiri.

“Yang saya lihat itu telinga orang. Telinga-telinga manusia!”

Istrinya akhirnya tertawa.

“Paling telinga sapi atau telinga kambing. Itu memang enak bila dibikin sup. Atau digoreng, rasanya pasti gurih.”

Lamandu menggeleng-geleng. Ia sudah membuktikan, sudah menyentuh bahkan sudah menjawil-jawil telinga-telinga itu, dan ia amat yakin yang ada di pasar itu adalah telinga-telinga manusia.

***

Merasa teror telinga di dalam pikirannya belum juga lenyap, akhirnya Lamandu memutuskan pergi lagi ke pasar. Ia mendapati telinga-telinga itu masih di tempatnya, di atas tikar plastik. Bahkan mulai bertumpuk karena jumlahnya bertambah, dan sudah dipasangi pula karton dengan tulisan spidol: Diobral. Mulut Lamandu sampai menganga menatap.

Beberapa orang yang berdiri di situ kelihatannya belum ada yang berminat membeli, hanya sekadar melihat-lihat dengan tatap penasaran. Lamandu segera memepetkan tubuh ke si Gigi Rompal penjual telinga.

“Bagaimana, kamu sudah bersedia mengatakan dari mana asal telinga-telinga ini?” tawar Lamandu. “Kalau tidak, saya tidak jadi lagi membeli.”

Sejenak si Gigi Rompal berpikir, kemudian manggut-manggut setuju.

“Tapi ini rahasia, ya, Pak,” bisiknya. “Jangan dicerita ke mana-mana. Takutnya saya malah dapat susah nanti. Yang penting Bapak beli, ya?”

Penjual itu lalu merapatkan mulutnya ke telinga Lamandu, melanjutkan bisik-bisiknya.

Terkikik sejenak, mengangguk-angguk, Lamandu kemudian mulai memilih-milih telinga yang bertumpuk di depannya. Ia memilih yang warnanya belum terlalu pucat, yang masih segar. Ia memilih tiga, lalu meletakkan di atas telapak tangannya. Ia memain-mainkannya, menyentil-nyentil, menjewernya. Ia tertawa senang.

“Telinga itu berpasang-pasangan, Pak,” bilang si Gigi Rompal. “Beli empat, dong. Masak cuma tiga?”

Lamandu malah menambah belanjaannya menjadi tiga pasang. Ia pulang, bersiul-siul dengan kantongan terjinjing di tangan berisi enam telinga.

Di depan istrinya, Lamandu menyerahkan kantongan itu dan beujar, “Digoreng saja, ya, Ma. Saya ingin menjadikannya santap siang.”

“Apa ini?” tanya istrinya, meraih kantongan itu.

“Santapan istimewa,” ujar Lamandu kian riang.

Tawanya keras, sampai tubuhnya terguncang terbahak-bahak.

“Ini kesempatan kita menyantap telinga dari orang-orang yang dulu kita pilih dalam pemilu, yang terlanjur kita anggap dapat mendengar aspirasi kita. Cerita penjualnya, telinga-telinga itu dilepas setelah pemiliknya merasa tidak ingin menggunakannya lagi.”

Lamandu terus terbahak-bahak. Tubuhnya masih terguncang-guncang saat istrinya mengayun bantal, membuatnya tergeragap bangun.

“Mimpi apa sih, Pa?”

Lamandu mengucek matanya. Ia menoleh ke arah istrinya dengan rupa bingung.

“Kok dibilang mimpi?”

Istrinya mencomel.

“Apa bukan mimpi, kalau kamu terus-terusan berteriak: telinga, telinga!” ***

 

Pangerang P Muda, guru SMK di Parepare dan menulis cerpen di beberapa media dan anlologi bersama. Kumpulan cerpennya Menghimpun Butir Waktu (2017). Domisili di Parepare.

Advertisements