Cerpen Raudal Tanjung Banua (Kompas, 13 Mei 2018)

Aroma Doa Bilal Jawad ilustrasi Anton Susanto - Kompas.jpg
Aroma Doa Bilal Jawad ilustrasi Anton Susanto/Kompas

Apakah doa punya aroma? Setiap kali pertanyaan ini datang menggoda, aku akan teringat seorang tukang doa yang setia di masa kecilku. Entah mengapa, tiap kali mengingatnya, lafaz doa serasa bangkit bersama aroma yang membubung dari hidung ke dalam batin.

Adalah Bilal Jawad, lelaki setengah baya yang sudah dianggap sebagai tukang doa keluarga di kampungku lantaran kesetiaannya mendatangi kami pada hari baik bulan baik. Ya, sepekan menjelang bulan puasa, Bilal Jawad akan datang ke kampung kami. Ia tiba selepas siang, dan kembali semalam-malam hari ke rumahnya di kampung lereng bukit. Sebenamya dia berasal dari kampung kami juga, tetapi menikah di kampung sebelah. Bahkan, ia termasuk kerabat ayahku, karena itu aku dan adikku memanggilnya Pak Uwo.

Di kampung istrinya, ia dipercaya sebagai bilal. Suaranya lengking dan panjang, pas belaka dengan keadaan kampung yang berbukit-bukit. Karena itu, tugasnya sebagai muazin tak tergantikan. Nah, di antara itu, Bilal Jawad punya tugas yang juga tak tergantikan di kampung kami: memimpin doa menyambut Ramadhan!

Sudah menjadi kebiasaan di kampung kami menyambut Ramadhan dengan cara menggelar doa di tiap rumah. Ada beberapa tukang doa yang bisa kami panggil, tetapi yang paling akrab Bilal Jawad. Tinggal menyesuaikan jadwal, maka setiap rumah mendapat giliran didatanginya. Kami akan memasak yang enak-enak: rendang, gulai ayam, goreng itik, kalio jengkol, ikan panggang. Semua itu dihidangkan sehabis berdoa.

Bilal Jawad mencatat jadwal tahunan itu dengan rapi, buktinya tak sekalipun ia alpa atau lupa. Boleh jadi karena ia sekalian berziarah ke makam orangtua, menjenguk kerabat dan menengok rumah kelahirannya. Di rumah yang ditempati keponakannya itulah ia beristirahat, sembari menunggu panggilan memimpin doa.

Ia akan datang ke rumah orang yang memanggilnya dengan naik sepeda ontel. Ia kenakan peci beludru, celana panjang katun serta kemeja lengan panjang. Meski bukan bahan yang mahal, tetapi rapi terawat. Dan, lebih dari itu menjadi penampilannya yang khas.

Dia biasa mengunjuk salam sejak dari halaman disertai dentang lonceng sepeda tiga kali. Bila salam berjawab salam, maka naiklah ia ke atas rumah, duduk di tikar pandan, tempat ia bersiap memimpin doa.

Ia akan bertanya kepada si tuan rumah, apa-apa hajat hendak disampaikan, buat siapa doa dikirimkan. Tuan rumah akan berkata, ini doa hari baik bulan baik, semogalah lancar segala ibadah, didatangkan berkah bagi seisi rumah. Terucap pula nama-nama yang sudah tiada, al-marhum-almarhumah, jika sempit kuburnya mohon lapangkan, jika gelap minta terangkan. Lalu harapan supaya anak-anak lancar bersekolah, padi di sawah jauh dari hama, mereka yang di rantau bisa pulang berlebaran tahun ini dan berbagai pinta lagi.

Advertisements