Cerpen Achmad Supardi (Jawa Pos, 06 Mei 2018)

Pelean Klebun ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Pelean Klebun ilustrasi Budiono/Jawa Pos

TANPA pertimbangan, kakiku memasuki warung ini. Inilah satu-satunya warung yang buka di antara deretan yang kini melompong dikalahkan zaman. Hingga 14 tahun lalu, seluruh lorong di Terminal Kamal, Bangkalan, ini dipenuhi warung-warung ramai yang nyaris seragam. Takkan kita temui ornamen atau dress code waiter yang unik. Tidak ada buku menu. Tidak ada AC bahkan di musim paling kemarau sekali pun. Orang-orang makan dengan lahap dalam cucuran keringat. Asap sate Madura mengepung seluruh lorong, menambah nikmat menu apa pun yang kita santap.

Aku memesan nasi campur, menu yang paling sering aku beli saat bepergian bersama ayah di masa kecil dulu. “Lok atek cengi,” pesanku pada ibu pemilik warung. Aku tak ingin ada sambal di piringku. Aku tak bisa makan makanan pedas.

Ibu itu memandangku sebentar sebelum tersenyum dan menyiapkan pesananku. Hampir selalu aku mendapatkan tatapan dan senyum seperti itu. Bisa kutebak bahwa mereka heran. Bagaimana mungkin pria Madura tidak suka pedas? Bukankah kehidupan itu sendiri hampir selalu pedas bagi kebanyakan pria Madura? Bukankah kehidupan melemparkan mereka ke bedeng-bedeng penampungan rongsokan, bahkan sampah aneka rupa di Jakarta? Bukankah kehidupan membuang mereka hingga hutan-hutan belantara di pinggiran Sampit hingga Palangkaraya? Bukankah kehidupan memaksa mereka bergelimang karat di pusat-pusat besi tua di Surabaya? Bukankah kehidupan menancapkan mereka ke ruang-ruang sempit untuk merapikan rambut orang-orang yang tak mereka kenal di Poso, Kupang, dan Sumbawa?

Pria Madura dikenal dekat dengan kehidupan yang keras. Menemukan salah satunya yang menyantap makanan pedas saja tidak mau, tentu salah satu keajaiban dunia.

Para pemilik warung dan pelayan yang mendengar permintaanku mungkin menganggap diriku pria yang enggan tantangan. Lelaki yang pasti mudah menyerah saat berhadapan dengan kerasnya hidup. Mungkin mereka malah menganggapku bukan pria. Tentu mereka orang-orang yang tak pernah tahu apa yang kulakukan 14 tahun lalu.

***

Ini adalah malam kesekian rumahku seperti pasar malam. Mungkin separo warga desa berkumpul di rumahku. Ibuku, dengan bibir gemetar dan rona ketakutan, masih terus saja menyajikan kopi kepada siapa saja yang datang. Inilah keramahan yang kadang berbiaya sangat mahal.

Ini adalah malam kesekian mereka, para warga desa itu, datang membujukku. Dengan halus mereka memintaku membatalkan niat mencalonkan diri sebagai kepala desa. Mereka sayang padaku, katanya. Mereka tak ingin aku kenapa-kenapa.

“Jalanmu masih panjang, Rul,” kata Teh Misdi. “Kamu bisa segera menyelesaikan kuliahmu dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di Surabaya atau Jakarta. Gutteh yakin itu,” lanjutnya. Diembuskannya asap rokok klobot yang pekat.

Hening menyelimuti musala keluarga kami. Semua yang hadir seperti terkunci mulutnya.

Ini bukan yang pertama. Berkali-kali sudah Teh Misdi memintaku membatalkan niat mencalonkan diri sebagai kepala desa. Kini ia memintaku menggunakan ijazah sarjanaku—yang belum kuraih itu—untuk mendapatkan pekerjaan. Apa saja, asal bukan sebagai kepala desa di desa kami.

“Kamu tahu? Keluarga sana sudah menjadi kepala desa sejak Paman belum ada. Belum lahir. Masyarakat sini sudah menganggap mereka pakunya desa ini. Tidak baik membongkar apa yang sudah menjadi tatanan,” kata Paman Ridho. Tampak sekali dia tidak ridho aku menjadi calon kepala desa.

Sepi lagi. Suara jengkerik terdengar begitu nyaring dalam balutan keheningan yang begitu sempurna. Orang-orang, laki-laki dan perempuan, dewasa dan lansia, seperti menunggu dalam risau. Mereka tak berkata-kata. Mereka bahkan seperti tak beringsut dari tempatnya. Tapi aku tahu pasti. Mereka, yang duduk di musala, di beranda, bahkan di halaman, punya tuntutan yang sama: batalkan rencana ikut pemilihan kepala desa.

Setelah beberapa lama, suasana dipecahkan oleh sebuah suara pelan dari dekat dapur. Di hampir semua wilayah Madura, rumah biasanya terdiri atas lima blok. Satu bangunan utama yang berfungsi sebagai rumah tinggal, sebuah musala berbentuk rumah panggung, dapur, kamar mandi, dan kandang ternak yang biasanya berisi sapi, kadang sapi dan kambing. Semua blok itu merupakan bangunan terpisah. Tingkat kesejahteraan keluarga biasanya terlihat dari musala dan kamar mandi.

Keluarga berada memiliki musala dari kayu jati atau kayu nangka, sedangkan warga biasa membangun musalanya dengan bahan utama bambu. Keluarga berpunya biasanya memiliki kamar mandi berdinding batu bata dilapis semen. Rakyat miskin biasanya mandi hanya di salah satu pojok rumahnya yang sedikit tersembunyi oleh rimbunan pohon. Kadang mereka menambah privasi dengan dinding dari karung goni atau sarung bekas.

