Cerpen Qintharra Novelia Kristti  (Pikiran Rakyat, 20 Mei 2018)

Secangkir Kopi ilustrasi Alanwari Spasi - Pikiran Rakyat.jpg
Secangkir Kopi ilustrasi Alanwari Spasi/Pikiran Rakyat

AKU terdiam dan termenung, menatap layar notebook-ku, sambil sesekali menegukkan kopi hangat yang sudah aku pesan tadi. Tiba-tiba aku tidak ada inspirasi utuk menulis. Pikiranku selalu terbayang oleh seorang pria yang sempat membuat kisah bahagia denganku. Ia sekarang telah pergi meninggalkanku.

YA, dia benar-benar pergi untuk selamanya. Padahal, sudah dua tahun kiranya ia pergi. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku benar-benar kehilangannya dan merasa tidak ada yang lebih baik darinya.

“Duk…” tiba-tiba seorang pria menyenggol kursiku sehingga menyadarkanku dari lamunanku.

“Umm…, Maaf,” dengan cepat ia mengatakannya padaku.

“Tak apa,” aku membalasnya dengan senyuman sebagai tanda bahwa aku sama sekali tidak kesal ataupun marah. Ia pun menganggukkan kepalanya dan segera duduk di meja sebelahku. Ia duduk sendirian dan tampak kesepian.

“Jika kau tidak keberatan, duduk saja denganku. Aku sendirian kok,” ucapku ramah.

“Benarkah? Boleh aku bergabung?” jawabnya.

“Tentu.”

Ia pun memindahkan tas ransel dan kopinya pada mejaku. Aku tak tahu apa ini, tapi aku merasakan hal yang sudah lama aku tidak rasakan. Ia tidak terlalu tampan. Tapi bisa duduk dengannya, aku tiba-tiba merasakan hal bahagia. Apa mungkin karena aku sudah terlalu lama membekukan hatiku untuk siapa pun? Apakah dengan semudah ini ia dapat mencairkan hatiku? Hanya dengan menyenggol kursiku? Bagaimana bisa?

“Kita belum kenalan,” lagi-lagi ia menyadarkanku dari lamunanku.

“Oh iya, kenalkan namaku Yasmin. Kamu?”

“Namaku Irham. Kamu kuliah?”

“Iyaa, aku kuliah semester V.”

“Waah… selamat berjuang yaa, kalau aku sih sudah lulus setahun yang lalu.”

Sore itu, tak terasa sampai malam. Aku terus berbincang-bincang hangat dengannya. Aku sadar, harus lebih berhati-hati pada orang yang baru kita kenal dan bahkan aku termasuk wanita yang sangat hati-hati dan sangat selektif dalam berkenalan. Tapi, Irham membuatku melupakan semua itu. Aku merasa nyaman ketika berbicara dengannya. Ini konyol, sangat konyol.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Ia menawarkan untuk mengantarkanku sampai rumah, tapi aku menolak. Karena bagaimanapun juga curiga terhadap orang baru harus selalu ada.

Akhirnya aku sampai rumah. Aku segera membersihkan badanku, mengganti pakaianku, dan merebahkan badanku di kasur kesayanganku. Aku tidak bisa tidur malam itu, pikiranku terus melayang pada pria yang bertemu denganku di kafe tadi. “Akankah bertemu kembali?” aku mengucapkan hal itu dalam pikiranku berkali-kali.

“Tring…” suara pemberitahuan di handphone-ku berbunyi.

“Hai?” Ada sebuah pesan di handphone-ku. Dan ketika aku melihat fotonya, astaga! Itu Irham.

“Kenapa kau tahu kontakku?” Aku membalasnya cepat.

“Ada deehh…,” jawabnya santai.

“Yah, kamu nyebelin.”

“Haha, gak nyebelin kok. Hey kapan kita dapat berbincang santai lagi?”

Perbincangan hangat di chatting itu terus berlangsung hingga tengah malam. Hingga aku tertidur pun aku memimpikannya. Perasaan ini sangat sulit diungkapkan. Berawal dari secangkir kopi yang agak pahit, kita bisa berlanjut sangat manis.

