Cerpen Hary B Kori’un (Lampung Post, 20 Mei 2018)

Agra ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Agra ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

AKU melihatnya keluar dari lif dan berjalan cepat seperti tergesa-gesa sambil pandangannya melihat ke beberapa arah. Mungkin dia mencariku. Saat matanya tepat ke arahku, aku melambaikan tangan. Dia tersenyum tipis. Sangat cantik. Kemeja putih yang dimasukkan ke jins hitam ketat yang dipakainya, memperlihatkan tubuhnya yang tipis. Rambut panjangnya yang hitam agak bergelombang, dibiarkan tergerai. Dia kelihatan natural, tanpa baluran kosmetika berlebihan di wajahnya.

Ketika mendekat, kuulurkan tanganku. Kami bersalaman selayaknya “teman lama” yang sudah sekian waktu tidak bertemu. Aku berdiri dan menarikkan kursi untuknya.

“Lama menunggu?” tanyanya setelah duduk.

Kami duduk saling berhadapan di meja yang tak terlalu besar yang memang kami pesan untuk berdua. “Tidak juga. Aku menikmati pemandangan dari ketinggian ini, dan itu cukup menghiburku sekalian pengisi waktu sambil menunggumu,” kataku.

Dia bertanya bagaimana perjalananku menyeberang dari Batam tadi. Kujelaskan bahwa semuanya baik-baik saja kecuali saat sampai di pelabuhan dengan keribetan petugas imigrasi. “Mungkin karena namaku, jadi mereka sangat teliti dan terkesan menginterogasi saat bertanya tujuanku ke sini,” ujarku.

“Kamu memang harus mengganti nama. Orang di sini paranoid dengan nama seperti namamu,” katanya sambil tersenyum.

Seorang waiters datang membawa pesanan kami, tepatnya pesananku untuk kami berdua.

Tadi dia memberi tahu kalau aku datang lebih dulu, sekalian pesankan untuk dia. Katanya apa yang saya pesan itu juga cocok untuknya. Aku memesan dua cangkir capuccino dan kentang goreng. Menu yang sangat umum. Agar tak rumit saja.

“Kamu masih makan makanan yang digoreng?” tanyanya agak dalam dengan suara yang berubah dibanding yang tadi. Agak dingin.

Aku tercekat. Kemudian buru-buru memanggil pelayan tadi dan meminta ia bertanya apa yang ingin dimakannya. Ternyata dia tak meminta makanan lagi. Dia cukup minum capuccino selama kami ngobrol nanti, katanya.

“Maaf, aku lupa kalau kamu tak makan makanan yang digoreng,” kataku kemudian.

Dia diam dan memandang sekilas. Pandangannya kemudian ke arah jendela. Terlihat hamparan bangunan pencakar langit dengan latar belakang laut. Banyak kapal yang membuang jangkar dan bersandar di pelabuhan. Puluhan kapal juga terlihat sedang berjalan ke arah pelabuhan. Beberapa di antaranya sedang keluar pelabuhan. Pelabuhan yang padat. Peti kemas terlihat berjejer di banyak tempat.

“Kamu betah tinggal di sini?” tanyaku memecah kebisuan.

Sambil tak lepas dari pandangannya pada laut, dia menjawab dingin. “Tak ada alasan bagiku untuk tidak betah. Semuanya baik-baik saja di sini…”

Aku merasa tak enak. Jauh-jauh datang ke negeri kecil ini untuk sebuah urusan dan kemudian janjian bertemu dengannya, ternyata semuanya menjadi dingin seperti ini hanya kesalahan kecil yang kulakukan tadi.

Ketika kami sering bertemu dulu, aku memang tahu kalau dia tidak suka makanan yang digoreng, makanan yang berbau minyak, atau mentega, atau apa saja zat yang digunakan untuk menggoreng. Selama ini yang ada dalam pikiranku, mungkin dia tak ingin ada lemak di tubuhnya sehingga sebisa mungkin menghindari makanan berminyak. Tetapi aku merasa kesimpulan itu tak cukup karena setiap bicara tentang makanan berminyak, dia menganggapnya sebagai masalah besar.

Seperti sekarang, pertemuan kami menjadi dingin. Kami berdua seperti orang asing di negeri asing ini.

Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah siang yang terik. Gelombang demonstrasi di depan kantor anggota legislatif, tak bisa dibendung oleh petugas keamanan yang ada. Mereka menuntut agar para wakil rakyat dan pemerintah tegas dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan-perusahaan, baik perusahaan pengelola hutan maupun perusahaan sawit, harus dihukum jika terbukti melakukan pembakaran.

