Cerpen Dian Nangin (Banjarmasin Post, 06 Mei 2018)

Pencari Hening ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Pencari Hening ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

TAK ada yang menyambut kedatangan perempuan itu kecuali gerbang kota yang telah usang dan doyong. Wajah dan penampilannya sarat lelah, tapi tampak segurat harap akan sesuatu yang telah lama menggelayuti hati dan pikirannya. Ia serupa musafir yang telah melakukan pengembaraan yang jauh namun belum juga menemukan tempat perhentian yang tepat.

Perempuan itu memasuki kota sembari bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan penduduknya hingga mereka tak sempat menaruh perhatian pada gerbang utama sampai terbengkalai begitu? Bukankah penampilan dan kesan pertama yang diberikan ‘wajah’ kota akan mewakili keseluruhan isinya?

Memasuki tengah kota, manusia tampak berseliweran. Berkelompok dan berduyun-duyun. Sebagian besar memperlengkapi diri dengan umbul-umbul dan atribut. Mereka menyerukan yel-yel, meneriakkan slogan-slogan secara dengan kencang. Tampaknya sesuatu yang besar tengah berlangsung.

“Apa yang sedang terjadi di sini?” perempuan itu bertanya pada seorang pedagang kaki lima yang terlihat benar memanfaatkan keramaian itu untuk mengeruk keuntungan.

“Mereka tengah melakukan aksi damai.”

“Aksi damai?” perempuan itu bertanya dengan kening berkerut. Tak habis pikir dengan makna damai yang tersintesa di benaknya dengan apa yang tersaji di hadapannya. “Apa kedamaian akan datang lewat hiruk pikuk itu?”

Si pedagang kaki lima kini tak menjawab sama sekali. Agaknya ia berpikir bahwa pertanyaan perempuan itu sebuah retorika. Namun, perlahan terbit secercah harapan dalam hati perempuan tersebut. Kalau orang-orang ini benar tengah memperjuangkan damai, barangkali ia telah berada satu langkah lebih dekat dengan apa yang ia cari. Maka perempuan itu memutuskan membaur bersama keramaian tersebut, berusaha beradaptasi dengan hingar bingar yang selama ini selalu ia hindari. Berpikir bahwa bila ia sanggup bertahan sebentar saja, ia akan memperoleh apa yang selama ini susah payah ia cari.

Waktu bergulir menuju tengah hari. Matahari membara. Namun tak seorang pun surut dari keramaian itu. Pemimpin aksi memandu yel-yel hingga suaranya serak, meneriakkan poin-poin masalah yang ingin ia perdengarkan entah pada siapa. Baru perempuan itu paham bahwa mereka ingin memprotes undang-undang yang ditetapkan pemerintah, undang-undang yang dianggap merugikan kelompok mereka.

Baru satu jam berlalu, perempuan itu merasa tersesat dan tak dapat bertahan. Maka ia menguak kerumunan itu dan berusaha menjauh sambil menahan mual, berpikir bahwa situasi semacam itu sama sekali tak cocok untuknya.

Bukan satu dua kali ia mendapati kerumunan memadati kota-kota yang ia kunjungi. Baru beberapa waktu lalu ia keluar dari sebuah kota yang gemar berdebat, adu pendapat. Apa saja bisa menjadi sumber perdebatan, segala hal dapat menjelma umpan yang memancing perselisihan.

Puncaknya adalah ketika momen pemilihan walikota tiba. Debat yang menjadi agenda wajib serta tak pernah absen itu berlangsung alot dan mendebarkan. Suasana menjadi lepas kendali ketika masing-masing kubu pendukung bersikeras mengagungkan pilihan mereka dan entah sengaja atau tidak mulai menyinggung hal-hal sensitif yang tak perlu didengungkan. Alhasil, adu mulut tak terhindarkan. Situasi memanas. Perempuan itu memutuskan angkat kaki secepat mungkin, sepenuhnya yakin bahwa apa yang ia cari tak ada di kota itu.

Pada kunjungan-kunjungan sebelumnya, perempuan itu juga menemukan kota yang tengah ‘bergejolak’. Seluruh penduduknya tumpah keluar untuk mendemo wakil rakyat yang telah ketahuan korupsi namun tak juga mengaku. Si wakil rakyat telah merugikan negara dalam jumlah besar, namun ia masih juga berkilah walau bukti-bukti yang mendukung telah dibeberkan. Orang-orang marah besar, memilih turun tangan sebab tak ada cara lain untuk melengserkan si wakil rakyat. Mereka berpikir pemerintah dan pihak-pihak berwenang terlalu lambat bertindak.

Lalu, tak ketinggalan kota yang dijuluki tak pernah tertidur. Kota yang senantiasa riuh ilang atau malam, seolah dua pembagian waktu itu tak punya perbedaan. Jalanan selalu dipenuhi kendaraan, aktivitas terus berputar, orang-orang terus bergerak.

Dan, kota ini pun tak ada beda dengan kota-kota sebelumnya. Namun perempuan itu memilih tak menyerah—terlalu dini untuk berhenti. Ia tak tahu apakah yang dicarinya masih jauh atau sudah dekat, namun ia tetap bertekad untuk mendapatkannya, seakan seluruh esensi hidupnya bergantung akan hal itu.

“Tampaknya kau bukan penduduk kota ini. Apa yang membawamu ke sini?” seseorang yang berada di kerumunan tiba-tiba bertanya.

“Aku tengah mencari sesuatu,” perempuan itu menjawab.

“Apakah gerangan?”

“Hening.”

“Kau mencari hening?” lawan bicaranya tampak berpikir sejenak, lalu menyahut dengan jawaban yang jelas-jelas bertujuan untuk mengolok.

“Barangkali kau bisa menemukannya di hutan.”

Perempuan itu terdiam sesaat, lantas menggeleng prihatin. Melintas di benaknya berita yang muncul di surat kabar harian kemarin; beberapa kelompok manusia egois nan oportunis membakar hutan demi kepentingan mereka sendiri. “Bahkan, hutan sudah habis digasak demi menampung hingar bingar manusia.”

Tak ada yang menanggapi. Entah mereka pura-pura tak mendengar, atau mendengar namun tak peduli, atau mendengar namun tersindir dan memllih diam. Perempuan itu menghela nafas. Bukan hanya sekali dua pula ia menemukan situasi semacam itu; tak seorang pun paham isi hatinya. Mereka selalu berada di persimpangan yang berlawanan. Perempuan itu ingin keheningan, kedamaian. Namun. orang-orang itu justru menikmati hiruk pikuk yang memuakkan.

Tanpa menunggu lebih lama, ia mengemasi barang-barangnya. Perempuan itu melanjutkan pencarian, tanpa menoleh ke belakang di mana aksi damai berakhir rusuh dan berbagai pihak terlibat bentrok yang semakin beringas. ***

 

Dian Nangin alias Eka Dianta, kelahiran Kabanjahe, Juni 1991. Cerpen-cerpen dan puisinya banyak terpublikasi di berbagai media massa. Saat ini tinggal di Padang Bulan, Medan.

Advertisements