Cerpen Ghufron Muda (Suara Merdeka, 13 Mei 2018)

Kecoak ilustrasi Suara Merdeka
Kecoak ilustrasi Suara Merdeka

Anak perempuan terkecil saya selalu telanjang; tubuhnya harus selalu dibasahi air hangat dan diolesi minyak. Dunianya sebatas di kamar, depan TV, dan rumah bagian belakang jika hendak berak atau kencing. Sudah usia sekolah, tapi belum sekolah karena kulitnya gatal-gatal dan kurus sekali. Sakit. Meski doyan makan, otak encer, karena gatal-gatal dan kurus, dia tak bisa jalan normal. Dia berjalan dengan jongkok.

Dia sangat takut pada kecoak. Tahu ada kecoak, apalagi di dekatnya, dia langsung berteriak. Padahal bila di depan TV di bangku panjang, kecoak bisa saja keluar dari sela-sela bangku. Dia menjerit. Saat malam akan tidur, kecoak datang entah dari mana ke kamar. Dia takut bukan main.

“Ayah, ada kecoak. Tangkap!”

Saya tangkap, saya buang lewat lubang ventilasi. Kadang sekitar pukul 22.00 banyak kecoak beterbangan dari tumpukan dan sela-sela pakaian, dari dinding yang ambrol. Wur, wur! Suara bergemuruh. Banyak sekali. Terbang jauh, menyambar-nyambar kepala anak saya. Berseliweran, kadang hinggap. Wah, anak saya menjerit keras sekali.

Kecoak di rumah saya banyak sekali. Di tumpukan dan sela-sela pakaian, kompor, wajan, panci, piring, alat rumah tangga yang belum di cuci di dapur. Mereka mencari makan dari sisa masakan.

Di dinding belakang banyak sekali kecoak. Saya paling suka menangkap, memasukkan ke botol air mineral bekas yang saya beri lubang. Sekali tangkap suatu malam bisa 20 sampai 30 ekor.

Tidak saya buang atau bunuh. Saya punya empat ekor ayam di rumah mertua. Kecoak saya berikan pada ayam. Saat kecoak saya lepas, empat ekor ayam berebutan. Ayam yang mendapatkan langsung lari, takut yang lain merebut. Saya berpura-pura menendang, tapi mereka tak menggubris. Pokoknya dapat kecoak. Lahap sekali.

Bagi ayam, kecoak makanan istimewa, paling enak, menyehatkan. Ayam cepat besar dan lincah. Celaka, ada tetangga menginginkan. Satu per satu ayam itu hilang. Tinggal seekor, saya potong untuk makan, sebelum semua hilang.

Saya bingung bagaimana mengurangi atau bahkan menghilangkan kecoak sebanyak itu. Saya beli tiga ekor ayam kampung. Saya pelihara di rumah. Saya beri makan kecoak. Ternyata ayam kampung tak tahu aturan. Saya lepas di dapur, naik ke piring, panci dengan sisa nasi, wajan, bahkan masuk ke kamar tidur, berak. Ke ruang tengah, naik ke TV, ke ruang tamu, naik ke meja dan kursi, bahkan naik ke kepala tamu. Berak. Kurang ajar.

Akhirnya saya lepas semua. Keluar rumah, sore-sore, seekor ayam pulang dengan kaki pincang, jalan tidak benar. Jelas diserampang alias dilempar orang dengan sapu atau bambu gara-gara berak di halaman berkeramik tetangga atau mencuri makanan di rumah tetangga. Ayam lapar karena hanya saya beri makan kecoak. Tetangga marah, melukai ayam kesayangan saya.

“Ayam siapa sih berak di halaman keramik saya yang sudah bersih dan mengilat. Dulu-dulu tidak ada ayam. Kini ada ayam lagi. Setan!”

Globrak! Dia melemparkan sapu, kena kaki ayam. Keok, keokk! Ayam berlari.

Saya memutuskan memotong semua. Seekor setiap hari untuk lauk pauk, daripada menimbulkan masalah. Namun anak-anak tak mau makan. “Ayam kecoak!” kata mereka. Di rumah saya, kecoak makin banyak. Saya bingung cara memberantas.

Di tempat gelap pada malam sepi, saat saya hendak makan, mengambil sambal manis sisa kemarin, kecoak merubung baskom tempat sambal. Kecoak merubung gula aren di atas lemari; istri lupa membungkus kembali. Kecoak makan atau melewati nasi di ceting dan lauk pauk. Makanan atau sayur jadi berbau pengak, tidak enak. Bekas kecoak.

