Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 06 Mei 2018)

Laki-laki yang Kawin dengan Babi ilustrasi Hadi Soesanto - Kompas.jpg
Laki-laki yang Kawin dengan Babi ilustrasi Hadi Soesanto/Kompas

Setahun silam, menjelang lingsirnya matahari, saat ia memangkas dahan-dahan johar yang tersampir ke atap rumah, seekor babi berlari dari arah utara dan menyeruduk kaki tangga kayu yang ia tunggangi. Tangga kayu itu bergeser beberapa senti, hampir roboh, dan membuat beberapa genting paling tepi lengser dan jatuh ke tanah, berkeping. Seekor babi berwarna kelabu, nyaris hitam, tampak kebingungan, berputar-putar di pekarangan. Mungkin kepala babi itu sedikit pening setelah menabrak kaki tangga.

Ia menuruni anak tangga itu lekas-lekas, takut kalau babi itu kabur. Dengan tangan kanan masih menggenggam arit, dan tangan kiri mencengkeram sempalan dahan johar—yang masih memancarkan bunga-bunga warna kuning menyala, ia menggiring babi itu ke sudut pekarangan. Hendak menangkapnya. Dan babi itu, ia tak menampakkan tanda-tanda akan kabur. Justru ia melenggang tenang, seolah merelakan dirinya ditangkap.

Langit sudah terlanjur remang. Sebab babi itu, ia lupa membereskan dahan-dahan johar yang berserak di teritis rumah. Ia memburu babi malang itu dan menangkapnya. Babi itu menguik. Bagai mengatakan sesuatu. Seekor babi betina yang gemuk, pikirnya. Ia mengira, babi itu telah berlari tanpa henti dari arah hutan, lalu menggasak ladang ubi, dan baru berhenti setelah menubruk kaki tangga yang dipijaknya. Pasti sesuatu tengah mengejarnya. Ia membopong babi itu ke teritis belakang rumah. Ia menatap babi itu penuh rasa haru. Seakan kasihan, atau bahagia mendapatkan semacam berkah berupa babi betina yang gemuk.

Ia memasukkan babi itu ke kandang ayam, lantas silih memindahkan ayam-ayam ke kurungan buluh. Dari dalam rumah, ibunya yang kelewat tua, berjalan pincang dan terbungkuk-bungkuk, berteriak-teriak, “Apa yang kau lakukan di belakang magrib-magrib begini?”

“Mengandangkan ayam,” balasnya.

Dari balik pintu dapur, meski agak rabun, perempuan tua itu masih bisa melihat lima ekor ayam berkokok ribut dikurungkan menjadi satu.

“Kenapa ayamnya ditaruh di kurungan, bukan di kandang?” perempuan tua itu memprotes.

“Di kandang ada babi, betina.” singkatnya.

***

Advertisements