Cerpen Achmad Taufik Budi Kusumah (Banjarmasin Post, 13 Mei 2018)

Surga ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Surga ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

“SURGA adalah apa?// Aku membayangkan kata-kataNya// Surga adalah mutlak kegembiraan// Tidak ada kebosanan// Hari hanya minggu// Tak ada cemburu// Apa lagi menunggu// Kedamaian yang kekal// Kegilaan yang santun//

Surga adalah apa?// Aku membayangkan kata-kataNya// Untuk sampai di sana tidak hanya butuh tidak kafir// Kepatuhan yang utuh// Sedang aku terbiasa mengoyak aturan// Jemu pada tatanan//

Surga adalah apa?// Aku membayangkan kata-kataNya// Nya.”

Tulisan itu kutemukan dalam sesobek kertas. Ini adalah bagian dari catatan hariannya yang telah hancur berantakan.

Sebuah ledakan besar menghancurkan beberapa kamar kost. Sayalah pemilik rumah kost. Seluruhnya ada 18 pintu atau 18 kamar, 5 kamar hancur parah karena ledakan itu. Sementara itu 4 kamar lainnya retak dindingnya. Beberapa tiang dan penyokong atap, kurasa sudah tidak dalam posisi sempurna. Kamar lainnya baik-baik saja karena berada dalam bangunan yang terpisah dengan sumber ledakan.

Syukur, dalam ledakan pagi itu semua penghuni kamar telah pergi melakukan aktivitasnya masing-masing. Karena mereka adalah pelajar.

Awan nama pemuda itu. Tampan, gagah, ramah. Sebagai perawan tua yang sudah sangat terlambat menikah, saya memujanya. Diam-diam saja. Awan pribadi yang ringan tangan. Banyak bantuan yang walaupun sederhana namun sering diberikannya. Mengganti lampu, membetulkan perabot, mengingatkan jendela rumah yang lupa belum ditutup.

Saya akan melamarnya. Lebih tepatnya meminta dia menikahi saya. Saya tidak peduli kalau memang harus wanita yang memulai. Lagi pula dia tidak menganut sistem perpacaran atau apalah namanya.

“Tidak. Sebentar lagi aku akan pulang ke surga. Setelah kulenyapkan beberapa musuhNya. Aku akan pulang ke surga sebagai pengantin,” kata Awan.

“Jadi kamu menolak saya?” kataku menunduk kecewa.

“Boleh saya tahu siapa perempuan itu? Calon istrimu itu?”

Awan menunduk. Kemudian melanjutkan bicara. “Kamu tidak mengerti. Hanya aku pengantinnya. Dan, surga itu sungguh terjal jalannya. Namun aku akan sampai di sana.”

Saya tidak mengerti maksud ucapannya.

“Di sini kita bisa bikin surga kita sendiri. Kita akan hadapi segalanya bersama. Rumah kontrakan itu akan cukup untuk biaya hidup. Sederhana memang, namun kita bisa bikin surga itu. Kita cuma butuh bersama dan rasa syukur dalam dada. Kita akan membangun rumah tangga. Sebuah keluarga. Sebuah surga,” saya terus membujuknya.

“Aku dilahirkan bukan cuma untuk beranak-pinak. Ada hal yang lebih besar yang harus aku lakukan,” Awan kembali menampik.

“Jadi saya ditinggal sendirian sementara kamu berbahagia di surga?”

“Tidak! Tidak! Aku doakan kamu juga akan sampai di surga. Tapi tidak dengan menempuh jalan yang sama denganku. Jalan ini terlalu berat. Teramat berat untukmu.”

Saya kaku tak bicara. Awan juga diam mematung.

“Baiklah!” Akhirnya saya cukup teguh untuk membuat keputusan.

“Baiklah saya mengerti. Saya mengerti bahwa saya tidak akan pernah mengerti dengan surga yang kamu maksudkan.”

Semakin dia menolak, semakin kejam cinta memaksa saya mengejarnya. Bukan cinta namanya kalau tidak gila. Dan cinta telah menghasut saya melakukan hal yang tidak sepatutnya.

Suatu hari saya masuk ke kamar kostnya diam-diam. Sebagai pemilik kontrakan saya memiliki duplikat kunci kamarnya. Saya ingin lebih tahu tentang dirinya. Dan yang saya temukan membuat gila. Buku, catatan harian, dan beberapa benda. Dan semuanya mengarah pada satu hal. Dia merakit bom.

Bukan cinta namanya kalau tidak gila. Bukan melaporkannya ke pihak berwajib, saya malah berniat menyadarkannya. Membawanya kembali dari angan-angan surganya. Membawanya kembali dari fatamorgana. Saya akan tunjukkan bahwa yang ia yakini selama ini, tidak lain hanyalah sebuah kesalahan berpikir. Fatamorgana pikiran. Fatamorgana keyakinan.

