Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Tribun Jabar, 06 Mei 2018)

Gangguan Tidur Lenin Endrou ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Gangguan Tidur Lenin Endrou ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

PADA malam-malam dengan kesulitan tidur yang lebih menjengkelkan dari semua iklan komersial yang selalu mengganggunya ketika menonton berita pagi hari, Lenin Endrou duduk melemparkan kepalanva pada sandaran sofa. Diam dengan mata kosong menatap langit-langit yang telah dilihatnya lebih dari 24 tahun. Ia telah begitu akrab dengan semua lekuk dan bercak yang ada pada langit-langit itu hingga ia akan selalu tahu jika seandainya ada seekor laba-laba mulai membuat sarang baru. Dan memang, ada laba-laba yang baru membuat sarang di situ.

Dari mana datangnya para serangga pemintal yang cekatan ini?

Sudah begitu banyak cerita dan silsilah yang ia dengar dari orang tuanya dan beberapa orang yang sebelumnya akrab dengan rumah ini; tentang pemilik awal, tentang bagaimana kedua orang tuanya memilih rumah ini sebagai tempat ia lahir dan dibesarkan, tentang bagaimana pohan besar di belakang rumah tumbang dan hanya memisakan pokok batang berwama cokelat tua, tentang bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kolam ikan dekat kursi taman, tentang bagaimana mereka memilih warna untuk rumah ini, tentang bagaimana sanak saudara dan kerabat datang dan pergi, tentang bagaimana ia memiliki seekor kucing yang dengan sedih menceburkan dirinya ke dalam telaga hingga mati karena tak mampu berdamai dengan air kolam. Tapi ia tak pernah tahu dari mana asal serangga-serangga pemintal yang gigih itu.

Ketika seseorang mengalami gangguan tidur serius, terlebih lagi hidup sendiri dalam rumah yang cukup besar dan tidak terurus dengan baik, mereka akan mengalami beberapa hal yang tidak menyenangkan. Salah satunya adalah halusinasi yang dapat mengganggu keseimbangan jiwa mereka. Hal ini juga terjadi pada Lenin, di hari-hari yang menyiksa dengan kantuk yang seolah-olah menggantung di udara kamarnya yang lembap dan tipis, Lenin pernah beberapa kali melihat hal-hal yang tak dapat dijelaskan.

Kemarin malam ketika ia pulang agak larut karena terlambat menyelesaikan penawaran untuk pasar lelang yang baru bekerja sama dengannya, ia dikejutkan oleh sosok seorang wanita cantik. Wanita itu tersenyum padanya, Lenin hanya berdiri di ambang pintu sambil memegang gagang berwarna emas seperti seorang pelari estafet. Rambut wanita itu disanggul rendah, rapi dan bersih. Sebuah jam tangan dengan tali kulit berwarna hitam melilit pergelangan tangan kirinya yang langsat dan langsing. Ia bergerak dan berdiri dengan sebelah kaki ditegakkan dan lainnya tertekuk, tangan kirinya dikacakkan dan tatapannya menggoda. Lenin masih berdiri di ambang pintu berpegang semakin erat seolah gempa bumi akan merubuhkannya. Wanita itu maju satu langkah dan membusungkan dada dengan manja, mengeluarkan sesuatu dari belakang punggungnya: sebuah produk pembersih toilet.

“Anda punya masalah dengan kerak yang tak bisa hilang dari dinding dan lantai kamar mandi Anda? Seberapa keras Anda mencoba menghilangkannya? Brushbaby bisa membantu Anda. Cukup semprot dan semprot. Kerak hilang, Anda pasti puas.” Terlalu banyak gerakan tubuh yang provokatif selama ia mengucapkan kata-kata itu. Tentu saja Lenin sempat berpikir tentang kamar mandi dan kerak yang dibicarakan wanita itu. Tapi sayangnya wanita dari Brushbaby itu tiba-tiba masuk ke dalam televisi. Ia tentu tidak benar-benar mengerti masalah yang dialami Lenin.

Hari lain ketika hujan menjebaknya di dalam rumah dengan rasa lapar yang berat, Lenin mendengar suara letupan-letupan kecil seperti jagung yang sedang menjelma popcorn. Rasa lapar membuatnya bergegas mencari sumber suara itu. Ia terkejut melihat anak-anak berlari di dalam microwave yang menyala kuning sambil menyanyikan lagu tema sebuah iklan komersial

La la laaaaaa. ..La la laaaaaaaaaaaa, la la laaaaaaaaaaaaaaaaa,” seorang anak dengan ikat rambut di kedua sisi kepalanya mulai bernyanyi menghadap Lenin sambil menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Kemudian anak lain menimpali dengan suara yang tak kalah nyaring dari hujan yang membentur atap rumah. “Hariku lebih indah dengan pop-pophorn…” lagu itu terus diulang mereka sambil melempar-lempar popcorn warna-warni ke langit-langit microwave. Anak-anak itu membuat Lenin tak lagi merasa lapar. Dan wajah bahagia mereka yang berlebihan membuat Lenin takut pada dirinya sendiri.

