Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 20 Mei 2018)

Bintang Maratur Tak Bertuan ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Bintang Maratur Tak Bertuan ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

PEREMPUAN itu terus tersedu-sedan di kamar. Dia memeluk guling, sembari berdoa agar pria itu menerima keadaan dengan lapang dada. Menerimanya kembali saat pertama kali dia meminta pada orangtuanya. Hatinya diremas kuat oleh ucapan perempuan separuh baya itu.

 

Bukan cinta jika menerima seseorang dari kelebihan, itu namanya kagum. Cintai seseorang karena kekurangannya, agar mengetahui betapa indah sebagai pelengkap baginya. Sayangnya, kekurangan itu tidak berlaku pada keluarganya. Dia harus meluaskan hatinya. Dia menyadari kesalahan ini memang ada padanya, tapi ini bukan keinginannya.

Dia menatap kain itu terkibas oleh angin, semakin kuat isaknya. Perlahan, dia memaksa tubuhnya berjalan menuju jendela. Meraih kain dan memeluknya. Serasa baru semalam dia merasakan kehangatan, pemberian ulos itu dari keluarga sang suami. Ulos yang mengartikan akan diberikan keselamatan pada jabang bayi dan akan diberikan anak selanjutnya.

Ulos bintang maratur. Ulos yang diberikan oleh mertua saat Tiur mengandung janin tujuh bulan. Senyum dan bahagia itu terasa amat segar menari di pikirannya. Penantian si jabang bayi sangat di tunggu oleh keluarga, terlebih lagi suami Tiur merupakan anak tunggal. Orang tua mana yang tidak bahagia jika dihadiahkan seorang cucu? Keluarga itu akan menjadi lengkap dengan kehadiran sang cucu.

Sejak usia hamilnya memasuki bulan ketujuh, Tiur diajak mertua, untuk menetap di rumahnya. Selama satu atap pada mertua, Tiur dilarang keras melakukan semua pekerjaan rumah. Mertuanya menumpahkan semua kasih sayangnya pada Tiur. Tidak heran jika segala permintaan Tiur dipenuhi sang mertua.

Ternyata kebahagiaan Tiur tidak berlangsung lama. Perihal itu, membuat Tiur kehilangan kedudukan. Dia harus belajar ikhlas menerima semuanya saat dia melihat darah mengalir di lantai.

Segera dia menelepon suaminya, Tiur mengabarkan, dia terjatuh di kamar mandi. Tidak ada siapa pun di rumah. Mertuanya pergi ke kampung, karena ada saudara yang meninggal dunia dan sang suami baru saja pergi kerja.

Sang suami mendapati Tiur di lantai dengan tidak sadarkan diri. Sigap dia membawa Tiur ke rumah sakit. Syukur Tiur masih bisa diselamatkan, namun keselamatan hanya berpihak pada Tiur. Mereka harus merelakan satu nyawa, kehilangan jabang bayi.

Saat Tiur sadar, sang suami memberitahukan, harapan menjadi orang tua harus pupus selamanya. Selain kehilangan jabang bayi, rahim Tiur harus diangkat karena ada kista yang menempel dan sudah membesar. Dokter harus mengangkat rahim Tiur, karena sudah banyak kista yang menempel di rahimnya, bahkan sebagian kista tersebut sudah membesar.

“Aku bisa apa, Bang?” isak Tiur.

Si suami menutup mulutnya, dia tidak tahan lagi membendung tangisnya. Dia memeluk istrinya yang terbaring lemah.

Tiur tersedan di pelukan suaminya. Kali ini dia benar-benar terpukul atas kejadian yang menindih dirinya. Dia akan kehilangan sosok ibu pada dirinya, bahkan dia tidak bisa membuat suami dan mertuanya bahagia.

“Apakah kau akan menceraikanku?” tanya Tiur sembari membalas pelukan hangat sang suami.

Lelaki yang amat dicintai Tiur menggelengkan kepala. Dia sudah berjanji pada Tiur tidak akan meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Bukan kehendak mereka menginginkan kejadian ini. Hanya dengan satu kekurangan, si suami beralasan meninggalkan Tiur. Masih ada solusi lain untuk menggapai kebahagiaan keluarga.

Perlahan, keseharian mengalir begitu saja. Sang suami sudah menjelaskan pada orang tuanya, Tiur dan suami berniat mengadopsi anak. Sepasang insan itu selalu berdoa agar terjadi mukjizat diberikan keturunan.

Mulanya mertua Tiur ragu pada penjelasan sang suami untuk mengadopsi anak dengan alasan sebagai anak pancingan. Bagaimana bisa seorang perempuan memiliki anak, jika rahimnya sudah tidak ada di dalam tubuhnya?

Akhirnya, sang mertua memberikan kesempatan pada sepasang insan itu, namun mertua melarang mereka untuk mengadopsi anak. Kedua mertuanya menginginkan keturunan asli dari mereka. Mereka hanya diberi waktu.

Tiur masih tersedan memeluk ulos bintang maratur, terdengar keributan hebat dari luar kamar. Hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar ucapan sang mertua. Ucapan yang memporak-porandakan keluarga yang sudah di tata dengan rapi dari suka dan duka. Dua tahun hidup berdua dalam satu atap, tidak dijadikan masalah bagi Tiur dan suami.

Senja masih bertengger di ufuk barat, keemasannya menyilaukan ruang kamar. Tiur mengambil kain ulos yang dijemurnya di depan jendela kamar, kain itu selalu menemaninya tidur. Dia berharap kain itu akan mendatangkan keturunan pada kelurganya.

