Cerpen Cikie Wahab (Padang Ekspres, 06 Mei 2018)

Kambing Hitam ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Kambing Hitam ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Namanya Niko. Saat umurnya dua belas tahun ia pernah melawan sekelompok anjing liar yang ada di ladang kosong di tepi hutan. Ia berhasil lolos dengan bekas gigitan yang membuat dua jari tangannya putus. Pada umur lima belas tahun, Niko juga pernah dituduh mencuri seekor kambing milik Sutan Kayo. Saudagar kaya di kampung Salam. Ia menyebabkan kebakaran di gudang milik Sutan Kayo. Sehingga di umurnya yang masih muda, ia harus mencicipi dinginnya lantai penjara.

Ia muncul kembali di kampung Salam dan melihat bekas rumah yang ia tempati bersama Ibu dan dua adik kecilnya kosong melompong. Tetangganya berkata bahwa si ibu sudah pergi dengan adik-adiknya ke pemukiman yang lain. Barangkali mereka malu setelah kejadian penangkapan anak itu oleh polisi setempat.

Niko termenung di tepi jalan. Matanya melihat orang-orang yang melihatnya. Ia sudah tujuh belas tahun kini dan kampung itu sudah berkembang dengan cepat. Tetapi ingatan mereka tentang kehebohan pencurian dan pembakaran gudang itu masih melekat kuat. Niko menoleh ke kiri dan ke kanan. Sebetulnya ia ingin menemui Sutan Kayo dan mengatakan kekecewaannya. Maka ia berjalan ke arah selatan, di mana halaman luas dan rumah besar berdiri di sana. Sedikit jauh dari rumah-rumah warga, ada lapangan yang juga luas tempat bermain kambing-kambing milik Sutan Kayo.

Niko sampai di tempat itu dan melihat hamparan tanah yang telah di tata rapi. Ia tidak melihat seekor kambing pun ada di sana. Kambing Sutan Kayo bisa dikenali dengan label SK pada tubuh binatang tersebut. Dan tanda itu menunjukkan kualitas terbaik yang ada. Mengingat hal tersebut, Niko juga ingat tentang rentetan kejadian sebelum peristiwa naas itu berlangsung. Niko menyapu muka dengan telapak tangannya dan bersandar di pagar.

***

“Lalu apa salahnya kuambil kambing yang tidak ada cap? Berarti itu bukan milik Sutan Kayo, kan?” Tanya Niko saat bertemu Muktaran di tepi sumur tua. Muktaran adalah salah satu pekerja Sutan Kayo yang ditugaskan membersihkan kambing-kambing saban petang. Niko melihat Muktaran tengah menarik dua ekor kambing yang kurus dan kecil.

Muktaran menoleh dan memandangi Niko dengan seksama. Di tangan Muktaran, sebuah sikat yang semula digunakan untuk membersihkan kambing terjatuh ke tanah. Muktaran kaget dan bertanya. “Kau ada apa kemari? Sudah lama kita tidak bertemu?” Muktaran kembali menyikat tubuh kambing itu.

“Iya. Sudah lama kita tidak bertemu. Kau sahabatku. Tapi kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kau tidak mau berteman dengan anak miskin sepertiku, kan? Bagaimana? Apa kau tahu kambing mana yang bukan milik Sutan Kayo?”

Muktaran mendelik tajam dan berkata, “Kau tidak bisa mencuri apapun dariku!”

“Hei. Aku tidak mencuri apapun. Aku hanya bertanya padamu, Taran. Jika kau lupa memberi label SK pada kambing-kambing yang jumlahnya ratusan itu, apakah kau akan mengingat kambing mana saja dan menempatkan posisi mereka semestinya.” Pertanyaan Niko jelas menyinggung temannya itu.

Muktaran dengan wajah tidak senang menjawab, “Bahkan jika mataku tidak bisa melihat, telingaku mampu menangkap dan mengenali arah langkah mereka.”

“Begitu ya?” Tanya Niko dengan tak percaya. “Tak lama lagi mereka akan jadi santapan Sutan Kayo. Tahukah kau berapa banyak kolesterol yang ditimbulkan untuk membuat Sutan Kayo mati lebih cepat?”

“Hati-hati dengan bicaramu, Kawan. Umur bukan masalah bagi Sutan Kayo. Kau jangan mengusikku. Kalau kau tak punya uang pergilah. Carilah roti kering untuk adik-adikmu itu. Itu lebih murah dari sepotong daging kambing.”

Mendengarnya, Niko membalikkan badan. Ia ingin pergi dari tempat itu. Ia melihat wajah-wajah orang yang lalu lalang. Ia tidak lagi berminat pada percakapan dengan Muktaran.

“Bermimpilah setinggi langit, Niko!”

“Baiklah. Terima kasih, kawan. Jika aku punya uang akan kubeli kambing-kambing itu.” Niko tersenyum meski hatinya terus memikirkan perkataan Muktaran.

Pulang dari tempat itu ia duduk termenung. Kedua adiknya pasti dibawa ibu ke ladang kering. Mengais-ngais rezki yang mungkin bisa dijadikan makanan bekal pulang. Niko mengusap wajahnya dan tertidur di tikar pandan. Ia baru terjaga saat suara-suara teriakan terdengar di pintu dan ketukan keras hampir merobohkan pintu rumahnya itu.

Saat bangkit dan melihat apa yang terjadi, Niko menyadari ada seekor kambing di dalam rumahnya yang sempit itu. Kambing dengan tanda SK di bagian paha dan menjadi sebab musabab keriuhan. Sadar akan hal itu, Niko langsung pergi ke pintu belakang dan menaiki papan pembatas. Berlari sekencang-kencangnya menghindari orang-orang yang meneriaki dirinya sebagai pencuri. Demi menghindar itulah ia masuk ke gudang milik Sutan Kayo dan tak sengaja menyentuh pemantik api hingga mengenai drum berisi minyak tanah. Segalanya terbakar, termasuk dua rumah yang ada di sebelah gudang.

