Cerpen Risda Nur Widia (Koran Tempo, 19-20 Mei 2018)

Kota-kota Api Sinjar ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Kota-kota Api Sinjar ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Pintu diketuk. Kau tersenyum ketika seorang masuk ke kamarmu. Dan melihat sosoknya pagi itu seolah memantik ingatan bahwa kau memiliki banyak hutang kepadanya. Namun kau sadar Jacqueline Isaac tak pernah menganggap apa yang dilakukannya kepadamu adalah hutang. Ia melakukannya karena ingin menolongmu; menarikmu dari lembah kematian yang merongrong jiwamu. Isaac membalas senyummu. Ia juga menyapa seorang perawat yang selama satu tahun menanganimu di rumah sakit kejiwaan di Berlin. Sebelum mengatakan sesuatu kepadamu, ia membuka jendela ruangan. Isaac seolah ingin membagikan angin musim semi di Berlin kepadamu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kemudian. “Hari ini kau terlihat semakin baik.”

Kau mengangguk-merekahkan senyum untuk menyatakan dirimu lebih baik. Melihat wajahmu yang cerah, Isaac merasa tenang. Ia lantas duduk di kursi dan tangannya meraih sebutir apel merah yang tersedia di meja dan mengupasnya dengan sebuah pisau tajam. Tangan kirinya bergerak memutar apel di telapaknya. Sementara tangan kanannya terampil memainkan pisau untuk menguliti apel. Kulit apel itu terkupas dengan memanjang. Dan saat melihatnya, kau seperti sedang menyaksikan kucuran darah dari leher seseorang yang disembelih.

Tubuhmu bergidik. Kau merasa seperti dilempar kembali ke suatu tempat yang jauh dan panas dan berdebu dan di sana terdapat kenangan mengerikan. Menyadari perubahanmu membuat Isaac mendekat. Ia letakkan buah apel merah itu.

“Maafkan aku seandainya ada yang membuatmu sedih,” Isaac memelukmu. “Aku ada di sampingmu. Kau tidak sendiri.”

Mendengar kalimatnya membuatmu tenang. Air matamu terhenti. Namun panas tapuk matamu yang menyimpan ribuan galon kesedihan masih terasa. Kau mengerling ke arah Isaac. Kau lihat wajahnya yang sama seperti saat kau bertemu dengannya dahulu di tengah kekacauan di kotamu. Perang yang juga telah mengubah hidupmu.

***

Kau masih ingat bagaimana keadaanmu ketika bertemu Isaac di Pegunungan Sinjar yang tandus. Kau menunduk dengan mata yang lelah. Bahkan-hingga kini-kau merasa telah ditolong oleh Melek Taus [1]; sosok yang dikutuk dan dianggap sebagai Syaiton [2] oleh banyak orang. Melek Taus, sebagai salah satu dari tujuh Malaikat Suci yang diutus Tuhan dan tercatat dalam Kitab Wahyu Yazidi [3], seakan telah membisikkan pertolongannya melalui batu-batu dan terik matahari yang menggigit agar menuntunmu ke jalan hidup baru. Melek Taus-yang begitu dibenci oleh muslim Irak dan Syam karena dianggap sesat-menyeretmu menjauh dari perang yang tak pernah usai.

Kau memang tidak bisa memungkiri kenyataan. Segala kekacauan dan keributan itu telah dimulai sejak awal abad ke-20; ketika salah satu malaikat yang kau-dan para penduduk lainnya-percaya memberikan nasib baik dan buruk, dikutuk sebagai setan oleh warga Muslim di luar ras Yazidi [4]; ras keturunanmu. Bahkan apabila kau menengok gersangnya pegunungan Sinjar seperti sudah menjelaskan bagaimana kota itu melalui konflik demi konflik. Pegunungan tanpa pohon atau rumput itu seolah mengguratkan wajah penuh kesedihan dari para penduduk ras Yazidi di kota Sinjar.

