Cerpen Restu Nur Wahyudin (Republika, 06 Mei 2018)

Kacamata Guru Kohar ilustrasi Republika
Kacamata Guru Kohar ilustrasi Republika

Batang kacamata itu berwarna hitam. Lensanya tebal. Saat pertemuan awal dengannya, Guru Kohar pernah bercerita bahwa ia suka membaca. Mungkin itu juga yang jadi sebab minus matanya tinggi. Kacamata itu mengingatkanku pada kacamata yang dipakai tokoh Clark Kent sebelum berubah jadi Superman.

Dengan perawakan yang kurus, sebenarnya Guru Kohar akan lebih cocok menggunakan kacamata yang berbatang tipis. Ia akan terlihat lebih kekinian. Apalagi, harga batang kacamata saat ini banyak yang murah. Tapi, ia tetap setia dengan kacamatanya.

Ia guru sejarahku. Seseorang yang telah berumur lebih dari setengah abad. Sosoknya sederhana. Ia berangkat ke sekolah menggunakan motor Astrea Grand hitam. Satu hal yang selalu lekat dengannya: kacamata.

***

Ini adalah tahun terakhir aku belajar di SMA. Kata orang, masa terakhir kita berada di suatu tempat adalah masanya naluri begitu kuat menangkap makna. Seperti yang kurasa sekarang. Aku jadi lebih banyak mencari tahu tentang semua hal di sekolah ini.

Aku sendiri diajar oleh Guru Kohar saat kelas 12. Meskipun, jauh-jauh hari aku sudah tahu sosok ini dari cerita kakak-kakak kelas. Saat kelas 11 aku aktif di OSIS. Jadi sedikit banyak aku dekat dengan kakak dan adik kelas.

Kalau dihitung, ini juga tahun terakhir Guru Kohar mengajar. Dari awal kukenal, aku sangat hormat padanya. Pada umur yang uzur, Guru Kohar masih berstatus sebagai guru honorer. Itu terjadi karena jenjang pendidikannya yang tak sampai S1. Kala pemerintah membuka kesempatan PNS bagi guru-guru yang lama mengajar, Guru Kohar tak lolos sebab umurnya sudah melampaui batas. Ia hidup sebatang kara.

***

Aku bahkan menanyakan perihal kacamata tersebut pada kakak kelas, guru-guru, sampai penjaga sekolah.

“Jangan kau tanyakan hal yang terlalu pribadi, tak baik itu,” ujar seorang guru padaku.

“Kacamatanya seperti kekasih, waktu saya pertama mengajar di sini, tahun 91, ia masih memakai kacamata itu, mungkin hanya kacanya yang diganti,” kata guru yang lain.

“Saya curiga itu jimat! Guru kohar selalu menguapkan kacanya, membersihkan secara hati-hati batang kacamatanya setelah solat,” kata Bang Jabar penjaga sekolah.

Ada banyak jawaban, tapi belum memuaskan pertanyaanku. Katanya, beberapa orang pernah bertanya padanya mengapa tidak diganti dengan model terbaru. Namun, Guru Kohar membalasnya dengan tersenyum.

***

Hari ini ada jam pelajaran sejarah. Semester terakhir di SMA membuat pelajaran difokuskan pada materi yang terdapat dalam ujian nasional. Kami banyak dijejali soal. Kalau membahas soal UN, biasanya yang masuk Pak Supri, guru sejarah yang lebih muda dari Pak Kohar. Padahal aku sangat rindu cerita-cerita Guru Kohar tentang sejarah tiap daerah di Indonesia.

Biasanya Guru Kohar kerap menyisipkan cerita mitos yang terdapat pada tiap tempat. Kadang juga ada bubuhan misteri di dalamnya. Anak-anak jadi penasaran. Kami sadari pengetahuan Guru Kohar benar-benar luas.

Jam peralihan pelajaran berbunyi. Ada yang mengetuk pintu. Muncullah sosok Guru Kohar. Anak-anak pun girang sebab tak mengerjakan soal. Namun tak biasa, raut Guru Kohar tampak sayu. Seperti ada air yang tertahan dalam kantung matanya. Guru Kohar mengucap salam. Kami menimpalinya. Ia lantas duduk. Kawan-kawanku juga mulai merasa ada yang berbeda dalam diri Pak Kohar.

“Anak-anak, kalian tahu bahwa setiap waktu tak berulang,” katanya lirih.

“Sebentar lagi kalian lulus, mulai menyusun hidup atas kehendak kalian sendiri,” anak-anak hening.

“Pertemuan kali ini, Bapak minta kalian menuliskan momen tak terlupakan di sekolah ini, Bapak izin ada urusan dinas dulu, nanti akan Bapak baca hasil karya kalian,” suaranya patah-patah. Guru Kohar lantas pamit. Anak-anak bertanya-tanya.

Jarang sekali Pak Kohar izin dinas.

