Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 12-13 Mei 2018)

Mati ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpeg
Mati ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

BUNUH DIRI

KAU ditemukan tewas pagi ini, di kamar apartemenmu. Asap briket seperti sulur-sulur malaikat maut yang bergegas, ketika tangan rapuh kakak perempuanmu menarik kenop pintu kamar. Kau tergeletak di lantai, membiru, diam dan seolah sengaja membiarkan kakakmu meraung-raung, meratapi penyesalan yang tak akan pernah datang duluan.

Seminggu lalu, saat kalian merayakan Hari Ibu, kau pernah bertanya pada kakak perempuanmu itu, “Jika aku mati, apa kau akan menangisiku?”

Kakakmu menepuk kepalamu dengan cangkir soju yang kosong sembari berkata, “Kau gila! Siapa yang mau mati? Kau? Kau mau mati? Bila kau berani mati terlebih dahulu, aku tak akan pernah memaafkanmu.”

Kau tercenung, mengangkat gelas sojumu dan menenggak isinya hingga tandas.

“Tolong, menangislah untukku. Bila pun kau tak bisa menangisiku, kuharap kau tidak membenciku.”

Kakakmu tak pernah menjawab. Namun kau menyadari sesuatu, kau tak pernah dianggap ada oleh siapa pun, bahkan oleh kakak perempuanmu sendiri yang kalian pernah berbagi kamar sampai usiamu lima belas tahun dan dia delapan belas tahun. Bayangkan itu, tak ada anak laki-laki yang berbagi kamar dengan kakak perempuannya sampai kakaknya lulus SMA dan pindah ke kota untuk kuliah. Namun kalian melakukannya. Sayangnya, hanya kau yang merasa jika kalian begitu dekat, tapi kakakmu tidak. Dan kau merasa bahwa dirimu sangat menyedihkan.

 

KAKAK PEREMPUAN

SAAT kau terbangun dari tidur ayam sepanjang malam yang gila itu, kau merasa haus, lalu kau bergegas bangun. Menyibak selimut dan menyeret tubuhmu yang ngilu dengan memar di sana-sini menuju kulkas. Kau membasahi kerongkonganmu dengan segelas air dingin.

Sekelebat, kau merasa melihat seseorang melintas. Tergesa tanganmu menjangkau saklar lampu, ruangan benderang. Tak ada sesiapa. Hatimu menciut. Matamu bergerak liar, mencari-cari sosok itu.

Jangan, jangan, jangan.

Advertisements