Cerpen Eko Triono (Tribun Jabar, 20 Mei 2018)

Kesunyian Ini, Kambing Sekali Rasanya ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Kesunyian Ini, Kambing Sekali Rasanya ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

KOKI perempuan nitip seekor kambing hitam. Katanya sebentar saja. Kutaruh kopi ke kursi taman trotoar. Ok, bukan masalah. Aku mengikat tali kambing, ke kaki bangku besi permanen. Aku pernah punya kambing ketika kecil. “Seperti kamu,” kataku pada kambing. Kambing mengembik sopan, malu-malu.

“Aku kerja di hotel itu,” koki perempuan menunjuk hotel besar.

“Ada tamu negara memesan kambing guling,” lanjutnya, “maunya kambing muda, disembelih di tempat, disaksikannya sendiri, dan dia ingin merekam proses menyembelihnya.”

Aku tertawa mendengamya. Kambing mulai mengendus celanaku; mungkin cari sarapan.

Dia berkata bahwa tak habis pikir juga. Merasa makin mudah mendapat sesuatu, makin aneh-aneh saja, ya. “Nanti kalau aku kembali,” lanjutnya buru-buru, “kuberitahu siapa namanya.”

Dia pergi. Aku bareng kambing hitam. Perdagangan di sisi Jalan Malioboro belum bangun dari tidurnya. Kuminum kopi pagi dalam gelas plastik. Kambing mengembik. Ingin kopi? Atau lapar?

“Sebentar,” kataku.

“Hai! Rumput itu dipelihara oleh negara,” aku merasa kambing itu mengembik meneriaki

“Itu perbuatan melawan hukum!” lagi.

“Untukmu, aku pakai hukum alam,” kataku kembali dengan sejumput rumput taman yang basah oleh sisa embun. “Negara hanya untuk manusia yang punya dompet. Jangankan dompet, saku saja kamu tidak punya.”

Kendaraan melintas dengan sisa cahaya semalam.

Bus Trans Jogja muncul dengan rute merah menyala di keningnya. Kambing menikmati rumputnya dengan segan. Dia mengunyah perlahan. Koki perempuan belum muncul juga. Kota mulai jadi panggung. Orang-orang muncul dan berpose dalam perannya. Sejam berlalu, koki perempuan entah ke mana.

Advertisements