Begitulah. Kau terkenang saat satu persatu bangunan di kotamu dihancurkan. Lalu penduduk kotamu dibantai dengan keji oleh kelompok separatis agama fundamentalis. Semuanya masih dengan jelas melekat di benakmu; mengerak layaknya noda karat yang sulit dihilangkan. Kini bahkan setelah dirimu jauh dari Sinjar, kau masih dapat merasakan ribut dari ledakan bom, tembakan senjata, panas matahari, dan kejamnya peristiwa. Ingatan di benakmu bagai pisau tajam yang membunuhmu berulang.

Misalnya siang itu. Otakmu tak bisa menghapus kejadian saat kau baru saja pulang sekolah dan ibumu menghidangkan biryani [5], makanan kesukaanmu. Rasa lapar di perutmu menghilang waktu sekelompok mobil dengan atribut bendera hitam memasuki kota. Pada awak mobil, kau melihat orang-orang dengan senjata dan pedang. Serdadu bertopeng itu kemudian merasuk ke kota. Mereka menginstruksikan kalian lekas berkumpul di suatu tanah lapang. Para serdadu itu melakukannya dengan brutal.

Kau pun melihat rumah tetanggamu yang berjarak dua puluh langkah dari rumahmu-penghuninya diseret paksa. Lalu mereka ditembaki hingga mati.

“Dasar kafir!” kata serdadu. “Kau tak pantas hidup.”

Penduduk lainnya demikian. Kau menyaksikan ketika seorang kepala rumah tangga dari keluarga itu digorok lehernya. Sosok itu disembelih di hadapan keluarganya sendiri.

“Kalian para kafir memang tak pantas hidup!” ucap si serdadu. “Neraka pun tak pantas kalian tinggali.”

Kau sadar apa yang membuat mereka begitu kejam. Mereka melakukan semua itu dengan satu alasan yang mungkin dianggap mulia. Mereka menganggap semua yang tak sama dengan golongan mereka sebagai kafir. Maka tak heran mereka bertindak keji. Lebih lagi, sejak lama mereka menganggap kau, dan penduduk kaum Yazidi lainnya: kafir. Mereka menganggap dengan membunuh kalian sebagai salah satu jalan jihad memperoleh surga Tuhan.

Memang sudah sejak dahulu banyak yang menganggap kaummu sebagai orang-orang murtad. Lebih lagi agama kalian banyak mempraktikkan cara pandang sinkretisme. [6] Sebuah cara pandang Syiah [7] dan sufi. Di mana kalian menganut agama dengan cara pandang tradisi rakyat sekitar. Hal inilah yang membuat kotamu masih ditemukan keberagaman agama. Tak hanya satu agama mayoritas. Ada agama lain seperti komunitas Kristen atau Mandaen. Namun keberagaman ini dianggap sebagai bentuk penyelewengan terhadap revolusi agama fundamentalis. Dan diperparah lagi dengan kisah sufi mengenai salah satu malaikat, Melek Taus, yang terdapat dalam kisah-kisah kuno; yang pernah menolak menyembah Adam seperti halnya Iblis-tapi karena berhasil dibujuk Tuhan, ia melakukannya. Kemurtadan Melek Taus ini dianggap menurun pula kepada kaum Yazidi, hingga dianggap pantas untuk dibantai.

Karena alasan ini, mereka keji memberangus kotamu. Mereka menembaki semua penduduk hingga menjadi seonggok tubuh gosong penuh peluru. Bahkan, setelah melihat hal-hal mengerikan itu, kau harus dipaksa melihat ayahmu yang dieksekusi. Di hadapanmu-tepat pada halaman rumah-kau menyaksikan ayahmu diseret paksa. Rambut ayahmu ditarik dengan kasar. Ibumu sempat melawan. Namun gagal. Kemudian leher ayahmu ditengadahkan menghadap langit. Tak lama kemudian sebuah pedang mengiris tenggorokan ayahmu.

Kau menangis melihatnya. Tubuh kecilmu tidak kuat melawan dan melepaskan singkap seorang serdadu dari belakangmu.

“Ayah…” pekikmu.

“Matilah kau bersama semua kafir di sini,” dengus serdadu itu.

