Cerpen AM Lilik Agung (Kedaulatan Rakyat, 13 Mei 2018)

Foto Sahabat ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Foto Sahabat ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

TELEPON dari Ibu awal bulan Mei ini hanya pendek, “Thom, peringatan ulang tahun perkawinan Ibu sama Bapakmu ke empat puluh lima tahun, tolong kumpulkan lagi kawan-kawanmu. Ibu kangen sama mereka.” Pesan pendek yang kemudian bagiku menjadi perintah. Sebagai eksekutif yang bekerja di Sydney, kulakoni penerbangan panjang Sydney-Bali-Yogyakarta.

Perjalanan panjang menjadi tak relevan ketika aku memasuki halaman rumah masa kecil. Rumah yang tetap terjaga marwahnya karena kecintaan Ibu terhadap rumah beserta isinya. Rumah bergaya Jawa dengan jendela lebar yang dibiarkan terbuka. Ruang tamu yang sering riuh rendah dengan kehadiran kawan-kawanku. Bapak memang luar biasa. Membiarkan aktivitas-aktivis mahasiswa berhimpun di rumah ini. Ibu mendukung kami dengan cara berbeda; logistik. Begitu kawan-kawan datang, langsung Ibu dan Mbak Paryem suntuk di dapur.

Rabu bertanggal 31 Desember 1997 ketika kami sejenak melupakan demonstrasi melawan rezim Orde Baru. Jam menuju angka dua belas malam, penanda tahun baru. Membawa tustel, Bapak masuk ke ruang tamu. Lalu memberi aba-aba, memotret kami. Foto itu dipajang di ruang keluarga. Hari ini, dua puluh satu tahun setelah peristiwa Bapak memotret kami. Aku berdiri memandang seksama foto ini. Foto delapan kawan akrabku yang kehadirannya malam ini dirindukan Ibu.

Bergaya bak Eddie Van Halen, Santoso memegang sapu layaknya memainkan gitar. Posisi dia berada paling ujung kanan. Tepat di dekat Santoso, wajah melankoli Teuku Ramli tampak paling serius dibanding teman-teman lainnya. Dalam keseharian mahasiswa Fakultas Teknik UGM ini memang tiada banyak cakap. Ramli bisa berhari-hari suntuk menyelesaikan lay out majalah bawah tanah sebelum diserahkan ke penerbit.

Jongkok di depan Ramli berdiri sosok yang membuat gerakan mahasiswa bertambah berwarna. Dia, Sinta mahasiswi Fakultas Psikologi UGM. Wajah ayunya dengan rambut yang dibiarkan memanjang, membuat demontrasi di siang hari bolong menjadi terasa sejuk.

Jika Sinta berpose jongkok, Ucok Tampubolon merebahkan tubuhnya dengan tangan menahan kepalanya. Anak Batak ini paling punya nyali bila berhadapan dengan aparat. Hantaman sepatu lars, gebukan rotan, semprotan gas air mata, sudah rutin menerjang dirinya. Ada di belakang Ucok si pemikir brilian; Nyoman Adi. Semua teori sosial, politik dan ekonomi dikuasai Nyoman. Tepat di samping Nyoman, duduk di atas kursi gadis berambut pendek; Tiana Liem. Pemilik mata sipit dengan penampilan bersahaja yang membuat Ucok mati gaya. Mahasiswi Fakultas Ekonomi Atmajaya yang berasal dari Sanggau Kalimantan Barat ini memiliki kepribadian ganda; lembut ketika bergaul dengan berbagai khalayak. Berubah garang bila berorasi di atas panggung demonstrasi.

Berdiri takzim di samping Tiana dan berpenampilan rapi, kemeja motif biru yang dimasukkan dalam celana katun yang juga berwarna biru. Ia, Mahfud Faisal mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga yang lebih mirip eksekutif muda ketimbang pengkhotbah agama. Kemampuan luar biasa Mahfud adalah mengumpulkan massa untuk ikut demonstrasi.

Berseberangan dengan Mahfud yang selalu rapi, Theo Manuhutu berpenampilan berantakan. Rambut gondrong nyaris tanpa pernah disisir. Berpadu dengan celana jins robek dan kaos bertulis almamaternya; IKIP Yogyakarta. Dua sosok kontras dan berdiri berdampingan ini menjadikan foto yang kupandangi tampak memiliki estetika tinggi. Aku sendiri duduk bersila tepat paling ujung sebelah kiri di antara deretan kawan-kawanku.

