Cerpen Kiki Sulistyo (Jawa Pos, 20 Mei 2018)

Mawar Ungu Aulia Sulhani ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Mawar Ungu Aulia Sulhani ilustrasi Budiono/Jawa Pos

PADA hari kedelapan bulan ketiga, di langit sebelah utara, sekuntum mawar ungu mekar perlahan-lahan. Kelopaknya susun-menyusun memendarkan cahaya, tidak cemerlang, tetapi cukup terang untuk membuat ruang di sekitarnya ikut berpendar ungu, pendar yang mengingatkan pada semu-sipu di pipi gadis remaja.

Lembah itu berada pada satu titik, yang apabila seseorang berdiri tepat di tengah-tengahnya, ia akan bisa menyaksikan benda-benda langit yang tidak bisa dilihat dari sembarang tempat. Sebuah rumah berdiri persis di sana, kecil dan sejuk. Di sekitar rumah itu tumbuh semak-semak semangka, hanya semangka, tidak ada tanaman lain. Buah-buah semangka yang bundar dengan kulit bercorak hijau gelap tergeletak di tanah bagai bola-bola dari luar angkasa.

Penduduk lembah hidup tanpa lampu, sebab malam tak pernah sungguh-sungguh gelap di sana. Pendaran cahaya dari benda-benda langit lebih dari cukup untuk menerangi kawasan lembah; termasuk rumah itu, rumah yang cuma dihuni oleh dua orang remaja. Orang-orang tua di lembah telah bersaksi bahwa salah satu dari remaja itu hidup abadi, sedang yang satunya lagi sesungguhnya bukan manusia, tapi peri pirang yang terperangkap dan tak pernah bisa kembali ke dunianya.

Lantaran berada tepat di tengah-tengah, rumah kecil itu menjadi benda paling bersinar di lembah. Bahkan, orang-orang yang tinggal jauh dari lembah dapat melihat rumah itu, bagaikan satu perahu kecil di tengah lautan.

***

“Aku punya saudara angkat,” kata Aulia Sulhani padaku sembari menyodorkan sepotong semangka. Aku ingat ketika baru tiba di gedung pertunjukan, ia menatapku, mengangguk hormat dan memasang bulan sabit di bibirnya. Itu bukan pertemuan pertama kami. Rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi aku tidak ingat kapan, bahkan aku tidak ingat momen-momen pada pertemuan sebelumnya itu. Aku tahu bahwa kami pernah bertemu sebelumnya dari cara dia mengangguk dan bulan sabit di bibirnya itu.

“Dari mana kau tahu aku suka semangka?” kataku sembari memperhatikan jari-jari tangannya yang basah oleh sari semangka.

“Aku tidak tahu, jadi kau suka semangka?” Keberaniannya memakai kata “kau” menimbulkan semacam gerhana di diriku.

“Ya, apakah semangka ini merepresentasikan dirimu? Merah, segar, dan orang bisa bikin kwaci dari biji-bijinya?”

Wajah Aulia Sulhani tampak kurang senang, “Bukan. Mungkin tidak ada alasan pasti kenapa aku suka semangka. Aku lebih suka bertanya-tanya, apakah aku bisa jadi susu dalam kemasan,” ujarnya, parasnya yang kurang senang itu seperti melepaskan bayangan musim dingin.

“Jadi tidak ada alasan pasti? Tidak ada alasan juga adalah alasan. Suatu alasan yang tidak beralasan,” ucapku.

Tiba-tiba aku ingat naskah yang baru saja mereka mainkan, protagonis cerita dalam naskah itu, seorang laki-laki tanpa nama, juga melakukan tindakan yang tanpa alasan.

“Yup, aku setuju. Kukira itu kalimat yang tepat.” Wajah Aulia Sulhani sudah kembali seperti biasa. Sesungguhnya aku tidak ingin berbincang dengannya. Ada semacam perasaan malas berbincang dengan para remaja.

Para remaja itu memang sedang berada dalam orbit yang sama denganku, dalam satu proyek pertunjukan, tapi kami berdiri dalam jarak yang berbeda. Bila pertunjukan itu adalah matahari, maka kami adalah planet-planet yang mengitarinya. Pikiran itu mengingatkanku pada Hukum Kepler Ketiga; dalam perhitungan itu bisa dibilang, aku Bumi dan Aulia Sulhani adalah Saturnus. Bila aku membutuhkan waktu 1 tahun untuk menyelesaikan satu periode, maka dia membutuhkan 29 tahun. Dia terlalu jauh dari matahari.

“Saudara angkat?” kataku kemudian untuk mengembalikan topik.

“Ya, ceritanya panjang. Kalau mau tahu, suatu kali nanti aku akan menceritakannya.”

“Terlalu panjang untuk diceritakan sekarang?’’

“Selamat malam,” jawabnya sembari meraih tas kecil di atas meja depan cermin rias. Ia bergerak keluar ruang, langkahnya ringan seperti astronot. Aku tidak sendirian di ruang rias ini, masih ada beberapa anak remaja yang bertukar cerita dengan sesamanya. Tapi setelah Aulia Sulhani pergi, aku merasa sendirian.

Anak-anak remaja itu saling menceritakan perasaan mereka ketika berada di panggung beberapa saat lalu. Naskah yang diadaptasi dari cerita pendek Italo Calvino; tentang seorang laki-laki yang iseng memanggil nama seorang perempuan sambil mendongak ke arah sebuah rumah sehingga banyak yang mengira ia sedang dalam kesulitan untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri; rupanya telah memberi pengalaman baru dan menyenangkan buat mereka, pengalaman yang tidak mereka temukan ketika berada di sekolah; di hadapan tugas-tugas hafalan dan keharusan untukselalu patuh.