“Cong,” suara Bok Na begitu jelas di malam yang sangat senyap, “Kami semua sayang kamu. Kami semua ingin kau menikah, berkeluarga, hidup tenang. Kami tak ingin kau kenapakenapa,” katanya. Ujung suaranya sudah berupa sesenggukan. Ia seperti melihatku menjemput ajal sebentar lagi.

Ah, kalimat-kalimat ini selalu kudengar selama bermalam-malam sejak keinginanku menjadi kepala desa kuutarakan.

“Memangnya kenapa kalau aku mendaftar ikut pemilihan kepala desa? Toh aku belum tentu menang juga,” kataku. Aku mulai sumpek dengan ketakutan ini.

“Justru itu! Menang belum tentu, mati sudah pasti!” Kudengar Kak Ramli berseru.

“Aku hanya ingin turut membangun desa ini dengan kemampuanku. Aku sudah punya program dan aku akan memastikan bantuan untuk warga desa benar-benar sampai kepada yang berhak, bukan seperti selama ini,” kataku.

“Sudahlah! Kau pintar, jadi jangan pura-pura bodoh! Kamu pasti tahu betul keluarga sana takkan mau ada penantang. Itu artinya kamu akan mati kalau masih terus melanjutkan rencanamu. Kalau kamu mati, kami semua akan mati karena kami takkan terima kamu dibunuh. Jelas?!” teriak Kak Tofa.

Ya, aku sudah tahu itu. Mendaftar menjadi kepala desa berarti menantang keluarga itu. Dan, itu artinya menjatuhkan hukuman mati untuk diri sendiri.

Keluarga sana, begitu keluargaku dan hampir semua warga desa memanggil keluarga klebun. Kami bahkan seringkali lupa nama asli si kepala desa maupun ayahnya dan kakeknya yang semuanya adalah kepala desa turun-temurun. Kami hanya mengenal mereka dengan jabatannya: klebun alias kepala desa.

Satu-satunya hal lain yang kami tahu adalah mereka semakin kaya. Beras miskin berhenti di rumah kepala desa dan saudara-saudaranya, bukan ke gubuk-gubuk merana di desa kami. Sapi-sapi bantuan pemerintah berhenti di rumah keluarga besar kepala desa meski nama-nama kami yang dipakai untuk mengusulkannya. Dana desa juga berhenti di rumah klebun meski jalan desa kami tak kunjung beraspal dan jumlah sumur irigasi tak pernah bertambah.

Aku tidak tahan. Apakah aku menikmati saja sanjungan sebagai satu-satunya calon sarjana dari desa ini tanpa berbuat apa-apa demi warga desanya?

Aku tak ingin seperti itu. Bagi warga desa, aku gila. Bagi keluargaku, aku sudah mati.

***

Pagi itu aku mendaftar ke kantor kecamatan. Sendiri, meski aku tahu Kak Tofa dan para sepupuku lainnya pasti berjaga di luar sana. Tuhan, seperti perang saja. Namun, ketika panitia pemilihan kepala desa di kecamatan mencatat pendaftaranku dengan begitu ringkas, tanpa canda dan sapa, yakinlah bahwa aku memang sedang memasuki gerbang perang yang sebenarnya.

Hanya sekitar 100 meter aku meninggalkan kantor kecamatan, aku terkejut setengah mati. Tiba-tiba pipiku panas. Kulihat tangan klebun tuah gemetar persis di depan wajahku. Mukanya merah gelap, mulutnya berdesis, “Lancang!”

“Buleh salah napah Mak Bun? (Saya salah apa Pak Kepala Desa?)” tanyaku. Kutahu itu pertanyaan konyol.

“Jek gik atanyah pole mun lok terro pegek le’errah (Jangan bertanya lagi kalau tak ingin lehermu putus),” kudengar suara dari arah punggungku. Si klebun ngudeh, orang yang masa jabatan keduanya akan mendapatkan saingan dariku. Oh, jadi aku dikepung nih.

Tak pernah rela diperlakukan lebih rendah dari orang lain, aku masih ngotot bertahan. “Aku hanya…”

“Patek! Masih bicara juga kamu…”

Peristiwa berikutnya tak kuingat detailnya. Aku hanya ingat klebun tuah dan klebun ngudeh sama-sama menyerangku. Beberapa orang juga tampak menyerangku. Aku bertahan dengan refleks yang diajarkan almarhum ayah dan Teh Misdi. Klebun ngudeh mati dengan celurit yang dipegangnya sendiri. Polisi begitu cepat meringkusku. Beberapa orang kulihat tergeletak. Kak Tofa berlumuran darah, juga dua sepupuku yang lain. Ramalan mereka menjadi nyata.

***

Aku keluar dari warung. Dengan santai aku berjalan kembali ke arah loket tiket feri. Kali ini kujenguk Madura sampai di Terminal Kamal ini saja. Toh ibu dan keluargaku yang lain tak lagi ada di sini. Peristiwa hari itu mengantar mereka ke seantero Nusantara. ***

 

CATATAN

Pelean klebun : pemilihan kepala desa

Lok atek cengi : tidak pakai sambal

Gutteh atau Teh : paman

Cong : Nak, sebutan untuk anak atau keponakan laki-laki

Klebun tuah : sebutan untuk kepala desa yang menjabat sebelumnya, terutama bila jabatan kepala desa itu digantikan oleh anaknya

Klebun ngudeh : sebutan untuk kepala desa saat ini bila ia menggantikan ayahnya yang menjadi kepala desa sebelumnya

Patek : anjing

 

Achmad Supardi. Dosen Universitas Presiden, Cikarang, dan sedang studi S-3 di The University of Queensland, Australia

Advertisements