Di antara banyak halusinasi yang dialaminya, Lenin tak pemah berhalusinasi tentang laba-laba. Ia menyukai serangga itu. Jika diingat kembali, dulu sebelum keluarganya menghadapi kehancuran mendadak akibat kematian ayahnya yang sulit dijelaskan, Lenin tak pernah begitu memperhatikan hal lain selain dirinya sendiri dan keinginan-keinginannya. Apalagi memperhatikan serangga kecil macam laba-laba. Karena saat itu ia tak pernah mengalami kesulitan apa pun, terutama materi. Ayah dan ibunya sangat memperhatikan semua kebutuhannya. Memastikan bahwa makanan yang tersedia baik untuk kesehatannya, memastikan bahwa ia cukup tidur dan cukup bahagia. Ayah Lenin adalah orang terpandang karena memiliki banyak usaha yang berjalan baik dengan keuntungan berlipat-lipat. Selain itu ia juga seorang kolektor lukisan, hingga bukan hal istimewa jika di dinding rumahnya yang luas dan tinggi Lenin selalu disuguhi berbagai macam gaya lukis dan objek seni yang berbeda-beda. Awalnya ia tak begitu tertarik pada hobi ayahnya. Ia menikmati berbagai lukisan dalam rumahnya namun tidak sedikit pun berniat untuk mempelajari atau sungguh-sungguh peduli. Ia tak pernah tahu kalau ayahnya mengganti lukisan-lukisan di dinding secara berkala.

Hingga pada suatu hari seorang gadis, yang tingginya hanya sampai bahu Lenin, datang membawa sebuah gulungan pada tangan kirinya, duduk di beranda rumah dan menunggu-mencuri perhatian Lenin. Gadis itu berambut kemerahan seperti bunga betina jagung yang mengilat. Ada pancaran kegilaan pada mata gadis itu. Senyumnyu yang ganjil sering tersungging dengan cara yang aneh.

Sore itu angin dingin musim kemarau berembus menggetarkan pohon-pohon akasia. Ayah Lenin keluar menemui gadis itu. Seorang pembantu rumah tangga menyuguhkan teh hangat untuk mereka berdua. Dari balik jendela, Lenin dapat menangkap ekspresi-ekspresi ganjil gadis itu dan rona bahagia pada wajah ayahnya. Mereka terlibat dalam percakapan serius yang terlihat menyenangkan. Lenin kemudian mengetahui nama gadis itu adalah Sirin.

Sirin semakin sering datang setelah itu. Ia berbicara berbagai hal dengan ayah Lenin, terutama perihal lukisan. Hingga akhirnya Sirin diberi sebuah ruangan yang cukup luas untuk meletakkan kanvas dan menata peralatan lukis yang diperlukannya. Dengan meja kayu dan kursi kecil, ruangan itu terlihat seperti sebuah studio mini khusus untuk Sirin. Biasanya, jika datang, Sirin akan menyempatkan diri untuk berbincang dengan siapa saja yang ia temui di rumah. Ia seorang gadis yang sopan, tutur katanya tak pernah menyakiti siapa pun. Ia tahu bagaimana harus bersikap kepada ayah Lenin atau kepada para pembantu rumah tangga.

Suatu hari Lenin masuk ke studio mini itu. Biasanya Sirin menghabiskan setengah hari mengunci diri di sana. Tapi hari itu tak ada siapa-siapa, dan pintunya tak terkunci. Lenin berdiri di hadapan sebuah lukisan berukuran hampir sama dengan tingginya. Dalam lukisan itu bentuk dan bayangan tiap benda terlihat muncul dan tenggelam, mengapung di atas permukaan luas berwarna biru gelap. Warna merah terang seperti merobek dari pinggir kanan kanvas, melintang hingga bagian kiri bawah kanvas. Seperti cahaya yang merobek kegelapan dengan pancaran yang tajam. Di bagian atas kanvas yang terpisah oleh warna merah itu terlihat sosok seseorang yang sedang tidur di sebuah ranjang, menatap tembok dengan jendela sedikit terbuka. Namun semua itu jadi samar karena terlihat meleleh dan bercampur dengan wama latar lukisan yung biru gelap. Kecuali di bagian bawah kanvas di mana figur serangga yang sibuk dengan makanannya terlihat begitu hidup dan kontras dengan warna latar lukisan. Lenin memperhatikan serangga itu, “Laba-laba,” katanya.

Semenjak melihat lukisan itu ada beberapa hal yang disadari Lenin. Pertama, ia mulai memiliki kebiasaan mengamati laba-laba. Kedua, ia mulai menyadari bahwa ia tak dapat berlama-lama menatap lukisan lain. Ia akan merasa pusing, mual, dan kemudian dunia terasa berputar di bawah kakinya. Ketiga, Sirin tak pernah datang lagi. Keempat, ia sungguh-sungguh tak tahu penyebab kematian orang tuanya. Lenin lantas menjual semua koleksi lukisan ayahnya setelah rumah beserta isinyu diwariskan kepadanya. Semuanya, kecuali lukisan Sirin yang satu itu.

Sementara Lenin berpikir dari mana asal para serangga pemintal itu, lukisan Sirin menatapnya dari balik kain putih yang ia sampirkan untuk melindunginya dari debu. Ia tak ingin menjual lukisan itu karena sering kali ketika ia tidak bisa tidur, ia akan menatap lukisan itu berlama-lama. Mereka akan saling bertatapan. Semakin lama Lenin akan merasa terisap.

Semakin terisap. Seolah-olah lukisan itu adalah seekor laba-laba yang mengisapnya perlahan-lahan.

 

Maywin Dwi-Asmara cerpenis dan peneliti yang lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 3 Mei 1992. Tahun 2014 mendapat research fellow dari satu Universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Ia berkhidmat di Komunitas Akarpohon, Mataram.

Advertisements