Cerpen Firga Yoeda Roebiyanto (Pikiran Rakyat, 13 Mei 2018)

Berkelit ilustrasi Ismail Kusmayadi - Pikiran Rakyat.jpg
Berkelit ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat

SETELAH selesai mengerjakan salat Zuhur, kuletakkan sajadah ke dalam lemari. Begitu juga dengan peciku. Entah mengapa tangan kananku tak sengaja memegang saku celana di pantatku, seperti ada yang menggajal, lalu tanganku merogohnya dengan cepat Dan jariku menjepit selembar uang seribu rupiah.

ADUHAI malangnya nasibku.

Di tengah merekahnya senyum para karyawan dan teman temanku yang menikmati tunjangan hari raya di luar sana, yang mungkin saja saat ini sedang berbelanja, membeli segala yang mereka suka, atau juga sedang menggandeng tangan kekasihnya, istrinya dan anak-anaknya, dan membelikan orang yang disayanginya sesuatu agar mereka bahagia.

Di belahan bumi yang lain, aku dengan kemalanganku, aku dan ratapku, aku dan penyesalanku, aku dan ego bodohku.

Meratapku dalam sendiri di persembunyian yang sunyi, aku menghindar dari pergaulan, aku merasa lemah, aku merasa kalah, aku tak berdaya, tak ada daya dan upaya. Aku seperti diasingkan oleh pilihanku sendiri.

Yaa Tuhan,

Sungguh ada sebuah penyesalan ketika memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan itu. Perusahaan yang sudah menghidupi aku, istri dan anakku selama tiga tahun terakhir.

Karena hanya merasa terinjak, sehingga ego bergejolak. Waktuku terasa terjajah, pekerjaan membuatku sulit beribadah. Dan aku merasa tak kuasa, membuat aku bersikeras untuk keluar di awal puasa.

Dan sampai saat ini belum satu pun ada penggilan kerja, hari pun semakin mendekati hari raya, malang juga nasibmu istriku, malang pula nasibmu anakku.

Baru tiga tahun umurnya, namun harus menanggung malu ketika nanti teman-temannya berhari raya dengan baju baru, mungkin kali ini anakku hanya bisa menyaksikan teman-temannya bersuka cita dengan baju baru dan uang sakunya.

Mungkin dalam hati anakku berkata, “Aduhai eloknya baju temanku, andai kiranya ayah belikanku walau satu.”

Hati sekuat baja pun akan hancur ketika melihat orang yang disayanginya dan di bawah tanggungannya, hanya mendongak kepala melihat orang lain menari-nari di panggung hari kemenangan.

Nak,

Kubisikan kata perkata di telingamu semoga kau tak putus asa. Masih ada lima hari lagi untuk kita berdoa, dan semoga Tuhan mengubah segalanya.

Wajah anakku berubah, kembali muncul harap, meskipun aku tahu, bisa saja nanti harapan hanya tinggal harap.

Istriku yang sedari tadi menangis melihat aku menangis, sekarang dia seka air matanya. Tampak senyum kembali di bibirnya.

Kasihan dia, sudah beberapa kali istriku ditanya anakku. “Ma, kapan adek di belikan baju baru.”

Istriku tak tahu jawabnya, suaminya saja belum mendapat kerja.

Yaa Tuhan,

Malangnya nasib keluargaku. Hampir saja aku putus asa dan ingin mengakhiri hidup, agar aku tidak lagi menyaksikan wajah anak dan istriku menangis.

Tapi sungguh semakin malang nasib mereka, semakin bertambah lagi bebannya, apabila aku tak ada dengan siapa mereka berlindung dari kejahatan manusia di kota.

Kubuka jok motorku untuk melihat apakah cukup bahan bakarnya, agar bisa kembali menelusuri jengkal demi jengkal aspal.

Dan kurasa satu setengah liter cukup untuk berkeliling mencari pekerjaan sebagai penyambung hidup.

Beberapa toko dan restoran sudah kusinggahi, namun tak satu orang pun tenaga kerja yang dicari, mungkin habis lebaran katanya, baru nanti perusahaan banyak menerima.

“Yaa Rabb,

Untuk kesekian kali nama-Mu kusebut di tengah keluhku. Apakah kiranya Kau marah, karena kusebut nama-Mu hanya saat kuperlu.

