Cerpen Pudi Jaya (Suara Merdeka, 20 Mei 2018)

Bangsa yang Menghargai Para Koruptor ilustrasi Arin - Suara Merdeka.jpg
Bangsa yang Menghargai Para Koruptor ilustrasi Arin/Suara Merdeka

Halaman rumah itu cuma enam kali luas sepetak tanah makam. Namun pembicaraan kedua orang yang duduk di dua bangku di halaman rumah itu selalu seluas kehidupan.

“Bung, aku sangat berterima kasih padamu yang senantiasa berkenan kukunjungi untuk sekadar bertukar keluh-kesah,” ucap Eddi.

“Aku yang lebih pantas berterima kasih padamu, Bung. Bung sudah mencurahkan segenap pikiran, tenaga, waktu, dan biaya untuk menyelidiki sepak-terjang nenek moyang istriku,” jawab Ali.

“Itu memang tugasku sebagai pelaksana tim perjuangan Soeratin sebagai pahlawan nasional, Bung.”

“Bukan main. Jawabanmu macam sedang mengalami masa pubertas,” sahut tuan rumah.

“Aku memang sedang mengalami masa pubertas, Bung. Sayang, masa pubertas ketiga ini bukan semangat menggebu. Namun malaikat yang memburu,” balas sang tamu.

“Hus! Bagaimana proses pencarian data mengenai kakek istriku, Bung Eddi? Sudah mencukupi sebagai bekal ke pemerintah?”

“Ya beginilah, Bung,” jawab Eddi. “Sudah lebih dari sekadar kuat sebagai bekal ke pemerintah. Namun aku penasaran, barangkali masih ada data tersembunyi. Aku takut kena tanggung, Bung.”

“Tak usah kaupikir terlalu serius, Bung!” tandas Ali. “Orang-orang seumuran kita sepantasnya sudah ongkang-ongkang. Ingat umur, ingat kesehatan. Ha-ha-ha!” Ali terkekeh, mengurangi kesan tua pada kulit keriput dan rambut putih di kepalanya.

“Kepalang basah, Bung! Memang kejadian akhir-akhir ini seperti pukulan Ellyas Pical kepadaku, ke sansak,” keluh Eddi. “Aku cuma diam tak berdaya menerima pukulan pertama. Itulah ketika Nurdin memamerkan muka tebal dengan kukuh tetap menjabat ketua PSSI meski sudah masuk bui. Pukulan kedua, dualisme liga sepak bola dan kisruh organisasi. Disusul prestasi tim nasional yang jeblok, pemain tak digaji, hingga ada pemain mati, pengaturan skor, bahkan merebak lagi mafia wasit! Semua itu memukulku secara bertubi-tubi. Pukulan Ellyas Pical! Aku tetap diam dan terus mengerjakan amanat.”

“Karena itulah kubilang tak usah kaupikir terlalu serius,” ujar Ali dengan mimik serius. “Jangan salah paham. Aku tak bermaksud menyarankan Bung menyerah. Bung bilang kepalang basah, aku pun menyadari itu. Namun cobalah sedikit melihat kenyataan. Cuma segelintir orang sipil yang bergelar pahlawan. Kebanyakan gelar pahlawan disandang militer. Kenapa? Karena peluang militer lebih besar untuk menyandang gelar pahlawan ketimbang orang sipil,” tegas dia.

“Apakah menurutmu Soeratin tak pantas menyandang gelar pahlawan, Bung? Beliau sosok pemberani, pembela kebenaran, dan rela berkorban untuk kemerdekaan. Saat mendirikan PSSI pun, Soeratin tegas menggunakan nama Indonesia dan mengibarkan bendera Merah-Putih tahun 1933 di Stadion Sriwedari. Beliau lugas keluar dari perusahaan kontruksi Bauwkundig Bureau Sitzen Lausad milik Belanda karena memilih mengurus PSSI. Beliau juga membatalkan kesepakatan dengan Belanda secara sepihak; sebagai tantangan balik pada mereka yang tak konsisten dengan perjanjian pembentukan tim sepak bola secara kolektif!” jawab Eddi dengan nada meninggi dan tangan menuding.

“Jangan terburu-buru, Bung. Kakek istriku sangat pantas menyandang gelar pahlawan. Bung mungkin sudah tahu peraturan presiden yang mengatur penetapan gelar pahlawan. Bagi orang sipil harus ada kriteria ‘tak ternoda’selama hidup. Jadi, meski berpengaruh sangat besar sekalipun dalam perjuangan kemerdekaan, kemungkinan orang sipil sangatlah kecil menyandang gelar pahlawan. Kutegaskan, kemungkinan orang sipil menyandang gelar pahlawan sangat kecil.”

Eddi terdiam. Begitu pun Ali.

Halaman rumah itu terasa menyempit diapit rumah-rumah bertingkat di Ibu Kota. Tanaman hias yang kerap menenteramkan pun berkesan enggan menari karena sirkulasi udara terhambat.

Nuansa, anak bungsu Ali, keluar rumah membawa baki berisi dua gelas besar air putih dan setoples cemilan. Dia meletakkan sajian itu di atas meja mereka.

