Cerpen Dalasari Pera (Fajar, 13 Mei 2018)

BULU ilustrasi Fajar.jpg
BULU ilustrasi Fajar

NAMANYA Arief. Putra tunggal seorang anggota dewan. Dulu rumahnya tak pernah sepi. Orang sering berkunjung tanpa kenal waktu. Sekadar datang menonton satu-satunya televisi di kampung itu, membantu ibunya di dapur seraya melumat habis gosip, atau pun memang sengaja datang untuk menceritakan aib seseorang yang tak putus-putusnya. Itu dulu. Ketika sepi entah di mana tinggalnya. Tetapi sejak bapaknya menjadi orang  penting di kota dan pulang hanya sesekali, sepi telah pindah-mukim ke rumah itu. Semuanya tiba-tiba saja berbalik.

Sebenarnya ia sungguh-sungguh tak suka keadaan itu. Ia kehilangan banyak hal dari rumah kesepian itu. Tidak ada lagi riuh tetangga. Suara anak-anak yang rebutan siaran televisi. Bapaknyalah penyebab orang menjauh. Ia pun tak suka bapaknya. Sekarang tak pernah lagi memakai sehelai kain di tubuhnya. Setiap pulang ke rumah, entah sekali sebulan entah sekali seminggu, tubuh bapaknya hanya bertutupkan bulu. Menjijikkan. Tapi, dengan senang hati ia tersenyum. Memamerkan bulunya begitu pintu mobil mewahnya terbuka. Tanpa baju, tanpa celana. Hanya bulu. Tapi bukan bulu-bulu tubuh yang disebut siri’ oleh orang di kampung. Ia sering mendengar bapaknya menasihatinya, “Jika tak punya lagi bulu-bulu tubuh, maka tidak berhargalah kita hidup di dunia ini. Kita menjadi orang yang telanjang-hina.”

Tapi nyatanya, bapaknya lebih telanjang dari orang manapun. Bagaimana mungkin Arief bisa memahami petuah bapaknya itu.

Awalnya, ibunya tak suka perubahan itu. Berkali-kali memberontak tak ingin membukakan pintu rumah. Bahkan melempari bapaknya dengan benda-benda di kamarnya. Entah apa. Ia hanya mendengar suara-suara barang pecah. Sering terdengar ibunya menangis seraya meminta bapaknya mencukur bulu dan mau mengenakan pakaian. Ia tak pernah berani bertanya apalagi menyelidiki kamar orang tuanya. Hanya sekali waktu ia mencuri dengar ibunya berteriak bahwa ia tak akan mau lagi sekamar dengannya. Ia jijik pada suaminya. Sekaligus takut. Benar-benar makin buruk semenjak bapaknya berbulu.

Sayangnya hanya berlangsung sekejap. Ibunya luluh. Seperti perang yang tiba-tiba saja menemui akhirnya. Sebab bapaknya selalu membawa banyak kue dan lauk sehingga ibunya tak perlu memasak. Tak perlu bau keringat dan asap. Di lain waktu, dibawakannya  sepasang sendok dan garpu emas. Semakin cintalah ibunya itu. Tidak ada lagi barang pecah. Tidak ada lagi ancaman-ancaman aneh. Arief hanya geleng-geleng kepala ketika ia menanyakan alasan ibunya.

“Ibu ini tak kuat terus-terusan perang. Tidak enak didengar tetangga,” alasan ibunya.

Suatu ketika, ia tak sengaja melihat bahu ibunya. Sekilas. Tepat ketika menyelinap ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Hanya menggunakan kembem. Barangkali hendak mandi. Tapi bukan kembem, bahu, atau alasan masuk kamar mandi itu yang membuat ia tercengang. Melainkan bulu di bahu ibunya. Bulu yang sama yang ia pernah lihat di tubuh bapaknya. Ia ngeri. Apakah mungkin bulu bapak sudah menular ke tubuh ibu? Pikirnya ketika itu. Arief yang mestinya bijak berpikir tak bisa lagi menggunakan alat pikirnya.

Ibunya masih sering memakai baju sedang bapaknya tidak sama sekali. Ibunya menyembunyikan bulu tapi bapaknya tidak. Lama-kelamaan ibunya pun tidak lagi merasa malu tanpa pakaian keluar rumah. Karena ia tidak tahan selalu berada di dalam rumah. Sepi. Akhirnya ia keluar memamerkan bulu. Terlebih ketika lapar dan di rumah tak ada makanan. Bapak tak tentu lagi pulangnya.

“Ibu tak kuat, Rief. Kau tahu, berbulu itu bukan tabu lagi. Lalu mengapa ibu mesti menutupinya?”

Arief bingung, seperti tidak sedang berbicara dengan ibunya. Ia membayangkan, tubuh perempuan itu adalah separuh ular. Iblis. Separuhnya lagi adalah tubuh bapaknya. Iblis pula. Ia bingung sedang berbicara dengan siapa.

Awalnya, –seperti ibunya dulu tetangganya juga jijik. Mereka menutupkan pintu. Diam-diam mereka berbisik dan bergosip di balik pintu. Tentang bulu bapak dan ibunya.

Ibunya gigih mengetuk pintu tetangga. Meminta waktu mereka sebentar. Bercakap sekejap. Lalu akhirnya mereka terlibat acara makan bersama. Tak ada jijik. Tak ada gemerisik. Tak ada bisik.

Tak lama, mereka yang membuka pintu—satu per satu—pun akhirnya memiliki bulu pula. Seperti ibu, awalnya mereka masih sering memakai baju dan celana untuk menyembunyikannya. Tetapi akhirnya, mereka gerah sendiri. Lalu memilih tak berpakaian. Hanya berbulu.

Terus-menerus mengetuk pintu yang masih tertutup dan menyembunyikan tuannya di sebalik tubuh tipisnya. Apalah daya sebuah pintu yang diketuk berkali-kali, semuanya roboh. Seisi kampung.

Mereka lalu lalang tanpa pakaian. Pasar mulai ramai kembali. Pembeli dan penjual sama-sama berbulu. Tak ada yang saling sungkan. Hingga suatu hari, mereka bingung akan mengetuk pintu siapa lagi. Jangankan pintu, taman-taman pun telah mereka rusak dan telah menghabiskan pula isinya. Lapar tak henti-hentinya menggedor lewat bulu-bulu yang tumbuh aneh itu. Begitu cepatnya bulu itu menjadi kegemaran sekaligus kebanggaan baru di kampung itu. Televisi di rumahnya kembali menikmati riuh penonton. Apalagi jika berita dan acara hiburan menampilkan sosok-sosok berbulu.

***

Arief gerah. Dibukanya jendela kamar. Bulu di tubuhnya bergerak mengikut angin. Dari arah dapur, terdengar riuh cekikikan ibunya dan teman gosipnya. Merawat bulu. Dengan sisa-sisa sifat bijaksana dalam dirinya—sebagaimana makna namanya—ia berusaha menyesali nasib bulu sendiri.

 

Belawa, 2013

Dalasari Pera, bergiat di Komunitas Lego-Lego.

Advertisements