Cerpen Caroline Wong (Fajar, 06 Mei 2018)

Lelaki yang Kukira Kurang Berwarna ilustrasi Fajar.jpg
Lelaki yang Kukira Kurang Berwarna ilustrasi Fajar

AKU tidak pernah suka melihatnya, sejak hari pertama dia meneteskan keringat di lantai semen yang retak-retak ini. Keringatnya jatuh bagai rintik hujan membasahi leher baju kausnya, dia juga minum air putih banyak sekali.

“Gajimu per hari tujuh puluh ribu rupiah, uang makanmu dua puluh ribu rupiah. Gajian setiap hari Sabtu, sedangkan uang makan dibayarkan setiap hari kalau kamu tidak bolos.” Aku hanya mau berkata-kata ini saja.

Dia bukan hina bukan pula berwajah atau bermata jahat. Hanya saja, aku terganggu melihat betapa pucatnya warna baju kaus yang menggantung di badannya itu. Tidak ada pantulan warna yang tersisa! Matahari telah mencuri semua sinaran dan gemerlap warna yang seharusnya ada. Apakah itu merah bata, biru malam, coklat tanah, hijau apel atau ungu pupus, aku tidak tahu. Dan sungguh percuma untuk menebak-nebak.

Hari kedua, dia muncul dengan warna baju yang selapis lebih baik. Tapi tentu saja aku tetap menaruh jengkel padanya, karena baju itu dipakainya dengan terbalik. Lelaki aneh! Entah apa yang dimalukannya.

Hari ketiga, dia muncul dengan baju kain kotak-kotak yang seperti dijahit dari kain sarung bekas, lebih cerah dari kemarin. Aku mengabaikannya ketika dia tersenyum lebar ke arahku, seolah ingin menunjukkan, dia telah berusaha berpakaian dengan lebih baik daripada kemarin-kemarin.

Aku juga mendapati dia sekali dua kali merenung-renung. Seperti terkenang sesuatu atau seseorang yang mungkin telah menyakitinya. Terkadang dia menatap ke pohon subur depan gudang, yang di bawahnya dipenuhi sampah dari rumah-rumah penduduk sekitaran sini. Aku jadi curiga, jangan-jangan dia ini bekas pemulung sebelum kuterima bekerja di sini.

Hari keempat, dia muncul dengan tas ransel berisi bekal makan siang. Katanya, biar lebih hemat. Tas ransel itu digantung di kaitan pagar di halaman gudang. Aku lupa mengamati seburuk apa baju yang dikenakannya hari itu. Karena aku benar-benar ingin membuang tas ransel itu jauh-jauh atau melemparnya ke bawah pohon, ke tempat sampah. Warna tas ransel itu telah tiada dibelai matahari, mati dalam damai…

Diam-diam aku juga menginti papa isi bekal makan siangnya. Dia membuka kotak plastik itu dengan hati-hati. Mulai menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi putih dan secuil ikan goreng yang terendam sambal lombok berminyak. Dia makan sambil takut habis. Ah, akhirnya aku menemukan warna merah yang nikmat. Tapi tetap saja, itu bukan di bajunya!

Hari kelima, mulutku ini ingin menyuruhnya membuang segala benang yang melekat pada badannya, juga tas ransel itu! Tapi kutahan, tunggulah sampai Sabtu, begitu lebih terhormat. Bukankah bekerja di gudang, tidak dibutuhkan penampilan? Otot dan keringat deras yang berbaulah yang dibutuhkan, supaya semua dari kita bisa makan, berbagi satu sama lain. Sedikit maupun banyak.

Hari keenam, seharian aku menunggu sore. Dengan tampak sedikit malu, dia akhirnya berjalan ke mejaku, hari gajian pertama untuknya. Aku benar-benar tak ingin lagi tahu tentang warna baju yang dikenakannya.

“Ini gajimu, empat ratus dua puluh ribu rupiah, ditambah lima puluh ribu karena kamu rajin dan tidak pernah datang terlambat.” Kataku dengan nada suara andalan, tegas.

“Ambil kantongan ini, di dalamnya ada beberapa lembar baju kaus bersih dan tas ransel yang masih baru. Tolong pakailah, Ibu malu melihat karyawan Ibu tidak ada cerah-cerahnya…” Aku mengulurkan kantong plastik besar itu ke tangannya.

Matanya menganga lebar, terbuka dan mengalirkan hempasan-hempasan kesedihan yang bersari di pelupuk matanya. Merana sekaligus kuat.

“Ibu, sore ini aku sudah bisa menjemput anakku dari rumah sakit. Baru berumur sembilan hari. Jum’at minggu lalu, istriku mati melahirkan anakku. Anakku kurang sehat Bu, jadi dirawat sampai kuat. Sekarang ini, aku akan membawanya pulang…” Dia berkata-kata dengan pelan, seolah tahu apa yang selalu kutentang dalam benakku selama ini. Sambil tangan kanannya memeluk kantong plastik itu dengan sayang. Seolah istrinya yang sedang dipeluknya “Terima kasih Bu untuk pemberiannya.” ucapnya lagi, hampir berbisik.

Seketika itu juga, mataku menangkap sulur-sulur berwarna-warni yang bergelung merayap keluar dari badannya.

Aku bisa melukis mata air jernih dengan rumput yang tumbuh liar di sekeliling mata air itu, bahkan aku bisa menaruh bunga-bunga kecil berwarna merah muda segar, kuning matahari dan juga langit yang biru lembut di bagian atas. Aku hampir bisa melukis apa saja yang aku mau dengan lenggak-lenggok warna yang disajikannya. Dia mengagetkanku! Aku seperti Puteri Mesir yang menemukan bayi Musa di sungai Nil yang elok.

Matanya juga membuatku silau, ada ribuan warna haru dan luar biasa berharga yang tidak bisa kukenali. Istrinya yang telah pergi itu, ternyata dialah yang mencuri semua warnanya. Dan sekarang anak bayi yang sudah kuat itu, yang telah menggantikan berkali-kali lipat warna yang telah mundur daripadanya. (*)

 

Caroline Wong, Sarjana Perhotelan lulusan UK Petra Surabaya dan sekarang sedang belajar menulis. Lahir: Makassar, 13 September 1979.

Advertisements