Cerpen Irepia Refa Dona (Lampung Post, 13 Mei 2018)

Di Balik Rencana Tuhan ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Di Balik Rencana Tuhan ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

Kau pikir menjadi guru itu mudah. Memarahi anak yang salah, kau bisa dipenjara. Nilai ujian anak yang rendah, kau yang disalahkan. Anaknya menjadi sang juara, bukan kau yang dipuja, tapi orang tuanya yang ditanya. Anak siapa dia? Beruntung sekali orang tuanya.

Begitu yang dirasakan Anesya, seorang guru yang sangat jenius dan profesional. Ilmunya tidak perlu lagi diuji apalagi dipertanyakan. Ia tidak pernah membuka buku saat mengajar. Caranya memasuki kelas dengan tiga spidol di tangan membuat guru lain yang harus menenteng beberapa buku menjadi ciut seketika.

Berbagai model soal yang dihadapkan padanya mampu ia selesaikan dengan cepat dan sempurna. Tapi di tengah kelebihan itu beberapa orang di kampungnya sering bertanya, kenapa Anesya tidak menjadi PNS? Bukankah tujuan setiap guru adalah menjadi PNS? Hingga suatu ketika pertanyaan itu hilang bagai ditelan bumi. Saat orang-orang tahu kalau gaji PNS belum apa-apanya dibandingkan dengan gaji Anesya yang mengajar di sebuah sekolah swasta.

Yupiter adalah yayasan tempat Anesya mengajar. Sebenarnya yayasan itu terbagi tiga. Nama besar yayasan itu Planet Ilmu. Hanya saja ada perbedaan di yayasan tersebut. Anak-anak yang memiliki kemampuan belajar bagus akan mereka letakkan di kelas Yupiter. Anak-anak yang memiliki kemampuan sedang akan mereka letakkan di kelas Neptunus. Dan anak-anak yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata akan mereka letakkan di kelas Mars.

Anesya adalah salah seorang guru Matematika yang dipercayakan untuk mengajar di kelas Yupiter. Pemilik yayasan merasa puas dengan kinerja Anesya. Berbagai pujian dari orang tua siswa membanjiri telinga pemilik yayasan. Mereka berlomba-lomba membayar lebih agar Anesya mau menjadi guru anaknya. Namun yang namanya hidup tidak akan selalu manis. Kau tidak akan merasakan manisnya tebu atau mungkin permen karet jika kau terus mengunyahya. Begitu akhirnya nasib buruk yang dialami Anesya.

Pada siang yang malang itu. Saat ia dengan percaya diri berdiri di depan mengajar, seorang siswa menanyakan sebuah soal. Soal itu tidaklah sesulit soal yang biasa ia kerjakan. Bahkan ia telah mengerjakan beberapa soal yang sejenis tapi dengan angka yang berbeda. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja semua rumus yang selama ini tersimpan di kepalanya mengembang membentuk sayap. Kemudian terasa seperti sayap itu terbang entah ke mana. Meninggalkan Anesya yang kebingungan.

Anesya mencoba berulang kali menarik sayap itu kembali. Tangannya terlihat gemetar saat mencoba menorehkan spidol di papan tulis. Tidak ada yang bisa ia tulis. Tidak satu pun rumus-rumus itu tinggal di otaknya. Ia memicingkan matanya. Barangkali berpikir dengan cara seperti itu akan membuatnya fokus. Lama ia termangu. Beberapa siswa menatapnya heran. Tidak biasanya Anesya berpikir lama untuk menjawab sebuah soal.

Akhirnya kelas ribut. Beberapa ucapan dari siswa memasuki telinga Anesya. Ada yang mengkhawatirkannya dengan ucapan ada apa dengan Ibu Anesya. Ada juga yang berbisik-bisik tidak jelas. Tapi yang membuat Anesya kehilangan percaya dirinya adalah ucapan dari seorang siswa, “Bu Anesya tidak bisa menjawab soal itu.”

Kabar tentang Anesya yang tidak bisa menjawab soal dari siswa menyebar dengan cepat. Beberapa orang tua siswa mulai gencar. Mereka tidak mau anaknya diajar oleh guru yang bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan siswanya.

Pemilik yayasan mulai didatangi oleh orang tua siswa. Tentu saja itu kabar buruk bagi pemilik yayasan. Bagi mereka, kepuasan orang tua siswa adalah segalanya. Dan apa pun kehendak orang tua siswa, tentu pemilik yayasan harus menurutinya. Karena bagi mereka, orang tua siswa adalah raja. Meski ini terdengar sedikit tidak adil bagi Anesya.

Manusia wajar melakukan kesalahan. Guru bukanlah Tuhan yang maha sempurna. Guru hanya manusia biasa. Tapi pikiran manusia tidak semudah itu. Selagi bisa berpikiran rumit, manusia akan berpikiran rumit. Hingga akhirnya posisi Anesya sebagai pengajar di kelas Yupiter pun dihentikan. Sekarang ia hanya akan mengajar di kelas Mars.

Beberapa guru yang mendengar kabar itu ada yang prihatin ada juga yang senang. Bagaimana mungkin dengan satu kesalahan seseorang bisa dijatuhkan sebegitu jauh. Bahkan ada banyak guru yang melakukan kesalahan. Mungkin saja Anesya berada di nasib yang malang.

“Setidaknya itu bagus bagi Anesya. Dia juga harus merasakan bagaimana mengajar anak yang susah sekali mengerti,” ucap Naselia guru Kimia kelas Neptunus.

“Siapa pun bisa mengajar anak yang pintar. Tapi cobalah untuk mengajar anak-anak di kelas Mars, aku yakin Anesya akan menyerah menjadi seorang guru,” tambahnya lagi.