Hari demi hari aku lalui bersamanya. Aku janjian lagi dengannya di kafe yang berbeda. Kami berdua sepertinya mempunyai kesamaan yaitu pencinta kopi. Jadi, seperti itulah aku melalui hari bersamanya. Perbincangan manis dengan secangkir kopi pahit.

Aku sudah tidak takut ia mengantarkanku sampai rumah. Karena yang aku lihat, ia seorang pria baik dan cerdas. Aku sangat suka pada pria yang berintelektual. Ia dengan cepat bisa membantuku melupakan masa laluku.

Apakah aku menyukainya? Apakah aku jatuh cinta padanya? Entahlah, tapi aku selalu merasa kehilangan jika ia tidak memberiku kabar. Dan aku sangat bahagia ketika ia memberiku kabar dan mengajakku jalan. Apakah aku suka padanya?

Namun, tiba-tiba ia menghilang, ia tidak suka lagi memulai perbincangan denganku di chatting, ia juga tidak suka lagi mengajakku bertemu dengannya di kafe. Ke mana dia? Berhari-hari aku menunggu handphone-ku berbunyi dan menunjukkan nama Irham di sana. Tapi… tak kunjung ada.

Ke mana Irham? Kenapa ia tega meninggalkanku dengan cepat? Apa salahku? Apa aku pernah melukai hatinya? Ke mana Irham?

Memberanikan diri, aku memulai chatting dengannya. Karena aku sudah tidak sanggup menahan kegelisahan ini.

“Hai, Ham.” Setelah mengumpulkan niat dua hari, akhirnya terkirimlah juga pesannya.

“Ada apa?” Irham membalas. Aku agak kecewa membaca jawabannya karena sepertinya ia tidak mengharapkan ada pesan dariku.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Aku baik.”

“Maksudku, kenapa akhir-akhir ini kamu menjauh?”

“Hmm….”

“Kenapa kau tidak bisa jawab?”

Kemudian ia tidak membalas pesanku lagi. Aku semakin gelisah dan menyesal telah mengirim pesan padanya. Aku kesal padanya. Ternyata memang belum ada pria yang lebih baik daripada masa laluku. Aku menyesal kenapa aku terlalu cepat percaya dengannya. Sepertinya ia telah memiliki wanita lain sebenarnya dan ia hanya berniat memainkanku saja? Arghh… aku sangat kesal.

“Yos, ada Irham di luar,” ucap ibukku di luar kamarku.

“Irham?” aku masih tidak percaya.

“Iya, cepat keluar. Kasihan dia jika menunggu lama.”

“Ba… ba… baik, Bu.”

Aku mengganti pakaianku karena aku tidak mau terlihat buruk di hadapan Irham. Apakah ia mau memberikanku sebuah kejutan? Jadi selama ini ia hanya memberikanku kejutan? Ahh, senangnya!

“Hai,” aku menepuk bahunya yang sedang membelakangiku.

“Hai,” wajahnya tersenyum, dan ia sangat tampan malam itu.

“Eum…. Ada apa Ham?”

“Maafkan aku, Yas.”

“Kenapa?”

“Aku suka padamu dan aku merasakan kau merasakan hal yang sama.”

“Lalu?”

“Tapi aku tidak bisa bersamamu,” ia meneteskan air dari matanya.

“Ke…. Kenapa?” tanyaku bingung.

“Yas, aku seorang perempuan. Sama sepertimu! Aku sakit, Yas! Aku menderita di mana aku menyukai seorang wanita lagi. Maafkan aku. Karena aku menyayangimu, aku tak mengizinkan kau untuk bersamaku. Kau wanita baik. Kau pantas mendapatkan yang baik dan normal.”

“…..,” aku tak sanggup berkata-kata lagi.

“Maafkan aku, maafkan aku,” ia mengeluarkan air mata sangat banyak, begitu pun aku.

Aku pun memeluknya. “Kau tetap sahabat terbaikku,” sebenarnya aku belum bisa menerima ini semua. Tapi, beginilah kenyataannya tidak bisa dihindari.

Ia pun tersenyum lega dan bergegas pergi meninggalkan rumahku dengan motornya. Aku menatap punggungnya sampai ia tidak terlilat lagi. Irham, semoga kau lekas sembuh. ***

Advertisements