Kondisi waktu itu memang sudah akut. Berbulan-bulan asap mengepung daerah kami. Anak-anak sekolah sering diliburkan.  Bandar udara ditutup. Penerbangan dihentikan sementara waktu karena jarak pandang tak memenuhi syarat penerbangan. Masyarakat yang keluar rumah harus memakai masker. Udara sudah sangat tidak sehat untuk paru-paru. Korban pun berjatuhan. Anak-anak banyak yang harus masuk rumah sakit karena gangguan pernapasan. Beberapa koran memberitakan, banyak bayi yang lahir cacat karena selama hamil, si ibu menghirup udara tidak sehat.

Kami sudah lama tak bertemu matahari. Setiap hari yang terlihat hanya awan. Dari pagi hingga sore, suasananya sama. Warna kelabu yang mendominasi. Kami seperti tinggal di negeri kelabu, karena hanya warna itu yang selalu ada setiap hari.

Dia berada di antara ribuan mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Dia memakai baju putih dengan jins ketat hitam, yang membuatnya gampang terlihat. Nampaknya, itu menjadi busana favoritnya. Aku yang ketika itu ditugaskan untuk meliput, berupaya mendekatinya untuk wawancara. Dia tak mau diwawancarai untuk dimuat di media. Dia mau ngobrol, tetapi tidak untuk kepentingan berita.

Beberapa pekan kemudian, ketika beberapa lembaga swadaya masyarakat melakukan aksi hukum menuntut Pemerintah Pusat dan daerah terkait kabut asap, dia berada di kantor lembaga bantuan hukum (LBH) yang diminta oleh beberapa LSM untuk mewakili. Masih dengan busana yang nyaris sama, kali ini bajunya berwarna agak krem. Aku mendekatinya dan berusaha ngobrol lagi dengannya. Kali ini bukan untuk urusan berita.

Sejak itu, di hampir setiap demonstrasi atau aksi-aksi lainnya berkaitan dengan asap, banjir, atau tambang, kami selalu bertemu kalau aku sedang ditugaskan. Setelah itu, pertemuan kami sering terjadi. Kami berjanji bertemu di kafe atau tempat-tempat lainnya yang nyaman untuk ngobrol apa saja.

Namanya Anggra Kusuma Dewi. Dia masih mahasiswi di sebuah universitas negeri terkenal di kota kami. Tetapi dia juga menjadi relawan di sebuah LSM yang kritis terhadap perkebunan, kehutanan, tambang, dan yang berbau lingkungan lainnya. Katanya, kadang-kadang waktunya untuk kuliah sering terlupakan karena terlalu asyik dengan aktivitasnya tersebut.

“Karena memang ingin memperjuangkan lingkungan atau karena biar disebut aktivis lingkungan?” tanyaku suatu saat, berkelakar, ketika kami janjian bertemu di sebuah kafe.

Tiba-tiba dia menghentikan senyumnya. Wajahnya langsung berubah. Padangannya pada wajahku menjadi aneh. Dia berdiri dan keluar dari kafe menuju parkiran. Dengan tergesa-gesa dia menghidupkan motornya dan secepat kilat sudah hilang dari pandanganku. Aku yang berusaha mengejar, tak sempat melakukan apa-apa karena gerakannya memang serbacepat.

Beberapa hari lamanya dia tak mau menemuiku. Teleponku tak diangkat. SMS atau pesan singkat lainnya tak dibalas. Aku berusaha menemui di kosnya, tetapi sering kata teman-temannya dia sedang pergi. Kucari ke kantornya, katanya dia sedang di lapangan mencari data atau apalah namanya. Beberapa kali aku menungguinya di depan fakultasnya, tetapi tak pernah bisa menemuinya.

Hampir sebulan semua itu berlangsung. Akhirnya aku berhasil menemuinya ketika terjadi demonstrasi masalah asap lagi. Dia terlihat marah.

“Jika kau datang ke sini hanya untuk mengatakan bahwa aku tergila-gila untuk menjadi aktivis, tak perlu repot-repot mencari dan menemuiku!” katanya ketus.

“Aku minta maaf. Aku bercanda ketika itu. Dan itu sudah kukatakan padamu berulang-ulang dalam beberapa pesan singkatku…”

“Candaanmu keterlaluan. Kau tak mengenal aku, jadi kau tak berhak bicara begitu kepadaku!”