Perempuan beralis tebal itu berjalan menuju meja rias sembari memeluk ulos. Lamat dia menatap wajahnya di cermin. Dia menemukan sosok yang sama dengan dirinya di cermin, tatapannya semakin tajam. Tiur tertawa melihat sosok itu.

“Dasar perempuan tidak berguna. Perempuan yang tidak bisa memberikan kebahagiaan pada keluarganya.” Bisik Tiur.

Tawanya menjelma tangis, Tiur melipat kedua tangan dan menindihnya dengan wajah. Kembali lagi dia terisak. Dia menyalahkan dirinya. Serasa dunia akan berhenti berputar. Tiur pupus menjadi seorang perempuan yang diidamkan para lelaki.

Dia memiringkan kepalanya, menyeka pipinya dengan ulos, seraya berkata.

“Nak. Kembalilah ke pelukan ibu. Ulos ini, pemberian Ompung-mu agar ibu bisa menggendongmu. Pulanglah, Nak!”

Peperangan antara mertua dan sang suami terus berlanjut dari luar kamar. Sesekali terdengar kata adopsi, penerus keturunan, ulos bintang maratur harus bisa dijadikan kain gendong, sabar dan banyak kata yang terlontar. Kata yang memekikan telinga Tiur dan membuatnya semakin tertekan.

Tiur tidak tahan dengan keributan yang terjadi antara suaminya dan mertua. Dia juga tidak berani keluar kamar karena keributan akan semakin runyam dengan kehadiran Tiur. Suaminya menyuruh Tiur masuk ke kamar sejak orang tuanya datang ke rumah. Jauh sebelumnya, sang suami mengetahui bahwa orang tuanya akan datang ke rumah. Akan berbicara pada Tiur agar mengijinkan suaminya mencari rahim. Ya, mencari rahim untuk mengalirkan darah keluarganya.

Sang suami terus ditelepon oleh mamaknya untuk menanyakan perkembangan keluarga mereka. Apakah sudah ada tanda memiliki anak? Apakah masih tahan hidup tanpa jeritan anak kecil di rumah? Mamaknya terus mendesak anaknya agar meminta izin pada Tiur untuk mencari rahim. Sang suami menghiraukan semua ucapan mamaknya, dia tidak sanggup berpaling dan meninggalkan Tiur dengan kondisi yang memukul Tiur.

Akhirnya, kesabaran sang mertua mulai terkikis habis. Usianya mulai senja, dia tidak ingin meminta apa pun pada Tiur dan suami. Sang mertua hanya ingin menghabiskan waktu senjanya bersama cucunya. Dia ingin menimang cucunya dengan ulos bintang maratur yang diberikan oleh mertuanya jua.

Sang mertua berkunjung ke rumah Tiur, cepat sang suami menyuruh Tiur masuk ke dalam kamar. Awalnya Tiur tidak mau, namun sang suami membentaknya. Tiur berjalan ke kamar dengan menundukkan kepala.

Bukan maksud sang suami berlaku kasar pada Tiur. Dia tidak ingin Tiur merasa sakit hati dengan kedatangan orangtuanya. Karena sang suami tahu tujuan orangtuanya datang ke rumah, tidak lain menuntut keturunan, penerus keluarga.

“Aku sudah menua, kita tidak tahu kapan akan mati.” Ujar mertua perempuan.

Sang suami tetap menegakkan lehernya, menatap mamaknya dengan tajam.

“Kami, hanya ingin menimang dan bermain dengan cucu. Sebelum kami mati, biarkan kami melihat cucu kami. Cucu asli yang terlahir dari darah dagingmu.” Timpal mertua laki-laki.

Kedua orang tua itu sengaja mengeraskan suara agar Tiur dapat mendengarnya. Mereka tahu bahwa Tiur tidak sedang tidur, anaknya tidak bisa bersandiwara menutupi keberadaan Tiur. Mereka sengaja memuntahkan kalimat pedas agar Tiur menyadari kesalahannya pada mereka.

“Ulos bintang maratur itu, harus bisa dijadikan kain gendong untuk cucuku.” Kata mamak mertua.

Tiur terpaku memandang cermin, menatap wajahnya. Seperti ada tinju yang menghantam hatinya hingga legam. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, terlalu perih ucapan yang didengarnya. Dia menggenggam ulos itu dengan kuat sebagai pelampias rasa sakit yang menyerang perasaannya.

Tangan kirinya sibuk membuka laci dan meraba, mencari sebuah benda. Pikirannya bergejolak. Dia ada di persimpangan. Bingung memilih jalan.

Harus mengakhiri atau mengikhlaskan suatu keadaan. Dia terus memandang wajahnya di cermin, mengolok dirinya sendiri.

Peperangan semakin meruncing di luar kamar, pun si suami berada pada kebimbangan.

Tuntutan orang tua menjadi sebuah tekanan padanya.

“Kami tidak mau tahu. Kau harus memberikan cucu, atau kau tidak usah melihat kami sampai mati.” Kata mertua perempuan Tiur.

Lengkap sudah. Tiur harus memilih keputusan. Dia tidak boleh berlama-lama di persimpangan. Akhirnya, ulos bintang maratur dikoyak dan mengalir darah untuk kedua kalinya di lantai. Tiur menyayat pergelangan tangannya, tepat di atas ulos bintang maratur.

 

Siti Maulid Dina. Mahasiswi Pendidikan Matematika semester delapan UIN SU sekaligus penggiat KSI Medan.

Advertisements