Cerpen Rani Aulia Nurcahyana (Pikiran Rakyat, 06 Mei 2018)

PERTEMUAN ilustrasi Fahrul Satria Nugraha - Pikiran Rakyat.jpg
PERTEMUAN ilustrasi Fahrul Satria Nugraha/Pikiran Rakyat

SEPAGI ini, pukul setengah enam lebih lima menit aku sudah duduk di antara bangku-bangku ruang tunggu penumpang Stasiun Kota. Aktivitas stasiun pagi ini tidak terlalu ramai, hanya ada gaduh di pikiranku. Tersungkur luka di pagi hari, aku berusaha memotivasi diri sendiri. Aku yakin, semua hal yang terjadi di dunia ini terjadi karena ada waktunya, ada saatnya kan?

DARI ujung loket, kutemui mataku menangkap pria yang sedikit tergesa-gesa sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum, bagaimana bisa aku merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan. Lantas berdiri dan menunggu ia sampai kepadaku. Aku berusaha menjaga sikap, bukannya cinta yang sesungguhnya itu tidak pernah meronta-ronta? Ia hening di matamu, Adrian. Namun riuh di dalam doa. Aku bisa merasakannya.

Ia berdiri di hadapanku, kami hanya berjarak dua meter sekarang. Tangan kanannya memegang tiket dan tangan kirinya memegang gagang kopernya yang besar. Terima kasih semesta, telah mempertemukan kami dengan cara yang sederhana sejak bertahun-tahun lalu. Kemudian, sesaat lagi dipisahkan dengan rasa yang tak ingin berpisah. Aku menatap matanya, ia tersenyum.

“Harusnya aku yang datang lebih dulu,” lalu memelukku erat.

“Aku tidak mau terlambat,” kataku pelan.

Hari ini, Adrian, sahabat karibku sejak kelas tujuh SMP, akan berangkat ke Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas terkenal di Semarang. Ia lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi, aku juga. Hanya saja, aku tetap di Bandung dan ia ke Semarang. Aku turut bahagia, meski harus menyembunyikan kubangan sendu dalam mata. Karena kali ini, sebagai sahabat yang baik telah aku siapkan senyum terbaik untuk mengantarnya pergi. Agar ia tidak perlu khawatir aku sepi sendiri.

“Lia, jika jarak memisahkan kita, pejamkan matamu. Kau selalu bisa menemukan aku di dalam hatimu,” Adrian memulai percakapan, tetapi matanya tetap dengan tatapan lurus, lalu menoreh ke arahku.

Seperti ditusukkan jarum di seluruh tubuhku, aku rapuh sekarang. Sederhana, tetapi menyayat hati. Akan sesulit inikah berjarak dengannya? Dia berkata seolah pergi meninggalkan aku dengan penuh keberanian.

Aku tidak tau kenapa, tetapi yang jelas jantungku berdetak cepat saat itu. Mem- buatku agak salah tingkah di bawah pan- dangan Adrian. Di matanya yang kee- masan, selalu kutemukan diriku.

“Adrian, enam tahun kau ada di setiap hari-hariku. Jika hanya harus menunggu satu atau dua tahun sampai kau datang lagi, harusnya itu bukan masalah kan?” Aku tertawa lalu menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku tidak mau merusak persahabatan ini dengan mengungkapkan perasaan cinta. Ada perdebatan hebat di dalam hatiku yang bergema, “Itu egois, Lia!”

Adrian menepuk ujung kepalaku, ia tertawa ringan. Suara tawa paling menenangkan.

“Bandung dan Semarang itu tidak jauh, Lia. Sama-sama ada di Pulau Jawa,” ia menjelaskan.

“Yang berat itu kalau sedang rindu,” aku terkekeh. Sebenarnya kesal juga. Ia begitu menyepelekan jarak ratusan kilometer di antara kita.

“Jadilah guru bahasa Indonesia yang dikagumi. Nanti ajari aku bikin puisi ya.”

Aku tertawa, lalu mengangkat kepala dari bahunya.

“Kalau kau mau diajari bikin puisi, kau juga harus janji ajak aku naik kapal buatanmu.”

“Siap, komandan,” Adrian membuat tangannya seperti sedang hormat ke arahku.

Sekarang, kami berdua tertawa.

Adrian menarik napasnya panjang. Pengumuman kedatangan kereta menuju Semarang tinggal sepuluh menit lagi terdengar dari speaker yang ada di ujung dinding stasiun. Orang-orang yang tadi duduk, kini mulai bangkit dan menunggu kereta di bibir rel yang bergetar. Begitu pula Adrian, ia mulai mengecek lagi barang bawaannya.