Setiap kali dia pergi saya diam-diam masuk ke kamarnya. Dengan kamera saya scan semua buku dan catatannya. Saya harus mempelajari apa yang ada di kepalanya tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak boleh ada jejak.

Siang-malam saya pelajari dengan suntuk buku-buku dan catatannya. Saya harus menemukan celah untuk membawanya kembali, kembali ke dunia kesadaran. Saya juga sempatkan diri untuk ngobrol dengannya. Saya ingin menjajaki secara langsung pandangan-pandangannya. Dan memang dia seorang yang punya pendirian. Setiap kali saya mengajukan suatu klausul, dia selalu punya tanggapan. Dan setiap kali ia berikan tanggapannya saya timpali juga dengan tanggapan menurut Si A, menurut Si B. Sehingga saya tidak terkesan sedang mendebatnya namun seperti murid yang selalu timbul pertanyaan karena habis membaca buku Si A, Si B, Si C.

Untuk mencabut sebuah tanaman sampai ke akar-akarnya supaya dikemudian hari ia tidak tumbuh kembali, saya harus mengeruk tanah di sekitarnya. Sehingga keseluruhan akar akan dapat dicabut. Saya harus melakukannya perlahan. Ini sebuah kerja kemanusiaan. Lebih lagi ini ditenagai oleh kekuatan cinta. Dan saya akan menarik Awan dari isapan lumpur kesesatan. Akan saya bawa ia ke surga yang sebenarnya.

Beberapa hari ini ia banyak berdiam diri di kamar. Sulit untuk menjangkaunya. Mempelajari perkembangannya. Saya menghadiahi beberapa buku, tas dan makanan. Dia seperti anak kecil yang menerima dengan malu-malu. Selang beberapa hari saya tanyakan pendapatnya tentang beberapa buku yang saya berikan. Ternyata ia belum membaca satu pun. Belum sempat katanya. Dan tahulah saya sesuatu akan segera terjadi. Sudah sedemikian dekatkah waktunya. Sedang saya masih berusaha mengeruk tanah. Belum waktunya membedol tanaman keyakinan itu.

Saya tidak punya pilihan lain. Akhirnya saya luapkan pula bantahan terhadap keyakinannya. Ia sedikit goyah. Saya rasai beberapa akar tercerabut dari tanah persembunyiannya. Tapi setelahnya reda, karena pokok akarnya masih terbenam dalam. Kuat mencengkeram tanah perlindungannya. Dan kerja saya, harapan saya, usai. Usai.

Dini hari kulihat ia keluar hendak bepergian dengan menggendong tas ransel hadiah dari saya. Ia melihat saya berdiri di beranda rumah dari jarak 30-an meter. Menghampiri saya dan berpamitan. Minta diri dan minta maaf. Ia doakan: saya sampai juga di surga seperti juga dirinya akan segera sampai. Dan saya cemas setengah mati. Harusnya sejak awal saya laporkan saja ia. Tapi sudah terlanjur. Dalam kebingungan saya katakan. “Boleh saya minta tolong untuk membelikan saya obat di apotek? Dini hari begini apotek yang buka cukup jauh jaraknya. Dini hari begini tidak berani saya pergi sendiri.”

Ia mengangguk dan menaruh tasnya kembali ke kamar kost. Lalu pergi membelikan saya obat. Sementara itu saya menukar tasnya. Dengan tas lain yang sama persis rupa dan beratnya. Semalam suntuk saya menimang-nimang tas itu. Menimang-nimang cinta saya. Usai subuh saya taruh tas itu ke dalam kamar kostnya.

***

“Sebuah ledakan besar menghancurkan beberapa kamar kost. Sayalah pemilik rumah kost. Seluruhnya ada 18 pintu atau 18 kamar, 5 kamar hancur parah karena ledakan itu, 4 kamar lainnya retak pada dindingnya. Beberapa tiang dan penyokong atap, kurasa sudah tidak dalam posisi sempurna. Kamar lainnya baik-baik saja karena berada dalam bangunan yang terpisah dengan sumber ledakan.”

Hanya itu yang saya kabarkan pada polisi, media dan semua orang. Entah ke mana Awan sekarang pergi? Apakah surga yang ia tuju masih sama? Surga adalah apa? ***

 

Achmad Taufik Budi Kusumah, kelahiran Klaten, Agustus 1987. Guru SDS Pesona Astra. Kotawaringin Barat ini menulis puisi, cerpen, esai, cerita anak dan novel. Antologi puisi tunggalnya “Hall” dan “Cinta & Konyol”. Beberapa cerpennya dimuat di media cetak. Domisili di Klaten.

Advertisements