“Kalau aku jadi Anesya, mungkin aku akan berhenti mengajar di yayasan ini dan kembali mencari tempat baru. Orang-orang akan cepat menerimanya mengingat pengalaman mengajar dan betapa cerdasnya Anesya,” timpal Ladila.

“Aku yakin, dia tidak akan melakukan itu, butuh waktu untuk mencari pekerjaan baru. Mencari pekerjaan itu berarti kau menganggur beberapa hari. Menganggur itu berarti kau tidak akan mendapatkan gaji. Aku yakin Anesya akan memilih nasibnya mengajar di kelas Mars. Barangkali ia bisa berteman dengan Farhan, guru Agama. Supaya ia tahu banyak tentang agama,” sela Celine dengan penuh keyakinan.

“Tidak masalah bagi Anesya menganggur beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun pun tidak masalah. Bukankah gajinya selama ini sangatlah banyak? Aku yakin ia memiliki tabungan yang banyak.”

“Banyak hal yang kau tidak ketahui tentang Anesya. Wajar. Karena dia memang sangat tertutup. Kau tidak akan tahu isi sebuah kotak yang gelap saat kau benar-benar membukanya. Begitulah Anesya. Anesya itu seperti kotak gelap yang tidak seorang pun tahu tentangnya.”

Berbagai ucapan keluar tentang Anesya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Anesya. Ia hanya membiarkan ucapan-ucapan itu berlalu seperti angin. Bukankah selama ini ia juga tidak terpengaruh dengan pujian yang datang silih berganti padanya? Jadi merupakan hal yang wajar jika Anesya bersikap cuek terhadap ucapan yang jika didengar dengan seksama lebih terdengar sebagai hinaan ketimbang belas kasihan.

Tidak ada yang perlu diherankan. Anesya mengerti sekali dengan sifat manusia. Di saat ia terkenal, banyak orang yang mendekatinya. Mencoba untuk bermanis-manis di depannya. Tapi saat seperti ini, sudah dipastikan kalau mereka akan lari terbirit-birit. Jika kebetulan mereka bertemu, hal yang terbaik dilakukan orang adalah berpura-pura tidak melihatnya.

Anesya menghela napas dalam. Hari ini adalah hari terberat dan terpanjang dalam hidupnya. Matahari rasanya enggan sekali berganti dengan cahaya bulan. Barangkali matahari ingin mengintip kesedihannya lebih lama. Bulan bisa saja enggan untuk bertemu dengannya.

Ia meletakkan tasnya di meja yang berisi buku-buku. Memilih membaringkan badannya di atas kasur. Kasur terasa lebih tipis dari biasanya. Rasanya tidak nyaman sekali membaringkan tubuhnya di atas kasur itu. Beberapa kali ia mencoba mengganti posisi tidurnya. Matanya terpaksa ia picingkan, tapi pikirannya tetap tidak bisa ia kontrol untuk memikirkan banyak hal.

Besok adalah hari pertamanya berhenti menganjar di kelas Yupiter. Kelas kebanggaannya. Dan besok juga akan menjadi hari pertamanya mengajar di kelas Mars. Kelas yang selama ini tidak pernah ada dalam pikirannya.

“Hari-hari akan terasa lebih berat dari hari ini. Tuhan, kau pasti tahu. Aku tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau aku harus melanjutkan hidupku di Planet Ilmu. Banyak hal yang belum usai. Dan yang terpenting, hidup harus tetap berlanjut.

“Uhuk uhuk uhuk.”

Anesya bangun dari posisi berbaringnya. Suara batuk bapaknya seolah menjadi alarm. Tidak baik memikirkan banyak hal. Hidup akan terus berlanjut. Jalani saja dengan semangat dan kerja keras. Tuhan lebih tahu segalanya. Ucapan bapaknya kembali terngiang di telinga Anesya.

Ia berjalan menuju kamar bapaknya. Setidaknya di rumah tidak akan ia dengar orang-orang yang berbicara tentang dirinya. Tidak ada yang mau mendatangi rumahnya semenjak bapaknya sakit-sakitan. Mungkin orang-orang takut penyakit tersebut akan menular.

Hal itu juga baik untuk kondisi Anesya saat ini. Setidaknya, bapaknya juga tidak akan pernah tahu kalau ia tidak lagi mengajar di kelas Yupiter. Kelas yang memberikan gaji cukup besar untuk bisa membeli obat atas sakit yang diderita bapaknya.

Anesya duduk di samping dipan bapaknya. Tubuh yang dulunya sangat kuat itu kini terbaring lemah.

“Bapak mau Ane ambilkan air?” tanya Anesya sembari merapikan selimut bapaknya. Bapaknya hanya menjawab dengan gelengan. Anesya tersenyum. Selama ini memang bapaknya tidak banyak bicara. Biasanya ia hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan dan kadang dengan sebuah kedipan mata.

“Tidak baik memikirkan banyak hal. Hidup akan terus berlanjut. Jalani saja dengan semangat dan kerja keras. Tuhan lebih tahu segalanya,” ucap bapaknya pelan.

Ia rasakan sebuah tangan membelai kepalanya lembut. Anesya mengangkat kepalanya yang semula direbahkan di atas dipan bapaknya. Bapaknya tersenyum. Anesya pun ikut tersenyum. Sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengar ucapan yang penuh motivasi keluar dari mulut bapaknya.

Sudah lama sekali bapaknya tidak lagi bicara. Sekarang bapaknya bicara. Tidak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Air mata bahagia. Namun tepat saat rasa bahagia itu datang, bapaknya menutup mata untuk selamanya.

Air mata itu pun berganti dengan isak tangis. Kali ini Anesya benar-benar merasa menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan pada hidupnya.

Advertisements