Aku ingin sekali menangis. Seolah-olah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan setelah ini. Sejak kemarin aku sudah menata perasaanku agar tidak pernah ada cinta yang terasa membara ketika kita berada di hadapan perpisahan. Kubiarkan kakimu memilih ke mana mau melangkah. Kusamarkan kau di sana, kubuat kau menjelma hujan atau senja. Bila aku rasa rindu, kubisa menemuimu setiap hari tanpa khawatir mengganggu.

“Hei, Lia. Ada apa?” Adrian membantuku berdiri. Lalu aku memeluknya erat sekali lagi, hanya ada tangis yang tak terungkap, menyamar di sela garis senyuman.

“Aku tidak apa-apa, aku hanya belum siap menerima kau dibawa jarak.”

Aku jadi gugup, menjadi malu-malu. Namun, aku memilih menahan tangis saja, membaurkan kata aku mencintaimu menjadi rintihan yang tak mampu ia dengar.

Adrian memelukku erat, tanpa banyak bertingkah aku jadi semakin terluka

Apakah selama ini ia merasakan apa yang kurasa? Apa dia mampu membaca pikiranku atau malah merasa risi karena sikapku yang kekanakan setiap kali ia harus pergi.

“Aku tetap jadi sahabatmu, Lia. Sejak hari pertama di sekolah menengah pertama. Ketika celanaku dan rokmu berwarna biru tua. Aku menyayangimu. Sebagai sahabat yang selalu ada ketika aku kesusahan.”

Deg, Adrian mengatakan kalimat itu tanpa ada beban. Aku bisa merasakannya, hanya degup jantungnya berdebar lebih cepat. Aku tau ia sedang berbohong. Kalimat yang dia ucapkan sedetik yang lalu membuat aku dirundung gelisah, lemas, kepalaku sakit. Jelas sekali, ia menyayangi sebatas sahabat, tapi aku? Menyayangi lebih dari sekadar teman dekat.

Aku benci menjadi lemah, tetapi aku lebih membenci sikap yang tadi kutunjukkan di depan Adrian. Namun, ketika semua terjadi begitu saja tanpa bisa dikendalikan, aku bisa apa? Aku benar-benar tidak bisa menerima kehilangan dengan utuh.

Aku mati kutu. Adrian melepaskan pelukannya. Aku benar-benar tidak tau harus balas apa, aku hanya menunduk karena malu.

“Ketika pulang, akan kuajak kau menjaring matahari.” Adrian tersenyum, membenarkan kacamatanya yang turun lalu memegang koper dan tiketnya kembali.

“Aku menunggu hari itu tiba.” Aku membalas senyumannya.

“Aku pergi dulu, Lia. Setialah menunggu aku. Bagaimanapun nanti, aku pasti kembali untuk menemuimu lagi.” Adrian mulai berjalan menuju keretanya yang sudah menunggu. Dan aku berdiri di sampingnya, menemani beberapa langkah di ambang gerbang pisah.

Kini Adrian sudah di depan pintu gerbong kereta yang ramai. Aku berada beberapa langkah di belakangnya. “Sampai jumpa,” aku melambai sampai ia hilang ditelan ramai. Sayup-sayup kudengar ada kata “aku mencintaimu” yang bias di tengah ingar bingar orang-orang yang sibuk lalu lalang. Hanya suara itu yang terdengar samar-samar. Apa ini suara hatiku? Aku mencari sumber suara itu, menengok kanan dan kiri. Aku tidak mendapatkan apa-apa.

Menjadi seseorang yang paling tegar ketika Adrian pergi, air mata kutahan baik agar tak perlu jatuh di aliran kecewa. Mungkin lain kali, satu atau dua tahun lagi. Rindu yang menggebu pasti terobati dengan sebuah pertemuan yang dinanti.

Adrian, masa lalu tidak pernah hilang. Kisah persahabatan kita adalah satu hal yang tak pernah henti kuperjuangkan. Aku lebih memilih menunggu daripada mencari lagi. Di antara banyak kemungkinan, aku memilihmu, Adrian.

Sampai pada uap kereta membual keluar dari cerbong asap dan mulai berjalan perla- han tetapi pasti ke arah selatan. Aku melambaikan tangan sekali lagi, entah ke arah mana. Yang kutuju hanya Adrian sahabatku yang pergi untuk menggapai mimpinya dengan membawa separuh hatiku tanpa pernah ia tau. Aku akan menunggu, untuk bicara cinta lain hari.

Rohku dan rohmu hambur karena kita dipaksa berjarak satu kali lagi, 372 kilometer. ***

Advertisements