Tentu aku sudah melihat ketika mereka latihan, ketika Aulia Sulhani mengangguk padaku dan menerbitkan bulan sabit di bibirnya itu. Permainan Aulia Sulhani sebenarnya biasa-biasa saja, lagipula ia tidak mendapat peran utama. Tapi yang membedakannya dengan pemain lain adalah aku seperti melihat keremajaan yang abadi pada dirinya. Aku bisa membayangkan seperti apa para remaja yang lain ketika mereka menua, tapi aku tidak bisa membayangkan hal yang sama pada Aulia Sulhani.

Kugeleng-gelengkan kepala, seakan-akan kepalaku adalah senter yang rusak, untuk mencapai persepsi tentang rupa tua Aulia Sulhani. Tapi tidak bisa, dalam persepsiku Aulia Sulhani akan selamanya remaja.

***

Penduduk lembah tahu nama peri pirang itu adalah Larissa. Ia satu-satunya yang tersisa dari Meteora, kompleks biara batu di Thessaly. Setelah Thessaly takluk oleh pasukan Persia, Larissa terusir ke berbagai tempat, sampai ia tiba di sebuah benua di mana binatang-binatang berkantung hidup sejahtera. Dari sana ia melakukan perjalanan kembali, melintasi ruang dan waktu serta melakukan dua hal sebelum akhirnya terperangkap di lembah mawar ungu.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menggenapi satu hukum tentang pergerakan planet di angkasa. Pada suatu saat, tepat pada hari kedelapan bulan ketiga, ia memasuki mimpi malam seorang Jerman bernama Johannes Kepler. Dengan satu tarikan yang ringan, Larissa membawa Kepler ke angkasa, ke dalam ruang hampa udara, menyaksikan bagaimana planet-planet di tata surya menyelesaikan periode-periodenya, membentuk garis elips dengan matahari sebagai pusatnya.

Dua belas tahun kemudian, Kepler meninggal dunia. Ruhnya tertabur dan menyatu bersama kabut nebula. Tapi tidak seluruhnya; 259 tahun kemudian suatu hujan meteor membawa sebagian dari ruh itu; ruh yang telah bercampur dengan sisa-sisa sayap Lucifer pada waktu malaikat itu dibuang; sebutir debunya yang tak kasat mata melayang, lalu terhirup napas berat seorang ibu yang hendak melahirkan. Kelak, anak yang dilahirkan ibu itu akan jadi monster perang paling mengerikan dalam dunia modern, yang jika disebut namanya seluruh benua akan bergetar dan kota suci Yerusalem menutup pintu-pintunya.

Larissa masuk ke dalam mimpi laki-laki itu, di akhir masa perang yang mengerikan, dan membisikkan padanya gagasan bunuh diri. Laki-laki itu menembak kepalanya sendiri, ruhnya meluncur bagaikan roket dan memecah di udara seperti kembang api. Tapi banyak orang yang percaya bahwa laki-laki itu masih hidup, bersembunyi di kepulauan Nusantara. Bahkan penduduk lembah mawar ungu percaya bahwa laki-laki itu kemudian meninggal di sana dan dimakamkan persis di bawah rumah mungil di tengah-tengah lembah. Mereka yakin keberadaan Larissa di rumah itu untuk menjaga agar ruh laki-laki itu tidak bangkit lagi.

Tak ada penduduk lembah yang tahu nama remaja abadi yang tinggal bersama Larissa itu. Mereka menganggapnya suci, remaja yang tak tersentuh waktu. Ia diturunkan ke lembah itu bersamaan dengan turunnya Siti Hawa, dan semenjak-entah-kapan penduduk telah menganggapnya sebagai pemimpin, sebagai seorang Aulia.

***

“Jadi ceritanya begini. Waktu ada program pertukaran pelajar dengan satu sekolah di Aussie, kebetulan aku ditunjuk jadi salah satu host sister. Aku boleh  memilih dengan siapa mau tinggal, jadi aku pilih seorang, namanya Larissa. Dia anak tunggal. Rupanya dia nyaman denganku, sampai mengangkat aku jadi saudaranya. Waktu Paskah tempo hari dia mengirimi aku hadiah, sekuntum mawar ungu,” ucap Aulia Sulhani, ia menunda kepulangannya dan berbalik hanya untuk menceritakan hal itu; aku merasa, di hadapannya, aku bukan lagi Bumi, melainkan Pluto, planet yang sudah mati dan hilang dari orbit.

“Hai, tanggal 8 Maret aku ulang tahun. Jadi aku minta kado. Kadonya puisi, yayayayaya?” Bunyi vokalnya menggema di tulang tengkorakku. Kawan-kawannya datang menghambur, menarik-narik tangannya, mengajaknya ke suatu tempat. Aku memperhatikan sosoknya menjauh, terus menjauh, tapi sepertinya akulah yang menjauh, seperti planet yang perlahan-lahan redup.

Aku pejamkan mata, seolah-olah baru pertama kali meresapi dunia. Kurasakan diriku mengembang, terus mengembang, menjadi seluas angkasa. Aku lihat lelaki dalam cerita Italo Calvino, memanggil-manggil nama seorang perempuan yang tak pernah ada. Aku lihat Johannes Kepler dan Adolf Hitler makan malam bersama di sebuah rumah mungil tepat di tengah-tengah lembah. Mereka menatap langit, menatapku, dan menyaksikan sekuntum mawar ungu pelan-pelan memekarkan kelopak cahayanya dalam dadaku. ***

 

(Kekalik, 2018)

Kiki Sulistyo, Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Kumpulan cerpennya Belfegor dan Para Penambang terbit tahun ini.

Advertisements