Jika tidak dibunuh atau dimakan laba-laba, kecoak tidak bisa mati, meski tidak makan berhari-hari. Kecoak tidak seperti jangkrik bisa untuk mainan, bisa diadu atau bersuara bagus pada malam hari. Tidak berbau, yang jantan berwarna bagus; jalibang, jaliteng, atau gulageseng. Kecoak, apa baiknya? Tidak bermanfaat. Hanya merepotkan.

***

Saya bekerja sebagai pelapor saat kapal perikanan datang atau berangkat. Kini keadaan sepi. Kapal tak bisa berangkat karena banyak surat izin dari Jakarta belum turun. Apalagi banyak kapal melepaskan diri dari saya, beralih ke biro jasa lain. Pun tak sedikit kapal datang tidak ke pelabuhan di kota saya, tetapi ke Juwana.

Keadaan itu membuat penghasilan saya sangat sedikit. Biasanya saya bisa minta ikan layang, banyar, bentong, atau tongkol ke kapal yang saya laporkan datang. Kini tak bisa, karena saya tidak melaporkan. Karena penghasilan sedikit, pembeli lauk-pauk terbatas. Tidak harus ikan, apalagi daging. Bisa telur atau ikan asin. Sekali-sekali ayam pedaging. Lama-kelamaan dana lauk habis. Saya bingung.

Ah! Bukankah banyak kecoak? Bisa untuk lauk, daripada hanya makan nasi putih dengan garam atau kecap.

Malam-malam saya tangkap kecoak. Saya tampung di blek roti bekas. Banyak sekali. Saya lepaskan sayap dan kakinya satu per satu. Hewan itu masih hidup, tapi tak bisa berlari. Saya masukkan ke wajan berminyak. Saya goreng dengan tambahan kecap dan sedikit garam.

Ada satu piring. Dingin, saya cicipi. Seperti udang. Enak. Anak terkecil saya minta makan. Saya beri lauk kecoak bercampur mi goreng.

“Lo seperti udang, Bu? Minta lagi!” pinta dia pada sang ibu yang menyuapi.

Begitulah tak jarang saya kembali menangkap kecoak jika tak punya uang. Untuk lauk lagi karena anak-anak ketagihan. Seperti ikan, saat mentah berbau amis, tapi setelah matang enak. Kini, sayap dan kaki tak lagi saya lepas. Langsung saya goreng.

Namun saya bingung. Kini, di rumah saya tak ada kecoak lagi. Habis. Saya tak berani mencari di rumah tetangga. Apalagi kalau mereka tahu kecoak itu untuk lauk. Mereka pasti kaget dan menganggap saya macam-macam.

***

Menjelang Idul Fitri, saya mendapat THR dari para pemilik kapal. Ada banyak uang untuk beli pakaian anak-anak, jajan untuk jamuan tamu bersilaturahmi, mengecat rumah. Saya membeli ketupat dan ayam. Setahun sekali membahagiakan anak-anak, biar merasakan makan enak.

Ketika sampai di pasar ayam di turunan jembatan Kali Loji, kami kaget bukan main. Semua ayam, terutama ayam jantan, mengejar kami. Hendak mengeroyok kami.

“Ayah, takut! Mau dipatok ayam!” jerit anak terkecil saya.

Langsung saya bopong.

“Takut, Yah! Takut sekali!” jerit sang kakak.

Saya tarik! Lari menghindar dari kejaran ayam yang tak bisa saya cegah, meski sudah saya tendang. Terus memburu.

“Jangan di sini, Bu! Beli di Pasar Grogolan saja!” saran saya.

Di Pasar Ayam Grogolan, semua ayam juga mengejar kami, hendak mematok kami. Ketika saya hendak menendang, ayam-ayam itu tetap maju. Tak takut.

“Tinggalkan saja. Jangan di sini!” saran istri saya. “Ke Pasar Hewan Landungsari saja!”

Di pasar itu pun, ayam-ayam mengejar kami. Hendak mematok. Tak bisa kami hindari, tak bisa kami cegah.

“…oo…, kita dianggap kecoak ya, Bu?!”

Saya bingung. (44)

 

Pekalongan, 2-5-2018

Ghufron Muda, lahir, besar, dan tinggal di Pekalongan. Ia pernah kuliah di Fakultas Sastra (kini Ilmu Budaya) Undip. Penasihat Forum Lingkar Pena (FLP) Pekalongan dan ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Pekalongan ini menulis cerpen, puisi, artikel, dan novel.

Advertisements