Kau terus memberontak untuk melepaskan diri. Namun apa yang kau lakukan sia-sia. Tak sedikit tubuh itu berhasil kau goyahkan. Bahkan sebelum kau benar-benar berhasil melepaskan, serdadu itu dengan gerakan cepat menghentakkan tangannya ke tengkukmu. Matamu menjadi berat. Kau tak sadarkan diri. Dan, selama pingsan, kau tak tahu sudah berpindah tempat. Namun kau sadar tak sendiri di ruangan itu. Di sana terdapat beberapa wanita termasuk ibumu.

“Di mana kita?” tanyamu. “Apakah Ibu tahu?”

Ibumu menggeleng. “Tak tahu. Setelah kejadian itu, kita semua dipisahkan. Para lelaki diletakkan di barak lain. Sebagian dibantai.”

“Dibantai?” Kau diam sejenak. “Apakah kita bisa selamat?”

Ibumu diam. “Berdoalah kepada Allah agar kita semua diberi kemudahan.”

Mendengar nada bicara ibu yang begitu sedih, kau tahu kalau ia telah putus asa. Karena ia-dan juga kau beserta seluruh tahanan lain-akan berakhir sama seperti penduduk lainnya. Benar. Mereka menyiksamu dan para tahanan dengan tidak memberikan makan selama beberapa hari. Kalian satu persatu tumbang karena kelaparan. Sampai-entah di hari keberapa-seorang serdadu menyeretmu ke luar. Kau dipaksa bertelanjang.

“Lepaskan semua pakaianmu, setan!”

Karena takut, kau melakukan perintah itu. Kau merasa kehormatanmu dicabik-cabik. Mereka seakan tidak puas membunuh ayahmu. Kini mereka malah memaksamu untuk telanjang. Setelah semua pakaian tanggal, serdadu bertopeng itu membawamu ke suatu ruangan. Di sana kau tidak sendiri. Kau melihat ada 20 gadis muda lainnya. Mereka juga terlihat menderita dan kelaparan. Di kaki mereka terdapat borgol dengan bandul pemberat.

“Ini semua wanita tercantik yang bisa kami kumpulkan. Bisa Anda lihat sendiri.”

Kau melirik ke arah pria berbadan besar itu. Sosok tersebut melirik ke arah kalian dengan tatapan mengerikan. Ia seolah lapar. Ia kemudian dengan santai mendekat mengamati satu persatu. Pria itu cukup lama memandangmu. Ia juga sempat mencium punggungmu. Pria menjijikkan serupa gorila itu lantas menyeringai. Begitulah. Kau kembali berpindah tempat. Kini bukan lagi di bangsal penahanan, melainkan di kamar seorang yang tidak kau kenal.

Serdadu itu berpesan. “Kau beruntung. Layani atasan kami sampai puas!”

Semula kau tidak paham. Sampai kau tahu saat dipaksa mengangkang dan melayani nafsu seksual pria bertubuh besar itu. Kau benar-benar harus menanggung semua perilaku tak manusiawi. Hampir setiap malam kau menjadi budak seks pria bertubuh besar itu. Namun, kembali kau merasa Melek Taus menuntunmu untuk melarikan diri. Mula-mula ketika pria dengan tubuh besar itu pergi, kau berhasil menyelinap keluar. Setelah berhasil melakukannya, kau berlari dengan tubuhmu yang hancur-tanpa arah dan tujuan. Selama dua hari kau tersesat di gurun. Sampai terik matahari dan batu-batu menuntunmu ke gunung Sinjar. Kau bertemu dengan Isaac. Mengetahui kau yang babak belur dan tak bertenaga; lekas membawamu ke kamp tentara. Di sana kau diberi makan dan dirawat. Hingga akhirnya kau diterbangkan ke Berlin.

***

Mengingat semua itu membuat jiwamu terluka. Betapa pahit semua kejadian itu. Kau hingga kini belum dapat menerimanya. Apalagi saat mengingat orangtuamu.

“Semua ini adalah ujian untukmu,” ungkap Isaac. “Coba terimalah.”

Kau menatap Isaac seraya menghapus air mata. Kau mengangguk. Bibirmu tersenyum. Walau hatimu masih tetap koyak.

 

Risda Nur Widia, tinggal di Yogyakarta. Banyak menulis cerpen.

Advertisements