***

Pulang sekolah, aku berpapasan dengan Guru Kohar. Kusalami ia. Wajahnya mulai segar lagi.

“Sudah selesai acara dinasnya, Pak? Tulisan anak-anak sudah saya simpan di meja Bapak,”

“O, sudah, Dil. Lancar. Alhamdulillah. Baik-baik kamu belajarnya ya, Dil,” balas Guru Kohar.

“Terima kasih, Pak. Rumah Pak Kohar di mana, ya?”

“Rumah saya di Gang Kalpataru, Dil.” Sebenarnya aku sudah tahu rumah Guru Kohar dari guru-guru yang lain. Tapi, aku ingin memastikan apakah ia ingin menyembunyikan kehidupannya atau tidak.

“Ya sudah, Dil. Bapak pulang dulu, ya.”

Akupun menyalami lagi Guru Kohar. Selang kemudian ia meluncur dengan Astrea Grand-nya.

Tiba-tiba terbesit dalam pikiranku untuk tahu lebih dalam kehidupan Guru Kohar. Waktu belum terlampau sore. Lagi pula esok aku masih melakukan kegiatan yang sama: mengisi soal latihan UN.

***

Aku lantas bergegas menyusuri jalan dengan sepedaku. Jarak rumah Guru Kohar dari sekolah tak terlalu jauh. Jalannya cukup lengang. Tak banyak mobil yang melintas.

Gang rumah Guru Kohar cukup untuk dilalui dua motor. Rumah-rumahnya mungil dan sederhana. Aku berpikir, andai Guru Kohar bisa menjadi PNS, atau jadi pengusaha, atau pekerja kantoran, mungkin dalam rentang waktu hidupnya bisa lebih daripada ini.

Terus mengayuh sepedaku. Bergegas untuk memutus rasa penasaranku. Kata guru-guru, rumah Guru Kohar letaknya di sebelah mushala, di ujung jalan. Biasanya ia rajin membersihkan mushala itu.

Akhirnya kutemukan mushala tersebut. An-Nur namanya. Letaknya ada di antara dua rumah. Rumah di sebelah kiri ditutup pagar. Seperti baru dicat. Di depannya ada taman, mungil. Ditanami kamboja.

Tampaknya itu adalah rumah Guru Kohar. Tapi, nanti dulu. Terdengar suara bayi di dalamnya. Selang kemudian perempuan muda membuka jendela rumah itu. Menggendong bayi. Berusaha menghi burnya dengan melihat burung-burung yang terbang di atasnya.

Aku terus memandangi diam-diam. Seorang pemuda lantas masuk menuju mushala. Luas bangunan mushala ini tak terlalu luas, sekitar 6 x 5 meter. Tapi, komposisi cat hijau yang cerah, beserta ornamen-ornamen Asmaul Husna di sejumlah dindingnya membuat orang ingin berteduh di dalamnya.

Sayup-sayup azan terdengar dari pelantang di atas mushala. Aku sejenak ragu shalat di sana sebab khawatir berpapas dengan Guru Kohar. Tapi, nyali kembali teguh: ingin segera menuntas penasaran ini.

Jamaah saat itu tak terlalu banyak. Aku berada di saf terdepan. Usai salam. Aku dikagetkan dengan tepukan di pundakku.

“Aidil?”

Aku menoleh. Benar saja. Rupanya itu Guru Kohar.

“Ada kegiatan apa ke daerah sini?”

Aku kikuk ingin menjawab apa. Ingin berkata, tapi tertahan. “Sudah, ikut dulu dengan saya, Dil!” Guru Kohar langsung menyuruhku.

Digiringnya aku menuju rumah yang letaknya di sebelah kanan mushala. Rumah itu berdinding bilik. Mungkin lebih kecil dari luas mushala. Catnya pudar. Dari luar bangunannya tampak hanya ada tiga petak. Masuklah aku ke dalamnya.

“Ini rumah Pak Kohar?”

“Iya, Dil, ini rumah Bapak,” ketakjubanku pada sosok ini lantas begitu kuat. Guru yang selama 25 tahun mengabdi, bisa sahaja dalam hidup walau menetap dalam rumah semungil ini. Guru Kohar pamit menuju ruang belakang. Selang kemudian menyajikan air teh hangat untukku.

“Bapak jangan repot-repot!” tegasku.

“Tidak apa-apa, Dil, jadi maksud apa kau hendak ke daerah ini?”

Aku menelan ludahku dalam-dalam, “Begini, Pak, tadi di sekolah, Bapak minta kami untuk menulis tentang momen tak terlupakan, kan?” Ia mengangguk.

“Sebenarnya aku menulis tentang sosok Bapak dan kacamata Bapak, maaf ya, Pak,” Guru Kohar tertawa kecil.

“Iya tak apa-apa, sebenarnya ada apa dengan kacamata saya? Kan sama saja fungsinya dengan kacamata yang lain, bukan?” Aku yakin Guru Kohar sudah tahu maksudku. Ia masih belum terbuka.