Begitu Ibu selesai menelepon diriku awal Mei lalu, langsung kuhubungi delapan kawan akrabku itu. Santoso paling bersemangat. Sebagai anggota dewan dan salah satu ketua komisi DPR, ia akan langsung terbang dari Jakarta.

Sejarah memang tidak bisa dilipat, hanya dapat dijalani. Ucok ternyata tidak berpasangan dengan Tiana Liem yang ditaksirnya. Justru Theo Manuhutu yang menyalip di tikungan dan menyunting Tiana. Mereka membangun keluarga di Sanggau, kota kelahiran Tiana. Ucok sendiri pulang kampung ke Medan. Menjadi dosen setelah menyelesaikan S2 dan S3 di University London, Inggris.

Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Aku bergegas menyambut sang tamu. Pintu mobil di buka dan keluar dua orang sahabat lamaku; Nyoman dan Mahfud. Dua sahabat yang tinggal di Surabaya. Tanganku terentang bergantian memeluk Mahfud dan Nyoman.

“Kau awet muda, kawan!” Nyoman memandang takzim wajahku.

Bertiga kami masuk ke ruang tamu. Baru seperempat jam kami bercengkerama, muncul sosok yang membuat demonstrasi menjadi berwarna; Sinta. Aku terpukau. Belasan tahun tiada berjumpa Sinta masih tampak seperti dulu; ayu. Bergegas aku bangkit dari kursi. Menghambur langsung memeluk Sinta. “Kau tetap ayu, Sinta. Sungguh tetap mempesona.”

“Ada kabar dari Ramli nun jauh dari Vancouver sana. Ia tidak bisa hadir malam ini. Anak keduanya baru lahir dua bulan lalu. Telat kawin dia. Terlalu serius belajar,” ucap Sinta sedikit tersenyum menyebut kawannya yang sekarang hidup di Vancouver Kanada sebagai peneliti utama kampusnya.

“Kau sendiri? Anakmu?” Nyoman langsung menyahut.

“Dua, Bli Nyoman. Yang besar kelas satu SMA, adiknya dua SMP. Aku sendiri kelar kuliah, kerja tiga tahun. Langsung nikah. Hidup memang indah.”

Langkah tegap dengan suara lantang membuyarkan obrolan kami. Ucok Tampubolon, suara baritonnya langsung memenuhi seisi rumah.

“Mana, Tiana? Mana pula Theo yang menyalip di tikungan?!” Belum sempat terjawab pertanyaan Ucok, pasangan Tiana-Theo muncul dari balik pintu depan rumah.

“Theo! Kau pecundang tiada punya solidaritas. Pengecut, kau!” Ucok menghambur. Memeluk erat Theo. Pelukan antar sahabat yang begitu hangat.

“Jodoh ditangan Tuhan, kawan!” Theo berujar.

Mereka berdua tertawa bersamaan. Itulah kawan-kawanku. Mantan aktivis mahasiswa yang melakoni hidup dengan berbagai profesi. Terpencar di empat penjuru mata angin. Sayang Ramli yang berkarya di Vancouver tidak bisa hadir malam ini. Empat jam lalu Santoso berkabar kalau dia baru sampai Yogya paling cepat mendarat jam tujuh malam.

Kami bersenda gurau mengenang masa lalu. Tentu dengan cerita paling menawan; perjalanan cinta Tiana yang berujung dengan pernikahan bersama Theo, bukan dengan Ucok.

Senda gurau kami sedikit buyar ketika Mahfud berseru sehabis membaca info dari gawainya, “Ada OTT dari KPK. Nyalain tivi, Thom.” Segera kuraih remote televisi. Kami memelototi televisi. Berita penangkapan langsung oleh KPK di Bandara Soekarno Hatta. Kami tercekat. Tak mampu berucap. Riuh rendah yang tercipta di dalam rumah, tiba-tiba menjadi sunyi. Sepi.

Sang penyiar berita mewartakan. Telah terjadi OTT oleh KPK kepada salah satu ketua komisi DPR. Si anggota DPR yang menerima suap milaran rupiah untuk proyek infrastruktur di Sumatera. Dia dalam perjalanan menuju Yogya. Lalu dilayar terpampang wajah si tersangka; Santoso! Santoso yang akan datang ke rumahku menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan orang tuaku. q-e

 

*) AM Lilik Agung, Taman Paris I no 232, Lippo Karawaci, Tangerang.

Advertisements