***

Niko tersentak. Ada dua hal yang ia lupakan saat kembali ke rumah kecil itu setelah dua tahun ia berada di rumah tahanan. Pertama, ia tidak lagi berhak menempati rumah itu setelah ibunya pergi dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi padanya. Kedua, ia menyadari bahwa Muktaran telah menyebabkan ia disalahkan semua orang dan membuatnya merasa sedih dan sia-sia. Kemiskinan yang terus menyergap keluarganya telah membuat Niko beranggapan, ia harus mengubah segalanya suatu saat nanti. Niko bingung dan ingin bertemu Sutan Kayo.

Maka ia pergilah ke rumah orang besar itu. Niko tidak membawa apapun selain dirinya sendiri. Niko memencet bel yang terasa dingin di jemarinya yang masih ada. Niko juga belajar bagaimana bersikap baik dan sopan pada orang lain ketika berada dalam tahanan. Pagar terbuka, Niko masuk dan berjalan ke ruang tempat saudagar besar itu. Oleh salah seorang petugas di rumah itu, ia menyilahkan Niko masuk dan menunggu.

Tampaknya tidak serumit yang Niko bayangkan ketika bertemu Sutan Kayo yang dielu-elukan banyak orang. Orang besar itu memang terkenal kaya. Dan yang menjadi pertanyaan Niko hingga saat ini adalah mengenai hukuman dan ketidakpedulian Sutan Kayo pada pembelaan yang seharusnya Niko dapatkan.

Niko mendesah ketika hampir satu jam ia menunggu di ruangan untuk bertemu Sutan Kayo. Ia diberi minuman tiga botol oleh pelayan. Ia hanya meneguk sebotol air mineral dan tidak menyentuh yang lain. Ia perhatikan ruangan itu dan laci-laci yang ada di dinding. Niko hampir saja pulang setelah tertidur sejenak dan kesal akan lamanya menunggu.

Saat Niko berdiri, pintu terbuka dan Sutan Kayo muncul dengan tersenyum.

“Lama menunggu, Niko?” Tanya Sutan Kayo.

Menyadari kalau ia dikenal oleh Sutan Kayo. Niko menunduk dan berkata. “Maafkan aku, Pak. Aku bisa menunggu sebab tak ada yang menungguku di rumah. Aku bisa menunggu sebab ada yang menganjal di hatiku dua tahun ini.”

“Aku sudah tahu itu. Bagaimana kau bisa kemari?” Sutan Kayo duduk, membuka satu botol minuman dan meneguknya. “Ini dari Pulau. Nikmat sekali. Kau belum coba ini?” Sutan Kayo mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana bisa waktu itu, Bapak tidak bertanya siapa yang salah? Kenapa menghukumku seperti itu?” suasana hening seketika. Niko meneguk minumannya kembali. “Aku memang miskin. Tidak sekolah dan punya Ibu juga dua orang adik yang harus kubiayai. Aku tidak tahu bagaimana kondisi mereka setelah itu. Apakah bapak tahu rasanya kehilangan keluarga dan kesempatan mengatakan aku tidak bersalah?” Niko menatap ke lantai yang dingin.

Sutan Kayo mengangguk-angguk. Ia juga mulai membuka lengannya yang sejak tadi berada di dalam kantong jubahnya. “Kalau bukan karena Muktaran, mungkin aku sudah membunuhmu waktu itu.”

“Tapi aku tidak mencurinya, Bapak. Aku bahkan tidak pernah menyentuh kambing-kambing itu. Dan soal kebakaran itu, aku tidak sengaja. Maafkan aku.”

“Kau pasti sangat lapar. Pelayanku akan memberi hidangan lezat siang ini. Duduk saja. Aku tidak harus menjelaskan apa-apa kepadamu. Kekesalan memang akan selalu ada dalam hidup, bukan? Dan apa yang kau pelajari di tahanan tentu bisa membuatmu berpikir lebih baik.”

“Aku tidak lapar. Aku tidak mengemis. Aku terbiasa makan apa adanya. Aku cuma ingin kau memberiku modal untuk memulai hidupku yang baru.”

“Oh begitu. Permintaan yang sama dari hampir seluruh orang.”

“Persis. Aku salah satunya.”

Niko berdiri. Ia tidak merasa melucu siang itu. Tapi setelah Sutan Kayo memaafkan dirinya—meski tidak membantunya sama sekali. Niko pulang dan memulai hidupnya yang baru. Dan bertahun-tahun kemudian, setelah Niko mempersunting seorang perempuan baik-baik. Ia telah mempunyai belasan pegawai yang akan patuh pada perintahnya. Niko bertemu Muktaran yang masih setia pada kambing milik Sutan Kayo. Niko mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan Muktaran belasan tahun lalu meski Muktaran menyangkal hal tersebut dan mengatakan ia tak pernah menjebak Niko dalam situasi pencurian itu. Niko tak percaya dan bertanya-tanya siapa yang melakukan itu. Tak ada satupun yang bisa menjawabnya. Bahkan saat dua adiknya mampu meraih gelar sarjana dan cerita ini sampai ke tangan pembaca, Niko tetap tidak tahu siapa yang meletakkan kambing bertanda SK itu di belakang pintu. ***

 

Pekanbaru.

Cikie Wahab bergiat di komunitas paragraf Pekanbaru.

Advertisements