“Kenapa lama sekali?” tanya Ali pada sang anak.

“Aku sedang belajar, Yah,” jawab sang anak.

“Ya sudah, lanjutkan belajarmu, Nak.”

Nuansa gegas kembali menemui buku. Sementara Ali menyilakan Eddi menikmati sajian. Tangan keriput Eddi segera mencengkeram kuping gelas. Mereka menenggak air putih bersamaan dan mengakhiri tenggakan bersamaan pula.

“Sudahlah, Bung,” ujar Ali. “Pekerjaan Bung sangat mulia. Setidaknya Bung sudah memulai. Bung pantas disebut sang pemula. Sepadan dengan Tirto Adhi Soerjo yang dikagumi Bung Pram. Kini saatnya kita ongkang-ongkang. Biarkan generasi baru yang meneruskan. Jangan serakah. Jika semua hendak Bung kerjakan, apa yang bisa mereka kerjakan?”

Eddi terdiam. Dalam sanubarinya muncul pergolakan: memilih antara serakah atau menyerah.

“Bung! Jangan melamun! Ha-ha-ha!” Tawa tuan rumah membuat sang tamu tersenyum kecut. “Aku punya ide untuk pekerjaan mulia yang sudah Bung lakukan. Bagaimana kalau Bung menyusun buku tentang Soeratin?”

“Aku memang berminat menyusun data dari berbagai kantor arsip, perpustakaan, museum, dan narasumber menjadi buku, Bung. Namun ongkos yang tak berminat,” jawab Eddi meringis. “Mau bagaimana lagi, Bung? Kita berada pada zaman neolib. Kemungkinan sangat kecil ada yang mau menyumbang untuk penerbitan buku soal Soeratin yang nasionalistik dan patriotik.”

Dia mengernyitkan dahi, menampakkan raut kecewa. “Namun, tenang, Bung. Percayakan padaku. Barangkali Bung Naga Bonar mau membantu.”

Ucapan pengarang fiksi Ali Topan Anak Jalanan itu bak pelukan Ellyas Pical pada sansak yang sering dipukuli. Tetesan keringat sang petinju legendaris menceritakan kesamaan nasib dengan Eddi; dia memang memukul bertubi-tubi, tetapi juga jatuh-bangun berulang kali. Semua itu memang harus dia lalui jika ingin meraih prestasi.

“Yah!” Tiba-tiba Nuansa datang membawa sebuah buku.

“Ada apa, Nak?” sang ayah meladeni.

“Bantu aku mengetes hafalan,” pinta Nuansa sambil memberikan buku kepada sang ayah.

“Baik. Biar nanti Pak Eddi meralat jika hafalanmu luput,” jawab Ali seraya menerima buku pelajaran sejarah dari sang anak.

“Halaman berapa?”

“Halaman 88, Yah.”

“Halaman 88,” Ali membuka berlembar-lembar halaman.

“Ketemu! Ayo, lekas!”

“Muhammad Nazaruddin masuk bui karena kasus korupsi pembangunan wisma atlet. Angelina Sondakh masuk bui karena kasus korupsi pembangunan wisma atlet. Miranda Goeltom masuk bui karena kasus cek pelawat DGS BI. Nurdin Halid masuk bui karena kasus penyelundupan gula impor ilegal. Setya Novanto….”

“Sebentar, Nak!” cegat Ali. Dahinya mengerut sambil membaca buku sang anak. Sesekali dia menoleh ke arah Eddi yang tertular kerutan di dahi.

“Ada apa, Yah?” tanya sang anak.

“Coba baca ini, Bung!” Ali memberikan buku sejarah Nuansa kepada Eddi.

Belum selesai membaca satu halaman, Eddi megap-megap. Dia menutup buku, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan panjang-panjang. “Nuansa tahu Gajah Mada?” tanya Eddi ketika sudah menguasai diri.

Nuansa menggeleng.

“Pangeran Diponegoro?” tanya Eddi lagi.

“Aku tak tahu siapa mereka. Yang pernah kudengar, Gajah Mada dan Diponegoro adalah nama universitas,” jawab Nuansa.

“Siapa nama presiden pertama Republik Indonesia?” Eddi bertanya dengan gemas, lalu mulutnya mengatup keras-keras.

Nuansa menggeleng.

“Kenapa Bung tak becus mendidik anak?” hardik Eddi pada Ali.

“Jangan salahkan Ayah, Pak Eddi. Aku jarang belajar di rumah karena selalu pulang sekolah petang hari. Sampai di rumah aku sudah lelah dan langsung tidur,” bela sang anak.

“Jangan lari dari masalah dengan diam saja, Bung!” bentak Eddi pada sang bapak.

“Nuansa sekarang kelas berapa?”

“Kelas lima, Pak.”

“Tak ada materi pelajaran sejarah untuk menghafal nama para pahlawan?”

Nuansa menggeleng.

“Yang ada menghafal nama-nama koruptor.” (44)

 

Jakarta Selatan, 24 Januari 2018

 

Cerpen ini terinspirasi oleh buku Soeratin Soesrosoegondo karya Eddi Elison.

 

Pudi Jaya, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang.

Advertisements