Tolonglah aku wahai Tuhanku.”

Kembali kumenelurusi jalan, dan berhenti di depan sebuah toko baju anak yang sedang ramai pembelinya.

“Beruntungnya para pembeli ini, mampu membelikan baju anaknya untuk lebaran nanti,” ucapku dalam hati.

Dan kulihat tampak kewalahan sang penjual, melayani pembeli yang datang berbondong-bondong, apakah harganya murah pikirku, sampai orang banyak membeli di toko itu.

Ingin juga aku melihat-lihat; dan kudekati tokonya dan motorku kuparkirkan di bawah pohon seberang jalan. Tubuhku terdesak-desak orang yang sedang memilih-milih baju di sana, sesekali aku pegang kain baju bermotifkan kartun, mungkin ukurannya cocok dengan tubuh anakku. Kurasakan kainnya pun dingin dan halus.

Tak berani kumenanyakan harganya, karena hanya seribu rupiah uang yang aku punya.

Terlihat penjual tampak sibuk begitupun dengan pembeli yang sedang memilah dan memilih, ada niatan hati untuk mengambil kesempatan ini. Membawa pergi satu baju ini secara diam-diam agar anakku bisa merayakan hari raya dengan baju baru seperti teman-temannya.

Tapi sungguh bertambah hina diriku apabila orang lain tahu. Mungkin tak hanya aku, tapi yang menanggung malu istri dan juga anakku. Bagaimana kiranya nanti aku dipenjara, apa bedanya dengan keadaan ketika aku mengakhiri hidupku. Pasti bertambah deras kucuran airmata istriku, dan pasti juga anakku yang akan merindukan ayahnya bila saja aku tak lagi pulang. Dengan cepat Ku urungkan niat hinaku itu. Berharap semoga Tuhan memberikan jalan dengan cara yang lain.

Kutinggalkan toko baju itu, dan melanjutkan perjalanan tanpa arahku. Panas terik matahari membakar kulitku dan menderaskan kucur keringatku.

Kembali aku berhenti di bawah pohon yang berdekatan dengan sebuah bengkel yang sepi, kulihat yang menjaga bengkel sedang menonton berita di televisi.

Aku pun ikut menonton dari kejauhan di bawah pohon untuk mengistirahatkan diri sejenak. Sesekali aku mengibaskan kerah baju dan menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang sudah mulai mengering.

Pandanganku mengarah ke layar televisi, namun pikiranku melayang ke mana-mana, selalu memikirkan bagaimana aku dapat mendapatkan pekerjaan, setidaknya ada sebuah harapan untuk membahagiakan keluargaku.

Aku menyegerakan untuk pergi menjelajah panas aspal jalanan, karena ini bukan waktu yang tepat untuk bersantai menonton televisi, sedangkan istri dan anakku sedang berharap penuh dengan langkahku di siang ini.

Aku pun tak pernah tau ke mana lagi langkah ini tertuju, namun setidaknya aku harus melangkahkan kaki terus-menerus, dengan iringan doa yang terus kulantunkan di dalam hati.

Yaa Allah bahagiakanlah hidup keluargaku secepatnya, karena aku tak ingin melihat mereka menangis atas segala kebodohanku, yang tak pernah bijak dalam mengambil keputusan.

Tak terasa sudah satu kilometer jauh motorku menelusur, dan beberapa perkantoran sudah kusinggahi, namun tak satu pun yang membutuhkan tenagaku.

Setelah beberapa jam kemudian, tanganku mengetuk pintu rumah, aku disambut istri dan anakku. Terlukis senyum di wajah mereka ketika mereka melihat bungkusan yang sedang aku bawa.

Putraku nampak senang sekali dengan pakaian dan beberapa mainan yang aku belikan, begitupun dengan istriku dengan busana muslim barunya.

“Ayah dapat uang di mana?” tanya istriku.

Lalu kudekatkan wajahku di telinga istriku dan tanganku menggandeng pundaknya, dan tanganku yang lain memberikan setumpuk uang padanya.

“Aku menjual motorku. Maafkan aku atas kesalahan dan kekeliruan dalam mengambil keputusan. Maafkan aku!!!”

Kupeluk istriku dengan erat, dan tak terasa air mata kami jatuh bersamaan dengan cepat. ***

Advertisements