Setelah itu dia meninggalkanku dan masuk dalam kerumunan mahasiswa. Aku tidak berusaha mengejarnya. Aku tahu, dia akan tetap marah, dan akan sulit bagiku untuk menjelaskan bahwa semuanya hanya bercanda.

Beberapa pekan setelah itu, dia mengirim pesan singkat. Dia ingin bertemu. Katanya dia sudah tidak marah dengan kejadian dulu. Aku senang. Kami kemudian bertemu di kafe favoritnya. Sebuah kafe yang seluruh makanan yang dihidangkan tak menggunakan minyak goreng.

“Sudah lama meninggalkan makanan yang berbau minyak goreng?” tanyaku hati-hati, takut menyinggungnya lagi.

“Sejak kelas dua SMA,” katanya tanpa berusaha menjelaskan alasannya.

Aku hanya menebak dalam hati, mungkin dia tak ingin di tubuhnya ada lemak yang bisa membuatnya gemuk. Gadis-gadis sekarang takut gemuk. Takut dibilang tak seksi.

Dia menjelaskan mengapa dia tersinggung ketika itu. Katanya, dia ingin menjadi aktivis yang kritis terhadap perkebunan sawit karena salah satu perusahaan sawit di kampungnya, di Dalu-dalu, Rokan Hulu, berbuat semena-mena terhadap masyarakat. Mereka merampas tanah masyarakat dengan dalih tanah-tanah tersebut masuk dalam konsesi yang mereka dapatkan dari pemerintah.

“Sejak bentrokan sering terjadi antara perusahaan dan masyarakat yang sering menimbulkan jatuhnya korban, sejak itu aku bertekad akan memusuhi perusahaan sawit dan hal-hal yang berbau sawit,” ujarnya dengan suara yang dalam.

“Di beberapa tempat, sawit meningkatkan ekonomi masyarakat. Banyak anak-anak yang bisa sekolah dan kuliah karena sawit…” kataku bukan hendak membela.

“Benar. Tetapi tidak ditanami sawit pun, misalnya ditanami tumbuhan ekonomis lainnya, anak-anak mereka juga bisa sekolah dan kuliah. Sawit banyak menyerap air, itu tidak bagus untuk ekosistem. Banyak perusahaan yang membuka lahan gambut dan dijadikan kebun sawit dengan cara membakar. Itu salah satu penyebab yang memudahkan lahan gambut terbakar dan menyimpan api,” jawabnya.

“Itu mengapa kamu kemudian memilih tak makan makanan berminyak? Karena minyak goreng berasal dari minyak sawit? Lalu bagaimana kosmetik yang kamu pakai, bukankah berasal dari sawit juga?” kataku. Aku berharap dia tidak marah seperti dulu.

“Iya, aku menghindarinya. Aku juga menghindari kosmetik yang bahan bakunya dari sawit…”

Hujan sangat deras ketika kapal yang akan membawaku kembali ke Batam meninggalkan Harbourfront. Udara dari mesin pendingin di dalam membuatku menggigil. Jaket sport yang kupakai tak mampu melawan dingin.

Sekian waktu aku berusaha memahami pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan Anggra Kusuma Dewi, namun aku merasa tak mampu. Yang kupahami hanya kekecewaan-kekecewaannya. Dia memupuk kekecewaan dan dendam yang berkepanjangan. Kukatakan padanya tadi, tak baik memendam dendam dan kekecewaan sepanjang hidup. Menguras energi dan pikiran.

Namun, jawabannya membuat aku terkejut. Sesuatu yang sekian tahun tak pernah kupahami. “Kau tak akan bilang begitu kalau ayahmu yang dibunuh dengan keji karena mempertahankan tanahnya dari rampasan perusahaan sawit itu, di depan matamu!”

Jantungku terasa berhenti. Kulihat matanya memerah. Kemudian pelan ada butiran bening membahasahi pipinya. Kuulurkan sapu tanganku. Dia menolaknya. Dihapusnya air mata itu dengan jarinya sendiri.

Aku merasa suhu udara semakin dingin. Aku semakin menggigil. Perjalanan terasa sangat lama. Lama sekali. Seolah kapal ini tak menemukan pantai.

Hal yang membahagiakanku sekian lama adalah setiap detik dalam ingatanku, dia selalu ada di sana. Dan mungkin itu akan memanjang hingga bertahun-tahun nanti.

 

Singapura, Februari 2017

Advertisements