“Pak Kohar selalu mengenakan kacamata itu dari awal mengajar di sekolah kan, pasti barang itu amat berkesan,” Guru Kohar tersenyum. Dicabutlah kacamata dari wajahnya. Ia tiup sisi kacanya, lantas mengelapnya dengan baju. Ia diam. Matanya berkaca-kaca.

“Jadi itu alasanmu datang kemari?” Aku mengangguk.

“Baru kali ini ada murid yang datang ke rumahku, Dil, mungkin mereka tak nyaman dengan guru yang sebentar lagi akan pensiun ini.”

Ia ambil segelas teh hangat di meja, sesekali meminumnya. Seperti ada air yang menetes di matanya.

***

Tiga puluh tahun yang lampau, Kohar Muda mulai menyusun nasib dengan menyerap ilmu di Sekolah Guru. Hari-harinya adalah masa depan yang cerah. Hampir semua buku di perpustakaan ia lahap habis. Mulai dari roman, puisi, sampai tulisan-tulisan serius yang ditulis Tan Malaka dan Soekarno.

Sekolah Guru itu setara SMK jika saat ini. Lulusan-lulusannya bisa langsung jadi guru. Kebahagiaannya kian sempurna sebab ada kekasih yang mendukungnya. Gadis manis berambut panjang. Tubuhnya langsing. Kulitnya putih bersih. Bibirnya merah. Teman-teman Kohar menyebut jika ia amat beruntung mendapatkan gadis itu. Gadis itu teman sekelas Kohar kala di sekolah menengah.

Sampai saat Kohar diterima mengajar sebuah di sekolah, terbesit kehendak untuk meminang gadis itu. Kohar Muda amat percaya diri, ia memberanikan diri datang ke rumah gadis manis. Sayang, kedua orang tua gadis tak setuju memiliki menantu guru.

“Kau beri makan apa anakku nanti? Makan buku? Makan ilmu? Semua tak hanya cukup dengan cinta,” katanya.

Kohar muda amat sedih. Hatinya patah. Rapuh. Sampai ia mendapat kabar jika gadis manis itu dijodohkan dengan pengusaha.

Gadis manis mengajak Kohar bertemu untuk terakhir kalinya. Dengan patah hati, Kohar memberanikan diri.

Gadis manis itu memberikan kacamata sebagai kenang-kenangan terakhirnya. “Kau akan tampak lebih gagah bila menggunakan kacamata ini saat membaca.”

Kohar muda menangis. Tak kuasa membendung isi hatinya.

***

Guru Kohar bercerita terbata-bata. Aku merasa bersalah harus mengajaknya mengingat kembali kenangan masa lampaunya.

“Ke mana sekarang gadis itu, Pak?”

“Setahun setelah saya bertemu, ia diajak suaminya pergi ke Bogor, nahas, mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan beruntun di Puncak, semua korban tewas.”

Air mata mengalir deras dari mata sayunya. Baru kulihat Guru Kohar menangis. Aku diam tanpa kata. Membiarkan Guru Kohar untuk tenang. Waktu berangsur menuju magrib. Kami menghentikan percakapan. Shalat jamaah di mushala. Tanpa satu kata pun aku ungkit tentang cerita kacamata Guru Kohar.

“Maafkan aku, Pak.” Jawabku. Ia hanya mengangguk. Aku menyalaminya.

“Hanya kau dan Bang Jabar—penjaga sekolah-yang tahu cerita ini.”

***

Hari berganti. Fajar menyingsing. Aku berangkat menuju sekolah dengan debar gairah. Rasanya sudah cukup lega semua pertanyaanku.

Di depan gerbang, tak seperti biasa. Anak-anak berkerumun. Ada apa ini? Kuberanikan untuk menerabas. Anak-anak dan guru memenuhi lapangan sekolah. Semua pintu kelas tertutup rapat. Kebanyakan dari kami juga bingung. Tak lama kemudian kudengar suara Kepala Sekolah dari pelantang: Guru Kohar telah wafat bakda subuh.

Aku mematung. Air mata mengalir deras. Tangisku tak henti. Hari itu jadi haru biru. Guru-guru, siswa, pedagang sekitar, alumni berduka. Mencoba yakin jika ini benar nyata. Benar-benar melepas tulus kepergian guru nun sahaja itu.

Aku lihat Bang Jabar dalam kerumunan. Ia menangis sejadi-jadinya. Kudatangi ia. Kusampaikan padanya bahwa aku tahu cerita tentang Guru Kohar. Ia sedikit terenyak. Pelan-pelan kutanyakan pada Bang Jabar, “Tahukah kau siapa nama gadis manis itu?”

Ia jawab dengan lirih. “Nur.”

 

Restu Nur Wahyudin. Menulis di sejumlah surat kabar. Saat ini mengajar di SMP Islam Dian Didaktika. Tengah mengembangkan komunitas literasi digital bersama guru-guru di Depok.

Advertisements